
"J-jadi lo mau apa sekarang?"
Bisa Sisil rasakan adanya senyum kemenangan dari Beno. Sisil harusnya tau, dengan dia memberikan pertanyaan seperti itu, sudah memberikan satu kesempatan pada Beno untuk mempermainkannya.
"Seperti yang pernah gue bilang, ikuti permintaan gue atau gue sebarin semuanya." Beno menyeringai licik dibalik telepon.
"Ap-apa? i-itu nggak mungkin!" Sisil tergeragap kaget dan wajahnya berubah pucat.
"Apanya yang nggak mungkin, hah? Lo tinggal ikutin apa yang gue mau. Selebihnya beres, kan?"
Mendengar Sisil yang tergeragap, bisa Beno bayangkan bagaimana ekspresi Sisil saat ini. Wajahnya pasti sedang dilanda kecemasan dan rasa takut. Hal itu membuat Beno semakin senang dan di atas awan ketika harus memikirkannya. Membayangkannya saja sudah membuat dia puas bukan kepalang.
"Ingat! Lo harus datang seorang diri. Jangan bawa orang lain terutama laki-laki bernama James itu! Karena gue nggak mau ada pengganggu!"
Kalimat dari Beno yang bernada ancaman itu membuat Sisil membelalak sekaligus bergidik. Ditelannya air liur berulang kali sampai rasanya lidahnya terasa kering.
Karena tidak bisa mengatakan apapun dengan tuntutan dan ancaman Beno, Sisil terdiam beberapa detik hingga akhirnya sadar jika Beno telah memutus panggilan telepon mereka. Tubuhnya lemas dan lunglai. Jatuh terduduk ke ranjang tempat tidur dengan wajah lesu dan tidak bersemangat.
Beno telah mengancam sekaligus menerornya lagi.
Apa yang harus dia lakukan sekarang? Apakah kali ini dia benar-benar harus mengikuti permainannya? Atau malah menghindarinya?
Tidak! Sepertinya kali ini Sisil benar-benar tidak bisa melarikan diri dan mengabaikannya seperti biasa. Kali ini Beno terdengar tidak main-main dan bersungguh-sungguh akan menyebarkan bukti kebersamaan mereka dan sekaligus mempermalukan Sisil. Bukan mempermalukan dirinya saja, melainkan kedua orang tuanya juga.
Kedua matanya terpejam dengan alis yang mengerut dalam. Dan tubuhnya pun rubuh seketika. Dengan posisi meringkuk miring layaknya sebuah janin dalam kandungan.
●●●
Tepat pukul 12 malam, Sisil berhasil keluar secara diam-diam dari rumahnya. Semua pantauan dari kamera pengawas yang terpasang di seluruh penjuru rumah telah dia matikan. Dengan begitu, Adrian dan Riana tidak akan curiga jika dia sedang tidak ada di rumah. Kamarnya juga telah dia buat dengan beberapa tumpukan bantal dan guling yang menyerupai seseorang seolah sedang dalam tidur pulas.
Sambil berjalan mengendap-endap, Sisil berhasil melalui jalanan komplek dimana seorang petugas keamanan terlihat sedang tertidur-tidur ayam dengan posisi duduk di kursi. Melihat kondisi yang cukup aman, Sisil akhirnya berlari hingga melewati portal pembatas komplek sampai ujung jalan menuju jalan raya.
Sisil memberhentikan sebuah taksi dan mengatakan kepada supir untuk membawanya ke sebuah alamat yang akan menjadi tujuannya. Ya! Sisil akhirnya memutuskan untuk mendatangi Beno. Entah bagaimana nanti, dia akan mengikutinya atau menolak keinginannya. Yang pasti untuk saat ini, dia tidak bisa membiarkan Beno terus-terusan menerornya.
Setelah perjalanan yang hanya memakan waktu 20 menit, Sisil akhirnya sampai di sebuah apartemen. Apartemen itu memiliki bangunan 5 lantai. Dengan sisi kanan dan kiri cat dindingnya yang sudah tergerus dan hampir mengelupas. Pekarangan sekitar halamannya pun terbilang cukup kumuh. Tidak menunjukkan adanya tanda-tanda apartemen kelas atas seperti yang biasa dia lihat.
Nggak salah ini tempatnya?
Ketika taksi itu berhenti, pandangan Sisil langsung tertuju pada bangunan apartemen dan langsung menunjukkan ekspresi jijik.
"Benar, nona. Ini sesuai dengan yang nona bilang." Supir itu menjawab jujur.
Sisil mengerutkan dahinya beberapa detik sebelum akhirnya dia menghembuskan napas kasar. Dia merasa tidak bersemangat dan rasanya sangat malas untuk menggerakkan anggota tubuhnya. Jika Sisil mau, dia bisa saja membatalkan niatnya sekarang juga dan meminta supir taksi itu untuk membawanya kembali ke tempat semula dia menjemputnya. Tetapi, sudah kepalang tanggung, Sisil pun akhirnya membuka pintu dan memaksa tubuhnya bergerak keluar dari taksi.
Sisil pun akhirnya membayar ongkos taksi dan dengan berat hati mulai melangkahkan kakinya ke depan pintu gedung yang langsung tersambung pada meja resepsionis untuk menanyakan informasi tentang dimana letak kamar lelaki atas nama Beno itu berada.
"Permisi, aku mencari orang ini. Dia menyuruhku menemuinya di apartemen ini. Dia ada di kamar nomor berapa?"
●●●
Di tempat lain, James tampak masih terjaga di depan laptopnya. Di dalam sebuah apartemen miliknya yang sangat luas dan mewah, James terlihat sangat fokus dalam menyelesaikan materi meeting yang akan dia presentasikan esok pagi.
Ditemani secangkir kopi hitam double-espresso yang sangat pekat, James berulang kali menguap menahan kantuk yang mulai menyerangnya.
"Tahan, James. Sebentar lagi selesai." gumamnya sendiri.
Kalimat itulah yang terus James ucapkan ketika matanya mulai terasa lengket ingin terpejam menjemput mimpi.
Dilihatnya berulang kali jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 12.45 dini hari. Dan seketika itulah ponselnya berbunyi mendenting menandakan adanya sebuah notifikasi penting yang harus segera dia lihat.
Sejenak, James menghentikan jarinya dari keyboard dan juga mouse laptop dan beralih pada ponselnya. Membuka layar pipih itu hingga menyala dan langsung membuka notifikasi yang muncul beberapa saat lalu.
Sontak, matanya membelalak bulat. Melotot kaget karena terkejut. Kedua alisnya pun mengernyit begitu dalam. Rupanya itu adalah notifikasi dari sebuah aplikasi penghubung yang berfungsi untuk melacak dan menemukan lokasi secara otomatis yang tersambung dari ponsel Sisil pada ponselnya.
James sengaja mengaktifkan notifikasi pelacak lokasi sejak Sisil hilang hingga akhirnya ditemukan di sebuah klub malam beberapa waktu lalu. Dan tentu saja, itu James lakukan untuk memudahkannya mencari tahu keberadaan Sisil kalau-kalau perempuan itu melakukan hal aneh lagi.
Dan sepertinya tindakan James berguna. Meski dia melakukannya tanpa sepengetahuan Sisil, setidaknya dia berusaha untuk mencegah hal-hal negatif yang mungkin akan terjadi.
"Apa yang perempuan itu lakukan tengah malam begini?" James bergumam heran. "Dan lagi tempat ini.........." kalimatnya tiba-tiba terputus saat mengetahui lokasi tempat yang Sisil kunjungi.
".....Oh, ****!" James menggeram keras.
Setelah mengucapkan kata umpatan, James langsung bergegas pergi dan melupakan semua materi meeting yang sedikit lagi hampir selesai. Tanpa menutup laptopnya lagi yang masih menyala, James segera berlari dari apartemennya menuju lift yang akan membawanya langsung pada ruang parkir bawah tanah.
James langsung mengemudikan mobilnya dengan serampangan seperti sedang berkejaran dengan waktu. Sedikit mengebut melalui jalanan ibu kota yang tampak sepi di tiap lajurnya. Mengabaikan rambu-rambu lalu lintas yang terpampang jelas di tiap ruas jalan raya.