A Fan With A Man

A Fan With A Man
Lupakan Cerita Semalam



Dimas dan Meila masih tampak terlelap di sebuah sofa di ruang utama. Semalam, setelah mendengar semua cerita Dimas tentang Dion, Meila terlihat sedikit syok hingga akhirnya tertidur dalam pelukan Dimas. Karena tidak tega membangunkannya, akhirnya Dimas membaringkan Meila di sofa disusul dengan dirinya yang ikut berbaring di sisinya dan merengkuhnya erat.


Tanpa selimut, hanya berbantalkan bantal sofa dan lengannya yang kokoh sebagai bantalan untuk kepala Meila. Lalu dipeluknya rapat-rapat agar gadis itu tidak terjatuh ketika bergerak tiba-tiba.


Seolah sadar ketika mentari telah menebarkan sinarnya, Dimas akhirnya terbangun. Perlahan membuka matanya dengan pandangan yang masih berkabut dengan pemandangan indah yang langsung tersedia di depan mata. Pemandangan dimana Meila yang masih terlelap di atas lengannya. Mendengkur halus dengan wajah damai menyenangkan.


Dimas seketika langsung memandangi Meila lekat-lekat. menelusuri setiap inci wajahnya yang polos. Namun, saat sedang terlena dengan pemandangan indah, selang beberapa detik kemudian Meila tiba-tiba menggeliatkan tubuhnya. Bergerak tiba-tiba dan hampir terjatuh saat Meila ingin membalikkan tubuhnya mundur. Tentu saja Dimas langsung menarik pinggang Meila dengan cepat. Membuat gadisnya itu terkejut dengan kedua mata yang langsung membuka meski masih berkabut.


"Kamu sudah bangun? Hampir aja kamu akan jatuh kalau aku nggak buru-buru menahannya." Dimas berucap sambil tersenyum. Lalu kembali memandangi Meila lekat-lekat sebelum kemudian mengucapkan salam paginya dengan sikap yang hangat dan juga lembut.


"Selamat pagi."


"....selamat pagi." Meila menyahuti dengan suara yang tak kalah lembut.


"Gimana perasaan kamu? Sudah lebih baik?"


Meila mengangguk pelan dengan senyuman tipis di bibirnya. "...sedikit."


"Kalau perutnya? Apa masih terasa kram?" Dimas bertanya lagi untuk memastikan.


Meila lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak. Udah lebih baik sekarang."


Untuk memastikannya sendiri, Dimas lalu menyentuh kening Meila untuk merasakan suhu tubuhnya. Dan sekarang giliran Dimas yang tersenyum. Tersenyum lega karena merasakan suhu tubuh Meila yang sudah normal seperti biasanya. Setelahnya, Dimas menatap Meila dengan lekat sebelum kemudian memberikan kecupannya ke bibir Meila yang kering. Menggesekkan bibirnya ke bibir Meila dengan lembut sambil berucap disana.


"Lupakan semua yang aku ceritakan semalam. Jangan bebani pikiranmu, ya?"


Dengan kedua mata yang terpejam, Meila mengangguk disertai ucapan. "...iya."


Dan hal itu menyenangkan Dimas hingga akhirnya membuatnya tersenyum lembut disertai tatapan sayang.


"Berhubung aku telah menyelesaikan semua meeting dan beberapa pekerjaan, jadi.... ayo, kita ke kampus!" Ajak Dimas seketika.


Seketika, perubahan ekspresi di wajah Meila terlihat begitu kentara. Hal itu membuatnya terkejut senang dengan ekspresi antusiasnya yang khas.


"Benarkah? Kak Dimas akan kuliah lagi hari ini?"


"Iya." Jawabnya dengan senyuman. "Kamu senang?"


Meila mengangguk kuat-kuat dengan ekspresi senang. Seakan-akan dia telah melupakan semua cerita semalam yang telah membuatnya syok.


"Kalau gitu, sekarang kamu bangun dan bersiap-siap." Sambil menggerakkan tangannya mengusap kepala Meila. "Karena aku juga akan bersiap-siap setelah menyiapkan sarapan lebih dulu. Oh, ya, satu lagi. Jangan terburu-buru! Karena jadwal kamu hari ini jam 10, bukan?" berusaha mengingatkan, Dimas tidak tahan untuk menyentuh ujung hidung Meila dengan jarinya.


Bukan tanpa alasan Dimas mengatakannya. Melihat waktu yang baru menunjukkan pukul 7 pagi, itu menandakan masih ada waktu 2,5 jam lagi untuknya bersiap-siap.


Meila tertawa tanpa suara. "Kakak ingat?"


Dimas terkekeh ringan hingga akhirnya menggesekkan hidungnya ke hidung Meila dengan gemas.


"Tentu aku ingat. Apapun tentang kamu aku ingat semuanya. Bahkan itu sudah diluar kepalaku." Dimas menjawabnya dengan kalimat penuh arti.


●●●


Vika terlihat tidak bersemangat saat datang menghampiri Rendy yang telah menunggunya di halaman. Berdiri bersedekap sambil memanasi mobilnya di halaman depan, Rendy langsung mengernyitkan alisnya begitu melihat ekspresi yang ditunjukkan Vika saat keluar dari dalam.


"Kamu kenapa cemberut gitu?"


Vika menuruni tiga anak tangga hingga akhirnya berdiri bersisian dengan Rendy. Mendongak dengan muka memberengut sambil menghela napas kasar.


"Boleh nggak kita libur aja hari ini? Aku males banget buat menyerap mata kuliah." rengeknya tiba-tiba.


"Kalau aku anak pemilik yayasan mungkin akan aku kabulkan." Kelakarnya ringan.


"Ih, Rendy! Aku serius. Aku males banget hari ini. Kayaknya buat menyerap pelajaran pun otak aku nggak sanggup."


Bola mata Rendy akhirnya berputar seperti sedang berpikir. Lalu berucap kemudian setelah menemukan sebuah ide.


"Mau tau cara agar kamu nggak males dan bersemangat?"


Vika mengerutkan dahinya ingin tahu. "Apa?"


"Kayak gini,....." Rendy langsung menarik wajah Vika dan menciumi pipinya bergantian. Kanan dan kiri. Hingga menyebabkan Vika tertawa geli sambil meminta Rendy untuk menghentikan ciumannya.


"Stop! Stop, Rendy....." mohonnya disertai pekikan geli. "Geli!"


Rendy akhirnya menghentikan tindakannya itu sambil menatap Vika dengan seksama. Mencubit pipinya dengan gemas sambil mengucap kata-kata gombal untuknya.


"Nah, gitu dong, senyum. Kan lebih cantik kalo senyum." pungkasnya sambil mencubit pipi Vika.


"Oh, Jadi biasanya aku jelek. Gitu?"


Rendy terkekeh melihat ekspresi Vika yang berubah kesal dengan wajah yang cemberut. Padahal, baru beberapa detik yang lalu perempuan itu tertawa lepas karena ulahnya.


"Setiap saat kamu selalu cantik, Vika. Kapan aku pernah bilang kalau kamu nggak menarik di depan aku? Hm?"


Vika mengangguk-angguk samar sambil memutar bola matanya tanda setuju.


"Gimana? Masih bad mood sekarang?"


Vika menyengir sambil memperlihatkan giginya yang putih. "...Lumayan."


"Cuma lumayan? Berarti aku harus usaha lebih keras lagi, dong..."


"Eeeh, stop! Jangan,!" Vika menahan dada Rendy dengan tangannya. Menghalau pria itu kalau-kalau akan bertindak seperti tadi. "Aku udah sedikit lebih baik, kok. Sungguh!" lalu mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf 'V'.


"Benar? Bukan cuma alasan, kan?" Rendy bertanya untuk memastikan.


"Benar. Mood aku cuma lagi naik-turun aja. Nanti juga membaik, kok." Vika terus meyakinkan Rendy.


Rendy pun tersenyum lembut. Lalu mengusap-usap pipi Vika dengan sayang. "yaudah, kalau gitu kita berangkat sekarang?"


Vika mengangguk senang. Lalu langsung merangkul lengan Rendy dengan manja yang sedang menghelanya ke kursi penumpang dan membukakan pintu mobil. Lalu menutupnya perlahan sebelum kemudian langsung menuju kursi kemudi dan mengemudikannya dengan laju sedang.


●●●


Simon tampak gelisah di sebuah rumah tua tempatnya tinggal saat ini. Tangan-tangannya saling bertautan sejak setengah jam lalu sembari memikirkan bagaimana cara dirinya melarikan diri tanpa ada yang mengetahui jejaknya.


Ya! Sudah dua hari Simon merasa jika dirinya sedang dimata-matai seseorang. Hal itu dirasakannya ketika dia sedang mencari sebuah tempat makan untuk makan siang di pedesaan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Setelah dia tiba di sebuah rumah makan tersebut, tidak lama kemudian beberapa orang tidak dikenal muncul bersamaan dan seolah memperhatikan dirinya dari jarak beberapa meter.


Tentu saja Simon bukan orang bodoh. Sebelum dia bisa menyantap makan siangnya, jangankan menyantap, memesan pun belum dilakukannya, Simon langsung mencuri kesempatan untuk kabur tanpa diketahui jejaknya. Dia langsung menggunakan langkah seribu dan kembali ke gubuknya dengan perasaan was-was.


Dan disinilah dia sekarang. Bergerak gelisah sambil menahan lapar perutnya yang sudah dua hari belum terisi.


"Sepertinya aku harus menemukan rumah baru. Disini sudah tidak aman."


Simon bergumam sendiri sambil berpikir. Berjalan mondar-mandir dengan lemas tanpa tau arah ditemani dengan suara gemuruh dari perutnya yang menagih untuk diisi.