A Fan With A Man

A Fan With A Man
Mengetahui Kebenaran



Meila terkejut mendengar semua pernyataan yang terlontar dari mulut Dimas. Setelah dengan hati-hati Dimas menjelaskan, akhirnya Meila mengetahui semua tentang keburukan Dion. Mulai dari transaksi ilegal yang sudah bertahun-tahun dilakukannya, sampai pemaksaan kehendak kepada seorang perempuan, hingga dirinya yang pernah masuk penjara dan menjalani pengobatan ke psikiater sejak dua tahun terakhir ini.


Ekspresinya sungguh luar biasa terkejut. Meila bahkan hampir merangsek mundur ke sandaran sofa akibat lemas karena syok. Dia nyaris saja memberikan kesempatan pada laki-laki yang kelakuannya bahkan lebih menjijikkan dan hina dari Beno.


Namun, dari itu semua Meila dapat berpikir dan memutar mundur waktu dengan menerka-nerka sikap Dion beberapa hari lalu setelah beberapa kali pertemuan mereka.


"Mei, kamu nggak apa-apa?"


Melihat Meila yang terlihat syok dan lemas, serta telapak tangan yang basah karena berkeringat, membuat Dimas menjadi khawatir. Dia bahkan sedikit menyesali tindakannya yang menceritakan tentang Dion kepada Meila yang belum benar-benar siap mendengarnya.


Apa tindakanku salah?


"Ja-jadi.... alasan kakak menyuruh aku untuk menjauhi kak Dion..... karena ini?"


"...Iya." Dimas menjawab jujur. "Aku sengaja menyelidikinya diam-diam karena sejak awal memang ada yang mencurigakan darinya."


Dimas lalu menggenggam kedua tangan Meila dengan erat. Meremasnya lembut sambil menatapnya lekat-lekat.


"Aku minta maaf karena menutupi hal ini dari kamu. Karena aku tau, jika aku memberitahu kamu setelah aku mengetahui kebenarannya sebelum aku menemukan bukti yang kuat, itu sama aja dengan aku menuduhnya tanpa bukti. Dan setelah aku mempunyai bukti-bukti legal, ditambah lagi.... dengan keberadaannya yang selalu disebutnya secara kebetulan itu, aku menjadi marah dan lupa dengan perasaan kamu. Tapi aku memang berniat untuk memberitahu kamu setelah aku kembali dari kantor saat itu." Dimas berucap jujur. Dan itu terlihat dari bola matanya.


Meila yang mendengarkan ucapan Dimas, tampak menatap Dimas dengan tatapan jernihnya yang polos.


".....aku sampai harus bertaruh dengan diriku sendiri untuk semua kemungkinan yang akan terjadi setelah aku menceritakan ini ke kamu. Karena aku tau,..." Dimas lalu mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Meila, mengusapnya dengan sayang. "....di detik aku menceritakan semuanya, itu sama aja dengan aku membangkitkan trauma kamu, Mei. Dan aku tau itu sangat menyakitkan buat kamu."


Meila terdiam dengan tatapan kosong. Tetapi tak urung tangannya terangkat untuk menyentuh tangan Dimas yang masih ada di pipinya. Kemudian memegangnya kuat sambil berucap memohon dengan nada lirih.


"Tolong jauhkan aku dari kak Dion, kak...." pintanya seketika. "Tolong jauhkan aku dari laki-laki itu...." suaranya bergetar dengan air mata yang mulai menggenang. "Aku nggak mau ada di dekat laki-laki itu. Aku mohon.... jangan beri dia kesempatan untuk dekat-dekat sama aku, kak..... aku mohon...."


"Ssshh..." Dimas lalu menarik Meila ke dalam pelukannya saat perempuan itu mulai terisak. "...Tentu, sayang, tentu. Tanpa kamu minta pun, aku pasti akan melakukan itu." Lalu mengusap punggungnya lembut untuk menyalurkan ketenangan. "Kamu tau aku sangat menyayangimu, kan?"


Terasa anggukan kepala Meila dalam pelukannya setelah kalimat itu terucap. Dimas lalu memberikan kecupan ke puncak kepala Meila.


"Aku minta maaf karena udah buat kak Dimas cemas," lirih Meila seketika saat suaranya teredam diantara lekukan leher Dimas yang hangat.


"Iya, sayang... jangan nangis lagi, ya?" lalu memberikan kecupan sayangnya ke pelipis Meila yang dibarengi dengan rengkuhan erat dari Dimas seperti sedang menghibur anak kecil. Lalu menyeka air mata Meila sebelum kemudian memeluknya lagi dengan erat.


●●●


Sisil mendadak tidak bisa tidur karena memikirkan perkataan Riana tentang dirinya yang mungkin akan menyukai James suatu hari nanti. Sudah beberapa kali dia berbaring miring ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Lalu terlentang hingga memaksakan diri untuk memejam. Tetapi tetap saja perkataan Riana terngiang-ngiang di benaknya.


Sisil berdecak sambil membawa tubuhnya bangun. Terduduk lesu dengan rambut yang berantakan.


"Bisa-bisanya gue nggak bisa tidur karena mikirin omongan mama."


Padahal, semalam dia merasa tidurnya sangat nyenyak dan nyaman. Entah karena habis mengeluarkan perasaan menyedihkan yang menggumpal, atau karena pelukan dari James yang begitu menenangkan.


Seketika dadanya bergemuruh. Hal itu membuat Sisil refleks memegang dadanya sendiri untuk memastikan debaran yang tercipta. Dan tentu saja indera perabanya itu langsung bisa merasakan debaran kencang yang memukul-mukul dadanya dengan keras kepala.


"Huuhh... sekarang gue malah berdebar." Keluhnya heran. "Ck! Nggak, nggak! Ini cuma efek kurang tidur. Gak usah mikir aneh-aneh." Sisil akhirnya mencoba meyakinkan dirinya sendiri jika debarannya itu hanya sebatas dirinya yang kurang tidur saja. Bukan apa yang Riana maksudkan padanya.


Ketika sedang fokus meyakinkan dirinya sendiri, ponselnya berbunyi dan langsung menampilkan nama penelepon dari seseorang yang sedang berusaha dihiraukannya. Matanya membelalak lebar melihat nama James begitu nyata di layar ponselnya di bawah sinar lampu kamarnya yang redup.


Sisil pun menjadi gugup dan salah tingkah. Dia bahkan harus mendehemkan suaranya sebelum akhirnya menjawab panggilan itu dengan nada datar.


"Oh, Kamu belum tidur rupanya?" Terdengar kekehan James yang renyah dari balik telepon. Dan itu terdengar sangat menyenangkan Sisil tanpa disadarinya. "Padahal aku cuma iseng menelepon. Kalaupun kamu tidak mengangkat teleponku pun... tidak masalah." Kekehnya. "Tapi diluar dugaan, kamu malah mengangkatnya. Itu tandanya aku masih beruntung."


Apa-apaan dia ini? Tengah malam begini dia bilang iseng? Dasar kurang kerjaan!


"Yaudah aku tutup telponnya.!"


"Eh, tunggu-tunggu. Kenapa langsung ditutup?"


"Kan kamu yang bilang, kalau kamu cuma iseng. Daripada aku juga buang-buang waktu, lebih baik aku matiin, kan?" Suara Sisil mulai terdengar ketus. Dan itu membuat James tertawa tanpa suara.


"Kamu tertawa, ya?"


"Ekhem! Oh, nggak, kok. Aku cuma lagi mendengarkan celotehan kamu yang mulai ketus lagi." James berucap jujur.


"Kamu benar-benar, ya!" Sisil menggeram kesal dibuatnya.


"Oke, oke! Hmm... kamu kenapa belum tidur? Ini udah hampir dini hari. Apa jangan-jangan besok kamu tidak ada kelas? Ah, itu berarti aku tidak bisa mengantarmu besok pagi..."


"Kenapa tadi kamu mengiyakan ucapan papa, James?"


Sisil berucap berbarengan dengan James yang masih berbicara. Hal itu membuat James samar-samar mendengarnya.


"Maksudmu?"


"Kenapa kamu mengiyakan ucapan papa yang memintamu untuk tetap mengantarku ke kampus besok?"


James memulas senyum. Dia terlihat memejamkan matanya sesaat sebelum akhirnya menjawab keingintahuan Sisil dengan lantang.


"Karena aku memang ingin melakukannya." Jawab James lugas. Hal itu membuat Sisil mengerutkan keningnya.


"Kamu nggak perlu merasa nggak enak sama papa. Aku yang akan bilang ke papa kalau kamu akan sibuk dan nggak bisa terus-terusan untuk antar jemput aku semaumu."


"Sisil... Sisil... dari mana kamu mempunyai kesimpulan sendiri seperti itu? Aku sangat santai dan mempunyai banyak waktu untuk melakukannya. Kamu hanya tinggal duduk diam dan menunggu dengan nyaman sampai aku mengantar dan menjemputmu dengan aman."


Benar-benar pria yang aneh! Dan lagi, kenapa sikapnya jadi mendadak lembut kayak gini? Bikin orang merinding tau, gak?!


"....te-terserah kamu. Aku udah meminta baik-baik sebelum semuanya menjadi rumit." Sisil tanpa sadar tidak sengaja mengatakan hal yang tidak seharusnya dia katakan.


"Menjadi rumit? Apa yang kamu maksud menjadi rumit itu?" James bertanya ingin tahu.


"Ah, eemm... ng-nggak! Bu-bukan apa-apa! Ya udah, aku mau tidur. Kalo terus ngobrol sama kamu bisa-bisa aku telat ke kampus besok."


Setelahnya, Sisil langsung mematikan panggilan teleponnya secara sepihak. Dan tanpa sengaja telah meninggalkan James yang masih tersenyum sendiri sambil memandangi layar ponselnya.


"Aku tau apa yang kamu maksud itu, Sisil. Tapi aku lebih memilih untuk pura-pura tidak menyadarinya. Karena setelah kamu mengetahuinya, kamu pasti akan membuat jarak di antara kita."


Di waktu yang sama, sambil menghembuskan napasnya kasar, Sisil merasa dadanya semakin bergemuruh setelah berbicara dengan James. Tangannya menyentuh dadanya dengan perasaan yang tidak karuan.


"Kenapa gue jadi deg-deg an gini?"


Sisil lalu menggelengkan kepalanya untuk menghalau semua perasaan yang dirasakannya. Lalu kembali merebahkan tubuhnya dengan bergelung selimut sambil memejamkan matanya dengan paksa.