
Meila langsung menyadari jika itu bukanlah Dimas. Namun, siapapun yang datang, sudah cukup membuatnya lega dan ada sedikit harapan jika dirinya pasti akan segera keluar dari ruangan gelap nan menyesakkan itu.
"Lepasin lo bilang?" Sudut bibirnya terangkat. "Nggak semudah itu. Gadis ini yang datang sendiri ke kita. Otomatis dia milik kita." Ujarnya sambil mencengkram pipi Meila dengan kencang sampai Meila merasakan tulang rahangnya terasa nyeri karena tekanan.
"Oh, okay kalo itu pilihan kalian."
Dengan sekali gerakan pria itu meninju salah satu penjahat tanpa bisa dihalau. Sampai penjahat itu langsung dapat merasakan nyeri di sudut rahang yang menyebar ke seluruh wajah. Sementara teman yang satunya lagi, tetap memegangi tangan Meila yang masih berusaha melepaskan diri darinya.
Pria itu terus memukulinya, menendang sampai tersungkur kesakitan.
Dimas yang saat itu hampir tiba di depan toilet mendengar suara gaduh dari dalam sana dan langsung bergegas masuk. Dia dapat merasakan bahwa Meilanya pasti sedang dalam bahaya.
Melihat temannya jatuh tersungkur menahan sakit, otomatis cengkramannya pada tangan Meila dilepaskan dengan tujuan untuk membantu dan memukul pria itu dari belakang saat dirinya lengah. Namun, pukulannya langsung dihalau Dimas dengan tendangan bertubi-tubi hingga membuat Meila tercengang bercampur haru. Dan disaat itulah hati Meila merasa lega sepenuhnya karena melihat sosok Dimas disana.
Suara keributan itu bertambah berkali-kali lipat diikuti dengan kedatangan para pengunjung yang ingin melihat kejadian yang sebenarnya. Hal itu memancing keingintahuan dari kepala supervisor pusat perbelanjaan tersebut untuk datang melerai yang diikuti oleh beberapa orang keamanan namun malah sebuah omelan yang mereka dapat.
"Anda supervisor di sini?" Dimas dapat langsung menebak tanpa harus bertanya. Terlihat dari cara berpakaiannyalah yang menunjukkan bahwa dia yang bertanggung jawab atas keadaan sekitar.
"Benar. Ada apa ini? Kenapa ada ribut-ribut dan kenapa anda memukuli mereka?" Supervisor itu belum menyadari jika Dimas memiliki kuasa untuk bertindak, dia malah tampak bingung melihat anak bawahannya babak belur tersungkur di lantai.
"Bagaimana bisa anda mempekerjakan orang-orang seperti ini? Apa kalian tidak mencari tau latar belakang mereka lebih dulu?" Rupanya Dimas sudah tersulut emosi. Tanpa sadar, dia mengeluarkan suaranya yang tidak pernah dia tunjukkan di hadapan Meila ataupun orang lain.
Supervisor itu tampak gugup melihat kemarahan Dimas. Karena selama ini tidak ada yang pernah mengangkat suaranya tinggi-tinggi padanya. Jika itu terjadi, sudah pasti orang itu adalah orang penting dan juga mempunyai andil di perusahaan ia tangani.
"Sepertinya anda yang tidak tau jika mereka adalah penjahat yang menyamar. Mereka berusaha mengambil kesempatan untuk mencurangi para wanita dengan menaruh alat perekam video di langit-langit toilet yang mudah dijangkau." Bukan Dimas yang menjawab, melainkan pria yang datang mendobrak tadi yang menyahut dan menjelaskan dengan detail.
"Saya bisa saja menutup jalur akses mall ini dengan wewenang yang saya miliki. Jika kalian tidak mau itu terjadi, urus mereka dengan benar dan blacklist nama-namanya. Pastikan mereka tidak akan mendapatkan pekerjaan dengan cara atau penyamaran apapun. Dan ya, saya tidak mau melihat ataupun mendengar nama mereka lagi."
Kali ini perintah Dimas sangat tegas dan final. Dia berusaha memastikan agar kejadian merugikan seperti ini tidak terjadi lagi. Terutama pada seorang wanita dan itu pada gadisnya.
Supervisor itu tercengang sekaligus terkejut saat mengetahui jika yang berada dihadapannya saat ini adalah putra dari seorang pemilik saham dari mall yang dipimpinnya. Dan itu sangat berpengaruh akan posisinya.
"Baik, tuan. Saya mengerti." Pimpinan itu mengangguk dengan rasa malu dan setengah tertunduk.
Kedua penjahat yang menyamar menjadi petugas kebersihan itu sudah terjatuh lemah. Mengaku kalah sampai tidak mampu bangkit, memohon untuk diampuni dan berhenti memukuli mereka. Setelahnya, beberapa orang keamanan diperintahkan untuk membawa kedua penjahat itu keluar dan menjauh.
Seketika pria yang tadi datang dengan mendobrak pintu berjalan mendekati Meila, sementara Dimas masih tampak berkomunikasi dengan Supervisor dan beberapa keamanan di sana, memberikan pengarahan tegas pada mereka.
"Kamu nggak apa-apa? Apa ada yang luka?" Dia bertanya pada Meila yang masih tampak ketakutan dan gemetar. Bahkan Meila harus sampai sedikit menjaga jarak darinya.
Meila hanya terdiam sambil menggeleng. Dia masih terlihat syok. Terlihat dari cara kedua lengannya yang tampak bergerak memeluk tubuhnya sendiri sambil menunduk. Tidak berani menatap lawan bicaranya.
"Mei..." suara Dimas yang cemas namun lembut berhasil memasuki gendang telinganya. Berbeda saat dia berteriak marah pada seorang supervisor tadi. Dan itu berhasil menyingkirkan rasa takut yang menyelimutinya.
".....kak,...." jawab Meila menahan isak.
Saat Dimas mendekat untuk merangkulnya, Meila langsung memeluknya sambil berurai air mata. Dimas pun langsung mendekapnya, menenangkannya, mengusapi kepala serta punggungnya dengan lembut.
"Kamu nggak apa-apa, kan?" Dimas bertanya. Memastikan jika kondisi gadisnya baik-baik saja. Terlihat adanya sedikit syok yang membekas di raut wajahnya yang beruraian air mata. Dan Meila hanya menggeleng dalam dada Dimas.
Jika sudah berhadapan dengan Meila, sikap Dimas langsung berubah lembut. Dan itu yang menjadi tontonan oleh seorang pria penolong yang dengan jelas memperhatikan interaksi keduanya.
"Ssshh... it's okay. Calm down, Sweety." Dimas berbisik menenangkan. Mencium puncak kepalanya dengan sayang.
Pria itu tampak memperhatikan. Dia tidak menduga jika gadis yang ia selamatkan memiliki hubungan dengan pria yang baru saja berani memarahi seorang supervisor.
"Dia keliatan masih syok," suara pria itu tiba-tiba mengalihkan sejenak perhatian Dimas.
"Anyway, thanks buat pertolongannya." Dimas mengucapkan kata terima kasihnya untuk Meila. Sementara gadis itu masih belum mau melepas pelukannya.
"Dion. Nama gue Dion. Gue kebetulan lewat saat denger teriakan dari sini."
"Gue Dimas." Dimas mengulurkan satu tangannya. Dan Dion pun menyambut uluran tangan itu dengan ramah.
Mereka saling berjabat tangan. Diperhatikan oleh Meila yang hanya diam membisu dengan air mata yang belum kering.
"Kalo gitu... gue duluan." Ucap Dion ramah, matanya sedikit melirik pada Meila yang masih dalam pelukan Dimas namun sudah tampak sedikit tenang.
Begitu Dion keluar dari toilet, tinggallah Dimas dan Meila. Perhatian Dimas tertuju kembali pada gadisnya. Perlahan menunduk, lalu menangkup kedua pipi Meila sambil mengusapi air matanya.
"Nggak apa-apa.... hm? Aku pastikan mereka nggak akan berani menyentuh kamu lagi." Dimas berucap lembut. Lalu memberikan kecupan di kening Meila. "Kita pulang, ya?" Meila mengangguk dengan kedua mata yang masih sembab.
Saat mereka keluar dari toilet, supervisor itu kembali mendatangi Dimas. Seolah ingin melapor dan memastikan jika dia telah membereskan penjahat-penjahat tadi seperti yang Dimas perintahkan.
"Saya sudah membereskan semuanya, tuan. Sekali lagi, kami mohon maaf atas ketidaknyamanannya terutama dengan apa yang terjadi pada Nona. Saya pastikan tidak akan ada kejadian seperti ini lagi kedepannya."
Dimas mengangguk dengan tegas. Dia sudah cukup dengan menggunakan sedikit kekuasaannya. Dan sekarang, saatnya memusatkan kembali perhatiannya pada gadis yang ada dalam rengkuhannya.
Setelah sedikit berbincang dengan kepala supervisor, mereka menuju tempat dimana mobil mereka terparkir. Melajukan kendaraan dengan kecepatan rata-rata, di tengah keramaian jalanan ibu kota yang mulai memasuki senja.
●●●
Rendy dan Vika baru saja memasuki rumah dengan beberapa kantung belanjaan. Sehabis mata kuliah berakhir, Rendy langsung menancapkan gas mobilnya dan bertandang ke pusat perbelanjaan untuk mencari gaun yang akan Vika kenakan di acara pesta makan malam ulang tahun pernikahan dari orang tua James.
Seolah menjadi pacar yang baik, Rendy selalu mengikuti kemana langkah Vika pergi dan menuruti kemauannya. Tapi tak terkecuali, Vika selalu meminta pendapat Rendy kalau-kalau gaun itu tidak pantas dilihat saat dipadu padankan pada tubuhnya. Meskipun dia adalah seorang model, Vika tidak mau mengambil keputusan sendiri karena mengingat ada Rendy yang adalah kekasihnya. Dan sekarang, mereka tampak kelelahan dan langsung menaruh bokong masing-masing ke atas sofa empuk sambil menghela napas.
Vika memulas senyum sumringah, "thank you karena udah mau aku ajak keliling tanpa mengeluh. Aku tau kamu pasti nggak terbiasa."
Mendengar kalimat itu membuat Rendy tersenyum renyah. "Aku harus mulai terbiasa sepertinya. Karena, mungkin kedepannya kita akan sering-sering kayak gini. Dan aku akan siap buat mendampingi seorang model cantik yang kebetulan adalah pacarku ini." Imbuhnya.
Vika tersenyum malu-malu mendengarnya. Namun dia tak urung menanggapi perkataan Rendy dengan candaan.
"Uuuww... manisnya.... sini, peluk,!"
Dengan sekali gerakan Vika langsung menghambur ke dalam rengkuhan lengan Rendy. Mereka tertawa dengan saling berpelukan. Sesekali Rendy juga memberikan kecupan ke pelipis Vika yang saat ini sedang memeluknya dengan manja.
"Rendy, kapan Meila masuk kampus?"
"Mungkin lusa. Karena besok dia harus kembali ke rumah sakit buat pembersihan lukanya." Jawab Rendy cepat dan jelas. Lalu, dia menunduk pada Vika dan bertanya. "Kenapa?"
Vika mendongak dan menggeleng yang disertai ******* napas ringan. "Semoga dia cepat pulih dan kembali bergabung lagi bersama kita, ya."
"Pasti." Jawab Rendy sambil menggerakkan tangannya mengelus-elus bahu Vika dengan gerakan lembut seirama.
●●●
"Sayang, kalo kamu merasa bosen bisa langsung istirahat ke kamar aja. Disana lebih nyaman."
Dimas yang masih berada di dapur terdengar menyuruh Meila untuk pergi ke kamar beristirahat. Karena dia merasa mungkin gadis itu merasa lelah ditambah dengan kejadian yang membuatnya syok tadi siang.
Namun, mendengar perintahnya tidak mendapatkan jawaban dan respon dari Meila, dengan dahi yang mengerut Dimas langsung mencuci tangan di wastafel sebelum kemudian mengelap kedua tangannya dengan lap handuk kering lalu bergegas mendekati gadisnya. Dan benar, rupanya Meila sedang melamun tanpa menghiraukan acara televisi yang masih menyala di hadapannya.
Perlahan saat Dimas berhenti di belakang Meila, dia mendapati gadis itu sedang terdiam memegang remote tv sambil menyandarkan lengannya ke lengan sofa.
Dimas pun mengangkat tangannya, menyentuh bahu Meila dengan hati-hati takut-takut gadis itu terkejut dan malah akan membuatnya takut. Dan hal yang ditakutkan terjadi. Begitu tangan Dimas menyentuh bahunya, didetik itulah Meila sedikit terperanjat. Seolah berusaha menjauhkan diri dari seseorang.
"Ini aku,..." suaranya lembut.
Meila mendongak. Dan saat mengetahui jika itu Dimas, Meila langsung menghela napas lega. "Kak Dimas,?" Lalu memalingkan wajahnya karena merasa tidak enak. "....maaf.... aku lagi melamun tadi," imbuhnya pelan.
Bibir Dimas memulas senyum, lalu melirikkan pandangannya pada segelas susu yang tadi ia buatkan untuk Meila namun masih belum tersentuh sedikitpun.
"Aku bicara sama kamu. Tapi kamu nggak jawab. Makanya aku ke sini." Sambil mengusap kepala Meila. "Kenapa susunya belum diminum?"
Lalu, memutar tubuhnya ke arah sofa dan duduk di sebelah Meila. Mengambil gelas susu itu dan memberikannya padanya. "Diminum susunya selagi masih hangat."
Dan benar, susu itu masih terasa hangat ketika sampai di tangannya. Dengan pelan-pelan Meila meminumnya. Sementara tangan Dimas tidak berhenti bergerak. Mengelus-elus pipi Meila dengan lembut sembari menyelipkan rambut-rambut halus yang menjuntai dan mengganggu penglihatannya.
"Lupakan kejadian itu, Mei. Jangan biarkan itu mengganggu pikiranmu."
Kalimat itu berhasil membuat Meila menoleh. Keduanya saling menatap beberapa detik. Sampai Meila sendirilah yang lebih dulu memalingkan wajahnya.
"Aku... nggak apa-apa. Cuma sedikit lelah aja." Sahutnya beralasan.
Dimas tau jika itu hanyalah sebuah alasan untuk menutupi perasaan yang mengganjal dan begitu menyesakkan.
Seketika tatapan Dimas melembut. Dia pun mengambil bantal sofa didekatnya dan menaruhnya ke atas pahanya. Lalu, mengambil gelas susu yang masih dipegang oleh Meila dan meletakkannya ke atas meja.
"Sini. Kemari!" Dimas menepuk-nepuk pahanya yang ia taruh bantal diatasnya. Meminta Meila agar membaringkan kepalanya disana.
Tanpa menunggu Dimas mengulang, Meila langsung membaringkan kepalanya ke atas pangkuan Dimas. Dan secara otomatis Dimas langsung membelai kepala Meila dengan gerakan lembutnya.
"Jangan dipikirin lagi dong, Sayang. Ayo, pejamkan mata kamu."
Namun, bukannya memejam, Meila malah kembali berucap.
"Ternyata aku belum cukup dewasa buat mengatasi kejadian tadi." Suaranya terdengar pilu. Tangan Dimas ikut terhenti sejenak mendengar kalimat yang Meila ucapkan. Namun dengan segera dia bergerak kembali. "Dengan penuh percaya diri aku masuk ke toilet itu tanpa waspada. Saat bahaya itu datang, aku cuma bisa takut dan menurut. Bahkan untuk berteriak pun aku merasa ragu. Padahal, aku bisa melakukan lebih dari itu untuk melawan mereka kan, kak?" Mata jernihnya menatap, seperti sedang mendesak untuk meminta jawaban.
Dimas menghela napas sebelum akhirnya menjawab. "Apa kamu tau apa itu dewasa?"
Dengan polosnya Meila langsung menggeleng dengan kedua mata masih menatap Dimas.
Sambil melengkungkan bibirnya membentuk senyuman. "Dewasa itu bukan ditentukan oleh umur, Sayang. Itu adalah sebuah pilihan." Dimas menarik napas ringan, memutar bola matanya ke atas, baru kemudian berbicara lagi saat mengingat sesuatu. "Kamu tau, seorang teoritikus dunia, Abraham Maslow?" Untuk kesekian kalinya, Meila menggeleng lagi. "Menurutnya, orang yang dewasa itu adalah orang yang dapat mengaktualisasikan diri dengan mengenali potensi dalam dirinya dan telah mengenali dirinya sendiri. Kedewasaan itu sifatnya tidak konstan dan memerlukan proses. Selama hidup, seseorang pasti akan mengalami permasalahan, dan seiring dengan adanya masalah hidup, itu adalah proses pendewasaan diri. Dan apa yang kamu alami hari ini, itu adalah salah satu dari proses menuju kedewasaan. Siapapun yang ada di posisi kamu saat itu pasti nggak semua bisa mengatasinya. Ada yang menggunakan otaknya untuk melawan, ada yang menggunakan perasaannya dengan memasrahkan diri dan menuruti kemauannya, bahkan ada juga yang langsung melawan tanpa memikirkan keselamatannya. Kenapa? Karena, dewasa itu bukan hanya soal fisik aja, tapi juga secara emosi dan sosial." Dimas menjelaskan dengan kalimat yang mudah dimengerti. Sehingga gadis yang sedang berada di pangkuannya itu dapat mencerna apa yang dia ucapkan.
Lalu dengan jahilnya jemari Dimas mencubit pipi Meila dengan lembut sebelum kemudian berucap lagi. "Jadi, jangan pernah menilai kalau diri kamu itu udah dewasa atau belum. Karena seiring berjalannya waktu, kedewasaan itu akan terbentuk disaat yang tepat. Mengerti?" Entah Meila memang benar-benar mengerti atau tidak, gadis itu mengangguk dengan mantap. "Jadi, apa yang kamu alami hari ini adalah sebuah proses menuju fase pendewasaan diri, Sayang. Bukan berarti karena kamu lemah dan pasrah itu menandakan kalo kamu belum dewasa. Kamu salah kalo kamu bilang nggak bisa mengatasi itu. Teriakan kamu itu udah disebut sebagai tindakan. Karena dengan kamu berteriak, kamu udah mengundang rasa ingin tahu seseorang sampai akhirnya ada seseorang yang menolong kamu, bukan?"
Mendengar kata 'seseorang', seketika Meila mengingat akan seorang pria yang tadi telah menolongnya. Dia baru sadar jika dirinya belum sempat berterima kasih bahkan dia tidak mengingat wajahnya sama sekali karena terlalu syok.
"Kak,..." Meila memanggil Dimas yang masih membelai rambutnya dengan sayang.
"Ya?"
"Aku... aku belum bilang terima kasih sama orang yang tadi nolongin aku. Karena terlalu takut aku bahkan nggak berani melihat wajahnya."
Dimas tersenyum lembut, "namanya Dion." Pungkasnya. "Aku udah mewakilkannya tadi saat kamu meringkuk di pelukan aku." Imbuhnya sambil menggoda.
Sadar karena Dimas sedang menggodanya, Meila memberengutkan bibirnya sambil menutupi pipinya yang merona.
Dimas tertawa renyah sambil membawa jemarinya mengelus tulang pipi Meila yang memerah. Lalu, menunduk dan mengecup ujung hidung lancip Meila dengan gemas.
"Udah cukup pembahasan hari ini. Sekarang saatnya kamu istirahat. Karena besok kita harus ke rumah sakit buat pembersihan luka bekas jahitan kamu ini." Dengan pelan tangannya bergerak menyentuh perut Meila yang terdapat perban jahitan.
Sambil menatap Dimas dan tersenyum, "...okay. Thank you 'cause always beside me no matter what." Kemudian berucap tiba-tiba dengan tutur kata lembut dan juga suara yang pelan. Lalu menggenggam tangan Dimas dengan erat namun lembut. "....i'm lucky to have you by my side...." imbuhnya dengan malu-malu dan nyaris tidak terdengar. Namun, keheningan malam mampu membuat semuanya terdengar jelas hingga sampai ke telinga Dimas.
Tatapan Dimas berubah sayang. Pun dengan senyumnya yang hangat sampai-sampai jantung Meila berdegup kencang sehingga dia takut Dimas dapat mendengarnya.
"And i'm the luckiest one to love you, Carmeila Queenza Wiguna." Dimas menyahuti dengan menyematkan nama Meila dengan lengkap sampai gadis itu merasakan wajahnya panas dan memerah padam. Hal itu memancing gelak tawa Dimas sampai tidak tahan untuk mengecupi kening Meila.
"Selamat malam, Sayang." Lalu turun dengan memberikan kecupan hangat yang disematkan ke bibirnya yang terasa lembut dan manis sambil mengusap-usap kepalanya sebagai penghantar rasa kantuk menuju ke alam mimpi.