A Fan With A Man

A Fan With A Man
Bersikap Manis



Seorang penjaga membawa sebuah nampan berisi menu makan malam. Penjaga itu masuk ke dalam kamar dimana Simon ditempatkan. Simon sendiri masih berusaha melepaskan ikatannya dengan susah payah. Tetapi, dengan kondisinya yang lemah dan juga ikatan yang sangat kencang, usahanya tampak sia-sia.


"Ini, makanlah." Penjaga itu memberikan nampan berisi makan malam untuk Simon. "Aku akan membuka ikatan tanganmu. Tapi jangan coba-coba atau berpikir sedikitpun untuk kabur. Kalau tidak,..." Penjaga itu lalu memperlihatkan sebuah pistol yang dikeluarkannya dari balik jas. Lalu sengaja mengisinya dengan peluru-peluru sampai penuh di depan Simon yang bertujuan untuk menekannya. "....peluru-peluru ini akan bersarang di seluruh tubuhmu."


Hawa takut langsung menyelimuti tubuh Simon. Tubuhnya langsung panas dingin dan gemetar hingga tanpa sadar dia mengangguk patuh karena terdesak. Menurutnya, biarlah dirinya diikat dan ditawan sampai dia tidak mengetahui kapan dirinya akan dibebaskan. Asalkan dia tetap hidup dan diberi makan, itu adalah kesempatan langka yang dia dapatkan.


Sembari menunggu penjaga itu membuka ikatannya, Simon tampak diam dan patuh tanpa suara. Dan setelah ikatan itu terlepas, penjaga itu memberikan makan malamnya dan memerintahkannya untuk segera menghabiskannya.


"Makan dan cepat habiskan. Jangan berharap hal yang lebih selain kami yang masih memberimu sedikit i'tikad baik. Aku akan membiarkanmu menyantap makan malammu."


"Tu-tunggu," Ketika penjaga itu akan melangkah keluar, Simon bertanya dengan nada hati-hati dan takut kalau penjaga itu akan marah. "Se-sebenarnya.... si-siapa bos kalian? Kenapa dia mencariku?"


Penjaga itu berhenti tanpa menoleh sedikitpun. "Kamu akan tahu besok. Sekarang habiskan makan malammu dalam waktu setengah jam."


Tanpa banyak bicara lagi, penjaga itu benar-benar keluar dari ruangan Simon. Membiarkan Simon menyantap makan malamnya sendiri tanpa siksaan ataupun intimidasi.


●●●


Suasana langit malam yang telah naik mulai melingkupi kamar. Kaca jendela yang hanya tertutupi setengah tirai, tampak indah dengan pemandangan gelap malam yang terlihat dari sisi tempat tidur. Dimas dan Meila telah bersiap untuk tidur dan tengah berada di sisi ranjang masing-masing. Dimas yang terlihat fokus pada laptopnya, dan Meila yang terlihat sibuk dengan novelnya. Sama-sama duduk bersandar ke kepala ranjang dengan sebagian tubuh tertutup selimut.


Tetapi tiba-tiba, Meila mengeluarkan suara ******* kasar disusul dengan buku novel yang diletakkan di atas pangkuannya. Hal itu sontak membuat Dimas sedikit terusik sekaligus menoleh.


"Kamu kenapa?"


Meila menarik napasnya pelan, "nggak tau. Aku cuma merasa gelisah aja tiba-tiba." Ujarnya sambil memberengutkan bibirnya.


Tanpa memperhatikan lagi pekerjaannya, Dimas langsung menutup laptopnya dan mengalihkan perhatiannya pada Meila. Meletakkan laptopnya itu dengan asal ke atas meja nakas di samping ranjang.


"Gelisah kenapa? Ayo, kesini," sambil bertanya, Dimas meraih Meila ke dalam pelukannya. Menyandarkan Meila ke dadanya sambil memberikan kecupan kecil ke puncak kepalanya.


"Entahlah. Aku juga bingung. Padahal, seharian ini mood aku sangat baik. Apa akan terjadi sesuatu, ya?" Kepala Meila mendongak disertai mata besarnya.


"Nggak akan terjadi apa-apa. Semuanya akan baik-baik aja. Udah jangan dipikirin terus." Dimas berujar menenangkan sambil memberikan elusan lembut ke bahu Meila.


Meila terdiam sambil menghela napas pelan. Kemudian memejamkan matanya sesaat dan berucap pada Dimas dengan nada hati-hati.


"Kak," Meila memanggil Dimas dengan pelan.


"Ya?"


"Tadi siang waktu aku mengobrol sama Sisil, aku sempat bilang kalau mungkin cepat atau lambat aku akan kembali ke rumahku. Dan kamu tau Sisil bilang apa? Dia bilang agar aku tetap disini aja karena akan lebih aman. Menurut kamu maksudnya apa ya?"


Mendengar ucapan Meila, usapan tangan Dimas di bahunya sempat berhenti sesaat sebelum kemudian bergerak kembali. Dia langsung bisa menangkap kemana arah pembicaraan Meila dan juga maksud dari ucapan Sisil yang langsung mencegah Meila untuk keluar dari rumahnya agar tetap tinggal.


Apakah ucapannya itu karena untuk melindungi Meila dari incaran Beno?


Dimas berpikir mungkin untuk sekarang, dia mulai bisa sedikit mempercayai Sisil. Dan memberi kesempatan untuknya berubah seperti yang dikatakan James.


"Ah, itu...." Meila terperangah dan mencoba mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Dimas. "Aku berpikir karena udah terlalu lama merepotkan kamu. Rumahku juga udah lama nggak aku tempati. Jadi mungkin nanti aku akan kembali ke rumah jika memang sudah benar-benar aman."


"Lalu, siapa yang bilang kalau aku akan memberi izin?" Dimas balik bertanya tanpa merespon ucapan Meila.


Meila mengedikkan kedua bahunya. Menandakan jika dia tidak tahu dan ada sedikit perasaan tidak enak yang muncul.


"Apa kamu.... marah?" Meila berujar dengan hati-hati. Sedikit mendongakkan wajahnya ke arah Dimas yang sedang memasang muka tegas khas seorang atasan di kantor.


"Nggak. Aku nggak marah. Aku cuma heran kenapa kamu terus merasa kayak gitu bahkan setelah aku menjelaskan semuanya. Seberapa keberatannya aku cuma aku yang tau. Bukan kamu, ataupun orang lain."


"Lalu? Apa... selama ini kamu merasa keberatan selama aku disini? Jujur, aku sempat merasa nggak enak hati rasanya."


Dimas mendengus kecil sebelum akhirnya menjawab dengan pertanyaan lagi.


"Apa selama ini kamu ngeliat aku merasa keberatan atau mengeluh akan keberadaan kamu dirumah ini?"


Meila tampak berpikir. Jika diingat-ingat, selama ini Dimas tidak pernah memperlihatkan reaksi tidak mengenakkan apapun tentangnya. Mengeluh, keberatan, atau ucapan menyindir dalam bentuk kalimat pun tidak pernah dia dengar.


Hampir satu menit Meila berpikir, akhirnya dia memberi jawaban dengan gelengan kepala.


"Aku tau kamu pasti bosan dan sedikit marah karena ucapan aku. Tapi aku nggak ada maksud apa-apa selain merasa nggak enak sama kamu." Dengan kepala masih merebah ke dada Dimas, Meila terlihat meraih tangan Dimas untuk memainkan jari-jemarinya. "Apa sekarang kamu marah?" Dia lalu beringsut dan menjauh untuk melihat reaksi Dimas. Hingga posisinya kini saling berhadapan. "Aku tau kamu pasti sedikit kesal, kan?"


Dimas menatap Meila lekat-lekat. Jujur, ada perasaan geli di hatinya saat melihat Meila yang sedang memasang wajah harap-harap cemas menunggu jawabannya. Belum lagi reaksi wajahnya yang tampak bingung. Membuat Dimas ingin menyemburkan tawa di detik itu juga.


"Kalau kamu bilang aku bosan karena ucapan kamu, maka jawabannya adalah, Ya. Tapi, aku nggak marah ataupun kesal sedikitpun. Aku hanya heran." Dimas menekankan kata 'heran' dengan tegas pada Meila sambil menangkup sisi wajah Meila. "Karena, mau berapa kali lagi aku menjelaskan ke kamu kalau aku nggak pernah merasa keberatan sama sekali akan keberadaan kamu di rumah ini? Apa perlu aku membuat surat perjanjian disertai materai biar kamu percaya?"


"Ng-nggak perlu sampai begitu," Meila menyela dengan cepat.


Kenapa kesannya jadi aku pemilik rumah ini?


Dimas pun akhirnya terkekeh, "Dan mengenai Sisil, kamu boleh mulai mempercayainya. James udah mengatakan semuanya jika kali ini dia benar-benar akan berubah. Ya.... terlepas dari keterlibatannya di masa lalu, aku juga akan mulai mempercayainya."


Reaksi Meila diluar dugaan. Kedua matanya membelalak senang penuh binar. Dan tanpa sadar dia memberikan kecupan sekilas ke pipi Dimas dengan cepat. Secepat kilat hingga membuat Dimas membeku dan telat mencerna beberapa detik akan tindakan yang Meila tunjukkan kepadanya.


"Terima kasih," ucap Meila kemudian dengan tingkah manisnya. "Apa sekarang kamu masih marah?"


Dimas pun akhirnya tidak bisa berkata-kata. Sembari menangkup kedua pipi Meila yang kenyal dan lembut, Dimas pun membalas kecupan Meila dengan mengecupnya kembali ke pipi kanan dan juga kirinya.


"Kalau pacar aku yang mungil ini bersikap manis, mana bisa aku marah? Ayo, kita tidur. Besok kamu harus bangun pagi untuk kuis, kan?"


Meila terkekeh sambil mengangguk tanpa mengeluarkan bantahan lagi. Dia lalu merebahkan tubuhnya dengan nyaman sambil membawa tubuhnya merapat pada Dimas. Menerima pelukan hangat Dimas yang langsung memberinya kehangatan dan ketenangan begitu hidungnya mencium bau harum dari tubuh Dimas yang khas. Yaitu perpaduan antara bau mint dan teh yang menyegarkan.


"Good night, sayang." ucap Dimas seketika.


"Good night too," jawab Meila menyahuti.