A Fan With A Man

A Fan With A Man
Memaafkan



Meila tersentak dari lamunannya. "Oh, maaf. Aku sedikit melamun." Dia kemudian menarik napas dan menghembuskannya perlahan. "Begini, Sisil. Aku nggak tau sebenarnya apa yang bikin kamu mau datang kesini dan meminta maaf soal kejadian di masa lalu. Karena aku juga nggak pernah berpikir kalau hari ini akan datang. Tetapi, ada satu hal yang membuatku mau bertanya. Apa kamu lagi ada masalah? Karena aku perhatikan belakangan ini kamu keliatan cemas dan ketakutan."


Sisil langsung terdiam. Dia tidak tau apakah dia harus jujur atau menyembunyikannya. Dia takut jika dia menceritakan dan memberi tahu keberadaan Beno yang sedang berkeliaran, itu akan membuatnya takut dan cemas. Dan tentu saja akan mengancam keselamatannya juga.


"Ng-nggak. Gue gak ada masalah, kok. Gue emang mau minta maaf aja sama lo."


Akhirnya Sisil memilih untuk tidak mengatakan yang sebenarnya pada Meila. Dia berpikir mungkin itu lebih baik jika harus membangkitkan traumanya kembali. Kejadian yang dia lakukan sudah cukup memberikan rasa trauma baginya. Jika dia menceritakan masalahnya pada Meila, entah apa yang akan terjadi pada perempuan itu. Mungkin Meila akan syok dan yang paling terburuk mungkin pingsan.


Meila mengangguk-angguk dengan ekspresi tampak percaya. Mungkin karena sifat polosnya itu yang membuatnya tidak pernah berpikir negatif terhadap seseorang. Sehingga dia lebih disukai banyak orang melalui sifat dan kepribadiannya itu.


"Jadi, apa jawaban lo?" Sisil menagih jawaban dengan tidak sabaran.


Dengan alis mengernyit, Meila bertanya dengan heran. "Jawaban? Oh, maaf, maaf. Aku sampe lupa karena mikirin kamu." Pungkasnya dengan cengiran.


Perempuan ini polos apa emang bodoh sih? Bisa-bisanya masih mikirin orang lain yang jelas-jelas udah berbuat jahat ke dia?


"Hmmm... Sisil, sebenernya aku bingung mau kasih jawaban apa ke kamu. Karena memang, aku udah memaafkan kamu jauh sebelum ini. Aku mengerti, mungkin bagi sebagian orang, perbuatan kamu itu masih harus dipertimbangkan jika dimaafkan. Tetapi, buat aku, kamu masih pantas untuk dimaafkan dan diberi kesempatan untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi. Dan jawaban aku,...... Iya. Aku maafin kamu."


Setelah mengatakan kalimat panjang yang membuat Sisil tercengang, akhirnya dia bisa bernapas lega mendengar jawaban Meila yang sudah memaafkannya. Bahkan jauh sebelum dia meminta maaf padanya.


"Lo beneran maafin gue? Nggak terpaksa atau karena merasa nggak enak hati karena gue dateng bareng James yang notebane nya adalah sahabat Dimas, kan?"


Meila langsung tertawa mendengar kalimat Sisil. "Mana mungkin aku begitu? Ini gak ada hubungannya dengan kak James atau siapapun. Masalah kamu itu kan langsung sama aku. Mau kak Dimas bereaksi apapun, itu semua tergantung sama aku." Kelakarnya renyah yang ajaibnya langsung membuat Sisil menarik ujung bibirnya ke atas.


"Gila, ya, lo itu sebaik apa sih? Atau jangan-jangan kepolosan lo itu udah melebihi batas?"


"Mana mungkin begitu? Kamu ada-ada aja." Meila tergelak kencang. "Pokoknya intinya, aku udah melupakan semua kejadian itu dan memaafkan kamu. Kamu nggak perlu merasa nggak enak atau malu lagi kalau kita berpapasan nanti."


"Si-siapa yang malu? Gue cuma buru-buru, kok." Sisil tergeragap ketika menjawab. Menandakan jika dia merasa tertohok oleh ucapan Meila yang memang benar adanya.


"Oke, oke, aku percaya, kok." Imbuh Meila kemudian disertai tawa tanpa suara. Sedangkan Sisil yang sedang ditertawakan tampak canggung dan membuang muka yang justru membuat Meila mengetahui sesuatu yang sejak tadi tidak disadarinya. Yaitu, tanda merah yang tertutup oleh kerah baju yang Sisil kenakan.


Tanda itu..... tanpa seperti.... Apa mungkin Sisil dan kak James...?


Wajah Meila langsung merona dan memanas mengingat kejadian yang pernah dialaminya karena ulah nakal Dimas.


"Sisil, boleh aku bertanya ke kamu?"


Dahi Sisil mengerut heran. Namun tak urung dia menjawab pertanyaan Meila dengan sebuah jawaban juga. "Tanya? Apa yang mau lo tanyain ke gue?"


Meila berdehem malu-malu. Tetapi dia juga tidak sabar ingin mengganggu Sisil. Dia ingin tahu reaksi apa yang akan Sisil keluarkan karena yang Meila tau, Sisil terkenal sebagai perempuan jutek dan bar-bar. Mungkinkah wajahnya akan merona juga sepertinya? Atau mungkin reaksinya akan malu dan salah tingkah seperti anak remaja yang sedang kasmaran?


Sisil tersadar dan membeku seketika. Tangannya bergerak refleks menutupi sebagian lehernya yang terdapat tanda merah mendadak dibuat salah tingkah oleh Meila yang sedang menahan senyum meledek dengan begitu kentara.


●●●


"Haahh?! Ap-apa maksud lo?"


Meila cekikikan sendirian melihat Sisil yang salah tingkah. Mungkin Sisil tidak tau, jika sikap gugupnya itu justru telah menjawab semuanya. Belum lagi dengan rona merah yang muncul di tulang pipinya yang menonjol. Tepat di bawah sinar matahari pagi yang masih sejuk dan hangat. Sesejuk tatapan dan sehangat pelukan James padanya.


"Nggak perlu gugup begitu, Sisil. Kalau kamu begitu, aku malah semakin yakin sama dugaanku." Meila sengaja memberikan sedikit godaan untuk Sisil yang masih terlihat canggung saat melakukan kontak mata padanya.


"I-itu kan cuma dugaan. Bukan beneran."


"Ya.... kalau beneran juga nggak masalah. Kamu jomblo, kak James juga. Sangat cocok, bukan?"


"Ih, nggak, ya! Dia itu nyebelin! Suka tebar pesona. Sok ganteng dan suka mengambil kesempatan pada orang lain. Terutama ke cewek."


"Tapi cuma sama kamu aja, kan, dia kayak gitu? Apa kamu pernah ngeliat kak James kayak gitu di depan cewek lain?" Meila berbalik bertanya pada Sisil yang langsung terdiam dan berpikir.


Apa yang dibilang Meila memang ada benarnya. Selama ini dia tidak pernah melihat atau menyaksikan langsung James yang mencari perhatian di depan orang lain terutama wanita. Mungkin karena dia tidak pernah melihatnya, atau James yang terlalu pandai menyembunyikan sikapnya yang belum Sisil ketahui.


Melihat ekspresi Sisil yang sedang memikirkan ucapannya, Meila kembali tersenyum sumringah hingga merasa geli sendiri. Jujur, dia belum pernah melihat ekspresi kebingungan dan salah tingkah Sisil yang seperti ini. Karena biasanya Sisil selalu ketus, jutek, dan memiliki sifat yang lebih dari percaya diri sehingga membuat siapa saja yang melakukan kontak dengannya langsung merasa tertekan sehingga lebih memilih mengalah dari pada melawan. Dan ekspresi seperti itu sangatlah langka.


"Tuhkan, seperti yang aku bilang. Mungkin kamu mulai merasakan sikap kak James yang memperlakukan kamu lebih istimewa dibanding siapapun. Dia mungkin cuma memperlakukan kak Vika dengan spesial. Itu karena kak James telah menjadikan kak Vika sebagai adik perempuan satu-satunya yang harus dijaga. Tapi berbeda dengan sikapnya ke kamu yang lebih kepada melindungi dan menyayangi sebagai pria dewasa yang menyukai lawan jenis."


"Ah, apaan sih,? Gue cu-cuma merasa panas aja disini. Lo gak liat, mataharinya terik banget?"


Tidak mau terlihat semakin salah tingkah di depan Meila, akhirnya Sisil mengalihkan pembicaraan dan menjadikan panas matahari yang menyengat sebagai alasan. Tetapi bukannya diam, Meila malah semakin menjadi. Dia justru semakin membuat Sisil gugup dan kehilangan kata-kata.


"Lebih panas mana dengan tatapan kak James?" Meila semakin menggodanya sampai Sisil akhirnya menyerah.


"Ah, lo tuh, ya! Ternyata dugaan gue ke lo udah salah selama ini. Gue kira lo itu kalem. Ternyata suka nyebelin juga tau gak?" Sisil berdecak sebal.


Meila pun langsung tergelak kencang hingga membuat Sisil heran dan mengernyitkan alis.


"Kamu itu ternyata anaknya blak-blakan, ya? Sayang banget! Kenapa kita baru bisa ngobrol kayak gini sekarang?!"


Benar! Kenapa baru sekarang mereka bisa mengobrol sampai tertawa lepas? Meski di antara mereka masih ada yang merasa canggung dan bingung mau membahas pembicaraan apa, tetapi dengan begini saja sudah memberikan suasana yang mulai terjalin dengan akrab.


Bingung mau menjawab dan merespon ucapan Meila, Sisil akhirnya mendengus kecil dengan tarikan di sudut bibirnya. Membuat lengkungan senyum tipis yang baru kali ini dia tunjukkan. Mereka pun akhirnya berhasil mencairkan suasana canggung dengan keakraban yang perlahan mulai tercipta. Sama-sama berbagi cerita di bawah pancaran sinar matahari yang hangat, yang silaunya terhalang oleh pepohonan rindang.