
Sentuhan cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela rupanya tidak mampu mengusik tidur Meila dalam pelukan Dimas. Posisinya masih belum berubah seperti semalam. Memeluk Dimas dengan setengah meringkuk sambil membentengi wajahnya dari cahaya mentari yang menyilaukan mata.
Dimaslah yang pertama kali membuka mata. Pria itu mengucek kedua matanya yang berkabut hingga akhirnya membuka sempurna. Menyadari gadis kesayangannya masih terpejam di atas lengannya.
"Mei, bangun,.."
Dimas berujar lembut sembari memainkan jarinya ke permukaan pipi Meila dan berniat untuk mengusiknya.
Tidak perlu menunggu respon yang lama, perlahan Meila langsung menggeliat manja disertai gumaman tidak jelas. Reaksinya itu membuat Dimas tidak tahan untuk mengelus pipinya dengan sayang. Tak peduli perempuan itu merasa terganggu atau kesal sekalipun. Yang pasti, Dimas sangat ingin menggodanya saat ini.
Mulai dari mencubit-cubit pipinya yang berwarna merah muda, lalu mencubit ujung hidungnya yang lancip hingga kemudian berhenti pada bibirnya yang kecil nan merah alami khas bangun tidur.
"Ini udah jam berapa? Ayo! emang kamu nggak mau kuliah?"
Karena Dimas tau kalau mendengar kata 'kuliah' Meila akan bersemangat dan langsung bangun, tetapi kali ini gadis itu tetap tidak tertarik. Meila malah semakin meringkuk dan menjadi bermalas-malasan tidak seperti biasanya.
"Nggak mau..." sahutnya pelan dengan suara yang nyaris tertelan.
Mendengar kata penolakan dari Meila, membuat Dimas heran. Pasalnya, Meila pasti akan langsung bereaksi jika berurusan dengan perkuliahan. Tetapi, kenapa sekarang gadis ini mendadak berubah?
Memikirkan itu semua, Dimas menyunggingkan senyum di atas bibirnya.
"Tumben. Biasanya kamu selalu semangat. Kenapa hari ini mendadak malas dan manja begini?"
Perlahan, kedua mata Meila mengerjap sampai akhirnya membuka sempurna meski masih sedikit berkabut. Wajahnya yang mendongak langsung bertemu pada mata Dimas. Dimana pria itu sedang menatapnya dengan sebuah senyuman sebagai sambutan di pagi hari.
"Aku lagi malas banget hari ini," sahut Meila manja. "Aku cuma mau di rumah aja seharian." Dan kali ini dia menggunakan ekspresi memelasnya. "Boleh, ya?"
Diberi tatapan manja dengan bola mata membulat penuh memohon, sudah pasti membuat Dimas luluh.
"Apa boleh begitu?" Dimas bertanya untuk memastikan. Dia sebenarnya bisa saja langsung mengiyakan. Tetapi, Dimas butuh bertanya lagi untuk memastikannya sekali lagi. Dan sekaligus untuk menggodanya juga, sih~
Meila mengangguk. "Boleh, kok. Lagipula aku selama ini belum pernah absen. Kecuali saat aku izin waktu itu."
Kalimat Meila sudah pasti merujuk saat dia meminta izin ketika insiden kecelakaan di taman beberapa waktu hingga menyebabkan dirinya harus mendapatkan perawatan secara intens di rumah sakit, yang mengharuskan dirinya untuk istirahat total.
"Boleh, ya...?" Sekali lagi, Meila menggunakan wajah polosnya yang membuat Dimas berhasil mengalah.
Dimas pun menghela napasnya sebelum kemudian memberi kalimat persetujuan.
"Hanya hari ini, ya? Besok harus masuk. Minggu depan kamu ada kuis, kan?"
Meila mengernyitkan dahinya bingung. "Kok kakak tau kalo minggu depan aku ada jadwal kuis?"
Dimas menyeringai lebar sambil membawa kepala Meila ke dadanya. "Memangnya apa yang aku nggak tau dari kamu? Apapun yang menyangkut soal kamu, aku pasti tau." Jawabnya penuh teka-teki. Namun tak urung Meila hanya diam sambil bersandar manja.
"Oh, iya. Karena hari ini kamu nggak kuliah, dan harusnya jadwal periksa luka kamu itu besok, gimana kalo hari ini kita kesana?" Dimas memberi pendapat.
Setelah diingat-ingat, sudah satu minggu sejak Meila check-up rutin pertama sebelum pergi ke pesta minggu lalu, dan karena lagi-lagi hanya Dimas yang mengingat jadwalnya, Meila hanya bisa memasang wajah bingung penuh tanya.
"Kenapa aku bisa lupa, ya? Padahal jelas-jelas om Yoga ngingetin jadwalnya." Kepala Meila mendongak sambil memasang ekspresi berpikir.
Dimas cuma bisa tersenyum lembut sambil menatap Meila dengan seksama. "Ya... kita bisa gunakan itu sebagai alasan kamu izin hari ini, kan?"
Meila mengangguk setuju penuh antusias dengan usulan yang Dimas berikan. "Iya! Mau."
Dimas mengulas senyum. "Tapi, gimana? Apa lukanya masih terasa sakit?"
Refleks Meila langsung menyentuh perutnya dengan gerakan sedikit mengusap. Lalu, dia menggeleng kuat-kuat dan penuh rasa yakin. "Nggak. Nggak sama sekali. Malah kayaknya ini jauh lebih baik dibanding jahitan operasi yang pertama." Imbuhnya disertai senyuman.
"Syukurlah kalau begitu. Tapi, kita tetap harus memeriksakannya hari ini. Sekaligus memastikan lukanya benar-benar kering dan sembuh total."
Meila tersenyum antusias. Lalu, dengan sikap manjanya lagi, dia merebahkan kembali kepalanya ke atas dada Dimas. Dan Dimas pun seketika memeluknya, dan menghadiahi kecupan ke puncak kepalanya.
Meila mendongak dengan cepat dan langsung memberi anggukan tanda setuju.
"Baiklah kalau begitu,"
Kemudian Dimas langsung menarikkan selimut ke tubuh Meila yang ada di dadanya setelah gadis itu merebahkan lagi kepalanya dengan manja. Mengusap-usap punggungnya dengan gerakan teratur seirama, serta mengecupi puncak rambutnya yang lembut.
●●●
Suasana meja makan itu terlihat penuh. Mulai dari makanan berat hingga pencuci mulu sudah tertata dengan rapi. Adrian yang sedang membaca koran pagi hari tampak sedang menunggu Riana menyiapkan sarapan untuknya ke atas piring.
Sisil yang baru saja turun dari kamar tampak lesu dan tidak bersemangat. Hal itu tergambar dari wajahnya yang sedikit pucat disertai lingkaran hitam yang bertengger di kantung matanya.
"Sisil, kamu sakit?" Tanya Adrian tanpa basa-basi.
Sisil tersentak. "Eh, nggak, pa. Cuma kurang tidur semalam."
"Ngerjain tugas lagi?"
"I-iya." Sisil menjawab sekenanya.
Adrian menghembuskan napasnya diikuti dengan kalimat menasihati.
"Papa tau, mengerjakan tugas itu adalah kewajiban kamu sebagai mahasiswa. Tetapi, kamu juga perlu istirahat dan mengatur jam tidur kamu. Jangan sampai karena terlalu fokus, kamu jadi lupa buat istirahat."
"Iya, pa. Aku tau. Aku udah minum vitamin kok." Sahut Sisil sambil meraih susu hangatnya.
"Oiya, sebentar lagi James akan datang dan akan mengantar kamu." Adrian berucap santai dimana saat Sisil sedang berusaha menelan susu ke tenggorokannya.
Sisil hampir tersedak. Terbatuk-batuk dengan memasang ekspresi protesnya.
"Lagi? Kenapa harus dia sih, pa?" Sisil protes keras kali ini. Dia berpikir mungkin kali ini dia harus menolak dengan keras pada Adrian.
"Ya karena papa nggak bisa antar kamu." Adrian menyahuti dengan santai dan tidak peduli dengan reaksi protes putrinya.
"Tapi kan aku bisa naik taksi, pa. Nggak perlu harus selalu dia yang antar aku." Kali ini Sisil hampir kesal. Namun sekuat tenaga dia berusaha mengontrolnya.
"Taksi zaman sekarang itu udah nggak aman, Sisil. Banyak penjahat yang berkedok sebagai supir gadungan hanya dengan memalsukan identitas mereka."
"Tapi, pa. Gimana kalau James itu salah satu dari mereka?" Sisil berbicara asal tanpa berpikir dan dengan kalimat menuduh yang tanpa dia sadari sudah memancing kemarahan Adrian.
"Sisil, jaga bicara kamu!" Ucap Adrian setengah membentak. Yang saat itu membuat Sisil langsung tersentak diam.
"Pa, sabar. Tahan emosinya, pa. Ini masih pagi." Riana memperingati suaminya. "Dan kamu juga Sisil, jangan bicara sembarangan. James itu dari keluarga baik-baik. Kami kenal siapa mereka sebelum kamu mengenal James. Jadi jangan lagi-lagi kamu ngomong sembarangan tentang dia."
Sisil tertunduk lesu. Dia merasa bersalah.
"Maaf, ma, pa. Aku nggak akan mengulanginya." Janji Sisil pada orang tuanya.
Melihat Sisil dengen ekpresi bersalah yang nyata, rupanya mampu meluluhkan sedikit kemarahan Adrian. Lelaki paruh baya itu lalu menghela napas sebelum kemudian mengelap mulutnya dan memilih beranjak lebih dulu sebelum kemarahannya naik kembali.
"Papa akan berangkat ke kantor dulu."
"Loh, papa nggak habiskan dulu sarapannya?" Riana bertanya saat melihat isi piring suaminya yang baru dimakan separuhnya.
"Papa harus berangkat sekarang karena ada meeting penting dengan klien pagi ini." lalu Adrian mengalihkan matanya pada Sisil yang masih terdiam. "Kamu cepat selesaikan sarapan kamu. Karena mungkin James akan datang sebentar lagi."
Setelah memberikan ultimatumnya, Adrian lalu pergi meninggalkan meja makan tanpa berkata apapun lagi. Dengan diikuti Riana yang akan mengantar suaminya sampai depan halaman.
Saat Sisil hanya seorang diri di meja makan, dia tampak lesu dan tidak bersemangat. Tubuhnya tidak bertenaga. Rasanya dia ingin sekali bolos dan melupakan masalah yang mengganggu pikirannya meskipun sejenak. Tapi apa daya, sepertinya hal itu tidak akan terjadi karena mungkin, dia akan dihadapkan dengan masalah lain yang sedang menunggunya.