
Berkali-kali Vika menghela napas hingga akhirnya memberanikan diri untuk menginjakkan kakinya lagi di halaman rumah Rendy dan mengetuk pintu rumah itu. Dengan mengumpulkan keberaniannya untuk menghadapi segala bentuk sikap maupun berbagai macam reaksi yang akan ditunjukkan padanya nanti.
Vika mengetuk pintu rumah itu berkali-kali hingga akhirnya terbuka dan menampilkan sosok Rendy dari balik pintu yang baru dibukanya.
Reaksi Rendy sangat terkejut sekaligus tertegun. Vika sangat menyadari ekspresi itu, tapi Vika berusaha tidak menghiraukannya dan langsung mengatakan kata-kata kekesalannya dengan sengaja menerobos masuk ke dalam rumah Rendy dan melewatinya.
"Maksud kamu apa mengancam James kayak gitu, hah?" Sambil bersungut-sungut, Vika menumpahkan emosinya.
Sementara Rendy, dengan kedua alis yang bertautan heran, dia menutup pintu di belakangnya dengan gerakan perlahan.
"Mengancam apa maksud kamu?" Sahut pria itu dengan wajah tanpa dosa.
Bukannya menjawab, Rendy justru menyahuti dengan sebuah pertanyaan pula. Membuat Vika semakin marah dan tersulut emosi. Belum lagi dengan ekspresi Rendy yang terlihat santai tanpa dosa. Semakin membuat Vika merasa jengkel dibuatnya.
"Nggak usah pura-pura, Rendy! James udah cerita sama aku soal kamu yang menghadang mobilnya tadi pagi." Sahutnya dengan nada yang sedikit meninggi. "James nggak tau apa-apa. Dia sama sekali nggak ada hubungannya dengan hubungan kita."
Kata-kata terakhir Vika tanpa sengaja membuat Rendy tertarik untuk memancingnya. Tanpa harus dia mengeluarkan suaranya meminta
Vika menjelaskan secara jujur seperti yang tadi gadis itu jelaskan pada Meila.
"Hubungan kita?" Tanya Rendy memancing dengan segaris senyuman yang tidak terlihat. Kedua tangannya terlipat nyaman dengan mata yang mengawasi dengan tajam. "Hubungan seperti apa yang kamu maksud itu?"
Kemudian berjalan mendekati sofa dan duduk di sana dengan santai. Seolah sedang memancing kesabaran Vika dengan sedikit menggodanya.
Dan benar saja, Vika tergeragap. Dia terperangah sekaligus merasakan rasa sesak yang timbul di hatinya. Perasaannya seperti diremas-remas dengan kuat. Untuk menetralkan sedikit perasaannya, Vika memejamkan matanya perlahan sambil menghela napas sesaat sebelum kemudian menjawabnya dengan tenang.
Disertai senyuman ironi, "maaf, aku lupa kalo kamu sendiri yang udah memutuskannya." Ada nada kegetiran dan juga pilu dari intonasi suaranya.
Jawaban Vika membuat Rendy sempat tertegun sesaat, namun pria itu masih bisa menguasai dirinya.
Kemudian, Rendy bangkit dari sofa dan berbalik. Berjalan dan
mendekati Vika yang masih diselimuti kemarahan dan masih setia berdiri mematung di dekat minibar yang letaknya tidak jauh dari dapur.
"Kalo kamu pikir kayak gitu, kenapa kamu merasa terusik begitu tau aku berusaha mengganggu pria itu? Sementara kamu bilang tadi, pria itu nggak ada hubungannya dengan hubungan kita. Apa kamu lagi berusaha menjelaskan sesuatu sama aku, Vika?"
"Dia punya nama, Rendy. Namanya James." Sahut Vika dengan malas disertai nada peringatan. Namun, kemarahannya semakin menjadi saat Vika menyadari jika Rendy sedang berusaha memancingnya dan malah mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku kesini bukan untuk menjelaskan apapun! Aku cuma mau tau alasan kamu mengancam James itu apa? Tapi kayaknya aku salah karena udah datang ke sini. Lagipula, percuma bicara sama orang yang udah berubah kayak kamu. Maaf, karena udah ganggu kamu dengan kedatangan aku yang nggak penting ini." Sahutnya bersungut-sungut dengan nada kesal dan ironis. Kemudian, tanpa menghiraukan Rendy di depannya, Vika langsung melewatinya dan berjalan menuju pintu keluar. Sementara Rendy, tampak memperhatikan dengan santai tanpa bersuara ataupun mencegah.
Begitu Vika menggapai pintu, dia berusaha menariknya. Namun, pintu itu tidak bisa terbuka dan perasaan tidak enak pun langsung menjalar ke seluruh tubuhnya dengan kepanikan yang nyata.
Astaga! Pintunya terkunci!
Dengan cepat Vika langsung menoleh ke arah Rendy yang sedang mengawasinya dengan wajah santai dan tentunya menyebalkan.
Didetik itulah Vika langsung menyadari jika ini disengaja dan dilakukan tanpa disadarinya.
Dan tentu saja, dialah pelakunya. Rendy.
●●●
Sesampainya di rumah, Meila langsung berjalan menuju kamar. Masih dengan wajah sendu dan sedih seperti dalam perjalanan tadi. Seolah masih belum membiarkan Meila bergerak menaiki tangga, Dimas memanggilnya.
"Sayang,"
Meila langsung berhenti dan membalikkan tubuhnya segera.
Memperhatikan Dimas yang berjalan mendekatinya dengan kedua tangan yang langsung menangkup sisi wajahnya.
"Aku tau, aku belum tau apa yang baru aja kamu alami sampai keliatannya sangat berpengaruh sama kamu. Tapi, apapun itu, kamu harus tetap senyum. Wajah kamu itu nggak pantas kalo nggak dihiasi dengan senyuman." Lalu, jarinya bergerak untuk menarik kedua sudut bibir Meila dan melengkungkannya agar membentuk sebuah senyuman.
"Pacar aku itu, keliatan semakin manis dan cantik kalo tersenyum. Okay, sayangku?"
Perlakuan Dimas terlalu lembut sampai-sampai Meila tidak sanggup untuk menolaknya. Perlahan, bibir tipis itupun melengkungkan senyumnya, menampilkan raut wajahnya yang amat sangat Dimas sukai. Namun, bukan berarti Dimas tidak menyukai Meila yang cemberut karena terlihat tidak cantik. Dimas hanya berusaha menghiburnya agar Meilanya tidak terlalu murung dan terbawa perasaan hingga berlarut-larut. Dimas yakin, jika Meila berjanji untuk menceritakannya, maka gadis itu pasti akan melakukannya.
"Nah, ini baru benar." Sahut Dimas memuji. Lalu, mengusapkan tangannya ke rambut Meila sebelum kemudian mengucap dengan nada memerintah paling lembut. "Sekarang, kamu mandi dan bersih-bersih. Aku akan buatkan kamu teh hangat."
Meila mengangguk patuh sambil membentuk sebuah senyuman manisnya. Membuat Dimas tidak bisa untuk tidak menghadiahkan kecupan hangat ke kening Meila, sebelum membiarkan gadis itu melanjutkan langkahnya kembali menaiki tangga menuju kamarnya.
●●●
Merasakan ada yang tidak beres, pikirannya tanpa sengaja menyalakan tanda bahaya. Dengan gerakan cepat, Vika langsung menoleh pada Rendy yang sedang menyunggingkan senyuman menyebalkan ke arahnya.
"Buka pintunya, Rendy! Jangan kayak anak kecil. Ini nggak lucu!" Marahnya dengan bersungut-sungut.
Dengan tanpa dosa, Rendy malah tertawa meledek sambil melambai-lambaikan sebuah kunci ditangannya ke udara.
Vika terus menggapai kunci yang dimainkan Rendy yang meledeknya dengan cara dilambaikan ke udara yang tinggi. Karena Rendy tau, tubuh Vika yang tidak lebih tinggi darinya tidak akan mungkin bisa menggapainya. Sementara Rendy, masih saja tertawa puas melihat dirinya berhasil mempermainkan Vika, menggodanya, dan itu terlihat lucu. Sudah jelas Rendy sangat menyukainya. Dia sangat merindukan aroma tubuh Vika yang manis dan menyegarkan.
"Berikan kuncinya, Rendy! Ini sama sekali nggak lucu!" Marahnya sekali lagi.
Rendy tertawa, "ini mungkin nggak lucu buat kamu. Tapi sangat menyenangkan buat aku." Sanggahnya penuh arti.
Vika sampai harus berdecak sebal, karena Rendy benar-benar sangat menyebalkan.
Tapi, sesaat kemudian tatapan Rendy berubah dalam sekejap. Menatap Vika dengan lekat dan penuh makna. Hal itu dimanfaatkan Vika untuk bergerak cepat menggapai kunci yang ada ditangan Rendy. Dan... Hap! Vika berhasil menggapainya. Dia bahagia luar biasa, dan tanpa pikir panjang langsung berlari menuju pintu keluar untuk membukanya.
Namun, baru beberapa langkah Vika berjalan, Rendy bersuara yang mengakibatkan tubuh gadis itu membeku ditempat.
"Kenapa saat itu kamu nggak berusaha memaksa aku untuk mendengarkan penjelasan kamu, Vika?"
Kalimat pertanyaan itu terdengar jernih dan berdengung di telinga Vika. Tubuhnya tersentak, mendadak kaku dan lidahnya pun kelu seolah kehabisan kata.
Sambil tergeragap Vika berusaha menjawab tanpa menoleh.
"A...a-apa maksud kamu?" Bahkan dirinya harus berkali-kali menarik
napasnya untuk mengucap.
"Aku udah mendengarnya, Vika." Rendy menyahuti dengan suara yang pelan. Dan kali ini diselipi kelembutan dalam tutur bahasanya.
Perlahan, Vika menoleh, membalikkan tubuhnya agar menghadap Rendy. Namun, tanpa dia sadari, ketika dia berbalik, Rendy sudah berdiri di hadapannya dengan jarak yang begitu dekat. Sehingga mereka saling berhadapan sampai Vika terperanjat kaget dan akan refleks berjalan mundur menjauh jika Rendy tidak dengan cepat menahan pinggangnya dengan satu tangannya. Rendy mendekat pada Vika, mendorongnya perlahan, memangkas jarak di antara mereka hingga membuat Vika terhimpit ke dinding dengan memerangkapnya menggunakan sebelah lengannya yang bebas.
Vika meronta-ronta, merasa terintimidasi dengan tindakan Rendy yang tiba-tiba. Namun, cengkraman pria itu begitu kuat dan malah tidak membuahkan hasil. Rendy semakin merapatkan dirinya pada
Vika, menggodanya dengan cara menatapnya lekat-lekat penuh makna.
"Lepas, Rendy! Kamu menyakiti aku!" Sergah Vika dengan sekuat tenaga, mendorong dada Rendy menggunakan telapak tangannya.
"Aku nggak akan menyakiti kamu, Vika. Aku cuma bertanya dan memastikan, kenapa kamu nggak berusaha memaksa dan bertahan dari kemarahan aku waktu itu?" Sekali lagi, Rendy tampak sedang membuat Vika mengerti akan maksud dari ucapannya.
"Nggak ada yang bisa bertahan saat menghadapi kemarahan seseorang yang sikapnya udah sangat berbeda, Rendy! Orang itu akan terasa asing sampai nggak bisa dikenali lagi. Dan kamu sangat tau apa maksud aku!" Sahut Vika dengan napas yang terengah menahan tubuh Rendy agar tidak lebih dekat lagi menghimpitnya.
Kalimat yang diucapkan Vika terdengar pilu, terdapat kegetiran yang begitu nyata dan menyesakkan. Sampai-sampai Rendy semakin merasa bersalah dan menyesali akan sikapnya yang lalu.
"Kamu boleh katakan apapun sama aku. Tapi kali ini, aku juga akan berbuat sesuatu yang akan membuat kamu nggak bisa kemana-mana." Ucap Rendy penuh teka-teki.
Mata Vika membelalak, alarm tanda bahaya seakan terus berbunyi di dalam kepalanya.
"Jangan macam-macam, Rendy! Lepasin aku! Lepas, Rendy! Kamu sungguh menyebalkan!"
"Ssshh..." seolah mencoba menenangkan, Rendy bergerak maju dan berbisik di dekat telinga Vika, menggodanya dengan menggesekkan bibirnya di rahang dekat telinga gadis itu. "Aku nggak akan macam-macam. Tenang, Vika." Bisiknya. Dan tiba-tiba, mendaratkan bibirnya begitu saja ke leher Vika. Menciumnya sesaat sebelum kemudian memberikan tandanya di sana.
Tubuh Vika menegang kaku dengan apa yang dilakukan Rendy. Dia hampir saja memekik karena terkejut. Sesaat setelah Rendy meninggalkan jejaknya di leher Vika dan melepaskan bibirnya, Vika menarik kesadarannya kembali untuk menjauhkan dirinya dari Rendy. Sementara Rendy, tidak menghiraukan kemarahan serta rontaan Vika ke tubuhnya. Dia justru membiarkan gadis itu melampiaskan kemarahannya dengan cara memukul-mukul tubuhnya sebagai bentuk amarahnya sampai gadis itu puas.
"Aku benci kamu, Rendy! Kamu sungguh menyebalkan! Kamu bikin aku jengkel! Kamu..........."
Dengan sekali gerakan, Rendy sudah membungkam Vika dengan ciumannya. Menguncinya dengan cepat, mendorong tengkuk Vika agar semakin dekat, serta menarik pinggang Vika agar semakin merapat padanya. Membelai bibirnya lembut, memagutnya, serta menyesapnya kuat.
Ciuman itu sangat menggebu-gebu, namun masih sangat terasa lembut. Ciuman yang syarat akan kerinduan satu sama lainnya, saling menumpahkan perasaan yang sudah lama tidak tersalurkan.
Air mata yang sedari tadi Vika tahanpun akhirnya tumpah, mengalir begitu saja ke pipi mulusnya dengan bibir yang gemetar. Dan Rendy pun bisa merasakan itu, tangisan kerinduan yang terpendam begitu lama.
Perlahan, kedua tangan Vika bergerak, mengalungkan kedua lengannya dengan erat ke leher Rendy. Keduanya saling menerima, memagut, membelai, serta menyesap kehangatan dari sentuhan masing-masing.
Ciuman itu akhirnya terlepas, dengan napas keduanya yang sama-sama tersengal untuk berlomba-lomba meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Dilihatnya oleh Rendy wajah Vika yang sudah basah penuh air mata dan memerah padam.
Melihat Vikanya yang berurai air mata, kedua tangannya bergerak naik, mengusap air mata itu seraya berkata.
"Kamu liat, aku emang menyebalkan. Tapi kamu sangat menyukainya, bukan?" Ucap Rendy begitu napasnya berangsur normal.
Mata mereka saling bertemu hingga akhirnya Vika tidak bisa lagi menahan isakannya yang sudah ditahan entah sejak kapan lamanya.
"Ya. Kamu emang menyebalkan, Rendy! Kamu emang menyebalkan sampai aku nggak bisa membuang kamu jauh-jauh dari hati aku. Kamu menyebalkan! Sungguh menyebalkan!" Geram Vika ditengan isakannya yang memilukan.
Sementara Vika terus berkata-kata, Rendy sudah lebih dulu membawanya ke dalam pelukannya. Membiarkan Vika menumpahkan segala bentuk kemarahan dan mengeluarkan perasaan yang selama ini mengganjal di hatinya.
"Ya. Aku emang menyebalkan. Kamu boleh melampiaskan semua perasaan kamu. Menangislah, Vika. Menangislah! Lakukan apapun semau kamu. Aku akan menerimanya." Sahut Rendy dengan lembut dan nada penyesalan dalam suaranya. Memeluknya erat, sambil menciumi pelipis Vika, lalu menghirup aroma Vika di antara lekukan leher mulusnya yang amat sangat dirindukannya itu.
Sementara Vika, menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Rendy. Mengalungkan lengannya erat-erat pada leher pria itu seolah sedang memberi isyarat memohon agar jangan pernah meninggalkannya lagi. Pun sambil menghirup aroma tubuh Rendy yang sudah sangat lama tidak Vika rasakan lagi.
Suasana menjadi hening. Hanya terdengar suara isak tangis Vika yang memilukan dan menyesakkan tanpa Rendy bisa berbuat apa-apa. Hanya usapan lembut ke punggung dan juga kepala Vika, serta kecupan-kecupan yang bisa Rendy lalukan untuk menyalurkan ketenangan pada gadis itu.