
Dion terlihat gusar. Laki-laki itu tampak duduk dan berdiri berulang-ulang sejak tadi. Bahkan sesekali Dion terlihat menjambak rambutnya sendiri seperti sedang putus asa. Sudah hampir satu botol minuman habis ditenggaknya sejak dirinya sampai rumah.
Rupanya Dion sedang memikirkan Meila. Dia memikirkan keadaan Meila karena bayangan terakhirnya tadi saat gadis itu kesakitan hingga akhirnya dipaksa masuk ke dalam mobil oleh Dimas yang terlihat marah.
"Argh! Andai laki-laki itu nggak datang. Mungkin aku yang akan mengantarnya pulang dan menghabiskan waktu bersamanya selama perjalanan."
Hal yang sangat Dion sesalkan adalah, ketika dia tidak lebih cepat dari Dimas dalam mengambil hati Meila. Jika saja dia yang lebih dulu bertemu Meila, mungkin gadis itu sudah menjadi miliknya sekarang. Atau mungkin jika tidak ada bayang-bayang Dimas dalam kehidupan Meila, mungkin hanya dirinyalah satu-satunya yang akan menjadi sandaran perempuan itu saat ini.
Dan yang membuatnya kesal adalah soal perkataan Dimas bahwa dirinyalah yang lebih mengetahui cara memperlakukan Meila. Apa dia pikir dirinya tidak bisa memperlakukan gadis incarannya?
Dion lalu mengambil sebatang rokok dan juga pemantik api elektrik yang ada di atas meja. Dia lalu meletakkan rokok itu di antara bibirnya, lalu memantikkan api ke ujung rokok itu hingga mengeluarkan percikan api yang berubah menjadi kepulan asap tebal.
"Aku harus datang lagi besok. Aku harus memastikan keadaannya." Dion membulatkan tekadnya kuat-kuat.
Ya! Dion berniat untuk mendatangi Meila ke kampusnya secara terang-terangan untuk melihat keadaannya. Karena sepertinya dia akan mulai mendekati gadis itu seperti keinginannya yang tidak tahan untuk tetap diam dan hanya memperhatikan dari kejauhan. Dion mau usahanya kali ini mendapatkan kemajuan dan juga hasil.
Jika dia belum bisa membuat Meila dekat dengannya, minimal dia harus bisa membuat gadis itu terhasut karena ucapannya tentang Dimas yang berusaha mengekangnya. Karena dengan begitu, akan lebih mudah untuknya mendekati dan mengambil hati Meila dengan cara yang sama seperti perempuan-perempuan terdahulu yang berhasil ditaklukkannya.
●●●
Di ruang utama, Meila tampak duduk termenung di hadapan menu makan malamnya yang sangat menggiurkan. Dimulai dengan makanan pembuka dengan snack ringan, lalu makanan utama berupa salmon crispy mayo, sampai makanan penutup bernuansa manis-manis seperti puding jelly tart strawberry dengan lelehan krim vanila diatasnya. Belum lagi dengan buah-buahan potong segar sebagai tambahan.
Tapi hal itu berbanding terbalik dengan Meila. Nafsu makannya hilang seketika. Lidahnya berubah pahit dan hambar. Pikirannya pun entah kemana lagi, kalau bukan pada Dimas.
Tanpa dia sadari, air matanya telah menumpuk di sudut matanya. Pangkal tenggorokanya terasa panas sehingga dia mau tidak mau menyeka air mata yang tidak tertahan itu. Belum lagi rasa sakit perut karena di masa periodenya yang semakin kencang.
Meila akhirnya memilih berbaring sambil mengusapi perutnya yang terasa pegal bercampur melilit secara bersamaan.
"Kenapa rasanya aku pengen banget nangis," lirihnya pelan sambil berbaring meringkuk di sofa.
Meila mengambil bantal sofa sebagai bantalan di perutnya. Lalu air mata itu pun mengalir kembali membasahi pipinya.
Di tempat lain tepatnya di area kampus, di ujung koridor halaman yang menghubungkannya dengan gerbang gedung, Airin tampak menggerutu sambil berusaha menghubungi Meila yang sedari tadi tidak diangkat. Ini adalah kali ketiga Airin menghubungi Meila tapi belum ada tanda-tanda akan dijawab juga.
Ini sudah lebih dari 2 jam sejak Meila pulang. Padahal, Airin berpesan padanya jika Meila harus menghubunginya jika telah sampai rumah. Hal itu membuat Airin khawatir sekaligus kesal.
"Duh, Mei... angkat, dong... gue jadi khawatir, nih,!" Gerutunya sambil berjalan mondar-mandir di lorong.
Apa jangan-jangan anak itu pingsan sendirian di rumah?
Pikiran buruk mulai bermunculan di kepala Airin. Akhirnya, demi menghilangkan kecemasannya, dia memutuskan untuk menghubungi Dimas tidak peduli apakah laki-laki itu sedang mengadakan meeting penting seperti yang dikatakan Meila tadi.
●●●
Dimas tampak masih fokus pada layar laptopnya. Dia masih mengoreksi hasil meeting tadi yang telah disetujui oleh pihak klien tentang kerjasama perusahaan. Waktu yang mulai gelap terpampang nyata di balik jendela besar ruangannya yang memperlihatkan lampu-lampu jalanan yang menyala menerangi langit yang gelap.
Ponselnya yang dia letakkan di sisi kanan nya tiba-tiba berbunyi. Dengan segera Dimas langsung meraih ponselnya dan melihat nama penelepon yang menghubunginya. Dengan alis mengernyit, Dimas mengucap nama Airin dengan pelan sambil menggeser tombol hijau ke kanan layar.
"Halo, Rin?"
"Haaahh,..kak! Syukurlah akhirnya kamu angkat telepon." Airin bernapas lega ketika Dimas mengangkat teleponnya.
"Itu, kak, aku coba telepon Meila beberapa kali tapi nggak diangkat. Aku jadi khawatir apa dia udah sampai rumah atau belum. Soalnya... tadi itu dia sakit makanya izin pulang lebih awal."
Mendengar penjelasan Airin, sontak saja membuat Dimas terpaku dan membisu. Dia pun bangkit dari kursi kerjanya sambil termenung.
Meila sakit? Astaga... kenapa aku nggak tau soal itu?
Dimas merasa menyesal dan bersalah. Pikiran dan perasaannya bercampur aduk tidak menentu.
"Halo, kak? Kamu masih disitu?"
Karena tidak mendapatkan respon dari Dimas, Airin akhirnya memanggil Dimas dan memastikan kalau laki-laki itu masih berada ditempatnya.
"Meila sakit apa?" Dimas bertanya dengan suara berat.
"Eh, itu...." Airin tampak bingung ketika akan mengatakannya. Mengingat Meila tadi mencegahnya untuk berbicara di depan Dion. Tapi ini berbeda. Dimas adalah pacar Meila sekaligus pria yang bertanggung jawab melindungi Meila selama ini.
Jadi... tidak masalah kalau dia mengatakannya, bukan?
"Mmm... itu, Meila... Meila sedang dalam masa periodenya." Airin melanjutkan kalimatnya dengan suara yang pelan. "Kak Dimas tau kan, kalau perempuan lagi di hari pertama itu..... akan sedikit demam."
Dimas membelalak terkejut. Seketika dia mengingat saat dulu dirinya pernah melihat Meila sedang meringkuk kesakitan di sofa, merasakan kram di perutnya.
"O-oke. Aku akan segera melihat kondisinya. Thanks, Rin..." sambil tergagap, Dimas menutup panggilan telepon itu.
"Sial! Karena marah, aku jadi nggak perhatiin kondisi Meila yang tampak pucat tadi."
Sambil merapikan meja kerjanya dan menutup laptopnya, Dimas bergegas berlari menuju dimana mobilnya terparkir. Ingin segera pulang untuk melihat kondisi Meila yang saat ini pasti sedang tidak baik-baik saja. Jika Dimas tau, dia akan lebih memilih menunda rapat itu dibandingkan harus meninggalkan Meila yang kesakitan seorang diri di rumah.
Dan ketika Dimas sudah berada di dalam mobil, dia langsung menancapkan gas dan melajukan mobilnya dengan cepat melewati keramaian malam jalanan ibu kota.
●●●
Ketika Dimas memasuki rumah, wajahnya tampak cemas dan hampir berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Karena Dimas pikir, Meila pasti sedang berada disana saat ini. Tapi ternyata dugaannya itu salah. Untung saja dia melirik ke arah sofa dimana terlihat sekelebat tubuh mungil sedang berbaring meringkuk disana.
Dengan cepat Dimas langsung menghampirinya. Berdiri setengah membungkuk sambil menghela napasnya. Menatap Meila dengan seksama dengan perasaan bersalah yang nyata. Lalu dia melihat ke arah meja dimana set menu makan malam yang dia kirimkan masih belum tersentuh dan tampak penuh belum termakan sedikitpun.
Dimas mengangkat tangannya perlahan dan mengusap dahi Meila untuk mengecek suhu tubuhnya. Dan benar apa yang dikatakan Airin, jika Meila sedikit demam.
Akhirnya Dimas memutuskan untuk mengangkat Meila ke dalam gendongannya. Disaat itulah Meila menggeliat dan Dimas langsung menenangkannya.
"Ssshh...." suaranya begitu pelan dan lembut. Hingga berhasil membuat Meila terlelap kembali.
Dimas membawa Meila ke kamar dan membaringkannya ke atas tempat tidur. Ditariknya selimut hangat untuk menutupi tubuhnya sebelum kemudian mengusap lembut kepala serta pipinya.
Dimas lalu bergegas mengambil mangkuk untuk diisi dengan air hangat beserta handuk kecil untuk mengompresnya. Lalu kembali ke kamar dan duduk di sebelahnya, memulai mengompres kening Meila dengan lembut dan penuh perasaan.
"Maaf karena aku terlambat menyadari kondisi kamu." Dimas berucap lirih. Sambil memeras handuk dan menempelkannya ke atas kening Meila. "Aku tau sikap aku hari ini cukup keras ke kamu. Jangan pernah berpikir jika aku tega melakukannya, sayang." Dimas berujar lirih dengan suara yang berat. "Aku cuma takut kamu menjadi korban obsesi dari laki-laki itu."
Raut dari wajah penyesalan begitu tergambar nyata di wajahnya. Dimas bahkan tidak mampu membayangkan hal terburuk sekecil apapun yang bisa saja menimpa Meila. Dimas akan lebih memilih mengatakan kepahitan yang sudah jelas di depan mata daripada harus menyembunyikan kebenaran dari kejahatan seseorang yang jelas-jelas sedang mengintainya.