
James menghela napas panjang sebelum akhirnya berucap saat melihat pandangan mata Dimas yang belum mau mengalihkannya dari Meila saat gadis itu menaiki anak tangga.
"Mau sampai kapan kamu memandanginya, Lex?"
Dimas tersentak dan berhasil menoleh. "Aku memang menyuruhmu untuk mampir ke rumahku. Tapi aku nggak pernah berfikir akan secepat ini." Canda Dimas.
James terkekeh santai. "Oke, kita bicara santai aja sekarang. Aku nggak akan bertanya kenapa gadis itu bisa tinggal disini bersamamu. Aku hanya mau bertanya, apa dugaanku benar kalau sikap kekhawatiranmu semalam itu ada hubungannya dengan dia?"
James menekankan kata 'dia' yang dibarengi lirikan mata ke arah Meila yang sedang berjalan.
Dimas terdiam beberapa detik. "Mungkin aku akan langsung ke intinya. Jika menurutmu begitu, maka jawabanya adalah, Ya. Apa kamu tau James, ada seorang pria bernama Dion di pestamu semalam? Mungkin dia adalah perwakilan salah satu kolega dari perusahaan om Hans?"
"Dion? Seperti apa penampilannya?"
"Penampilannya sama seperti pria-pria umum lainnya yang datang ke sebuah pesta. Berjas, berdasi, yaaa... seperti berpakaian formal biasanya."
"Tunggu, tunggu. Tadi kamu bilang, Dion? Mungkin yang dimaksud itu Ferdion Sagara."
"Ferdion Sagara?" Kedua alis Dimas mengernyit.
"Ya. Dia adalah putra pemilik dari anak perusahaan kami. Salah satu perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi. Perusahannya masih terbilang kecil, namun karena ada campur tangan papa, perusahaan itu bisa dibilang selalu stabil. Papanya, Arya Sagara, meninggal beberapa bulan lalu karena depresi terlilit hutang. Dan ibunya, sedang menjalani perawatan karena kejiwaannya sedikit terganggu yang disebabkan oleh kehilangan suaminya. Sambil menjelaskan panjang lebar yang disimak oleh Dimas, James akhirnya terpancing untuk bertanya. "Memangnya ada apa dengan Dion?"
"Entahlah," Dimas bersandar ke badan sofa. "Tadi malam pria itu, Dion, mendatangi Meila ke mejanya. Tepat saat dia lagi sendirian."
"Bukannya ada Vika bersamanya?" James menyela cepat.
"Vika sedang ke toilet karena gaunnya nggak sengaja ketumpahan minuman. Awalnya semuanya baik-baik aja. Nggak ada yang mencurigakan atau tanda-tanda kejanggalan apapun. Tetapi, saat petugas kebersihan nggak sengaja menabrak Dion hingga menyebabkan dia terdorong dan hampir menubruk Meila, semuanya berubah."
"Maksudmu?"
"Ya... sebenarnya ini bisa dibilang berkaitan atau hanya dugaan. Sebelumnya, Meila pernah mengalami mimpi buruk tentang seseorang, tepatnya seorang pria dengan sifat yang mengerikan. Wajahnya tidak terlihat dan suasananya sangat gelap. Meila bilang dalam mimpinya itu, tercium aroma alkohol bercampur rokok yang sangat pekat."
"Jangan bilang saat Dion tanpa sengaja terdorong dan nyaris menubruk Meila, dia mencium aroma yang sama seperti dalam mimpi itu, dan itulah yang membuatnya ketakutan?"
"Sangat tepat." Dimas membenarkan praduga James dengan cepat. "Aku juga nggak tau kenapa kami bertemu lagi dengannya."
Mendengar kata 'bertemu lagi dengannya', membuat James menaikkan sebelah alisnya.
"Jadi kalian pernah bertemu sebelumnya?"
"Kejadiannya beberapa hari lalu saat kami pergi ke pusat perbelanjaan. Disana Meila disekap di dalam toilet oleh dua petugas kebersihan gadungan yang akan memasang kamera tersembunyi di bilik toilet wanita. Dan kebetulan Meila sedang di toilet itu hingga akhirnya ketahuan. Meila disekap dan berteriak. Dan disitulah Dion datang saat mendengar teriakan Meila."
"Aneh, ya. Seperti di film-film." Kelakar James. "Lalu, sekarang kamu mencurigainya?"
"Sejujurnya aku nggak mau mencurigai seseorang seperti ini. Tetapi aku lebih mewaspadainya. Mewaspadai pria itu dari Meila dan menjauhkannya sebisa mungkin dari interaksi keduanya."
James menarik sudut bibirnya penuh makna.
"Bagaimana jika aku membantumu untuk menyelidikinya? Itu akan lebih mudah, bukan?"
James akhirnya menawarkan diri secara tidak langsung untuk membantunya. Dan itu membuat Dimas memulas senyum sambil melempar pandangan tanda setuju.
●●●
"Haahh! Akhirnya aku bisa menghirup udara dengan bebas."
Dengan hembusan napas panjang, Beno tampak keluar dari gerbang tahanan dengan membawa satu tas ransel di bahunya.
"Aku nggak sabar untuk segera menemuimu. Melihat kondisimu dengan semua perubahan di tubuhmu."
Beno lalu melangkahkan kakinya dengan semangat. Ada sebuah tujuan yang pertama-tama akan dia datangi setelah bebas. Tujuan yang menjadikannya sebuah alasan dirinya berkelakuan baik agar bisa segera dibebaskan dari tahanan. Dan tujuan itu hampir di depan mata. Hanya tinggal menunggu beberapa jam saja untuk segera mendatangi orang itu.
Di tempat lain, Sisil sedang memilah-milah beberapa pakaian yang sudah tidak terpakai. Dia menyortir baju-baju yang terlipat hingga tumpukan paling bawah. Saat akan mengambil beberapa baju yang ada di tumpukan paling sudut, sebuah benda berbentuk pipih kecil jatuh ke dekat kakinya.
Sisil tersentak dengan mulut setengah menganga. Antara ingat dan tidak mau mengingatnya tentang kejadian kelam dan juga keji akan perbuatan di masa lalunya.
Itu adalah sebuah tes pack yang dulu pernah dia pakai dan tidak sengaja masih tersimpan.
"Harusnya benda ini udah terbuang bersamaan dengan sampah-sampah itu." Geramnya tertahan. "Dasar manusia sampah! Lo pantes di tempat itu karena lo emang bener-bener sampah!" Sisil lalu mematahkan, dan melempar tes pack itu ke lantai dengan kasar. Menahan amarah bercampur jijik yang menyatu secara bersamaan.
Tanpa dia sadari, air mata mengalir begitu saja membasahi pipinya. Bersamaan dengan meluapnya rasa menyesakkan yang memenuhi dadanya. Yang begitu asing namun juga sangat disadarinya, yaitu sebuah penyesalan.
●●●
Dimas masuk ke dalam kamar sambil mencari-cari keberadaan Meila. Ada satu tempat yang dia yakini keberadaannya, yaitu balkon kamar. Dimas lalu membawa kakinya kesana, menembus jendela kamar yang terbuka dan hanya tertutup tirai.
Dugaannya itu benar. Meila ada disana.
"Ternyata benar kamu ada disini,"
Meila sontak menoleh dan mengalihkan dirinya dari novel yang sedang dia baca. Ditemani dengan lollipop dan jus yang sama, strawberry.
"Kak Dimas. Kak James udah pulang?"
Dimas mengangguk. "Udah, baru aja. Dia titip salam buat kamu."
Meila memulas senyum simpul. Lalu refleks menggeser tubuhnya agar Dimas duduk di sampingnya.
"Oh iya, kakak mau jus? Aku membuat ini tadi. Kalo kakak mau aku bisa buatin ini untuk kamu." Tanpa menunggu jawaban dan melihat reaksi Dimas, Meila langsung bangkit dari duduknya. "Tunggu sebentar, ya."
Baru sampai Meila berjalan satu langkah melewati Dimas, lengannya langsung ditahan olehnya.
Dimas menahan tangan itu yang otomatis langsung membuat Meila terhenti dan menunduk menatap Dimas dengan bingung.
"Nggak usah." Tolak Dimas lembut dengan wajah mendongak. "Aku bisa buat sendiri kalau aku mau. Kamu disini aja,"
Dengan satu tarikan lembut, Dimas langsung menarik tangan Meila yang otomatis tubuh mungilnya langsung jatuh ke pangkuannya.
"Kenapa, kak? Ada apa?" Meila masih menatap Dimas dengan bingung.
"Nggak apa-apa. Aku cuma mau disini aja sama kamu."
Pria itu berucap sambil menggerakkan tangannya untuk menangkup sisi wajah Meila dan menatapnya dengan seksama. Sedangkan Meila, masih menatapnya dengan tatapan bingung penuh tanya. Hal itu tergambar jelas di wajahnya yang begitu dekat dengan wajah Dimas.
"Kemari,.."
Untuk mengalihkan kebingungan Meila, Dimas lalu menarik Meila ke dalam pelukannya. Mengusap-usap punggungnya dengan gerakan lembut. Sementara Meila sendiri langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Dimas.
"Jangan kemana-mana." Bisiknya.
Dahi Meila mengernyit dalam dekapan itu. Dia menarik lagi kepalanya untuk menatap Dimas sekaligus memastikan. Namun, tetap saja ekspresi itu masih biasa-biasa saja. Pria itu malah tertawa sembari mendorong kembali kepala Meila ke dadanya.
Pasti ada sesuatu. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan Dimas darinya.
"Kakak beneran nggak apa-apa?"
"Of course, i'm okay. Don't worry."
Dimas menjawab cepat dan meyakinkan. Berusaha agar Meila tidak semakin curiga dengan sikapnya yang tiba-tiba aneh di depannya.
Lalu mata Dimas terpejam, menghirup aroma rambut Meila yang harum untuk menenangkannya. Dan percakapannya dengan James tadi yang menyangkut tentang Dion terngiang-ngiang kembali di kepalanya.
"Aku juga perlu memberitahumu soal Dion. Mungkin ini sedikit tidak masuk akal, Lex. Tapi, seingatku, dia pernah hampir menyakiti mental seorang wanita karena obsesinya. Wanita itu nyaris mati akibat pelecehan yang telah dia lakukan. Dan yang lebih mengerikan, dia melakukan pelecehan itu untuk membuktikan tanda kepemilikannya dengan arogan dan serampangan. Jika pradugamu memang tidak beralasan, mungkin dengan informasi yang aku berikan ini sudah bisa disebut sebagai sebuah alasan agar kamu bisa mewaspadainya."
Kedua mata Dimas terpejam kembali. Kali ini dengan kerutan di dahinya yang begitu dalam.
Bagaimana aku bisa memberitahumu tentang kejahatan Dion yang seperti itu ke kamu, Mei? Sedangkan kamu pernah mempunyai ingatan buruk dengan pelecehan itu sendiri.