
Dalam perjalanan pulang, Meila terlihat sangat murung dan tampak diam. Dia hanya menolehkan kepalanya ke luar jendela, mengedarkan pandangannya pada jalanan ramai sore hari menuju datangnya senja. Sementara Dimas tidak berhenti untuk mencuri pandang ke arah gadisnya, bahkan sesekali menautkan alisnya penuh tanya.
Ada apa dengan Meila? Seperti ada sesuatu yang disembunyikannya.
"Kamu kenapa, Sayang. Ada yang membebani pikiran kamu?"
Suara Dimas yang tiba-tiba telah mengejutkan Meila dari lamunannya. Dengan segera, gadis itu menoleh pada Dimas dengan memasang senyum di bibirnya.
"Aku nggak apa-apa. Cuma... cuma merasa sedikit lelah aja." Sahut Meila sekenanya.
Tatapan Dimas melembut, lalu mengalihkan sebelah tangannya untuk mengusap pipi Meila. "Maaf, ya. Karena nungguin aku, kamu jadi telat pulang. Seharusnya kamu udah istirahat dari tadi."
Meila menanggapinya dengan senyuman, lalu meraih tangan Dimas yang ada di pipinya untuk digenggamnya.
"Jangan minta maaf gitu, kak. Aku yang mau untuk menunggu kamu. Lagian, tugas aku jadi selesai semuanya." Meila menyahuti dengan wajah sumringah.
Dimas tersenyum hangat, "tapi kamu yakin, nggak ada apa-apa?" Lalu bertanya kembali untuk memastikan.
Sekali lagi, Meila hanya menipiskan bibirnya seraya menggelengkan kepala perlahan. Berusaha untuk tetap tenang agar Dimas tidak merasa curiga dan khawatir padanya. Namun, meski sekuat tenaga
Meila menutupi apapun dari Dimas, pria itu tetap mengetahui jika
Meila sedang tidak baik-baik saja. Gadis itu tidak pandai menutupi apapun darinya, sekalipun Meila mengelak atau mencoba untuk menghalangi Dimas untuk mencari tahunya.
Sambil membawa tangan Meila ke bibirnya, Dimas mengecup singkat tangan mungil itu sambil menggumamkan perasaan dalam hatinya.
"Aku yakin ada yang kamu sembunyiin dari aku. Cepat atau lambat, kamu akan cerita sama aku, Mei. Untuk sekarang, aku nggak akan memaksa kamu."
●●●
Di dalam kamar yang temaram, Vika sedang meringkuk dengan bergelung selimut tebal di atas ranjangnya. Gadis itu tampak gelisah, menggulirkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri dengan tatapan kosong tak terbaca.
Entah mengapa, setelah trauma itu datang lagi, Vika merasa malas untuk berbuat apapun. Dirinya hanya ingin mengistirahatkan diri tanpa berbuat apa-apa. Terlebih lagi jika bayangan akan wajah
Rendy yang terlintas di ingatannya tadi, dimana wajah cemas sekaligus bingung di saat yang bersamaan menguar menjadi satu.
Apa itu artinya... Rendy masih mencemaskannya? Pria itu masih mengkhawatirkan dirinya? Dan jika itu memang benar, mungkinkah
Vika boleh berharap jika Rendy masih mencintainya? Masih memiliki perasaan dengannya meski sekuat tenaga membentenginya dengan sikap arogan dan dinginnya?
Seketika dia teringat akan kebersamaannya di masa SMA saat perkemahan antar kelas di adakan. Dimana keduanya memilih untuk mengasingkan diri mereka dari perkumpulan permainan antar kelompok dengan alasan Vika hilang saat sedang mencari air ke sungai. Kebetulan Rendy sebagai ketua kelompok mengajukan diri untuk mencarinya di malam gelap seorang diri tanpa ditemani.
Sedangkan Vika, gadis itu sedang berdiam pada sebuah tenda, di dekat bukit yang sudah direncanakan Rendy untuk mereka berdua dengan api unggun yang sudah menyala terang untuk menghangatkan keduanya.
*flashback on
Malam itu, saat dimana semua siswa sedang mengadakan permainan antar kelompok. Vika dan Rendy malah memisahkan diri dan memilih untuk menaiki bukit dengan menyalakan api unggun agar dapat menghangatkan tubuh mereka. Vika tampak mengedarkan pandangannya ke sekitar bukit, semuanya gelap, pun dengan udara yang semakin dingin menuju waktu hampir tengah malam.
Sambil mendekatkan telapak tangannya ke arah api unggun, Vika mengucapkan kegelisahannya pada Rendy yang masih menumpukkan ranting pada api unggun yang dibuatnya.
"Rendy, apa nggak akan ada yang mencari kita? Aku jadi ngerasa bersalah dengan yang lainnya."
Rendy hanya melirik seraya mengangkat sudut bibirnya, "nggak akan. Kita hanya sampai lewat tengah malam aja, Vika. Hanya dua jam aja, dan setelah itu, kita akan kembali ke tempat kemah." Sahutnya ringan seolah tanpa beban. Berbeda dengan Vika yang masih terlihat cemas jika saja perbuatan mereka diketahuioleh teman, atau yang lebih parahnya lagi oleh guru pembimbing yang menjaga.
"Lagian, kenapa kita harus memisahkan diri kayak gini sampai harus naik bukit juga?" Kemudian, matanya menyusuri Rendy, dengan tatapan menyelidik, Vika mengeluarkan kalimat menuduh meski hanya menebak-nebak. "Sepertinya.... kamu udah merencanakannya dari awal, ya?"
Sekali lagi, meski Vika tampak asal menuduh Rendy telah merencanakannya, tapi pria itu tidak mengelak. Rendy dengan sengaja menyunggingkan senyum nakal penuh ledek.
"Jadi benar, kamu udah merencanakannya? Ya ampun Rendy, kita bisa dihukum dan yang paling menyeramkan lagi, kita bisa kena skors dari sekolah." Dengan wajah memberengut kesal, Vika terlihat mengomel.
Sedangkan Rendy, dengan pembawaan yang tetap santai tampak menyahuti. "Santai, Sayang. Tenang. Kita nggak akan ketahuan. Karena aku udah memilih tempat paling aman. Meski bukit ini nggak terlalu tinggi, tapi jaraknya cukup jauh dari perkemahan kita." Pungkasnya lembut penuh penjelasan.
Rendy beranjak mendekati Vika, duduk di sebelah gadis itu sambil menyelampirkan selimut tebal untuk mereka berdua.
"Tapi nggak harus memisahkan diri kayak gini, kan?" Suaranya melembut dan terdengar helaan napas, "aku cuma khawatir aja,"
Rendy merangkulkan lengannya pada bahu mungil Vika dan merapatkannya padanya, "tapi dengan cara kayak gini juga kita bisa berduaan. Kita bisa menikmati kebersamaan kita." Matanya menatap ke arah bola mata Vika dengan seringaian nakal. "Ya... bohong-bohong dikit nggak apa-apa lah..." lalu terkekeh penuh ledek.
Hingga mendapatkan cubitan dari Vika ke perutnya yang berotot itu.
"Kamu ngambil kesempatan banget, ya?" Ucap Vika dengan mata menyipit.
Rendy tergelak keras hingga refleks membuat tangan Vika bergerak untuk membekap mulut Rendy untuk meredam suara tawanya.
"Rendy! Jangan keras-keras! Nanti yang lain bisa dengar suara kamu." Serunya dengan nada marah penuh peringatan.
Tangan Rendy mengambil tangan Vika lalu meremasnya lembut, "nggak akan ada yang dengar, Sayang. Aku pastikan itu." Sahutnya lagi sambil mengecup hangat tangan Vika. Kemudian, membawanya ke dalam dekapan hangatnya.
Vika pun tampak merengut sesaat lalu tersenyum setelahnya dalam pelukan Rendy, dan sedikit mencebik seraya menepuk dada Rendy pelan. Namun tak urung mengeratkan lengannya memeluk pria itu dengan kepala mendongak. "Kamu bener-bener nyari kesempatan banget, ya?"
Rendy menundukkan wajahnya dan tersenyum nakal, lalu berucap dengan mengedipkan matanya.
Kemudian, dengan tanpa peringatan langsung menyambar bibir Vika dengan ciuman hangatnya, memagutnya perlahan dengan belaian napasnya yang hangat.
Ketika Rendy melepaskan pagutannya, napas keduanya sama-sama terengah dan berlomba untuk mengatur oksigen yang masuk ke paru-parunya. Ketika Vika membuka matanya, pandangannya langsung bertemu pada bola mata Rendy yang saat itu sedang menatapnya dengan memasang senyuman khasnya.
"Aku benar, bukan? Kamu tampak menyukainya." Ucap Rendy sengaja tanpa menghilangkan senyuman nakalnya.
Pipi Vika pun seketika merona, disertai mata yang membelalak penuh peringatan.
"Rendy!" Lagi, Vika mencebik dengan nada sedikit kesal. Yang berhasil membuat Rendy kembali tergelak sambil membawa gadis itu kembali ke dalam pelukan hangatnya. Sementara Vika, dengan kondisi wajah merah padam langsung menyembunyikan wajahnya pada dada Rendy sambil membentuk sebuah senyum tipis di sana.
Lalu, semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Rendy yang kokoh.
Sedangkan Rendy, merapatkan selimut yang membungkus keduanya sambil memberikan kecupan hangat ke puncak kepala Vika, seraya mengucap kata yang mampu menghangatkan perasaannya hingga membuat gadis itu semakin mengeratkan pelukannya pada Rendy dengan manja.
"Biarkan kita nikmati waktu kebersamaan kita. Jangan lakukan apapun. Cukup diam dan rasakan." Ucap Rendy dengan menggesekkan bibirnya ke rambut Vika sambil menimang-nimang tubuh gadis itu seperti sedang menimang seorang bayi dalam peluknya.
*flashback off
Mengenang kebersamaannya kembali bersama Rendy, telah membangkitkan rasa rindunya yang mendalam. Merenung di bawah kungkungan dinginnya malam yang mencekam. Tanpa sadar membuat lengannya refleks memeluk tubuhnya sendiri dalam balutan selimut dari hawa dingin yang mendera.
"Aku merindukanmu, Rendy. Aku rindu pelukanmu. Aku rindu semua yang ada di dirimu." Lirihnya pelan semakin meringkuk dalam selimut yang membungkusnya.
●●●
Entah mengapa Meila sangat menyukai berdiri di depan kaca balkon besar sambil menatap langit malam. Menurutnya, melihat langit di malam hari sangat membantunya dari pikiran-pikiran yang mengganggunya. Terlepas dari peristiwa tadi sore, dimana dirinya bertemu dengan Sisil yang bisa disebut dengan pertemuan buruk baginya.
Dengan kedua lengan terlipat, wajah mendongak serta mata menyalang penuh binar, tatapannya menangkap pada bulan yang tampak bersinar terang menyinari malam. Ditambah dengan hiasan bintang-bintang kecil yang melengkapi suasana malam yang dingin ini.
Seperti saat ini, Meila tampak berdiri pada kaca besar pembatas yang tampak bening sebagai pembatas antara balkon dengan kamar. Dia memang tidak membuka kaca itu, karena Dimas memperingatinya untuk tidak membuka kaca saat udara malam yang akhir-akhir ini terasa dingin menusuk. Begitupun tadi, saat Meila meminta izin untuk keluar kolam renang yang tanpa atap, Dimas tidak mengizinkannya. Dikarenakan kondisi Meila yang masih baru pulih dari sakitnya.
Suara derap langkah kaki memenuhi telinga Meila yang saat itu masih belum mau mengalihkan pandangannya dari sana.
"Kayaknya aku harus mengingat kalo pacar aku sangat suka berdiri di depan kaca jendela balkon sambil menatap langit malam."
Kalimat itu terlontar disusul dengan suara pintu yang tertutup.
Kalimat yang berhasil membuat Meila menoleh disertai senyuman khasnya. Perlahan, Dimas berjalan mendekat, memposisikan dirinya disamping Meila sambil membawa lengannya merengkuh pinggang ramping gadis itu, diikuti dengan memberikan kecupan ke pelipis Meila dengan lembut.
"Kamu belum tidur?" Tanya Dimas lagi dengan bibir yang masih menempel.
Meila menggeleng pelan, "belum ngantuk," wajahnya mendongak ke arah Dimas lalu menatap dengan mata sayunya sambil berucap tanya. "Masalahnya udah selesai?"
Dimas menipiskan bibir, lalu membawa tangannya untuk menjumput rambut Meila dan menyelampirkannya ke belakang telinga. "Belum.
Kayaknya ada kesalahan teknis yang mengharuskan pengecekan ulang." Sahutnya lembut dengan memberi penjelasan.
Bukan tanpa alasan Meila bertanya. Tadi, saat mereka hampir menyelesaikan makan malam. Salah satu dari pihak kemanan yang bekerja padanya memberi tahu jika ada sedikit masalah pada sistem pengamanan. Hal itu mengharuskan Dimas untuk turun langsung dan mengecek keseluruhan sistem guna keamanan dan kenyamanannya. Tidak lupa juga dia berpesan pada Meila untuk menyuruhnya masuk ke kamar, dan tidur lebih dulu jika memang sudah mengantuk.
Meila hanya ber-oh ria disertai anggukan kepala. Kemudian, terdiam kembali dengan pandangan memperhatikan langit lagi. Sikap Meila yang tidak biasa itu, seketika mengusik keingintahuan Dimas penuh tanda tanya. Lagi, Dimas mengeluarkan praduga tentang sikap Meila yang berbeda sejak mereka pulang. Dan kesimpulannya adalah, dia yakin jika memang ada yang sedang disembunyikan darinya.
Mungkinkah ada sesuatu yang sangat memberatkannya?
Mungkinkah hal itu adalah ranah pribadi yang Dimas tidak perlu untuk mencampurinya terlalu dalam? Tapi, salahkah jika dia bertanya sekali lagi untuk memastikan, dan mengatasi rasa penasarannya atas sikap diam gadisnya?
Perlahan, Dimas memutar tubuh Meila untuk menghadap ke arahnya. Kemudian, menatap gadis itu lekat-lekat sambil membawa kedua tangannya untuk meraih kedua tangan Meila dan meremasnya lembut.
"Aku perhatikan, sikap kamu berbeda sejak kita pulang tadi. Ada apa? Apa yang menganggu pikiran kamu?"
Dimas berusaha pelan-pelan berbicara pada Meila. Sepelan mungkin. Bahkan, dengan suara paling lembutnya.
Meila menatap tanpa ekspresi, dengan mata sayu dibawah cahaya kamar yang di redupkan. "Aku... nggak apa-apa, kak." Sahutnya pelan dengan sebuah senyuman yang dipaksakan.
Dimas menghela napasnya perlahan, lalu setengah membungkuk agar tubuh tingginya sejajar dengan Meila.
"Aku tau secara fisik kamu terlihat nggak apa-apa. Tapi, secara psikis ada sesuatu yang memberati kamu hingga membuat kamu diam dan
terus memikirkannya."
Meila terdiam, dan sikap diamnya itu secara tidak langsung telah membuat Dimas mengerti dan mengambil kesimpulan jika praduganya tidaklah salah.
"Ada apa, Sayang?" Tanyanya sekali lagi dengan suara merendah penuh kelembutan. Dan entah mengapa, saat Dimas memanggilnya dengan sebutan 'sayang', hatinya menghangat. Hatinya terasa damai, nyaman, dan menjadi seseorang yang paling disayangi di dunia.
"Aku.... aku...."
Meila tampak ragu hingga suaranya tersekat. Dia sangat tahu jika Dimas sangat mengetahui dirinya dengan baik. Dan salah jika Meila bisa menutupi sesuatu yang mengganggu pikirannya dari pria itu.
"Haruskah aku menjawab dan menceritakannya? Tapi, kalo aku memberitahunya pada kak Dimas, akankah pria dengan pembawaan tenang dan memiliki sikap lembut ini marah padaku karena telah berusaha menutupinya?" Batin Meila berkata.