
Ballroom megah itu telah dipenuhi para tamu undangan. Mulai dari teman, kolega, bahkan keluarga juga sudah datang dengan masing-masing menempati kursi yang sudah diberi nama. Tuan dan Nyonya Anderson, selaku pemilik acara telah tiba di tengah-tengah para undangan dengan tampilan memukau.
Vika yang baru datang memasuki ballroom, langsung berjalan menghampiri mereka sambil menggandeng lengan Rendy yang berjalan beriringan dengan gagah. Seolah sedang menunjukkan i'tikad baik pada tuan rumah pemilik pesta jika dialah seorang pria yang benar-benar serius mencintai Vika, yang telah mereka anggap sebagai putri satu-satunya.
"Tante...!" suara teriakan Vika yang menyapa langsung menggema.
Jelas, Eliana dan Hans langsung beralih ke sumber suara.
"Vika...! Putri cantik tante!" Eliana menyambut kedatangan Vika dengan gembira. Dia langsung merentangkan kedua lengannya dan Vika pun langsung menghambur ke dalam pelukannya.
"Aku kangen," Vika berseru manja. Eliana pun memeluk erat serta menciumi Vika dengan sayang. Sementara sang suami, Hans, tampak tersenyum melihat sikap istri dan putrinya yang saling melepas rindu.
Hans pun berdehem sebelum akhirnya berucap.
"Cuma tante aja nih yang dipeluk? Omnya nggak?"
"You will also get my big hug, om..." ucapnya sambil melepaskan pelukannya dari Eliana. "I really miss you..." lalu memberikan pelukan kerinduan pada Hans yang langsung memeluknya hangat layaknya pelukan seorang ayah kepada putrinya.
"Ugh! my little girl..." seru Hans sambil memberikan elusan sayang ke punggung Vika. "How are you?"
"I'm really fine, as always!"
Selang beberapa detik, keduanya saling melepaskan pelukan.
"Dan... siapa pria tampan ini? Kamu nggak mau memperkenalkannya pada kami?" Hans berseru lagi dengan nada menggoda.
"Oh, iya. Rendy, kemari!" Lalu menarik lengan Rendy dengan manja. "Om, tante, kenalin, ini Rendy... pacar aku." Jawab Vika lantang.
Dengan sopan, Rendy mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Hans dan Eliana secara bergantian. Dan mereka langsung menyambut Rendy dengan hangat.
"Selamat malam, om, tante." Ucap Rendy dengan tubuh setengah membungkuk penuh hormat.
"Wah, ternyata pacar putri kita gak kalah tampan dari kakaknya." Kelakar Hans selagi menjabat tangan Rendy. "Terima kasih karena sudah menemani Vika selama di jakarta selagi kami tidak bersamanya. Dia putri kami yang berharga." Lalu berbisik rendah disertai candaan.
Kedua pria itu tertawa diikuti dengan tawa Eliana dan Vika yang merasa tersanjung.
"Saya yang harusnya mengucapkan terima kasih pada kalian karena telah memberi izin untuk bersama dengan Vika. Saya berjanji akan terus menjaganya." Ucap Rendy penuh janji. Seakan sedang meyakinkan Hans dan Eliana bahwa dirinya sangat mencintai Vika sepenuh hati tanpa kurang sedikitpun.
"Kami serahkan kebahagiaan Vika sama kamu." Imbuh Hans hingga membuat hati Vika tersentuh.
"Sudah... nanti dilanjutin lagi ngobrolnya." Eliana menyela di tengah percakapan. "Sekarang, kita nikmati pestanya. Kamu, Vika, kalau mencari kakakmu dia ada disebelah sana, ya.." lalu mengangkat jari telunjuknya ke arah James yang sedang memberi arahan pada para pekerja agar tetap sigap dengan tugasnya masing-masing.
Kedua mata Vika mengikuti arah tangan Eliana dengan seksama seraya berucap. Yang didahului dengan sebelah alis yang menaik diikuti dengan ulasan senyum nyinyir khasnya.
"Nggak di kantor. Nggak disini. Selalu, pak CEO yang super sibuk!" Kelakar Vika hingga membuat semuanya tertawa.
●●●
"Disini kak, tempatnya?"
Meila bertanya sekali lagi dengan nada memastikan. Sambil menarik rem tangan mobil, Dimas mengangguk disertai senyuman tipis. Melihat tempat mewah nan megah yang ada di depan mata, membuat Meila kembali ragu untuk ikut ke dalam acara yang dia sendiri tau pasti banyak sekali kolega-kolega dari perusahaan besar ternama disana.
"Ayo, kita turun!" Ucap Dimas dengan kalimat ajakan yang lembut.
Perlahan namun pasti, Meila menginjakkan kakinya di area parkir luas yang sudah dipenuhi dengan mobil-mobil mewah seperti yang kali ini Dimas bawa. Jika biasanya Dimas hanya mengemudikan mobil matic biasa ke kampus, kali ini dia mengemudikan mobil mewah merek ternama, Merceses Benz AMG GT-R Grey yang di desain khusus untuk pengemudi dan penumpang saja.
Bagi Meila, ini adalah pertama kalinya dia menghadiri acara pesta megah. Tetapi, bukan berarti dirinya tidak pernah mendapatkan undangan pesta. Hanya saja menurutnya, dia tidak suka keramaian dan tidak ingin menghadirinya. Saat papanya mengajaknya ke acara-acara perjamuan perusahaan seperti ini, dia lebih memilih berdiam diri di rumah untuk membaca beberapa novel sambil menunggu orang tuanya kembali dari pesta meski lewat tengah malam.
"Kamu gugup?" Dimas berucap saat dia tau genggaman tangan pada Meila terasa berkeringat dan mengencang.
Meila melihat ke arah Dimas sambil berucap ragu. "This is my first time dateng ke acara kayak gini," ucapnya polos. "Biasanya kalo mama papa ngajak aku selalu nolak." Imbuhnya.
"It's okay. Ada aku. Itu sangat wajar karena kamu belum berpengalaman buat ketemu orang banyak kayak gini." Ucap Dimas menenangkan. Tak lupa juga sambil mengelus lembut telapak tangan Meila.
Mereka pun akhirnya memasuki ballrom megah itu. Sambil tidak melepaskan genggamannya pada Meila, Dimas terus menyapa dan menyalami beberapa tamu kolega dengan sikap elegan yang belum pernah Meila lihat dan tidak pernah juga Dimas tunjukkan pada siapapun. Sikap elegan nan karismatik namun tetap ramah yang berhasil membuat Meila terpana.
Disela-sela itu, perhatian Dimas tidak pernah luput sedikitpun dari Meila. Dia selalu bertanya dan memastikan jika gadisnya benar-benar nyaman. Bahkan, berulang kali Dimas menanyakan kalimat yang sama sampai Meila benar-benar dibuat tertawa olehnya. Seolah suasana yang gugup mencair seketika. Dan hal itu tentu membuat Dimas senang.
"Masih gugup?" Bisiknya.
Dengan sedikit senyuman tipis dan gelengan kepala, Meila menjawabnya. "I'm fine..." jawab Meila dengan berbisik juga.
"Ayo! Kita temui tuan rumah acaranya!" Ajak Dimas. "Mmm.....disana!" imbuhnya sembari mengayunkan jari telunjuk sambil menariknya lembut.
●●●
Rupanya tuan dan nyonya Anderson masih berbincang-bincang dengan Vika dan Rendy. Mereka langsung akrab begitu pertama kali bertemu. Saking tenggelam pada suasana senang, mereka belum menyadari kedatangan Dimas yang sedang menghampirinya.
Dan saat itulah, bukan Eliana dan Hans saja yang terkejut. Melainkan Vika dan Rendy sampai terperangah saat melihat kedatangan Dimas dan Meila tanpa mereka ketahui sebelumnya.
"Oh My God! You....?" Eliana berseru senang sekaligus terkejut melihat Dimas yang datang.
"Ini......" suara Hans menimpali sambil mencoba menggali ingatannya.
"Ya ampun... Meila?" Pekikan suara Vika menyusul dibarengi dengan ekspresi Meila yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Kak Vika? Kak Rendy?" Seru Meila heran.
"Ini Dimas, pa. Putranya Alfero Alexsander." Jawab Eliana sumringah.
What? Dimas putra dari Alfero Alexsander? Pengusaha hotel sekaligus pebisnis handal yang terkenal itu? Kalau begitu berarti ibunya adalah..... Natalizha Oswel sang desainer terkenal? Oh, My.....
Sambil terperangah tidak percaya, Vika terus bergumam di dalam hatinya. Lalu melirik pada Rendy dengan kedua mata setengah menyipit penuh selidik. Sementara Rendy, yang sadar jika sedang ditatap tajam oleh Vika, merasa berpura-pura dengan ekspresi seolah tidak tau apa-apa.
Alfero Alexsander? Kayaknya aku pernah dengar nama itu.
Kali ini suara hati Meila yang berbicara.
"Ya ampun... kamu sudah sangat besar sekali, Dim. Om sampai nggak bisa ngenalin kamu kalau kita gak ketemu di acara kayak gini. Bagaimana kabar papa dan mamamu di Amerika?" Sambil bersalaman dan menyentuh bahu Dimas, dan bergantian Meila yang memberi salam pada Eliana dan Hans sambil memasang senyum manisnya.
"Papa dan mama baik-baik aja, om. Mereka sibuk mengurusi bisnis masing-masing. Bahkan, papa baru aja membuka cabang baru disana. Makanya, aku disini untuk mewakilkan mereka." Jawab Dimas.
Hans menggelengkan kepalanya dengan takjub. "Papamu memang pebisnis handal dari dulu. Dia selalu sukses menjalankan usahanya itu sampai bakat itu menurun ke kamu. Benar, kan?"
Dimas tersenyum merendah. "Aku baru pemula, om. Rasanya... belum pantas kalo disamakan dengan papa yang sudah sangat berpengalaman."
"Bagaimana kabar Lizha? Dua hari lalu dia mengirimkan gaun ini untuk tante sebagai hadiah. Dan seperti biasa, dia selalu tau selera dan ukuran yang pas." Kali ini Eliana yang berucap dengan sumringah.
Dimas tersenyum. "Mama sibuk mengurus butiknya disana. Dia juga mengirimkan salam karena belum bisa kembali ke Indonesia dalam waktu dekat ini."
"Memang ya, orang tuamu selalu sibuk dan sukses dalam berbisnis." Hans berkelakar hingga membuat Dimas tertawa ringan.
Sesaat, mata Eliana terpaku melihat sosok Meila yang tampak anggun dan juga cantik yang dibalut sikap kalemnya sedang berdiri sejajar di samping Dimas.
"Wah... ini pasti kekasihmu?" Eliana langsung bisa menebak saat pertama kali melihat Meila. "Cantik sekali. Manisnya..." tangan Eliana langsung tidak bisa diam. Jemari lentiknya langsung menepuk-nempuk lembut pipi Meila sampai gadis itu dibuat merona. "....terima kasih sudah mau datang ke acara kami."
"Sama-sama tante. Aku yang sangat berterima kasih karena udah disambut hangat disini." Sahut Meila dengan jawaban lembut.
●●●
Sisil beserta kedua orang tuanya akhirnya tiba dan sudah memasuki ballroom utama. Mereka langsung menemui tuan rumah acara setelah beberapa saat bertegur sapa dengan para kolega. Tampak Eliana dan Hans sedang berbincang dengan beberapa kolega lain. Meila dan Vika juga memilih memisahkan diri ke tempat kursi vip yang tak jauh dari tempat Eliana dan Hans berada. Sedangkan para pria, Dimas dan Rendy bergabung dengan para pebisnis lain yang bisa dibilang dari kalangan atas.
"Kamu cantik banget pake gaun itu, Mei. Cocok! Manis juga!" Vika memuji kecantikan Meila. "Kapan-kapan boleh dong ikut aku jadi model. Nanti aku yang minta izin deh ke Dimas." Sambungnya lagi yang diakhiri dengan cengiran.
"Kamu berlebihan, kak." Sahut Meila dengan candaan. "Tadinya aku gak mau pake gaun-gaun kayak ini. Apalagi ini pertama kali aku dateng ke acara pesta para pemuka bisnis terkenal. Tapi... ternyata kak Dimas udah menyiapkan semuanya."
Vika tertawa. "Itu bagus dong. Kamu harus mulai terbiasa dateng ke acara-acara kayak gini. Dia itu perhatian banget loh sama kamu. Keliatan sayang dan cinta banget ke kamunya. Ciee....." godanya.
Tidak tanggung-tanggung, Vika langsung menggoda Meila sampai membuat pipi gadis itu merah padam.
Seketika, Vika langsung mengingat pembicaraan tadi tentang latar belakang Dimas. Dan tanpa ragu dia langsung menanyakan hal itu pada Meila.
"Oh, iya. Mengenai Dimas, aku jadi ingat sesuatu. Apa kamu tau kalo dia itu putra dari Alfero Alexsander?"
Meila menggeleng polos. "Aku sih pernah denger nama itu dari papa. Tapi aku gak tau itu siapa." Jawabnya dengan ekspresi wajah tanpa dosa.
Vika berdecak heran, "Mei.... please! Kamu beneran gak kenal siapa itu Alfero Alexsander?" Vika bertanya sekali lagi dan jawaban Meila tetap sama, menggelengkan kepalanya.
"Mei, dengerin aku, ya. Seantero negeri ini, kalo mendengar nama Alfero Alexsander disebut, mereka pasti langsung tau pengusaha terkenal itu. Dia itu pebisnis sukses yang udah melebarkan sayapnya dimana-mana bahkan sampai international. Dan kamu tau, Dimas itu satu-satunya putra yang akan mewarisi kekayaannya. Pantas aja beberapa bulan terakhir ini dia mulai sibuk terjun ke dunia bisnis. Aku baru sadar saat tante El nyebut dia adalah putra dari Alfero dan Lizha, desainer terkenal itu."
Meila mulai mencerna kalimat demi kalimat yang Vika ucapkan. Dia terperangah sekaligus terkejut. Namun, dia akan menanyai hal itu secara pribadi dengan Dimas nanti.
"Tunggu, tunggu. Jangan-jangan....." kedua mata Vika langsung tertuju ke arah gaun yang Meila pakai sampai gadis itu keheranan.
"Jangan-jangan apa, kak?" Tanya Meila tidak sabar.
".....jangan-jangan gaun kamu ini adalah salah satu rancangannya!"
"Rancangannya? Rancangan siapa, kak?" Rupanya Meila memang agak sedikit lamban untuk memahami kalimat Vika.
"Rancangan mamanya Dimas, Mei.... Natalizha Oswel Subrata. Lebih tepatnya, Natalizha Oswel Alexsander. Nyonya Alexsander sang perancang busana. Pemilik butik terkenal yang rancangannya banyak dipakai artis-artis international."
Kali ini mata Meila membelalak sempurna. Mulutnya seakan terkunci tidak bisa berkata apa-apa. Namun, hati kecilnya bertanya. Kenapa hal sebesar itu baru diketahuinya? Setelah semua yang pria itu lakukan. Perhatiannya... kasih sayangnya... ketulusannya... Dan untuk semua yang telah dia dapatkan. Dan sekarang, dia seperti gadis bodoh yang tidak pernah tau apa-apa tentang kehidupan pribadi Dimas.