
Di depan gerbang kampus, Meila tampak berdiam diri menunggu seseorang. Di dekat gerbang pos keamanan yang di lewati oleh lalu lalang kendaraan yang keluar masuk secara bergantian. Jam kuliah yang tidak begitu padat membuatnya pulang lebih awal dari jam biasanya.
Hari ini Dimas berkegiatan memenuhi beberapa jadwal meeting di kantor sejak pagi. Dia tentu saja tidak ke kampus karena telah meminta izin sehari sebelumnya. Tetapi, tadi pagi dia menyempatkan untuk mengantar Meila ke kampus dan memastikan agar gadis itu benar-benar masuk ke area kampus dengan aman.
Tadi, sebelum Meila turun dari mobil, Dimas telah berpesan kalau dia akan menjemputnya kembali saat jam pulang. Tetapi, waktu sudah berjalan lima belas menit Dimas juga tak kunjung datang. Dia berpikir untuk menghubunginya. Namun, dia baru ingat jika ponselnya tertinggal di saat dia terburu-buru untuk pergi sarapan tadi pagi.
Meila juga berpikir pasti Dimas telah berulang kali menghubunginya. Atau mungkin menghubungi Rendy untuk menanyakan keberadaannya. Dan mengingat akan Rendy, pria itu tadi dengan baik hati telah menawarkan tumpangan untuknya dan mengantarnya pulang bersama Vika. Namun, dengan berat hati Meila menolaknya karena Dimas akan menjemputnya. Takut ketika pria itu datang, tidak menemukan dirinya disana.
Dan sekarang, Meila menjadi bingung dan ragu. Setengah menyesal telah menolak ajakan Rendy. Padahal, jika dia ikut bersama Rendy, dia bisa langsung menghubungi Dimas sesampainya di rumah dan memberitahunya kalau dia sudah di rumah dan Dimas tidak perlu repot-repot untuk menjemputnya lagi. Karena Meila tau, Dimas pasti masih sibuk mengurusi jadwal rapat yang mulai padat di kantor.
"Coba tadi aku terima ajakan kak Rendy aja," sesalnya. "Pasti aku juga nggak akan ngerepotin kak Dimas."
Disaat Meila sedang berpikir, suara seorang laki-laki telah mengagetkannya. Seorang laki-laki yang harus dia jauhi dan waspadai. Disaat itulah tameng pertahanan dirinya dipasang kuat-kuat berusaha untuk tidak goyah. Sebab Meila tau, sifatnya yang merasa tidak tega pada seseorang itu sangatlah buruk. Terlebih jika orang itu sedang berusaha memanfaatkannya.
"Kita ketemu lagi, ya." Sapa Dion yang tidak sangka telah membuat bulu kuduk Meila meremang. "Kamu lagi nunggu siapa?"
"Ah, itu... aku lagi nunggu kak Dimas." Jawab Meila jujur.
Mendengar kata 'Dimas' dari mulut Meila yang terdengar sangat berbeda saat dia memanggil namanya, tanpa sadar membuat Dion kesal. Dia menahan kekesalan dan kegembiraannya sekaligus sekuat tenaga agar tersamarkan.
"Dimas? Dia akan menjemputmu? Dia nggak kuliah?"
"Kak Dimas izin hari ini. Dia ada beberapa rapat penting di kantornya. Tapi dia sedang dalam perjalanan buat jemput aku."
"Oh ya? Kamu menunggu disini? Kenapa nggak di dalam? Disini sangat panas." Dion terus menghujani Meila dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tidak dia inginkan. Itu dia lakukan hanya untuk menyamarkan kekesalannya.
"Oh, itu, biar kak Dimas nggak perlu repot-repot memarkirkan mobilnya lagi ke dalam." Meila menjawab pertanyaan demi pertanyaan Dion dengan sifat polos apa adanya.
Karena Meila selalu menjawab pertanyaannya dengan baik, hal itu membuat Dion kehabisan kata. Sampai-sampai dia bingung mau bertanya apa lagi padanya.
"Tapi sepertinya dia belum juga datang. Kamu mau menunggunya di dalam sini? di mobilku?" Dengan kalimat ajakan yang berbalut menawarkan, Dion dengan terang-terangan meminta Meila untuk menunggu Dimas di dalam mobilnya.
Mendengar ajakan Dion, membuat Meila terperangah kaget. Dia sampai harus mengangkat telapak tangannya sebagai bentuk penolakan.
"Ng-nggak usah, kak. Biar aku tunggu disini aja. Kayaknya sebentar lagi kak Dimas datang." Elaknya sopan.
Namun, sepertinya Dion masih belum mau menyerah. Dia tetap membujuk Meila agar gadis itu mau mengikutinya.
"Ayo lah, masuk aja dulu. Disitu panas. Kulit kamu bakal belang kalau terkena sinar matahari terlalu lama."
Meila sebenarnya ingin menolaknya sekali lagi. Namun, dia seakan tidak tega melakukannya. Pikirannya terus berpikir dan menimbang-nimbang. Apa benar tidak apa-apa jika dia menerimanya sekali ini saja?
●●●
"B-Baiklah..."
Setelah Meila akhirnya berucap memutuskan kalimat tawaran Dion, wajah sumringah Dion sangatlah jelas terlihat. Dia hampir saja merasa menang kalau saja suara klakson mobil dari arah yang berlawanan langsung menyadarkannya dari angan-angan.
Itu adalah Dimas. Dia sengaja membunyikan klakson mobilnya untuk memberitahu Meila kalau dia telah menepati janjinya. Dan seolah sangat kontras, ketika mendengar dan melihat mobil yang datang itu adalah Dimas, wajah Meila langsung berubah. Wajah senangnya terpancar begitu saja disertai senyuman lebar.
"Kak Dimas," Meila bergumam pelan.
Sudah pasti Dion memperhatikan perubahan ekspresi di wajah Meila saat tadi berbicara dengannya dan berubah ketika Dimas datang.
"Hmmm... kak, maaf sepertinya kak Dimas udah datang. Terima kasih buat tawarannya."
"Oh. Iya, nggak apa-apa. Syukurlah kalau memang dia udah datang menjemputmu."
Dimas keluar dari mobilnya dan langsung menghampiri Meila. Berhenti di sampingnya dan di depan mobil Dion yang masih terparkir disana.
"Kamu udah menunggu lama, ya. Kenapa nggak nunggu di dalam?" Dengan sengaja, Dimas menggerakkan tangannya untuk mengusap keringat di dahi Meila dengan sayang. "Duh, kamu jadi keringetan gini, kan?"
Melihat ada Dion yang sedang memperhatikan interaksi mereka, sudah tentu Dimas telah menyadarinya sedari tadi. Namun, dia sengaja memanas-manasinya dengan cara memperlakukan Meila dengan sangat manis agar laki-laki itu cemburu.
"Oh, apa kabar? Kamu juga sedang menjemput seseorang?"
Ya. Menjemput perempuan itu kalau saja kamu tidak datang!
Rasanya Dion ingin mengatakannya. Namun, dia tidak akan melakukan itu karena sama saja dia telah memperlihatkan sisi buruknya pada perempuan yang sedang dia incar.
"Kabarku baik. Oh! Nggak. Tadi aku nggak sengaja lewat dan liat dia lagi sendirian disini. Akhirnya aku sengaja berhenti untuk menawarkan tumpangan. Dia bilang, dia lagi nunggu kamu dan akhirnya kamu datang."
"Waw! Kebetulan banget, ya." Kekehnya. "Aku udah berjanji sama dia untuk menjemputnya. Udah pasti aku akan menepatinya. Yaaa... meski sedikit telat, sih." Tidak lupa Dimas memberikan kalimat imbuhan sambil melirikkan matanya pada Meila.
"It's okay." Meila pun menyahuti dengan kalimat lembut. Dan Dimas pun tersenyum menanggapinya.
"Ah! Kayaknya kami harus segera pulang mengingat hari yang udah sore." Dimas memulai untuk berpamitan lebih dulu pada Dion. "Kalau gitu kami pulang dulu."
"Oh. ya. silahkan." Sahut Dion dengan nada setengah malas
Lalu, setelah membiarkan Dion menjawab perkataannya, Dimas langsung meraih tangan Meila dan menggandengnya dengan lembut. Menghela gadis itu menuju mobil yang terparkir hanya berjarak 2 meter dari tempat mobil Dion berada.
Sementara Dion, hanya bisa menyaksikan pemandangan tidak mengenakan antara Dimas dan Meila yang sangat harmonis dan membuatnya cemburu. Mulai dari cara Dimas memperlakukan Meila yang sangat begitu ingin dia lakukan juga pada perempuan itu. Sampai bagaimana cara Meila berinteraksi dan memandang Dimas dengan penuh cinta dan bahagia.
"Dasar pengganggu!" Sergah Dion sambil memukul setir kemudinya dengan cukup keras.
●●●
"Kakak, tadi kamu sengaja, kan?"
"Sengaja? Yang mana?"
Mendengar pertanyaan Meila dengan teka-teki membuat Dimas bingung dan balik bertanya.
"Itu, yang... di depan kak Dion."
Dimas mengernyitkan alisnya seakan berpikir. Lalu, dia tertawa begitu saja ketika sudah mengingat apa yang dimaksud Meila tadi.
"Kamu berpikir begitu?" Tanya Dimas lagi dengan nada meledek.
"Ih, tuh kan! Soalnya kayaknya kamu sengaja banget."
Dimas tersenyum simpul. "Kalau aku mau, aku bisa cium kamu di depannya tadi." Ucap Dimas menantang.
Kedua mata Meila melotot kaget. "Kakak!"
Lagi, Dimas hanya tertawa keras melihat Meila yang memasang wajah yang memerah.
"Loh,? Kenapa? Aku serius, sayang." Kalimat Dimas melembut seiring dengan lirikan matanya. Tangannya pun tetap pada setir kemudi. Tetap memfokuskan diri untuk mengemudi meski dirinya terus menggoda Meila.
Meila akhirnya diam karena menahan wajahnya yang bersemu merah. Dipalingkannya wajah ke luar kaca jendela. Sementara Dimas terus mencuri pandang sambil menahan tawa geli.
"Kalau boleh jujur, aku bukan cemburu. Tapi lebih merasa cemas saat melihatnya sudah ada disana dan datang lebih cepat dariku." Dimas akhirnya mengutarakan pikirannya.
Seketika Meila menoleh, menatap Dimas dengan seksama sebelum kemudian menyahutinya.
"Mmm... Aku juga nggak tau kalau ternyata dia tiba-tiba datang. Aku lagi nunggu kakak karena aku pikir biar kamu nggak perlu memarkir mobil lagi ke dalam."
Dimas tersenyum lembut disertai tatapan sayang. "Aku tau. Kamu cuma mau menunggu aku disana. Iya, kan?"
Lalu tangan Dimas bergerak untuk mencubit gemas pipi Meila yang memerah muda dibalut dengan rasa sayang.