A Fan With A Man

A Fan With A Man
Ketulusan James



"J-james...." Sisil berusaha melepaskan pelukan James darinya.


"Tolong jangan menghindariku, Sisil." James memohon dengan suara parau. Menahan hasrat tertahan yang sedang berusaha dia halau agar dirinya tidak berubah menjadi pria ganas yang terkesan sedang memanfaatkan seorang wanita yang sedang putus asa.


Sisil terdiam sambil membiarkan James memeluknya erat. Sisil pun tidak memungkiri adanya perasaan yang tumbuh ketika bersama James. Tetapi, dengan dia menyadari perasaannya, itu menandakan jika Sisil telah tanpa sengaja melibatkan James ke dalam masalahnya. Dan kini hal itu pun terjadi. Setelah Sisil berusaha menutupi kejadian buruk di masa lalunya, dengan sukarela James datang dengan sendirinya. Membantunya meluapkan emosi sesaat, sebelum dia benar-benar berkata jujur sekarang.


Setelah Sisil menceritakan segalanya tanpa ada yang ditutupi, rasanya semua beban yang mengganjal hilanglah sudah. Semuanya sirna tak bersisa. Dia seperti kembali menjadi wanita seutuhnya yang begitu dicintai. Jika memang ini adalah perasaan cinta, beginikah rasanya dicintai oleh seseorang? Ada rasa bahagia yang membuncah yang tidak dapat digambarkan hanya dengan ungkapan kata.


Keterdiaman Sisil dalam pelukan James membuatnya merasa aman. Merasa dilindungi, merasa dibutuhkan oleh laki-laki. Begitupun dengan James yang tidak berhenti menuangkan perasaannya dalam bentuk ciuman-ciuman kecil yang lembut serta menggelitik permukaan kulit Sisil yang mulus.


"Mulai sekarang, ceritakan apapun masalahmu. Jangan berpikir dengan aku mengetahui kekuranganmu, kamu beranggapan aku akan memanfaatkanmu sehingga dengan mudah juga aku bisa merendahkanmu." James berujar sambil masih memeluk Sisil. Berucap di depan teling perempuan itu sambil mengecup tulang rahangnya sambil lalu. Kemudian, melepaskan rengkuhan lengannya dan beralih menatap Sisil dengan penuh perasaan. "Jika pikiran itu masih mengganggumu, maka jawabannya adalah, tidak! Itu sama sekali tidak pernah terbersit sedikitpun di benakku untuk mempermalukanmu. Justru aku akan melindungimu, Sisil. Aku akan menutupi kekuranganmu dengan kekuranganku. Sehingga hanya ada hal-hal baik saja di antara kita. Kamu mau kan, berbagi masalahmu denganku?"


Wajah Sisil yang menatap James dengan sendu, tidak mampu menyembunyikan keharuannya begitu saja. Pandangan yang menatap lurus pada James tampak buram karena mata yang berkaca-kaca mulai menutupi pandangannya. Sisil bisa merasakan adanya ketulusan James padanya. Dan itu telah Sisil rasakan beberapa kali sebelumnya.


"Kamu mau kan, berbagi masalahmu denganku?" Sekali lagi James bertanya. Mencoba membuat Sisil yakin akan kesungguhannya. "Tanpa ada yang ditutup-tutupi. Aku bersungguh-sungguh atas perasaanku. Kamu bukan wanita bodoh, Sisil. Aku tau kamu pun merasakan perasaan yang sama meski kamu sendiri belum merasa yakin atas perasaanmu sendiri. Aku akan memberimu ruang, aku tidak akan memaksamu. Aku juga tidak akan mendesakmu untuk segera membalas perasaanku. Tetapi untuk sekarang, biarkan seperti ini seiring dengan bertumbuhnya perasaan itu."


Lagi-lagi Sisil terdiam. Merasakan ketulusan James yang entah sudah berapa kali dirasakannya. Sambil menahan isakan yang tertahan, dan juga mengatur napasnya yang tersekat, Sisil berusaha menjawab pernyataan James dengan sebuah anggukan dan beberapa kalimat yang membuat James tersenyum lega.


"Aku... Aku akan berusaha," isakannya tak terbendung lagi. Sisil kembali terisak meski isakannya tidak lebih kuat dari sebelumnya. Kali ini dia masih bisa mengontrolnya. "Ma-maafkan aku,..."


"Ssshh... it's okay! Kita hanya perlu melewatinya." James langsung membawa kembali Sisil ke dalam rengkuhannya. Menciuminya dengan sayang serta mengusapi punggungnya perlahan.


Seketika Sisil langsung merangkulkan kembali tangannya ke punggung James dengan kencang. Setengah meremas baju kemeja yang dikenakan James sebagai bentuk pelampiasan emosi dari dirinya. Menumpahkan air matanya disana hingga meninggalkan jejak basah yang nyata.


●●●


Ditengah tidur lelapnya, Dimas terbangun dalam kondisi kantuk sambil memeluk Meila dalam lengannya yang kokoh. Beberapa jam lalu, ketika melihat Meila yang mulai mengantuk dan terus-terusan menguap, Dimas langsung berinisiatif membawa Meila ke dalam gendongannya untuk memindahkannya ke tempat tidur. Tetapi, alih-alih berpindah, Meila justru terbangun dan meminta tidur di dalam tenda yang telah Dimas hias sedemikian rupa indahnya dengan setengah merengek. Dan itupun sesaat ketika Dimas akan menggendongnya.


Meskipun dengan bijak Dimas mengatakan jika di dalam tenda itu akan membuatnya kedinginan. Walaupun rasa dinginnya tidak sampai membuatnya sakit apalagi membeku.


Namun, melihat Meila yang merengek manja dengan mata sayu menahan kantuk, akhirnya Dimas luluh. Dengan senang hati Dimas mengabulkan permintaan kekasihnya itu sebelum kemudian mengambilkan beberapa selimut untuk menutupi tubuh mereka.


Dan sekarang, dilihatnya Meila tampak lelap dan nyenyak. Berbantalkan lengannya dan juga rangkulannya. Ditambah dengan tubuh yang berbalut beberapa lembar selimut tebal, semakin menambah kehangatan di dalam tenda yang luasnya tidak lebih dari dua meter itu.


Dimas mencoba meraih ponselnya yang belum juga berhenti berdering. Mengangkat panggilan telepon yang masuk tanpa dia lihat lagi siapa peneleponnya.


"Halo," suara paraunya menandakan jika Dimas benar-benar baru saja membuka mata.


"Halo, tuan. Maaf, karena telah membangunkan anda. Kami ingin melaporkan sesuatu terkait rekaman kamera pengawas yang tadi tuan minta."


Mendengar kata kamera pengawas, seketika kesadaran Dimas langsung penuh. Kedua matanya yang jernih langsung membuka sempurna.


"Bagus. Kirimkan hasilnya sekarang juga. Jika dugaanku benar, tambahkan penjagaan di sekitar rumah terutama di sekitar Meila. Aku tidak mau kecolongan lagi."


"Baik, tuan."


Setelah panggilan telepon itu terputus, tak berselang lebih dari dua detik sebuah pesan masuk ke ponselnya. Sebuah pesan rekaman video dari kamera pengawas yang hasilnya benar-benar jernih. Dimas segera membuka video itu dan langsung memfokuskan pandangannya pada sebuah mobil yang bertengger di bahu jalan persis seperti yang Meila lihat tadi. Kedua matanya melebar dengan penuh menelisik. Mencocokkan plat nomor polisi milik Dion yang telah dia hafal sebelumnya. Dan ternyata apa yang diingat sama dengan kecurigaannya 


Mobil itu adalah milik Dion. Dia telah berani masuk ke dalam jangkauan Dimas hanya demi mengincar seorang perempuan dengan paksa.


Rahang-rahang giginya bergemeletuk rapat saat dirinya dilanda kekesalan. Yang tanpa sadar telah mengusik tidur Meila yang nyenyak sehingga tubuh Meila yang ada dalam rengkuhannya bergerak menggeliat. Seperti bayi yang terkejut dalam tidurnya.


Seketika Dimas langsung menenangkan Meila, menidurkannya kembali seperti bayi yang sedang di nina bobo kan oleh ibunya.


Aku pastikan kamu nggak bisa menyentuh Meila sedikitpun, Dion! Ada, atau tidaknya aku bersamanya.


Dimas langsung merapatkan tubuh Meila agar semakin merapat. Melingkupi tubuh gadis itu dengan lengan-lengannya yang kokoh seakan tidak akan membiarkan siapapun menyentuhnya.


●●●


Ketika Sisil melepaskan pelukan James dengan perlahan, seketika itulah James dibuat bingung. Ekspresi keheranannya tidak bisa ditutupi sehingga tidak sabar bertanya.


"Kamu mau kemana?" Tanya James lembut.


"Aku.... Aku harus pulang. Mama sama papa pasti mencariku."


Tidak seperti Sisil yang biasanya, tutur katanya kali ini sangatlah lembut dan bernada rendah.


"Kamu tetaplah disini. Aku yang akan mengabari mereka dan membuat alasan." James menjawab santai sembari menipiskan bibirnya.


"Membuat alasan?" Sisil terkejut sekaligus membeo. "Nggak bisa, James. Mereka akan curiga nanti."


James tersenyum sambil lalu. "Aku akan membuat alasan yang masuk akal. Kamu tenang aja."


"Tapi, James..." Sisil masih tetap memohon. Tetapi James telah lebih dulu bangkit dari sofa sambil mengusap kepala Sisil dengan sayang.


"Tunggu disini. Aku akan melakukan sesuatu." Jawabnya penuh teka-teki.


Sisil pun memilih diam dan menuruti perintah James dengan bersandar ke badan sofa. Dirinya tidak sanggup lagi untuk beradu kata dengan James karena merasa kelelahan telah mengeluarkan air matanya. Menangis sesegukan di pelukan James yang entah berapa lama. Untuk saat ini, Sisil lebih memlihi mengalah dan mungkin, membiarkan James mengatur segalanya adalah langkah paling baik sekarang. Dia juga belum memikirkan alasan yang tepat jika nanti mama dan papanya bertanya kenapa dirinya pulang terlambat.


Biarkan dia menyerahkan segalanya kepada James. Dan membiarkan pria itu memikirkan alasan yang tepat. Karena untuk saat ini, Sisil merasa sudah terlalu lelah untuk sekedar menjawab pertanyaan yang diajukan mama dan papanya nanti ketika di rumah.