
Apa yang sebenernya terjadi disini? Apakah dia akan disalahkan dengan luka yang ditimbulkan oleh Sisil?
Dimas bisa merasakan tubuh Meila yang gemetar dalam pelukannya. Namun, alih-alih menyembunyikan wajahnya, ia malah menatap lurus ke arah Sisil yang masih tampak kesakitan, wajahnya terlihat cemas, sedang dirundung ketakutan luar biasa.
"Kak Dimas, d-darah," seru Meila dengan suara gemetar menahan isak.
Sekuat tenaga, Dimas berusaha menenangkan Meila yang terlihat syok dengan adanya darah yang mengalir deras dari sana.
"Ssshh... nggak apa-apa, semuanya akan baik-baik aja." Dimas memberikan kecupan lembut ke puncak kepala Meila, tangannya pun mengikuti, tak berhenti mengusap punggug gadisnya, menyalurkan ketenangan di sana.
Sisil semakin merasa kesakitan hingga dia tak mampu untuk bergerak lagi. Ia memegangi perutnya yang sakit luar biasa hingga kulitnya tampak pucat pasi.
"Ma, kita harus segera membawa Sisil ke rumah sakit."
Saking merasa kalut, sang istri tampak tidak merespon perintah suaminya. Dia terus saja menangis, mengusap rambut Sisil dengan sayang seperti yang ditunjukkan oleh seorang ibu-ibu yang lainnya.
Sang suami berteriak memanggil beberapa tim keamanan dan menginstruksikan agar menyiapkan mobil dengan segera.
"Kak," ucap Meila sambil terisak, mendongak ke arah Dimas dengan segala kecemasan yang nyata. "Sisil akan baik-baik aja, kan? Aku takut dia kenapa-napa. Gimana kalo......" Meila tak mampu lagi melanjutkan kalimatnya, suaranya tertelan dengan isakan yang tak tertahankan.
Hati Dimas sangat sakit melihat Meila yang rapuh dengan rasa takut yang mendera dari dalam bola matanya. Tatapannya pun melembut, membawa kembali Meila ke dalam pelukan hangatnya. "Nggak akan terjadi apa-apa, Sayang. Kendalikan diri kamu," bisiknya dengan menggesek bibirnya ke pelipis Meila.
Tak lama kemudian, beberapa tim keamanan datang dan memberitahukan jika mobil telah siap. Dengan cepat, sang suami langsung menggendong putrinya dan berlari agar secepat mungkin segera sampai ke rumah sakit dan segera ditangani.
Begitupun dengan Meila yang ikut merengek pada Dimas untuk mengikuti Sisil ke rumah sakit. Dan juga agar mengetahui kondisi Sisil secara langsung.
●●●
Saat ini Sisil sedang ditangani. Semuanya berkumpul di ruang tunggu dengan harap-harap cemas. Kedua orang tua Sisil tampak gelisah dengan berjalan mondar-mandir di depan pintu perawatan unit gawat darurat yang masih tertutup rapat yang belum menunjukkan ada tanda-tanda jawaban soal keadaan Sisil.
Dimas dan Meila memilih untuk memisahkan diri duduk di sebuah bangku ruang tunggu sambil menenangkan gadisnya yang masih terlihat syok.
"Kak, kenapa belum ada jawaban mengenai kondisi Sisil? Aku takut...." ucapnya lirih dengan napas yang tersengal penuh kecemasan. Kedua tangannya saling bertautan dan terkepal kencang penuh keringat.
Lengan Dimas merangkul bahu Meila dan menariknya lembut agar merapat padanya.
"Kita tunggu aja, ya. Saat ini kita juga nggak bisa berbuat apa-apa." Jawab Dimas dengan nada paling lembut.
Seolah bagaikan jawaban, seorang Dokter dan beberapa perawat yang memeriksa Sisil keluar dengan raut wajah lelah yang diselimuti oleh sekat penyesalan. Sambil memijat keningnya dan tertunduk lesu, Dokter itu berhenti perlahan saat kedua orang tua Sisil memaksanya untuk berhenti, menanyakan perihal kondisi putrinya.
Dimas dan Meila pun ikut menghampiri sang dokter, berjalan dengan tergesa-gesa seolah tidak sabar ingin mendengarnya langsung dari dokter yang menangani.
"Dokter, gimana keadaan putri kami? Apa ada yang serius?" Dengan tidak sabar, sang istri menyela dengan cepat.
Dokter itu terlihat menghela napas dalam, menimbang-nimbang akan jawabannya yang harus diberikan.
"Dengan berat hati.... kami tidak bisa menyelamatkan janinnya."
Bagaikan tersambar petir, semuanya terkejut mendengar pengakuan sang dokter. Meila sudah pasti akan merosot jatuh jika Dimas tidak memeganginya dengan kuat dan memeluknya erat. Gadis itu semakin syok mendengar jika perempuan yang sedang bertikai dengannya beberapa menit lalu sedang mengandung sebuah janin di dalam rahimnya. Dan janin itu.... tidak selamat.
"Apa, dok? Janin?" Ucap sang ibu tidak percaya. "Nggak mungkin, dokter. Anak kami nggak mungkin sedang hamil. Mungkin terjadi kesalahan saat memeriksanya?"
"Kami juga berharap jika ada kekeliruan disini. Tapi, inilah yang terjadi. Usia kandungannya masih sangat muda. Baru berjalan dua minggu. Kondisi itu sangatlah rentan jika terjadi benturan. Bukan karena itu saja, tidak masuknya asupan makanan dan gizi juga menjadi penyebab kandungannya lemah dan tidak berkembang."
Penjelasan dokter membuat Meila semakin syok. Dia semakin berpikir jika dialah penyebab janin yang Sisil kandung tidak bisa diselamatkan. Air matanya menderas, membanjiri wajahnya, menyandarkan tubuhnya yang terasa lemas seperti dilolosi dari tulang-tulangnya.
"Itu semua pasti karena aku kan, kak. Pasti karena aku mendorong Sisil tadi. Kalo aku nggak mendorongnya, pasti janin itu masih ada, kan?" Sesal Meila begitu perih ditengah isakannya.
"Ssshh..." Dimas menangkup kedua pipi Meila dan mengarahkan padanya. "...ini bukan salah kamu, Sayang. Kamu dengar kan, dokter bilang, janin itu nggak menerima asupan makanan dan gizi yang cukup. Jadi, ini semua bukan salah kamu. Kami semua liat Sisil tergelincir dengan sendirinya tanpa kamu berbuat apapun." Jelas Dimas memberi pengertian.
"Lalu... apa ada tindakan lain yang harus dilakukan, dok? Apa... apa kita perlu melakukan operasi?"
"Untuk yang satu itu... kami belum bisa mengambil keputusan. Tapi, kami akan memanggil dokter kandungan untuk ikut menanganinya. Jika memang harus melakukan tindakan operasi, dokter kandungan lah yang berwenang." Jelas dokter dengan terperinci.
"Kalau begitu... saya permisi dulu," pamit sang dokter kepada mereka semua.
Ibu Sisil tampak terduduk lemas dengan berderai air mata. Tak kalah dengan sang suami yang terlihat kalut dan tertunduk lesu dengan tatapan mata kosong sambil bersandar di tembok dan setengah membungkukkan tubuh.
Berusaha menguasai diri, dengan cepat ibu Sisil menghapus air matanya lalu menghampiri Meila yang masih menangis dalam pelukan Dimas. Dia menarik napas dalam dan menghembuskannya, kemudian mengucapkan kalimat penuh perhatian khas seorang ibu pada Meila.
"Nak, kamu pulang aja. Istirahat. Ini udah hampir tengah malam. Biar om dan tante yang menemani Sisil di sini." Perintah sang ibu.
Meila menjauhkan tubuhnya dari Dimas, namun tak sepenuhnya dilepaskan, tangannya masih tetap memegang erat tangan Dimas sebagai penopang dirinya.
"Tapi, tante... Aku mau menemani Sisil sampe dia siuman. Ini semua juga karena aku, tante. Kalo bukan karena aku....."
"Nggak, nak. Ini bukan salah kamu." Tangannya meraih rambut Meila dan mengusapnya dengan lembut. "Mungkin memang sudah seharusnya seperti ini. Kamu nggak perlu merasa bersalah. Lebih baik, kamu pulang aja, ya. Kondisi kamu juga masih syok dengan apa yang Sisil lakukan ke kamu tadi. Tante dan Om juga minta maaf atas semua perbuatan buruk Sisil ke kamu."
Perintahnya dengan lembut, tak lupa juga memohon maaf pada Meila atas perbuatan putrinya dengan segala penyesalan yang nyata.
"Nak Dimas, ajak Meila pulang, ya. Dia butuh istirahat dan menenangkan diri." Perintah ibu Sisil dengan penuh perhatian.
"T-tapi... aku pengen disini nemenin sampe Sisil siuman, tante.. Aku pengen...."
Entah memang karena dirinya yang sudah terlalu lelah untuk membantah, atau juga karena Dimas yang memerintah, Meila langsung mengangguk lemah mengiyakan perintah Dimas.
"Tante, kami permisi dulu," Izin Dimas pada ibu Sisil. Dan tak lupa juga ia menganggukkan kepala tipis kepada ayah Sisil yang masih berdiri lemah di depan pintu kamar rawat putriya.
Setelah berpamitan, mereka berjalan pergi meninggalkan kedua orang tua Sisil yang memandanginya dari balik punggung. Membiarkan mereka memiliki ruang untuk menemani putrinya dengan tenang.
●●●
"Aku yakin Meila pasti mikir macem-macem ke kita."
Airin berucap saat dia telah menelan sepenuhnya potongan pizza dalam mulutnya. Bryant yang saat ini baru saja meminum minuman soda miliknya tampak mengernyitkan alisnya penuh tanya.
"Macem-macem apa maksud kamu?"
"Iya, macem-macem gitu. Ih! Masa kak Bryant nggak ngerti sih," sergah Airin setengah mencebik.
Sudah pasti Bryant tahu kemana arah pembicaraan Airin, namun dia lebih memilih berpura-pura dan membiarkan gadis itu yang menjelaskan maksudnya. Bryant mengulum sebuah senyum tipis di bibirnya, lalu menepuk-nepuk kedua tangannya dari remahan pizza yang menempel.
Dimajukannya tubuh agar lebih dekat lagi dengan posisi Airin yang lebih memilih duduk di atas permadani tebal nan lembut di atas lantai.
"Maksudnya..... tentang adegan kita di kereta gantung itu?" Bisiknya menggoda tepat di depan telinga Airin.
Kalimat Bryant yang terdengar sengaja itu sontak membuat Airin terkesiap dibarengi dengan jantung yang berdebar disertai pipi yang merona. Airin pun tergeragap, merasa bingung bagaimana menanggapi ucapan Bryant. Namun, tidak bisa dipungkiri jika ucapan Bryant memanglah yang Airin maksud saat ini.
Airin tertegun dan menunduk malu-malu saat dirasakannya Bryant sedang menatapnya secara intens seolah tidak membiarkannya untuk bersikap tenang.
"Perlu kamu tau, mereka pun mendukung kita untuk membuat sebuah hubungan ini. Dengan sengaja membiarkan kita menghabiskan waktu bersama secara terpisah agar kita bisa membangun hubungan kita menuju kejelasan. Dan aku setuju untuk itu. Hubungan kita pun mulai menapaki jenjang yang jelas dan akan terus seperti ini."
Mendengar pernyataan Bryant yang sangat jelas membuat Airin melebarkan matanya sambil berpikir. Namun, ada segaris senyum tipis yang tampak samar di bibirnya.
Mungkinkah Meila dan kak Dimas bekerja sama untuk mendekatkannya pada Bryant?
"Berarti... berarti kak Dimas dan Meila..."
Bryant mengangguk paham, lalu mengulum sebuah senyuman dengan kepala tertunduk di hadapan Airin yang mendongak, yang masih menatap dengan tidak percaya.
"Dan kak Bryant juga........"
Lagi, Bryant mengangguk pasti akan dugaan Airin padanya. Airin pasti telah menduganya jika dirinya juga dengan sengaja, telah membiarkan Dimas dan Meila mendekatkannya padanya. Sedangkan Airin sendiri juga tidak memungkiri jika di dalam hatinya yang tak terlihat, tapi bisa dirasakan, jika dirinya dengan tidak sengaja telah memiliki ketertarikan pada Bryant.
Dan anggukan Bryant itu sudah mampu menjawab dugaan Airin padanya.
"Aku menyukaimu, Airin." Bryant berucap dengan nada serius namun terdengar manis. Lalu memberikan sebuah kecupan singkat ke pipi Airin yang sudah memerah sejak tadi hingga mampu membuat gadis itu tertegun.
"Dan aku sungguh-sungguh untuk membuat hubungan ini bersama kamu."
●●●
Suasana hening menyelimuti perjalanan mereka. Meila yang duduk disamping kemudi terdiam membisu dengan tatapan mata kosong. Dia tak hentinya menitikan air mata tanpa suara saat ingatan tentang jatuhnya Sisil di depan matanya terulang kembali dengan nyata. Sesekali Meila membuang pandangannya ke luar jendela mobil untuk mengalihkan perhatian Dimas agar fokusnya tidak terpecah.
Namun, meski Meila berusaha keras menyembunyikan air matanya dari Dimas, pria itu tetap mengetahui apa yang sedang gadis itu rasakan dan gadis itu lakukan saat sedang bersamanya.
Mata tajamnya sesekali menoleh pada Meila, tepat saat gadis itu sedang terisak dan menahan rasa sakit yang berusaha dipendamnya. Sebelah tangan Dimas bergerak menyentuh kepala Meila, membelainya dengan lembut sambil mengucap kata.
"Jangan ditahan dan jangan sembunyikan suara tangisan kamu. Itu akan membuat kamu sesak."
Gadis itu tidak menoleh, tidak juga menjawab. Namun, malah terdengar suara isakan kencang menyedihkan dengan kepala tertunduk dan bahu gemetar yang sudah sejak tadi ditahannya sekuat tenaga.
"D-darah..... d-darah....." ucap Meila ditengah isakannya yang menyesakkan.
Melihat kondisi Meila yang menyedihkan, disertai isakan menyesakkan, membuat Dimas berniat untuk menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Menghentikan mobilnya hanya untuk menenangkan gadisnya sejenak sebelum mereka sampai ke rumah.
Saat mobilnya sudah menepi, Dimas melepaskan sabuk pengamannya dengan serampangan lalu keluar tergesa-gesa dari mobilnya. Mengitari mobil itu dan membawa Meila keluar untuk menumpahkan semua isakan yang tadi ditahannya sekuat tenaga.
Dimas menarik tangan Meila perlahan, menghelanya keluar mobil dan tanpa membuang waktu langsung membawanya ke dalam dekapannya, membiarkan Meila menumpahkan semua perasaannya.
"Ssshh... everyting's gonna be okay. I'm here with you. It's okay... it's okay..." Sambil membisikkan kata-kata menenangkan, Dimas menciumi puncak kepala Meila dengan lembut dan sayang.
"K-kalo... a-a-aku dengerin k-kak Dimas, p-pasti nggak akan k-kayak gini," dengan terbata di tengah tenggorokannya yang tersekat, Meila mengucap kalimat penyesalannya. "M-maaf...." sambungnya lagi dengan menenggelamkan wajahnya ke dada Dimas.
"Ssshh... nggak perlu menyesali apa yang udah terjadi, Sayang. Jangan berpikir macam-macam." Ucap Dimas menenangkan sambil meletakkan dagunya ke puncak kepala Meila.
"Tapi.... janin itu nggak bisa diselamatkan, kak... kalo aja aku nggak melawan, pasti...."
"Nggak ada yang perlu disalahkan disini. Semuanya murni bukan salah kamu. Kondisi janin itu emang udah lemah dari awal. Kita juga nggak tau dengan kondisi tubuh Sisil yang sedang mengandung, kan?" Kalimat pertanyaannya menggantung, sambil menunduk menunggu jawaban dari Meila yang masih merapatkan wajahnya pada dada bidangnya.
Meila terdiam, tidak menjawab perkataan Dimas namun mampu membuat isakannya sedikit mereda.
"Sekarang, kita pulang, ya? Kita obati luka di leher kamu." Ucap Dimas kemudian dengan nada lembutnya. Kali ini Meila mengangguk, dan masih dalam pelukan Dimas. Dimas sendiri tampak menipiskan bibirnya lembut, menghela Meila untuk masuk ke dalam mobil kembali sebelum kemudian menghadiahkan sebuah kecupan singkat ke kening gadis itu.