A Fan With A Man

A Fan With A Man
Dialah Orang Itu!



"Pastikan semuanya sempurna. Jangan sampai ada kendala sekecil apapun hingga akhir acara nanti. Aku mau acara malam ini terasa istimewa." Perintah James kepada beberapa teknisi dalam ruangan quality control.


Dia mendatangi ruangan itu demi mengecek kelancaran acara hingga akhir. Layaknya seorang CEO sekaligus putra pemilik acara, dia tidak mau jika semuanya hanya berjalan biasa saja tanpa pengawasan darinya. Dia menginginkan jika mama dan papanya sangat puas menikmati acara layaknya raja dan ratu semalam.


"Saya pastikan semuanya akan berjalan seperti yang tuan inginkan. Saya juga sudah mengerahkan anak buah saya untuk berjaga-jaga kalau-kalau terjadi kendala."


James mengangguk puas. Sembari melangkah membalikkan badan, dia pun keluar dari sana dengan langkah tegas. James akhirnya berjalan melewati koridor toilet sebelum kemudian kedua matanya tidak sengaja menangkap sosok yang dia kenal. Dan tanpa ragu memanggilnya tanpa harus berpikir dua kali.


"Alex...?"


Sang pemilik nama yang sedang mengayunkan kakinya menuju toilet, dengan refleks menghentikannya hingga terdiam dua detik dengan wajah menerka-nerka.


Jika dia memanggilku 'Alex', maka orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah...


"James?" Membalikkan tubuh, kedua alis Dimas mengerut saat kedua matanya menatap lurus pada James. Berdiri semampai berhadapan dengan tubuh yang sama-sama tegap.


James menarik senyumnya dengan sempurna. Lalu membawa langkahnya semakin dekat pada Dimas.


"Ternyata aku memang tidak salah lihat. Bahkan aku langsung bisa menebak hanya dengan melihat punggungmu saja." Dia pun terkekeh renyah.


Dimas mendengus disertai gelengan kepala kecil. Dia membuka tangannya lebar-lebar dan mereka pun saling berpelukan.


"Apa kabarmu? Aku pikir kamu masih betah di Singapore." Tanya Dimas seraya melepaskan pelukannya dari James.


"Mana mungkin aku tidak hadir di acara tahunan orangtuaku? Bisa-bisa mereka mengeluarkanku dari kartu keluarga." Gelak James yang menular pada Dimas.


"Mmm... gimana kalo kita pindah ke bar? Biar ngobrolnya lebih enak?"


Dengan sekali anggukan, Dimas langsung mengiyakan tawaran James tanpa ragu. "Boleh."


Sementara mereka berpindah ke bar, di tempat lain tepatnya di sekitar pesta, Meila masih merasa tidak nyaman. Masalahnya, tatapan para pria yang memperhatikannya malah justru membuatnya semakin canggung. Ada sedikit rasa sesal di hatinya saat dia menolak ajakan Vika yang memintanya untuk menemaninya ke toilet.


"Kalo tau bakalan kayak gini, aku ikut kak Vika aja tadi." Gerutunya. Pengen samperin kak Dimas tapi gak tau dianya ada dimana." Lalu membawa pandangannya ke semua penjuru.


Disaat pandangannya masih mencari, didetik itulah seseorang datang menghampiri dan menyapanya.


"Halo!" Sapa orang itu dengan tangan melambai.


Sedikit terperanjat, Meila menoleh ke arah sumber suara. Lalu mendongak ke arah seseorang yang saat ini sedang berdiri di depannya. Dengan canggung Meila berusaha bersikap biasa saja. Namun tidak dapat dipungkirinya jika dia benar-benar canggung untuk sekedar dibilang berkenalan dengan orang baru yang tidak dia kenali.


"H-halo," Meila menjawab dengan gugup sambil membawa tubuhnya beranjak dari kursi dan berdiri.


"Aku liat kamu sendirian aja. Boleh aku ikut gabung disini?" Orang itu menawarkan dirinya dengan percaya diri. Dan itu membuat Meila mau tidak mau mengiyakan dengan sedikit anggukan samar.


Gimana ini? Aku gak kenal siapa orang ini...


●●●


"Gimana, gimana? Gimana kabarmu, lex?"


"Seperti yang kamu liat... i'm fine..." Dimas menyahutinya dengan tenang.


Kedua pria itu, Dimas dan James telah berada di bar. Duduk di hadapan bartender yang sedang beratraksi untuk para pengunjung disana.


"Kamu minum?" James menawarkan mimuman rendah alkohol yang dia ambil dari bartender.


"No, thanks. Aku gak minum alkohol." Dimas menolak dengan sopan dan tegas.


James mengangguk tanda dia mengerti. "...soft drink?"


"Yes. Sure!"


"Kamu udah bertemu papa dan mamaku? Dia pasti terkejut saat melihatmu." James mulai membuka pembicaraan. Sementara Dimas, memasang kedua mata tajamnya dengan penuh antipati.


Dimas tersenyum, "aku udah bertemu orangtuamu. Justru mereka yang membuatku terkejut."


James mengernyitkan kedua alisnya penuh tanya. Dan Dimas pun langsung menjawabnya.


"Ya, aku terkejut melihat mereka yang masih tetap awet muda sejak dulu. Sementara kamu, harusnya sudah mulai memperkenalkan seorang wanita kepada mereka." Dimas menjeda kalimatnya. Lalu berkelakar dengan guyonannya yang membuat James tergelak sekaligus juga kesal. "Karena sepertinya, mereka mulai menantikan seorang menantu dan cucu darimu."


James tergelak sambil mengeluarkan kata umpatan yang membuat Dimas semakin tergelak puas.


"Sialan!" Umpatnya. "Jangan memikirkan aku, lex! Kamu sendiri mana pasanganmu? Kamu nggak membawanya malam ini? Atau... nggak ada wanita yang belum bisa kamu dapatkan?"


Mendengar ejekan James, membuat Dimas tidak tersinggung. Melainkan terkekeh ringan dengan sikap bangga dan santai. Lalu menjawab ejekannya itu dengan kalimat pasti nan meyakinkan.


"Siapa bilang gak ada wanita yang belum bisa aku dapatkan? Wanita itu bahkan sudah memiliki tempatnya sendiri di hidupku. Aku akan segera mengenalkannya padamu, nanti." Ucap Dimas yang dibalut dengan kalimat janji dan percaya diri.


"Waw! Aku jadi nggak sabar menantikannya." Gelak James dipenuhi sikap antusias.


●●●


"Mas!"


Dion memanggil seorang pelayan yang sedang berkeliling membawakan minuman. Lalu menawarkan pada Meila yang masih berdiri mematung dengan canggung di depannya. "Kamu mau minum?"


"...nggak, makasih. Aku nggak minum alkohol." Diawali dengan gelengan kepala tipis, Meila menolak tawaran Dion dengan halus.


"Kamu sendirian? Atau... sama seseorang?"


Disaat Dion bertanya, didetik itulah entah dari mana datangnya, seseorang tidak sengaja menyenggol Dion dari arah belakang. Hal itu membuat Dion terdorong ke depan dan nyaris menubruk Meila sebelum gadis itu terperanjat melangkah mundur dari tempatnya.


Deg!


Sontak, Meila membeku dibuatnya. Pasalnya, dia baru saja mencium aroma asing sekaligus juga familiar dengan bau menyengat yang tajam. Ya! Perpaduan antara alkohol yang bercampur dengan asap rokok yang sangat kuat memasuki indra penciumannya dan meresap disana.


Aroma ini... sama persis dengan apa yang ada didalam mimpiku semalam. Apa jangan-jangan...?


Meila tersentak kuat saat alarm tanda bahaya berbunyi di kepalanya.


"Sorry! Kamu gak apa-apa?"


Sementara Dion memastikan Meila, seseorang yang menabraknya tadi langsung merasa bersalah.


"Ma-maaf, tuan. Saya tidak sengaja. Kain pel ini sangat licin. Saya tidak bisa mengendalikan langkah saya."


Rupanya itu adalah seorang pegawai kebersihan yang sedang bertugas membersihkan area ruangan agar selalu terlihat bersih dan steril.


"Ya, tidak apa-apa. Lain kali hati-hati." Sahut Dion tegas dengan sikap angkuhnya tetapi dengan pandangan yang berlawanan. Memandangi Meila dengan teliti dan seksama.


Setelahnya, petugas kebersihan itu pergi sebelum kemudian membersihkan lagi lantai yang licin dengan tergesa-gesa.


Meila mulai merasa sesak. Gelisah, gusar, dan tidak nyaman. Keringat dingin mulai keluar dan menyebar. Mendadak tubuhnya pun ikut gemetar. Ingin melarikan diri namun seperti ada ikatan besi yang merantai kedua kakinya. Akhirnya, dia melihat sekitar untuk mencari sosok Dimas. Namun dia tidak menemukannya. Hanya ada Rendy yang terlihat di kejauhan dan cukup sulit untuk ia mintai pertolongan.


Rupanya Dion menyadari perubahan sikap Meila yang begitu cepat. Mulai dari kedua mata Meila yang celingukan seperti sedang mencari sesuatu, hingga tangan yang terangkat karena refleks memegang tengkuk lehernya sendiri karena bergidik ngeri. Dion sempat bingung. Hingga akhirnya tanpa pikir dua kali dia menanyakan kondisi Meila secara gamblang.


"Kamu kenapa? Sakit? Atau nggak enak badan? Mau aku panggilkan seseorang untuk memeriksa kondisi kamu?" Tanya Dion dengan bingung.


Meila menggeleng kuat-kuat, "n-nggak. A-a...aku gak apa-apa..." jawabnya terbata sembari menunduk. Tidak berani menatap lawan bicaranya. Jemari-jemarinya pun saling bertautan. Berusaha mengalihkan kegelisahannya yang mulai menaiki puncak.


Disisi lain, beberapa orang pria yang berpakaian rapih sedang memberikan informasi melalui alat yang dipasang di telinganya. Lirikan mata tajamnya mengarah pada Meila. Tentu! Mereka adalah bodyguard yang ditugaskan untuk mengawasi Meila dari jarak jauh tak terlihat agar melaporkannya pada Dimas apapun kondisinya.