A Fan With A Man

A Fan With A Man
Menculik



Ketika James kembali, Sisil terlihat sayup-sayup dengan kepala merebah ke kepala sofa. Namun, langkah kaki James yang kentara membuat Sisil langsung terkesiap sambil melontarkan pertanyaan kepada James.


"Kamu abis melakukan apa?"


James berjalan mendekat. Menghampiri Sisil dengan memulas senyum lembut.


"Aku abis menelepon papamu. Mengabari mereka jika putri semata wayangnya sedang mengikuti aktifitas kemah di luar wilayah kampus." James menjawab dengan ulasan senyum dan ekspresi yang santai.


Namun tidak seperti ekspresi James, reaksi Sisil justru sebaliknya. Wajah terkejutnya yang nyata sama sekali tidak bisa ditahannya hingga membuat tubuhnya memberingsut maju.


"Apa? Kenapa kamu buat alasan kayak gitu, James? Gimana kalau papa curiga dan menelepon pihak kampus? Aku bisa dimarahi habis-habisan sama papa karena berbohong." sergah Sisil karena merasa cemas.


Sambil berjalan menghampiri Sisil, James tersenyum sambil memposisikan dirinya duduk di sebelah Sisil dan langsung merangkulnya.


"Kenapa kamu begitu cemas? Aku mengatakan kalau kamu berkemah di sebuah pedesaan yang tidak terjangkau oleh sinyal. Aku juga mengatakan jika Meila juga ada bersama kamu."


Sisil langsung menoleh dengan ekspresi yang tak kalah mengejutkan. "Meila? Kenapa kamu bawa-bawa Meila juga, sih? Mereka sangat tau hubunganku sama Meila itu kurang baik. Kamu malah bawa-bawa nama dia di depan papa?"


"Kenapa harus kurang baik? Kamu kan bisa mulai menjalin hubungan baik dengan Meila. Aku yakin, kok, Meila akan menerima kamu dengan senang hati."


Sesaat, Sisil tampak berpikir dan mengalihkan pandangannya dari James. Memutus padangannya sambil menundukkan kepala.


"Nggak semudah itu, James." nada suaranya berubah lesu. "Aku... Aku masih harus berdamai dengan diriku sendiri. Aku merasa malu, James. Bahkan, menyebut namanya aja rasanya aku nggak pantas." Sisil menunduk dalam. Tampak menyesali perbuatannya yang pernah dilakukannya pada Meila.


James menghela napasnya perlahan, lalu menarik dagu Sisil dan mengarahkan padanya agar memandangnya.


"Sisil, hei.... setiap orang punya masa lalu yang buruk. Seperti kamu yang menyesali perbuatanmu terhadap Meila di masa lalu. Kamu tidak perlu menghindar. Kamu harus menghadapinya, Sisil. Aku yakin Meila sudah memaafkanmu." James berusaha memberikan pengertian pada Sisil dengan sikap sabar. "Sekarang aku mau tanya ke kamu. Apa selama ini kamu sudah meminta maaf dengan benar pada Meila?"


Benar! Sisil melupakan hal penting itu. Selama ini, dia sama sekali belum pernah mengungkapan permintaan maafnya secara benar kepada Meila. Dia justru selalu menghindar karena merasa risih dan malu saat berpapasan dengannya.


Sisil menggeleng. Dan gelengannya itu langsung direspon dengan kekehan ringan dari James.


"Pantas saja! Itu karena kamu selalu menghindarinya, kan?" imbuh James menyimpulkan. "Kamu mau tau, bagaimana membuat perasaanmu lebih lega dari rasa bersalah yang mengganjal itu?"


Sisil lagi-lagi menggeleng. Namun tak urung dia bertanya dengan ekspresi polos. "....Apa?"


"Minta maaflah padanya. Minta maaflah pada Meila dengan cara yang benar, Sisil. Aku yakin, setelah kamu meminta maaf, perasaanmu akan jauh lebih lega dan ringan. Rasa bersalahmu yang mengganjal akan sirna. Percaya padaku,"


Sisil tampak menatap James dengan lekat dengan perasaan bimbang. Antara 'ya' atau 'tidak' , Sisil belum memberikan keputusannya secara pasti. Tetapi, tanpa berniat membuat Sisil tertekan ataupun merasa terpaksa, James akhirnya mengalihkan pembicaraan dan kembali bangkit. Membiarkan Sisil berpikir dengan memberinya ruang untuk menentukan keputusannya.


"Baiklah, sambil kamu memutuskan, aku akan ke dapur dan membuat sesuatu untuk kita makan. Kamu pasti merasa lapar sekarang."


James lalu beranjak bangun sebelum kemudian menyentuh kepala Sisil dengan sayang. Lalu tanpa berbicara lagi, langsung membawa kakinya menuju dapur dan membuka kulkas untuk menyiapkan bahan-bahan yang akan dia masak menjadi menu makan malam di malam yang hampir larut.


●●●


Hidangan makan malam di waktu yang terlewat itu sangat menggiurkan. Menu makan malam yang tersaji dan dibuat oleh James sangatlah menggugah selera. James memasak bistik sapi sebagai menu hidangan utama bersama dengan capcay sayur sebagai menu pendamping. 


Tidak ada yang salah dengan rasa maupun tatanannya. Semuanya terlihat sangat lezat dan membuat nafsu makan bertambah. Tetapi, ada satu pemandangan yang mengganjal di tengah-tengah santapan makan malam yang mereka nikmati. Sisil tampak tidak berselera. Dia baru menyentuh makanannya sedikit sambil memainkan sendok dan garpunya ke atas piring. Menusuk-nusuk bistik yang hampir tercacah menjadi tak berbentuk dan hancur.


Kedua alis James mengernyit heran. Dia pun bertanya pada Sisil dengan tangan yang masih memegang alat makan.


"Apa masakanku tidak cocok dengan lidahmu?"


Sisil terkesiap mendengar suara James. "Oh, bukan. Co-cocok, kok."


"Kalau cocok, kenapa kamu tidak memakannya? Dan malah mencabik-cabik daging itu sampai tidak berbentuk?"


Sisil langsung melihat pada bistik daging yang ada di piringnya. Dan dia sedikit terkejut saat melihat potongan daging yang tadinya cantik, malah menjadi daging cincang yang tidak berbentuk.


James tersenyum seketika. "Kamu masih memikirkan masalah itu? Aku sudah bilang, kan, kalau aku akan membantumu dan juga melindungimu?"


"Eee... Bukan. Bukan itu, James." Sisil tampak bingung bagaimana dia akan menjelaskannya. Namun tak urung dia menarik napas dan menghembuskannya perlahan sebelum akhirnya kata-kata itu terucap. "Begini, aku.... Aku udah berpikir dan memutuskan untuk meminta maaf dengannya. Seperti yang kamu bilang, rasa bersalahku nggak akan hilang jika aku belum meminta maaf dengan benar. Tapi aku bingung bagaimana harus memulainya."


"Be-besok?" Sisil terkejut karena James akan mengajaknya secepat dari yang tidak dipikirkannya.


"Iya. Kita akan ke rumah Dimas. Dan kamu bisa berbicara dengan Meila dari hati ke hati dan mengungkapkan rasa bersalahmu padanya."


"Tapi, James, aku...."


"Sisil,..." James menggenggam tangan Sisil sambil meremasnya dengan lembut. "Jangan menunda untuk berbuat baik. Apalagi untuk meminta maaf. Aku tau itu akan sangat berat. Tapi perasaan kamu akan jauh lebih ringan setelahnya."


Sisil menatap James sambil berpikir. Merasa ragu dengan perasaannya sendiri namun tak urung dia menghela napas panjang sebelum akhirnya membuat keputusan.


".....baiklah. Aku akan mencobanya."


"Bukan mencoba. Tapi harus. Kamu mau perasaanmu lega, kan?"


Sisil menghembuskan napasnya lagi sambil memejamkan matanya. Kemudian mengangguk dan mengiyakan ucapan James. Yang seketika membuat James langsung memberikan sebuah senyuman meneduhkan.


"Ayo, habiskan makan malammu."


Sisil kembali melanjutkan makan malamnya dengan perlahan. Kemudian dia ingat akan ponselnya yang belum dia lihat sejak tadi. Dia langsung beranjak dari kursi dan meraih tasnya yang ada di sofa.


"Kamu mencari apa lagi?"


"Ponselku. Aku belum mengeceknya sejak tadi. Aku takut papa menelepon."


James menyeringai. "Aku sudah bilang pada mereka kalau kamu sedang ada di pedesaan yang sulit terjangkau oleh sinyal. Jadi, tidak mungkin mereka munghubungimu."


Sisil menatap James dengan alis mengernyit. "Kenapa kamu begitu yakin?"


"Ya... karena aku bilang begitu." James menjawab dengan rasa bangga.


"Dan papa langsung percaya ke kamu?" Sisil menatap James dengan tatapan remeh.


James mengangguk dengan sikap percaya dirinya yang kental. Dan hal itu membuat Sisil mendengus yang diikuti dengan kalimat ejekan.


"Andai papa tau, orang yang dia percaya udah membohonginya dan sedang menculik putrinya."


Sontak saja, kalimat Sisil itu langsung menimbulkan gelak tawa James yang posisinya sedang mengunyah. Hampir saja dia tersedak kalau saja James tidak bisa mengontrol dirinya dengan cepat.


●●●


Simon berlari tunggang langgang dari kejaran sekelompok orang yang mengejarnya. Napasnya yang tersengal hingga nyaris pingsan. Langkahnya terhuyung dan nyaris jatuh ke tanah dengan wajah pucat pasi.


Melihat ada semak-semak, tanpa berpikir dua kali Simon langsung bersembunyi disana. Menyamarkan dirinya dibalik pepohonan di tempat yang gelap.


"Aku harus segera pergi dari sini." Kalimatnya tersekat sambil meraup oksigen ke paru-parunya. "Aku tidak mau tertangkap oleh orang-orang itu."


Sambil berusaha bangkit, Simon tampak lebih dulu melihat situasi sekitar. Dilihatnya segerombolan orang yang tidak mengejarnya lagi. Dan itu dia gunakan sebagai kesempatan untuk kabur.


"Aku harus kabur sebelum orang-orang itu menangkapku."


Baru saja Simon akan mengambil langkah seribu, segerombolan orang yang mengejarnya tadi telah lebih dulu mengepungnya. Mungkin karena kondisinya yang lemah dan pergerakannya yang melambat sehingga mudah diketahui. Atau juga karena dirinya yang tidak merasa waspada.


"Jangan berani-beraninya kabur dari kami. Atau kami akan melakukan kekerasan yang tidak pernah anda bayangkan."


"Si-siapa kalian!? Kenapa kalian mengejarku?"


"Anda akan tau nanti. Lebih baik, anda ikut dengan kami dengan sukarela sebelum kami menggunakan kekerasan pada anda."


"Ti-tidak! Aku tidak mau ikut dengan kalian."


Tanpa memberi kesempatan Simon untuk kabur, salah satu dari segerombolan itu telah memukul punggungnya saat dia akan benar-benar kabur. Hingga mengakibatkan dirinya jatuh tersungkur dan pingsan. Orang-orang itu langsung membawanya ke dalam mobil dan membaringkannya di kursi penumpang dengan dikawal oleh masing-masing satu orang di sisi kanan dan kirinya. Kemudian membawanya ke tempat tujuan dengan mobil yang dilaju dengan kencang.