A Fan With A Man

A Fan With A Man
Terjebak



Setelah berbelanja dan makan siang, saatnya Dimas dan Meila bersiap-siap untuk kembali ke rumah. Gaun yang akan dikenakan saat pesta nanti juga sudah mereka dapatkan. Hanya tinggal menghitung hari saja menuju acara tersebut.


Saat ini, setelah Dimas membayar tagihan restoran kepada pelayan, mereka bergegas meninggalkan restoran itu. Beranjak berdiri dari kursi sebelum kemudian Meila meminta izin pada Dimas untuk pergi ke toilet.


"Aku mau ke toilet dulu," ucap Meila seketika.


"Mau aku antar?" Dimas menawarkan sambil memberikan candaan yang di balut perhatian. Namun, suara telepon dari ponselnya membuat perhatiannya teralihkan. Membuat Meila mengerti dan tidak mau mengganggu Dimas saat menerima panggilan telepon yang sepertinya cukup penting itu.


Meila tersenyum, "kak, please, aku udah dewasa, aku bisa sendiri, kok. Kamu terima panggilan masuk aja. Kayaknya dari kantor, mungkin penting." Ujarnya dengan penuh pengertian dibalut tutur kata lembut.


Dimas tersenyum lembut. "Okay. Aku tunggu disini, ya." Jawabnya. Lalu mengingatkan Meila untuk membawa ponselnya yang ada di atas meja, takut-takut gadis itu melupakan dan meninggalkan benda penting tersebut untuk memudahkannya berkomunikasi. "Dibawa ponselnya, Sayang." Dimas berujar lagi dengan sedikit nada penekanan yang lembut. Sedangkan Meila, hanya memberikan cengiran khasnya sebagai jurus andalan.


Sepeninggal Meila, Dimas langsung menjawab panggilan masuk di ponselnya yang ia ketahui bahwa itu dari sang asisten, Henry.


"Ya, Henry," jawab Dimas kepada Henry yang ada di seberang telepon.


Meila mulai berjalan menuju toilet. Dia mulai masuk ke dalam bilik yang kosong. Tidak ada pengunjung ataupun petugas kebersihan yang biasanya selalu siaga membersihkan area toilet.


Seolah tidak memiliki firasat apapun, dengan santai Meila masuk ke salah satu bilik toilet. Selang beberapa menit ketika dia akan keluar dari bilik tersebut, terdengar suara langkah seseorang yang diikuti dengan lontaran kalimat yang membuatnya mengurungkan niat untuk keluar dari sana.


"Kita harus lancarkan rencana kita sekarang juga. Mumpung toilet sepi, sekarang waktunya kita pasang alat kameranya." Kata salah satu orang itu kepada temannya.


"Lo bener banget. Karena kapan lagi kita bisa pasang alat perekam dan ngeliat para cewek-cewek di toilet." Lalu temannya ikut menimpali sambil terkikik geli.


Kalimat terakhir yang baru saja didengar seketika berhasil membuat bulu kuduk Meila meremang disertai hawa panas dingin yang menyeruak di dalam bilik toilet. Rasa pengap, panas, dan juga sesak diikuti jantung yang berdebar disertai keringat dingin yang mulai bercucuran menyadarkan Meila bahwa dirinya sedang berada dalam bahaya. Dan dia harus memutar otak untuk bergegas mencari bantuan tanpa dicurigai oleh mereka.


●●●


Rupanya mereka adalah dua orang petugas kebersihan yang bekerja di gedung tersebut. Mereka menyamar dengan tujuan agar dapat mencurangi para pengunjung mall khususnya para wanita yang masuk ke toilet. Dan saat ini, mereka sedang berencana melakukan kecurangan dengan memasang alat perekam kamera yang disambungkan ke ponsel masing-masing.


Mendengar percakapan dua orang tersebut dari dalam bilik toilet, membuat Meila langsung merapatkan bibirnya dengan tubuh gemetar. Pun dengan tubuh yang mendadak kaku sambil bersandar dengan hati-hati di sudut bilik agar pergerakannya tidak disadari oleh mereka.


Perlahan, Meila mulai merogoh tasnya dan mengambil ponsel. Dia akan menghubungi Dimas namun karena tidak adanya sinyal telah menyulitkannya.


Oh My... gak ada sinyal? Gimana caranya aku hubungin kak Dimas?


Meila tidak pernah menyangka dirinya akan terperangkap di dalam bilik toilet yang sempit dan gelap. Membuat ingatannya terputar kembali saat dimana kejadian yang sama mulai terbersit di benaknya. Adalah hal sama yang dulu hampir Beno lakukan padanya namun langsung digagalkan oleh Airin, sahabatnya. Dan sekarang, apakah ini akan terulang dan benar-benar terjadi padanya?


Sambil berusaha tenang Meila mulai mengatur nafasnya yang mulai tidak teratur karena panik.


"Lo pastiin gak ada siapapun di luar. Biar gue yang pasang alatnya." Salah satu petugas itu menyuruh temannya untuk berjaga-jaga agar aksinya berjalan lancar.


Mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat, membuat Meila merasa cemas sekaligus takut. Gemetar yang menjalar ke seluruh tubuh semakin terasa disambut dengan padamnya lampu yang tiba-tiba. Hal itu membuat Meila hampir saja berteriak kaget kalau-kalau dia tidak segera membekap mulutnya sendiri dengan cepat.


"Sial! Tiba-tiba mati lampu. Kenapa harus sekarang coba disaat situasinya sepi kayak gini?" Salah satu petugas tampak kesal.


"Udah buruan. Pake lampu dari ponsel lo aja, bray. Cepet! Sebelum orang teknisi dateng." Timpal temannya yang masih setia berdiri untuk berjaga-jaga di dekat pintu masuk toilet. Menyuruh agar temannya bergegas menjalankan rencananya karena ruangan teknisi berada tepat di sebelah toilet itu. Jadi bukan hal yang tidak mungkin jika aksi mereka akan dicurigai dan diketahui nantinya.


Sambil menggerutu, petugas kebersihan itu mengeluarkan ponselnya dari kantung saku celana dan mengarahkannya pada langit-langit di antara bilik toilet.


Meila menyadari adanya sinar cahaya dari lampu yang hampir mengarah padanya. Dia cemas jika para petugas itu akan menemukan keberadaannya karena terlihat dari cahaya lampu tersebut.


Beberapa menit, rencana mereka berjalan lancar. Kamera sudah terpasang di langit-langit toilet yang keberadaannya tersamarkan. Bahkan, bagi orang awam sekalipun tidak akan menyadari jika telah ada alat perekam kamera di sana. Mereka benar-benar profesional dan sudah diperhitungkan dengan matang.


"Beres! Semuanya udah terpasang. Tinggal tunggu mangsa betina." Ujarnya sambil menyringai yang otomatis membuat Meila membelalak ngeri.


Karena saking membuatnya takut dan bingung harus berbuat apa di tengah kegelapan, Meila malah tidak memperhatikan situasi sekitar hingga tidak sengaja kakinya menabrak sesuatu dan hal itu langsung menyadarkan kedua petugas kebersihan tersebut akan keberadaannya.


"Siapa itu?"


Dengan ketakutan Meila membekap mulutnya sambil gemetar. Sementara salah satu dari mereka mulai mencari tahu dengan cara membuka satu persatu bilik toilet, tanpa terkecuali bilik toilet yang Meila tempati.


"Ternyata ada mangsa betina di sini, bray." Ucap petugas itu begitu menemukan Meila sedang berdiri ketakutan di sudut bilik. Dan suaranya membuat bulu kuduk meremang.


Temannya langsung menghampiri, "Mangsa betina yang manis," ujarnya dengan tatapan penuh nafsu begitu melihat Meila.


"Ja-jangan... b-biarin aku keluar dari sini. Ak-aku nggak akan bilang pada siapapun. Tapi tolong.... lepasin aku...." ucap Meila memohon sambil terbata. Suaranya bergetar ketakutan. Pun meski dibawah cahaya minim bisa terlihat jika matanya mulai berkaca-kaca.


Mereka saling melempar tawa hingga membuat Meila kebingungan. Kemudian, mereka saling menatap dengan pandangan mencurigakan.


"Nggak semudah itu, manis. Kamu pikir, kita bakal semudah itu lepasin kamu dan percaya gitu aja kalau kamu nggak akan bicara sama siapapun?"


"Ayo, kita main-main dulu sebentar."


Tanpa Meila duga, tangannya sudah ditarik keluar. Meila meronta-ronta dan berusaha berontak untuk melepaskan cengkaraman di pergelangan tangannya. Rasanya begitu nyeri. Sampai-sampai air mata yang sedari tadi ia tahan menggenang di pelupuk matanya akhirnya jatuh membasahi pipi.


"Lepas! Lepasin! Biarin aku keluar dari sini. Aku mohon...... Toloooong! Tolooooong......!"


Meila berteriak meminta tolong agar siapapun dapat mendengar teriakannya dan menolongnya. Namun, penjahat itu langsung membekap mulut Meila hingga suaranya teredam.


Mereka membawa Meila ke sudut ruangan hingga menempel ke dinding. Bekapan itu tanpa sadar terlepas dan membuat Meila mengambil kesempatan lagi untuk berteriak sekencang-kencangnya agar suaranya terdengar sampai keluar.


"Tolooong......! Tolooommmpphh..... mmmphh!"


"Diam!" Penjahat itu membentak Meila hingga ketakutan. "Jangan berani-berani berteriak lagi."


Kemudian salah satu dari mereka mendekati Meila, seperti mengendus-endus sampai membuat Meila membelalak ngeri. "Aromanya enak, bray. Gimana kalo kita cicipin dulu?"


Temannya mengangguk setuju disertai bibir yang menyeringai dan tatapan mata penuh nafsu. Mereka pun mulai bergerak mendekat. Meila semakin ketakutan. Air matanya mulai jatuh disertai gemetar penuh permohonan agar dirinya dikasihani. Namun, nyatanya penjahat itu memang tidak memiliki belas kasihan sama sekali, malah justru menikmati rasa ketakutan Meila dengan tidak menghentikan aksinya.


Siapapun, tolong....


Seolah doanya terkabul, tanpa diduga suara dobrakan pintu mengagetkan mereka. Semuanya kompak menoleh ke arah pintu masuk tanpa terkecuali.


●●●


"Kamu kirimkan laporan itu ke saya lewat email. Sisanya saya yang akan urus dan selesaikan. Selebihnya, kamu pantau proyek hari ini dan lapor ke saya setiap perkembangannya."


"Baik, tuan. Apa ada yang perlu saya kerjakan lagi?"


Kemudian, suara ramai-ramai pengunjung yang berlalu lalang berhasil mengusik rasa ingin tahu Dimas saat beberapa diantara mereka menyebutkan kata 'sandera' dan 'toilet wanita'. Rasa khawatir langsung menyerangnya saat mengingat Meila yang sedang berada disana.


Mendengar Dimas terdiam tidak menjawab pertanyaannya di seberang telepon, membuat Henry mengulang kembali dengan memanggilnya.


"Halo, tuan?"


"Mmm... untuk saat ini cukup itu aja."


"Baik, tuan. Apa tuan sedang berada di luar? Saya mendengar ada suara ramai-ramai di sekitar anda."


"...ya. Saya sedang berada di pusat perbelanjaan. Sepertinya ada sesuatu yang nggak beres dan saya harus segera mengeceknya."


"Apa saya perlu ke sana, tuan?"


"Nggak perlu. Kamu kerjakan aja apa yang tadi saya tugaskan." Jawab Dimas tegas yang dilanjut dengan diputusnya panggilan telepon darinya.


Suasana menjadi semakin riuh seiring dengan semakin banyaknya lalu lalang pengunjung. Tanpa banyak berpikir, Dimas langsung bergegas, berlari mencari Meila untuk memastikan kondisinya baik-baik saja. Karena dia yakin, jika saat ini gadisnya sedang dalam bahaya.


Sementara di dalam toilet yang gelap dan mencekam itu perlahan terlihat bayangan pria berjalan semakin mendekat. Pun ditandai dengan suara langkah tegas yang disertai suara lantang penuh tantang.


"Lepasin dia!" Ucapnya santai disertai dagu yang terangkat.