A Fan With A Man

A Fan With A Man
Penjagaan



Simon dibawa ke sebuah bangunan kosong. Masih dalam kondisi pingsan, dia langsung didudukkan di sebuah kursi lalu diikat kedua kaki dan tangannya dengan ikatan yang cukup kencang.


Setelah orang-orang Itu memastikan jika Simon tidak bisa kabur dan melarikan diri, barulah dia ditinggalkan seorang diri di tempat gelap yang minim pencahayaan itu.


"Kita tinggalkan dia disini. Besok pagi, baru kita laporkan pada tuan. Tolong dua orang berjaga disini. Tapi ingat, jangan sampai gerak gerik kalian terlihat mencurigakan."


"Baik."


Setelah salah satu dari mereka memberikan instruksi, satu persatu pun pergi meninggalkan bangunan itu kecuali dua orang yang berjaga. Mereka berjaga di depan pintu kamar hingga matahari terbit dan berlanjut hingga tuan mereka datang untuk melihat secara langsung target operasi yang dicarinya telah berhasil tertangkap.


Meninggalkan Simon yang sedang pingsan, di tempat lain Dion tampak kelimpungan seperti orang yang sedang kehilangan arah. Sudah seharian ini dia terlihat uring-uringan tidak karuan. Merasa serba salah dan gelisah. Sudah dua botol minuman habis di tenggaknya sejak dua jam lalu. Dan kini, ketika dirinya sudah mabuk berat dan kepala yang mulai memutar, tubuhnya jatuh lunglai ke sofa.


"Meila.... Meila.... kapan aku bisa mendapatkannya?"


Dion mengoceh tidak jelas dengan mata terpejam. Dengusan keputusasaan yang keluar dari bibirnya tampak sangat jelas. Dia bahkan sudah dibuat mabuk kepayang oleh perempuan incarannya hingga membuatnya gila.


"Aku harus mendapatkanmu. Harus! Bahkan jika aku harus menghalalkan segala cara seperti yang pernah aku lakukan sebelumnya."


Kedua matanya menyala dengan sinar tekad kuat yang terpancar disana. Menjelaskan jika tindakannya kali ini benar-benar akan dia tuntaskan sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan.


●●●


Sinar matahari yang begitu menyilaukan hingga menembus lapisan tenda membuat tidur nyenyak Meila terusik. Keningnya mengkerut sebelum kemudian mengerjap perlahan. Dia merasakan silau matahari yang tepat masuk ke celah-celah lubang tenda yang tidak tertutup. Membuat tangannya refleks menutupi sinar matahari itu untuk menghalau pantulannya yang langsung menusuk ke mata.


"Udah pagi..." gumamnya pelan.


Sedikit demi sedikit diresapinya pantulan sinar matahari itu hingga menyentuh kulit. Terasa hangat tetapi juga menyenangkan. Membuatnya mengulas senyum lebar dengan penuh perasaan senang yang tidak bisa tergambarkan.


Sadar dirinya masih bersandar di atas lengan dekat dengan dada Dimas, Meila langsung menoleh dan menatap Dimas dengan tatapan kagum. Jantungnya berdebar-debar ketika Meila tidak berhenti menatap Dimas yang masih terlelap. Wajahnya begitu tampan dengan rambut sedikit acak-acakan, serta balutan kaos putih yang sedikit longgar namun sangat pas membentuk tubuhnya yang kekar.


Wajah Meila pun sontak merona ketika otak polosnya membayangkan hal-hal aneh yang tiba-tiba saja muncul. Entah dari mana dia mulai berpikiran aneh ketika bersama Dimas.


Mungkinkah, sejak Dimas meninggalkan tanda di lehernya saat itu sehingga otaknya menjadi rusak?


Berusaha menghalau pikiran mesum yang muncul di kepalanya, Meila berniat bangun dengan beranjak perlahan dari rengkuhan lengan Dimas sebelum pria itu benar-benar terbangun dan malah menggodanya.


Setelah dengan sangat hati-hati Meila bergerak, dan menggeser lengan Dimas agar dia bisa melepaskan diri, Meila lalu bergegas bangkit dan akan keluar dari tenda kalau saja pinggang rampingnya itu tidak ditahan oleh lengan Dimas yang memeluknya tiba-tiba.


Seketika Meila memekik kaget sambil terjatuh kembali ke atas dada Dimas yang kokoh.


"Mau kemana buru-buru gitu? Hm?" Suara parau khas baru bangun tidur tidak bisa dielakkan. Suara yang begitu berat namun juga seksi.


"Aku... Aku mau mandi. Kakak lihat, kan, matahari udah berdiri di atas kepala kita? Itu artinya, ini udah pagi."


"Benarkah? Apa aku terlalu cepat bangun sampai mengganggumu yang sedang memandangi wajahku tadi?"


Mata Meila membelalak seketika. "Ap-apa? D-dari mana aku kayak gitu?"


Gelakan tawa Dimas yang cukup kencang membuat kepala Meila ikut bergetar karena dada Dimas yang bergetar oleh tawanya.


"Baiklah.. anggaplah seperti itu." Dimas mengalah dan malah semakin memeluk rapat Meila ke dadanya.


Dalam pelukan Dimas, Meila menutupi wajahnya dengan menempel ke dada Dimas sambil menahan rona merah di wajahnya.


Aduh! Bisa-bisanya aku berpikiran mesum tadi!


Meila merutuki dirinya sendiri yang entah kenapa mulai berpikiran aneh jika bersama Dimas. Aneh yang dimaksud adalah, adanya getaran ketika menatap Dimas, bahkan menganggapnya seksi adalah hal yang memalukan baginya. Sejak kapan otak polosnya itu mulai memikirkan hal-hal dewasa yang tidak pernah terlintas di pikirannya?


"Tumben kamu bangun lebih dulu. Biasanya aku yang membangunkanmu,"


"Apa itu mengganggumu? Kamu mau tidur lagi di kamar?"


"Ih, kakak! Ini udah pagi. Gak baik tidur lagi."


Dimas tertawa. "Kalau gitu, kita disini dulu sebentar, ya. Kita nikmati udara sejuk dari hangatnya matahari itu."


Meila mengangguk dalam pelukan Dimas. Lalu dengan manja meletakkan tangannya ke dada Dimas sambil memainkan jarinya dengan membentuk pola acak disana. Membuat Dimas tersenyum karena ulahnya.


"Kak,"


"Hm?"


"Hmmm... Gak jadi, deh."


Dimas mengernyitkan alisnya bingung hingga ditolehkan wajahnya sedikit.


"Kenapa, sih? Kamu mau ngomong apa? Hm?"


"Nggak. Aku... Cuma masih takut kalau kak Dion tiba-tiba datang lagi ke kampus kayak kemarin. Aku beruntung kemarin ada kamu. Tapi kalau aku lagi sendiri dan kamu gak ada......"


"Aku tau kekhawatiran kamu, Mei. Aku juga udah mempertimbangkan semuanya sebelum laki-laki itu berbuat hal lebih jauh lagi. Mungkin sampai hari kemarin cuma kamu yang belum tau kalau aku udah menempatkan beberapa bodyguard yang berjaga di sekitar sana untuk mengawasi gerak gerik Dion dan memantau keamanan kamu."


Seketika wajah Meila mendongak kaget. Dengan menempelkan dagunya ke atas dada Dimas.


"Benarkah? Kenapa aku nggak tau soal itu? Terus kakak bilang cuma aku yang belum tau. Lalu siapa lagi yang mengetahuinya?"


Dimas tersenyum lembut sambil menyelipkan anak rambut Meila yang sedikit berantakan.


"Rendy. Dia menyadarinya lebih dulu."


"Berarti kak Rendy udah tau tentang kak Dion?"


Dimas mengangguk mengiyakan. "Tapi kamu gak perlu khawatir. Rendy mendukung penuh apapun yang aku lakukan asal itu demi keamanan kamu. Dia bahkan menyuruh aku untuk menambah pengawalan buat kamu kalau perlu sampai harus mengekori kamu kemanapun."


"Terus kakak setuju?" Meila bertanya sambil memperlihatkan ekspresi ketidaksetujuannya akan pendapat Rendy.


"Ya tentu nggak lah, sayang." Dimas tertawa renyah. "Masa iya aku ngebiarin pacar aku merasa risih dan terganggu hanya karena bodyguard yang selalu mengekor. Aku juga memikirkan semuanya dengan matang. Cukup hanya berjaga-jaga aja dalam jarak yang aman. Dan mereka akan melaporkan situasi dan kondisi apapun tiap jamnya."


Meila tersenyum lega mendengarnya. Dia lalu melengkungkan senyuman manisnya untuk Dimas sebelum kemudian merebahkan kembali kepalanya ke atas dada Dimas yang nyaman.


"Terima kasih, kak. Terima kasih karena selalu memikirkanku."


Sambil mengulas senyum dan mengusapi punggung Meila, Dimas berujar dengan kalimat yang membuat Meila tertawa.


"Kali ini aku nggak akan mencegah kamu untuk bilang terima kasih. Karena mau aku cegah pun, kamu akan terus mengucapkannya. Benar, kan?"


"Iya," imbuh Meila yang disambung oleh cengiran khasnya.


"Gimana? Mau bangun sekarang? Tadi katanya kamu mau mandi."


Diluar dugaan, Meila malah menolak dengan sebuah gelengan kepala disertai ucapan. Padahal, tadi dia sangat bersemangat untuk segera bangun dan mandi.


"Sebentar lagi, ya..."


Ekspresi Dimas pun berubah sayang. Ditandai dengan kecupan hangatnya ke puncak kepala Meila yang harum sambil kembali melingkupi Meila dengan lengannya.