
Cuaca hari ini sepertinya tampak tidak bersahabat. Suasana mendung dan sedikit berkabut menjadi awal di hari Senin pagi. Sisil yang baru turun dari kamarnya langsung menuju meja makan. Disana sudah ada Riana yang sedang menyiapkan sarapan dengan dibantu seorang asisten rumah tangga.
"Pagi, ma."
"Pagi, sayang. Ayo, sarapan dulu."
Sisil langsung menarik kursi dan duduk setelahnya. Lalu membalikkan piring yang akan diisi dengan nasi goreng untuk sarapannya pagi ini.
"Papa mana, ma?"
"Papamu udah berangkat setengah jam yang lalu. Ada meeting penting katanya."
Sisil hanya ber-oh ria sambil menganggukkan kepalanya.
"Mau susu atau jus?"
"Jus aja."
Riana memberikan segelas jus jeruk dan meletakkannya di samping Sisil. Lalu kembali lagi ke dapur untuk mengambil beberapa roti yang akan diletakkan ke atas meja makan.
Saat Sisil baru memakan sesendok nasi gorengnya, suara bel tiba-tiba berbunyi. Membuat Sisil otomatis menghentikan kegiatannya dan berinisiatif untuk membukakan pintu.
"Biar aku aja, bi. Bibi lanjutin kerjaan bibi aja." Ujarnya pada seorang asisten.
"Baik, non." Sahut asisten rumah tangga itu dengan patuh.
Sisil berjalan ke arah pintu utama dan meraih gagang pintu. Memutar kuncinya, dan menariknya perlahan. Ketika pintu sudah terbuka sempurna, wajahnya sungguh terkejut melihat siapa yang sudah datang pagi-pagi begini ke rumah orang yang sedang sarapan.
"Tukang obat?" Sisil berseru kaget.
Kening James mengernyit bingung. "Tukang obat?"
"Siapa yang datang, Sil?" Suara Riana terdengar dari kejauhan.
"Itu ma, cuma tukang obat." Jawab Sisil sekenanya. Lalu dia ingat kembali akan kata-katanya barusan dan langsung menutup mulutnya dengan tangan. "Anu, ma. Maksudnya tamu nggak diundang yang mau numpang sarapan." Imbuhnya sinis.
"Oh, jadi kalian lagi sarapan? Wah, pas sekali. Aku memang belum sarapan."
Tanpa meminta izin, James langsung menyelonong masuk ke dalam ruang tamu dengan gaya meledek. Dan itu membuat kedua mata Sisil melotot hingga nyaris keluar.
"Heh! Siapa yang nyuruh kamu masuk? Berenti disitu!" Perintah Sisil dengan suara nyaris lantang yang sama sekali tidak dihiraukan James yang langsung menyapa Riana dengan sikap yang sangat ramah dan sopan.
"Selamat pagi, tante."
"Wah! Ternyata kamu James. Selamat pagi. Ada angin apa kamu kesini? Kebetulan kami lagi sarapan. Ayo, sini ikut bergabung juga."
Dengan gaya yang tak kalah ramah, Riana mempersilahkan dan menerima kedatangan James dengan senang hati.
"Mau nasi goreng atau roti?" Riana menawarkan pada James saat ptia itu sudah mengambil posisi.
"Nggak perlu repot-repot, tante. Aku cuma melaksanakan tugas dari om Adrian kesini."
Liat gayanya! Bilang nggak usah repot-repot. Tapi udah ngambil posisi seolah dialah tuan rumahnya.
Sisil tampak mendumel dalam hati sambil memakan sarapannya lagi. Belum lagi dengan tatapannya yang memperlihatkan jika dia sedang merasa kesal akan kedatangan pria itu.
"Tugas? Apa itu?" Tanya Riana bingung.
"Om Adrian meminta aku untuk mengantar Sisil ke kampusnya."
Di detik kalimat itu terucap, di detik itu juga Sisil tersedak. Wajahnya memerah padam. Dia mencoba meraih jus jeruk dan meneguknya.
"Apa?" Seru Sisil tidak percaya. "Nggak mungkin papa nyuruh kamu. Pasti ini bohong, kan? Ini pasti cuma akal-akalan kamu aja kan?"
"Sisil, nggak boleh begitu, nak." Riana memperingatkan.
Sisil terdiam mendengar peringatan Riana.
Melihat reaksi Sisil yang terkejut dengan ucapannya, James sebisa mungkin menahan tawanya.
"Aku nggak bohong. Om Adrian sendiri yang meneleponku dan memintaku untuk mengantarmu. Atau... kamu mau menelepon dan bertanya sendiri dengan beliau?" James mulai menyodorkan ponselnya pada Sisil yang akhirnya dia tolak dengan bola mata memutar.
Sisil berdecak sebal sebelum akhirnya dia akan menjawab tetapi malah digagalkan oleh suara dering ponsel milik James. Dia melirik pada ponselnya dan langsung menggeser mode jawab.
"Iya, om." James berhenti sejenak mendengarkan suara di seberang telepon. "Iya, udah, om. Aku udah di rumah om. Lagi nunggu Sisil sarapan dan setelah itu mengantarnya seperti yang om minta."
Sisil melotot tidak percaya. Sementara Riana menatap anaknya dengan tatapan peringatan.
"Baik, om."
Ibu jari James bergerak menekan mode loudspeaker di ponselnya. Dan setelah mode itu aktif, James langsung meletakkannya ke tengah-tengah meja makan.
"Silahkan, om. Aku udah aktifin mode pengeras suara."
"Sisil, kamu hari ini diantar James, ya. Papa ada meeting penting jadi nggak bisa antar kamu."
"Tapi, pa...."
"Nggak ada tapi-tapi an, Sisil. James juga udah meng-iyakan, kok. Benar, kan, James?"
Tidak ada yang bisa Sisil bantah kali ini. Dia hanya bisa terduduk lesu sambil menghela napasnya panjang.
"Baik kalo gitu, om tutup dulu ya teleponnya."
Selang beberapa detik sambungan telepon terputus bersamaan dengan pandangan Sisil pada James yang begitu geram. Sekarang dia benar-benar tidak bisa berbuat apapun. Terlebih di depan Riana dan juga keputusan Adrian. Dia hanya bisa mematuhinya sambil menahan perasaan kesal luar biasa.
●●●
Di dalam mobil, James melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sunyi, sepi, tanpa percakapan. Sisil sendiri lebih memilih memalingkan wajahnya ke arah jendela sambil memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang bergantian.
"Kamu segitu nggak maunya kalau aku yang mengantarmu?"
James memecah keheningan. Mencoba memulai percakapan lebih dulu.
Sisil cuma diam tidak menanggapi. Dia masih dengan posisinya. Menatap ke luar jendela dengan gumaman tidak jelas. Tak urung dia juga memutar bola matanya dengan gerakan malas.
"Aku cuma melakukan apa yang papamu minta. Selebihnya, kamu yang menentukan. Mau menolaknya, atau menerimanya."
Pernyataan James berhasil mengalihkan pandangan Sisil. Dengan dahi mengernyit, Sisil berujar tak kalah sengit.
"Apa maksudmu?"
"Ya... kamu dengar sendiri, kan, tadi. Saat papamu memintamu untuk mematuhinya. Kamu bahkan nggak berani menolaknya."
"Ya itu karena terpaksa. Kamu dengar, kan? TER-PAK-SA!" sahutnya dengan kalimat penekanan pada kata terakhir.
James memulas senyum kali ini. Dia lebih memilih mengalah dibanding harus meladeni wanita jutek sekaligus galak yang sekarang sedang berada satu mobil dengannya.
"Oh, ya. Ada satu hal lagi. Kenapa kamu menyebutku dengan sebutan 'tukang obat' tadi. Hm?" James menoleh dengan posisi tangan masih di balik kemudi.
"Ya karena sebutan itu emang cocok buat orang kayak kamu." Jawab Sisil semaunya.
"Oh, atau karena aku menawarkan obat batuk kemarin malam?"
"Anda pintar sekali, tuan. Bisa menebaknya dengan tepat." Kali ini Sisil mendengus disertai ulasan senyum tipis yang tersamar tanpa menoleh sedikitpun ke arah James.
James sendiri hanya menggeleng-geleng dengan senyuman.
"Aku bisa menebak. Kayaknya papa dan mamamu nggak tau kalo obat itu dariku? Aku bisa melihat reaksi tante Riana yang nggak tau apa-apa tadi."
Sisil menoleh cepat disertai mata yang menyipit. "Jangan macem-macem, ya."
James hanya terkekeh mendengar nada peringatan dari Sisil. Dia sama sekali tidak membalasnya, menghiraukannya, dan malah mengabaikannya. Dan tanpa terasa mereka sudah hampir sampai dan hanya tinggal memarkirkan mobilnya saja.
Tanpa aba-aba dan kata-kata, Sisil baru akan membuka pintu yang ternyata telah James tahan sebelumnya. James mengunci tombol otomatis pintu dan malah tersenyum dengan sengaja. Hal itu memantik kemarahan Sisil dengan memberikan tatapan penuh amarah kepada James.
"Kamu sengaja, ya? Buka pintunya!" Perintah Sisil. "Aku bisa telat."
James menarik ujung bibirnya dengan santai. "Kemarikan ponselmu!"
"Ponsel? Kamu mau apa dengan ponselku?"
"Cepat kemarikan." Dengan sekali gerakan, James berhasil merebut ponsel Sisil yang sejak tadi dia genggam. Membuat Sisil semakin marah dan beniat merebutnya kembali sebelum akhirnya dia malah mendekatkan wajahnya sendiri pada James.
Mereka sama-sama bungkam. Saling menatap dan merasakan hangatnya napas masing-masing yang amat begitu dekat dengan jarak 2 centimeter. Entah apa yang salah dari reaksi tubuh Sisil. Dia bisa merasakan degup jantung yang berpacu begitu cepat, yang Sisil tau belum pernah ia alami sebelumnya.
Apa ini efek samping dari obat itu?
"Mau sampai kapan kamu menatapku begini?"
Kalimat jahil James membuat Sisil otomatis menjauhkan tubuhnya dengan cepat. Dengan gerakan sedikit canggung dan kikuk namun tetap berusaha normal agar pria itu tidak menyadarinya.
"Ini," James mengembalikan ponsel Sisil setelahnya.
"Apa yang kamu lakukan dengan ponselku?" Sisil mengecek ponselnya dengan cepat dan dia langsung menyadari kalau ada yang bertambah di daftar kontak teleponnya.
Dengan pandangan tajam, Sisil menatap James seperti ingin mengulitinya.
"Aku menambahkan nomorku ke ponselmu agar kamu lebih mudah menghubungiku. Ya... mungkin kamu akan memintaku untuk menjemputmu nanti."
Kali ini amarah Sisil semakin menjadi. "Kamu...." namun dia berusaha menahannya sebisa mungkin. "Jangan harap!"
"Oh, ya? Papamu mungkin akan terus menghubungiku untuk memintaku mengantarmu lagi nanti."
Sisil menggeram tertahan sambil melayangkan jari telunjuknya pada James namun langsung mengepalnya dan menurunkannya kembali.
"Kamu! Benar-benar, ya!" Geramnya marah. Sementara James hanya memasang ekspresi santai juga senyuman.
"Telepon aku kalau butuh sesuatu. Aku akan segera menemuimu dengan senang hati."
Tanpa mau meladeni James lagi, Sisil akhirnya bisa membuka pintu mobil dengan sekali dorong saja. Dia lalu menghentakkan kakinya dengan kasar sebelum akhirnya menutup pintu kembali dengan gerakan yang tak kalah kasar.
Huuuhh... Bisa-bisanya!
Setelah menahan diri, kali ini wajah James yang berubah merah. Sampai-sampai dia harus berkali-kali menghela napas untuk meraup oksigen ke paru-parunya yang nyaris habis.