
Mobil itu baru saja terparkir di sebuah basement pada sebuah mall. Mengingat Meila yang sangat menyukai perpustakaan daripada berbelanja seperti wanita-wanita diluar sana yang hanya menghabiskan uangnya untuk keperluan yang tidak berguna. Akhirnya Dimas memutuskan untuk membawanya pada sebuah mall yang memiliki toko buku terbesar yang menjadi tujuan utama para pengunjung di sana.
Dimas keluar dari kursi kemudi, membukakan pintu untuk Meila yang langsung disambut gembira oleh gadis itu. Mereka berjalan bergandengan, memasuki pintu utama mall yang begitu besar yang di jaga oleh dua orang keamanan bertubuh tinggi yang siap membukakan pintu bagi siapa saja yang akan memasukinya.
Begitu masuk, mereka langsung disuguhkan dengan kedai-kedai kecil di sisi kanan dan kiri yang ramai oleh pengunjung. Dari berbagai kedai kopi, milkshake corner, cemilan ringan lainnya, dan juga toko pastry yang menyediakan berbagai macam cake and pudding. Di sekelilingnya juga ada wahana bermain anak yang dilengkapi dengan kursi panjang bagi orangtua yang ingin menunggui anak-anaknya bermain di sana.
"Kita akan membeli itu nanti." Ucap Dimas tiba-tiba dengan berbisik.
Mustahil jika dia tidak memperhatikan ekspresi wajah gadisnya saat melewati gerai pastry itu. Seolah dia tahu bahwa Meilanya ingin mencicipi cheese cake yang begitu menggoda di dalam etalase kaca yang menggiurkan.
Meila menoleh, mendongak ke arah Dimas sambil memasang senyum paling manisnya. "...Thank you..." Disambut dengan Dimas yang mengedipkan kedua matanya pelan disertai senyuman, seolah sedang mengiyakan dengan ekspresinya.
"Kita langsung ke toko buku, atau... mau ke tempat lain dulu?" Dimas memberi penawaran pada Meila, seolah sedang membiarkan gadis itu yang memutuskan kemana dia akan berkunjung lebih dulu.
"Mmm... terserah kak Dimas aja." Sahutnya pelan. Suaranya sedikit ragu, seakan tidak berani untuk memutuskan.
"Baiklah, kita langsung ke sana aja, ya? Toko bukunya ada di lantai tiga. Setelahnya... baru ke tempat lain. Hm?"
Akhirnya, setelah Dimas memutuskan dan langsung disetujui oleh Meila, mereka mulai menaiki eskalator yang akan membawa mereka ke tempat yang sangat dinantikan gadis itu. Dimas sangat memperhatikan Meila dengan telaten, dia tidak ingin jika kaki mungil gadis itu terselip atau salah langkah ketika menaiki tangga eskalator.
Dia tidak ingin gadisnya terluka sedikitpun hanya karena kecerobohannya.
Tak sedetikpun tangannya melepaskan genggamannya pada Meila. Memegang erat namun juga lembut, penuh perhatian dan kasih sayang.
Mereka sudah sampai di lantai tiga. Tanpa berpikir panjang langsung menuju toko buku dan memasukinya. Sambil melempar senyuman, Dimas bisa merasakan perasaan bahagia yang terpancar di wajah Meila.
Mereka langsung menuju stand novel dan komik. Berbagai genre yang tersedia ada di sana. Membuat Meila memancarkan binar kebahagiaan yang nyata dari kedua matanya.
"Kak, aku mau yang itu," pintanya tiba-tiba sambil menggoyangkan genggaman tangan Dimas di tangannya sebelum kemudian menarik tangan Dimas untuk mengikutinya.
Itu adalah sebuah novel ber-genre romance. Letaknya di rak paling atas sehingga menyulitkan Meila untuk mengambilnya. Entah karena warna cover yang mencolok dengan warna pink pastel, atau karena penglihatannya yang tajam karena melihat adanya tulisan ber-genre romance disana.
"Yang ini?"
Meila mengangguk penuh antusias sambil menyahuti. "Iya."
Dimas mengambilkannya. Memberikannya pada Meila yang langsung diterima dengan senang hati.
"Ada lagi?"
"Mmm... aku bingung mau pilih yang mana lagi." Sahut Meila malu-malu.
Dimas terkekeh renyah. "Pilih semuanya aja yang kamu mau, Mei. Apapun yang kamu suka, ambil aja. Ya?"
"Jangan gitu, kak. Itu berlebihan." Meila menyanggah dengan cepat.
Dia merasa tidak enak hati karena lagi-lagi Dimas selalu memperlakukannya dengan istimewa.
"It's okay, Sweetie. Nevermind." Jawabnya tenang. Dan dengan tutur kata sangat lembut.
Sesaat, pipinya merona begitu mendengar Dimas memanggilnya dengan kata-kata baru yang mampu membuat perasaannya membuncah. Namun, sesaat kemudian tak urung dia mengangguk setuju yang diselipi dengan sebuah senyuman tipis nan manis.
".......terima kasih......." ucapnya tulus dan setengah berbisik.
Dimas menjawabnya dengan sebuah tindakan. Mengusap kepala Meila dengan sayang sambil membawanya merapat, setengah mendekapnya diikuti sebuah kecupan singkat yang mendarat ke pelipisnya.
Melihat ada beberapa pegawai di dekatnya, Dimas langsung memanggil salah satu dari mereka untuk meminta sesuatu darinya.
Pegawai pria itu langsung menghampiri Dimas, berhenti dengan jarak dua langkah dari posisi Dimas berdiri.
"Mas, tolong carikan dan kumpulkan beberapa novel dan komik serta buku-buku ber-genre romance-drama edisi terbaru. Yang edisi pre-order juga boleh. Saya akan membayar semuanya berapapun itu."
Dimas memberikan perintahnya, sementara pegawai itu langsung berbalik menuruti apa yang Dimas minta. Dan saat itu juga disaat yang bersamaan, Meila langsung membelalakkan matanya dan refleks menjauh dari dekapan pria itu.
Sambil menggoyangkan lengan Dimas, Meila berucap dengan nada tidak setuju.
"Kak Dimas, nggak perlu kayak gitu. Itu berlebihan. Batalkan itu, kak. Itu terlalu banyak." Alih-alih berucap dengan nada memohon agar Dimas mengikuti permintaannya untuk membatalkan perintahnya, pria itu justru terkekeh renyah sambil memegang kedua bahu mungil Meila dengan lembut.
"Sayangnya nggak bisa, Sayang. Kamu liat, aku udah memintanya, bukan? Dan itu nggak seberapa jika dibandingkan dengan kebahagiaan kamu. Biarkan aku memberikannya untuk kamu, ya? Dan.... jangan menolaknya lagi."
Jika Dimas sudah berkata seperti itu, Meila tidak bisa berbuat apa-apa ataupun menolaknya. Apalagi jika Dimas sudah memasang wajah paling manis disertai kemunculan lesung pipi yang bersembunyi, Meila seakan terhipnotis oleh senyuman manis nan mempesona itu.
"O-okay. T-tapi... lain kali jangan kayak gini, kak Dimas. Aku udah merasa lebih dari cukup meski hanya membelinya beberapa aja. Ditambah lagi dengan perlakuan istimewa kamu ke aku, bikin aku nggak enak hati." Ucapnya sambil memberengut manja di akhir kalimatnya. Pun dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Dan Dimas sendiri hanya menatap teduh Meila disertai senyuman. Pria itu tidak menyetujui maupun menolak permintaan Meila yang memasang wajah merengut manja padanya.
Setelahnya, Meila hanya menurut, menerima sikap dan perlakuan Dimas padanya yang membelikannya banyak buku-buku. Bahkan, pria itu sampai tidak memperbolehkan Meila untuk diam saja. Dimas memerintahkan agar Meila memilih buku yang disukainya diluar dari buku-buku yang dipesan Dimas melalui pegawai tadi.
●●●
Vika keluar dari mobil Rendy. Sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar basement, dia rupanya masih menaruh tanda tanya besar pada pria itu yang tiba-tiba saja mengajaknya kencan.
Diakuinya, Vika memang senang. Tetapi dia juga perlu bertanya pada Rendy kemana dia akan membawanya terlebih lagi pria itu yang membawanya ke sebuah mall yang sangat besar ini.
"Rendy, sebenernya kita mau apa ke sini? Kamu nggak membiarkan aku bertanya selama di perjalanan tadi,"
Rendy tersenyum, "aku udah bilang, bukan? Kita akan kencan. Shopping, nonton, makan, apapun itu. Kita habiskan waktu seharian ini."
"Iya aku tau, kita akan kencan. Tapi nggak perlu ke mall juga, kan? Kita bisa ke taman hiburan umum, atau ke bioskop aja langsung."
"Itu bisa nanti, Vika. Hari ini aku mau memanjakan kamu. Lagi pula... kamu juga butuh beberapa buku buat referensi bahan skripsi kamu, kan?"
Ah! Rendy benar. Bagaimana bisa aku lupa kalo aku butuh beberapa buku referensi buat bahan skripsiku?
Vika tersenyum, lebih tepatnya menyengir kuda. Dia memperlihatkan gigi-giginya yang rapi ke arah Rendy yang sedang menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekasihnya.
"Aku lupa itu, Ren. Terima kasih karena udah mengingatkan aku." Ucap Vika tulus sambil bergelayut manja pada lengan Rendy.
Rendy tersenyum seraya mengangkat tangannya untuk mengusak kepala Vika dengan gemas, mengacaknya sedikit hingga akhirnya menyisirkannya kembali menggunakan jemarinya.
"Jadi, ayo kita masuk!" Ajak Rendy.
"Ayo kita bersenang-senang." Vika menyerukan dengan penuh semangat.
Seperti sudah seharusnya, Rendy langsung menggenggam tangan Vika. Berjalan beriringan memasuki mall dengan saling melempar senyum.
Sementara di sebuah toko, Dimas masih sabar menemani Meila memilih buku yang disukainya. Sampai beberapa saat kemudian, seorang pegawai yang telah diperintahnya tadi datang menghampirinya dengan beberapa tumpukan buku-buku edisi terbaru beserta buku pre-order yang dimintanya.
Pegawai itu meletakkan buku-buku dalam keranjang sebelum kemudian memberitahu Dimas jika semua yang ia minta telah selesai disiapkan. Melihat ada beberapa keranjang yang dipenuhi dengan buku-buku tak terkecuali novel dan komik, Meila langsung membelalakkan matanya dengan ekspresi terkejut dan setengah ternganga.
Astaga! Ini... terlalu banyak!
"Kak, i-ini... ini terlalu banyak. Ini berlebihan. Hanya beberapa aja itu udah lebih dari cukup." Meila menyerukan kalimat protesnya sambil menggoyangkan lengan Dimas agar pria itu menoleh padanya.
Dimas tersenyum lembut, tangannya terangkat meraih jemari mungil Meila yang diletakkan di lengannya.
"Nggak apa-apa. Aku senang membelikan semua itu untuk kamu. Kamu bisa membaca maraton dengan buku-buku sebanyak ini."
Dengan memasang wajah tanpa bersalah, Dimas justru mengatakan hal yang kedengarannya sangat sepele. Tapi tidak untuk Meila, gadis itu tampak tidak enak hati menerima semuanya hanya karena Dimas memahami dirinya yang sangat suka membaca.
"T-tapi....."
"Ssshh..." Dimas menyela. "Kamu udah janji tadi. Aku udah memilihkan semua ini buat kamu. Dan kamu, harus menerimanya. Nggak ada penolakan, okay?"
Meila menghela napas berat. Dia sangat memahami Dimas, apapun yang pria itu sudah lakukan, tidak akan mungkin untuk ditarik kembali. Terlebih lagi jika itu menyangkut dirinya.
"Bebankan semua biayanya ke kartu ini. Dan, tolong rapikan semua buku-bukunya dalam bentuk paket yang cantik."
Setelah memberikan perintah, hanya ada Dimas dan Meila yang masih berdiri di dekat rak buku. Meila yang masih menahan wajah tidak enak dan bersalah, mendongak, seolah sedang memberikan isyarat jika Dimas tidak perlu sampai segitunya untuk membelikannya buku-buku sebanyak itu.
Seolah menyadari, Dimas pun menunduk, tersenyum hangat sambil membawa tangannya ke bahu Meila, merangkulnya dan menariknya lembut semakin merapat.
"Jangan tatap aku kayak gitu, Sayang. Kamu nggak cocok memasang wajah kayak gitu." Ucapnya meledek sambil memberikan kecupan ke pelipis Meila.
Meila sendiri hanya menghembuskan napas pasrah sambil membawa tangannya ke atas perut Dimas yang rata dan berotot.
"Hmm," gumamnya pelan sambil mendenguskan senyuman. "Sekuat apapun aku menolaknya, kamu akan tetap melakukannya, bukan?" Sambungnya lagi dengan wajah menengadah.
"Kamu tau itu," sahut Dimas kemudian hingga akhirnya mereka tertawa bersama.
"Kita ke kasir?" Tanya Dimas bernada ajakan. Meila mengangguk, mengikuti Dimas yang langsung mengajaknya menuju meja kasir.
Namun, saat mereka akan melewati satu lorong rak buku, secara tiba-tiba dan tanpa sengaja Meila melihat Rendy dan Vika yang sedang memilih buku di toko yang sama sambil berangkulan mesra dan penuh canda tawa seperti pasangan yang sedang kasmaran. Berbeda jauh saat mereka di kampus yang sama-sama saling menjauhi diri.
Meila sempat terkejut dan tidak percaya. Dia terperangah, pun dengan langkahnya yang terhenti sehingga membuat Dimas menoleh dan ikut menghentikan kakinya. Dia menautkan kedua alisnya bingung, lalu mendekati Meila dan langsung bertanya.
"Ada apa, Mei?"
Meila menengadah seraya berucap dengan ragu. "Kak, mereka... bukannya kak Rendy sama kak Vika, ya?"
●●●
Hari ini adalah hari libur. Hari lengang juga bagi James untuk bersenang-senang dan bersantai di area balkon apartemennya. Ditemani dengan secangkir kopi yang masih mengepulkan uap panas ke udara. Ditambah dengan pancaran sinar mentari yang langsung jatuh mengenai tubuhnya yang hanya berbalut jubah mandi saja.
James tidak sendiri, ada Satya juga di sana. Sebagai asisten pribadi, dia sudah sangat terbiasa untuk menyiapkan kegiatan atasannya di hari-hari kerja atau di hari libur seperti saat ini.
Sementara James menikmati harinya, Satya tampak sedang memilah beberapa poin berkas-berkas pekerjaan yang akan James lakukan esok hari. Berikut dengan jadwal meeting yang akan James hadiri nanti.
"Tuan, diantara berkas ini, ada beberapa berkas yang isinya mengenai pengajuan kontrak untuk nona Vika. Apa... saya perlu memberikan ini pada nona, atau...." Satya berkata tiba-tiba.
"Tidak." James menyela dengan cepat, diletakkannya cangkir kopi itu ke atas meja. "Biarkan Vika mengistirahatkan diri dulu dari pekerjaannya. Lagipula... aku sudah memberikan cuti untuknya.
Biarkan dia mengambil cuti selama yang dia mau. Aku tidak mau dia terbebani karena pekerjaannya itu."
"Baik, tuan." Tanpa membantah, Satya langsung patuh dan mengerti maksud dari yang tuannya katakan.
"Dan... ya, jika tugasmu sudah selesai, kau boleh menikmati hari liburmu. Kau ingin beristirahat juga, bukan?"
Mendengar James mengatakan jika dirinya boleh menikmati hari liburnya, Satya sedikit tertegun beberapa detik karena tidak menyangka James akan mengatakan hal itu di waktu yang lebih cepat. Bukan! Bukan dia tidak pernah mendapatkan hari libur, tapi biasanya, dia akan memberikan waktu luang di hari libur jika waktu sudah siang menjelang sore.
Bahkan sekarang, waktu belum menunjukkan tengah hari, tapi James sudah memberikannya waktu istirahat?
Melihat tidak ada jawaban dari Satya, membuat James tersenyum ironi disertai mata yang mengekor ke arah Satya. Di sana James dapat melihat jelas, jika asisten pribadinya itu, sedang tertegun tidak percaya begitu mendengar pernyataannya.
"Kenapa? Kau tidak mau istirahat? Aku sedang berbaik hati hari ini. Jadi, gunakan waktu liburmu sebaik mungkin, Satya. Aku tau kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu dengan baik, jadi, kau boleh kembali ke rumahmu dan menikmati waktu luangmu."
Sekali lagi, Satya hanya terdiam, dan itu justru membuat James terkekeh ironi dengan sikapnya.
"Tunggu apa lagi? Ayo, gunakan waktu liburmu. Kau bebas hari ini."
Mendengar tuannya bersuara lagi, Satya nyaris terperanjat karena terkejut sekaligus takjub karena melihat James tersenyum tulus seperti. Sangat jarang bahkan sulit untuk mendapatkan senyuman James. Dan saat ini, dia sedang tertawa padanya dengan wajah tanpa beban. Seolah topeng mengintimidasi yang selama ini dipasangnya dilepaskan begitu saja.
Satya segera beranjak, menegakkan tubuhnya dengan sopan seperti yang biasa dia lakukan pada tuannya.
"B-baik, tuan. Saya... saya permisi keluar. Jika anda membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungi saya."
Dengan sikap canggung, Satya berusaha bersikap hormat pada James sebelum kemudian dia membalikkan tubuhnya untuk mengundurkan diri dari apartemen James. Meninggalkan James seorang diri dengan wajah cerah luar biasa layaknya cuaca hari ini.
●●●
"Jadi, kalian udah baikan? Sejak kapan?" Tanya Meila seketika.
Setelah insiden pertemuan tidak sengaja, mereka akhirnya memilih bersantai di sebuah food-court tanpa Dimas. Ya! Setelah pria itu membayar semua buku-buku dan semuanya dipaketkan dalam box cantik seperti permintaannya. Dimas langsung membawa box-box itu ke dalam mobilnya lebih dulu dibantu oleh seorang pegawai yang membantunya.
Sementara, Meila, Rendy dan Vika sedang memulai perbincangan dengan menanyai perihal hubungan pasangan itu yang tampaknya sudah baik-baik saja tanpa diketahuinya.
"Sejak kemarin. Aku sebenernya mau kasih tau kamu, Mei. Tapi, kakak kamu ini nih yang masih mau bermain-main dulu katanya."
Vika lah yang menjawab. Tidak lupa juga dia berucap dengan nada menyindir ke arah Rendy.
Meila tersenyum, "aku sih malahan senang banget kalo kalian udah baik-baik aja. Justru aku yang akan merasa bersalah kalo nggak membantu memperbaiki hubungan kalian." Sahutnya tulus.
"Tuhkan, adik aku ini emang baik hati. Nggak ada yang bisa nyamain sifatnya di dunia ini." Rendy menyambung dengan nada percaya diri dan memuji yang ditujukan untuk Meila, adiknya.
Namun, bukannya mendapat respon baik, dia justru mendapatkan tatapan membunuh dari Meila karena tidak memberi tahunya. Padahal, dia hampir merasa bersalah karena sudah berjanji untuk tidak memberi tahunya mengenai alasan rahasia Vika yang selama ini belum terjelaskan.
"Kamu juga, kak! Gimana kamu bisa tau semuanya? Jangan bilang kamu memaksa kak Vika buat cerita, ya? Iya?" Matanya menyipit penuh selidik.
Mendengar tuduhan yang dilontarkan Meila, Rendy malah tertawa. Sedangkan Vika, menggunakan sikunya untuk menyikut lengan Rendy karena sikapnya itu.
"Nggak, Mei. Dia nggak maksa aku." Vika menjawab dengan cepat.
Lalu, menarik napas dan menghembuskannya perlahan. "Kamu ingat saat kita di perpustakaan dan aku menceritakan semuanya sama kamu? Ternyata Rendy mendengarnya. Dia mendengar semuanya tanpa sisa." Sambungnya disertai nada ejekan dan sudut mata yang mengekor yang ditujukan pada Rendy.
"Tepatnya... nggak sengaja mendengarnya." Rendy menyangkalnya.
"Saat itu... aku lagi mencari kamu karena butuh beberapa arsip yang harus aku pelajari. Aku nyari ke kelas tapi kamunya nggak ada, dan ada anggota lain yang bilang kalo kamu ke perpustakaan. Aku menyusul dan tadinya berniat buat gangguin kamu. Tapi, malah mendengar semuanya di sana." Sahutnya menjelaskan.
Meila ber-oh ria seraya mengangguk paham. "Yang terpenting sekarang, semuanya udah jelas, kan? Nggak ada kesalahpahaman lagi. Aku senang ngeliatnya. Selamat ya, kalian." Meila berucap ceria disertai senyuman lebar.
"Thank you, Mei." Ucap Vika.
"Terima kasih, adikku sayang." Ucap Rendy.
Kalimat itu keluar bersamaan, saat Dimas datang menghampiri mereka.
"Lagi bicarain apa, sih? Seru banget." Ucap Dimas seraya mendudukkan bokongnya di samping Meila.
"Ini, kak. Ternyata mereka udah baikan dua hari lalu." Meila menyahuti.
"Oh, ya? Bagus dong. Kan kita jadi bisa kencan bareng." Dimas menyahuti dengan santai. Seolah dia memang sudah mengetahuinya.
Tanggapan Dimas yang terdengar santai itu membuat Meila sedikit curiga. Dengan cepat dia menoleh, menyipitkan matanya dengan penuh selidik.
"Jangan bilang kalo kak Dimas udah tahu juga?"
Diam. Dimas hanya diam sambil melirikkan matanya pada Rendy. Meila mengikuti arah lirikan mata itu. Kedua pria itu tampak saling melempar pandangan yang dalam sekejap dapat dimengerti Meila.
"Jadi benar, kak Dimas udah tau? Oh My... jadi aku aja yang belum tau?" Gumamnya sendiri.
Mereka semua tertawa melihat tingkah Meila yang tampak polos. Lalu, sambil membawa lengannya merangkul Meila dan menarikmya merapat, Dimas memberikan kecupan ke puncak kepalanya dan memeluknya gemas.
"Nggak ada bedanya kamu tau lebih dulu atau nggak, Sayang. Yang terpenting adalah, kita nikmati kebersamaan ini. Kita gunakan hari libur yang singkat ini dengan bersenang-senang. Hm?"
Mereka akhirnya tertawa bersama. Menikmati kebersamaan kencan mereka yang tidak direncanakan sebelumnya. Sekaligus merayakan kembalinya hubungan Rendy dan Vika bersama dengan acara yang mereka susun tanpa rencana.