
"Gimana? Segar, kan, udaranya?"
Sambil menghirup udara pagi yang masih sejuk, mereka berjalan di sepanjang jalan setapak yang dikelilingi dengan bunga-bunga di sisi kanan dan kiri. Mereka sangat menikmati jalan santai mereka sejenak yang dipenuhi oleh orang-orang yang berlalu lalang.
"Segar banget, kak. Rasanya udah lama banget aku nggak menghirup udara segar kayak gini. Hehe." Sahut Meila yang diakhiri cengiran khasnya. "Terima kasih." Imbuhnya kemudian dengan kalimat tulus tetapi juga imut.
"Sama-sama." Ucap Dimas sambil memainkan rambut Meila yang terkuncir kuda.
Jika dilihat dengan seksama, Meila yang sangat manis begitu cocok saat mengenakan jacket parasut yang sesuai dengan ukuran tubuhnya. Jaket itu berwarna hitam, sedikit longgar, yang juga dipenuhi dengan aksen strip dua baris berwarna pink di sisi lengan kanan dan kirinya. Kerahnya pun beda dari jaket olahraga lainnya.
Kerah itu begitu tinggi hingga menutupi leher. Sehingga dikala Meila mengikat rambutnya seperti kuncir kuda saat ini, seluruh permukaan lehernya yang jenjang, meminimalisir untuk memancing dari tatapan pria hidung belang penuh minat di luar sana. Belum lagi dengan anak-anak rambutnya yang bertumbuh di sekitaran tengkuk lehernya. Membuat siapapun pria yang melihatnya akan menatap dengan penuh minat.
Sepertinya Dimas memang selalu memperhatikan segala kebutuhan sekecil apapun tentang Meila. Bahkan, hal yang tak pernah terfikirkan sekalipun sudah dia siapkan tanpa cela sedikitpun.
"Karena cuacanya sangat terik, kita hanya sampai jam 10 aja disini. Nggak bagus juga kalo sampai terlalu siang. Paparan sinar UV yang terkontak langsung bisa merusak kulit bahkan bisa memicu kanker."
"Siap pak dokter." Sahut Meila dengan menyelipkan candaan.
Suasana hatinya jauh lebih membaik dibandingkan semalam. Jika dengan membiarkan Meila ke taman saja sudah membuat mood nya kembali ceria, Dimas tentunya akan melakukan apapun untuk membuat gadis itu melupakan perasaan buruknya.
●●●
"Pagi, ma.. Pa.."
"Pagi, sayang. Gimana tenggorokan kamu?" Riana membalas sapaan Sisil yang sedang menyiapkan roti lapis untuk suaminya.
Sisil yang baru turun dari kamarnya langsung pergi menuju meja makan. Dia langsung menyapa mama dan papanya yang sudah menunggunya untuk sarapan bersama. Adrian yang sedang membaca koran langsung melipat dan meletakkannya ke sisi kiri meja dan membalas sapaannya.
"Pagi."
"Udah mendingan dan jauh lebih baik, kok. Cuma masih sedikit gatal aja sih. Selebihnya nggak ada rasa sakit lagi." Sisil menjawab dengan tangan sedang mengolesi selai ke atas roti.
"Kalau masih sakit, kita periksa aja ke dokter. Jangan ditunda-tunda. Karena akan berbahaya jika dibiarkan." Kali ini Adrian yang berpendapat.
"Iya, nak. Benar apa yang papa kamu bilang. Oh iya, mama lihat ada botol sirup obat batuk di meja kamu. Kapan kamu membelinya?"
Mendengar pernyataan Riana secara gamblang menjurus kepada memancing rasa ingin tahu itu, seketika membuat Sisil tersedak saat gigitan pertama roti lapis menuju tenggorokannya.
"Pelan-pelan, Sisil." Seru Adrian memperingatkan. "Ini hari libur. Kamu nggak perlu terburu-buru untuk ke kampus."
Dengan tergeragap, Sisil menjawab sekenanya.
"Oh. Itu. Seorang penjual obat memberikan itu semalam." Ucapnya enteng.
"Penjual obat? Dimana?" Riana berseru tidak percaya berbalut penasaran.
"Semalam pas aku ke toilet, kebetulan ada penjual obat denger aku lagi batuk-batuk. Yaudah, tiba-tiba dia promosiin obat itu biar aku membelinya. Dan... karena aku juga kasian, aku beli aja. Dan ternyata manjur."
"Kok bisa ada penjual obat di pesta itu?"
Sisil hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu sebagai jawaban.
"Ya... tapi bagus, sih. Itu namanya masih ada orang baik di sekitar kita."
Sisil tidak menjawab dan hanya memberikan anggukan kepalanya dengan acuh. Bukan acuh karena ucapan Riana. Melainkan acuh karena siapa yang dibicarakannya itu. Tidak lain dan tidak bukan adalah James. Dan itu hanya dirinyalah yang tau.
"Itu benar sekali." Kali ini Adrian menimpali. "Sepertinya kamu harus berterima kasih dengan benar jika bertemu orang itu lagi, Sil. Papa nggak mau sikap kamu seperti pertemuanmu dengan James beberapa waktu lalu."
Kali ini Sisil terbatuk-batuk dengan keras. Tidak menyangka jika Adrian akan mengungkit pertemuannya dengan James di kantor waktu itu. Sementara Adrian, tampak menahan senyum melihat putrinya salah tingkah.
"Jadi, kamu udah bertemu James sebelumnya? Kapan?" Tanya Riana penasaran.
Sisil mengambil jus jeruk miliknya. Diminumnya dengan sekali teguk sebelum akhirnya menjawab.
"Itu cuma pertemuan nggak disengaja, ma. Waktu mama suruh aku anterin makan siang buat papa itu." Lalu Sisil berdecak sebal ketika mengingat pertemuan itu. "Lagian kenapa sih bisa ada pria sombong kayak gitu? Maklum aja kalo aku kesal." Ucapnya bersungut-sungut.
"Nggak akan!" Bantah Sisil dengan pasti. "Aku nggak perlu pria sombong kayak dia."
"Jaga sikap kamu, Sisil. Kamu boleh berucap kayak gitu di depan mama dan papa. Tapi jangan sesekali di depannya. Apalagi kalau kamu berbuat hal-hal aneh lagi. Kamu mengerti kan, maksud papa?"
Adrian berujar mengingatkan akan sifat Sisil di masa lalu. Dan itu berhasil membungkam Sisil yang langsung terdiam di detik itu juga.
Sisil akhirnya diam dan memilih tidak mau memperkeruh keadaan. Dengan helaan napas, dia pun menjawab Adrian dengan kalimat janji.
"Iya. Maaf. Aku akan mengontrol diriku sebisa mungkin."
Sementara Adrian dan Riana, hanya saling memandang satu sama lain dan sesekali melempar pandangannya pada Sisil yang langsung menyantap sarapannya kembali dengan sikap tenang.
●●●
Dimas meletakkan sendok dan garpu ke atas piring miliknya yang telah kosong. Disusul dengan Meila yang juga baru menyelesaikan sarapannya. Meila lalu meneguk jus jeruk dan menikmati rasa asam bercampur manis yang menari-nari di atas lidahnya.
Mereka telah kembali satu jam yang lalu. Begitu sampai, mereka langsung mandi dan berganti pakaian. Lalu Dimas menyiapkan sarapan berupa omelet sayur untuk mereka. Selain sangat cepat dan praktis, itu juga cukup menyehatkan.
"Udah kenyang?"
"Iya. Udah. Terima kasih." Jawab Meila dengan senyum manisnya.
"Sini, biar aku yang bersihkan." Lalu Dimas membawa piring kosong mereka ke wastafel dapur dan mencucinya.
Bukannya duduk dengan diam, Meila malah mengekori Dimas yang berjalan menuju dapur dengan lollipop di tangannya. Rupanya, setelah berganti pakaian, dia sudah mengantongi permen itu sebelum turun ke bawah untuk sarapan. Supaya bisa memakannya setelah sarapan seperti sekarang.
Sambil mulai membuka plastik pembungkus, Meila tampak berjalan santai.
"Kak Dimas, kenapa kamu tau kalo aku lagi mencari-cari kamu semalam?"
Dimas yang mulai mencuci piring-piring, menoleh dengan seulas senyum simpul.
"Aku selalu tau tiap kamu mencari aku. Terlepas aku ada di dekat kamu atau nggak."
"Kamu bisa telepati ya?" Meila bertanya dengan muka polos.
"Ya... bisa dibilang begitu." Jawab Dimas sekenanya. Dia tidak mungkin memberitahu Meila jika telah membawa bodyguard untuk mengawasinya selama pesta.
Dimas akhirnya selesai membenahi semua peralatan makan mereka dan meletakkan kembali ke tempat semula. Namun, ada satu yang menggelitiknya. Meila yang sejak tadi berusaha membuka plastik pembungkus permen belum juga berhasil membukanya. Dimas bisa melihat wajah kesal dari gadis itu yang tersamar bercampur gemas.
Akhirnya, Dimas mengelap tangannya dan berjalan mendekati Meila yang berdiri dekat meja marmer pembatas antara dapur dan ruang makan. Dia pun mengambil alih permen itu dan membukanya.
"Membuka pembungkus permen itu sama seperti sebuah perasaan. Harus bersabar dan bertahan meski terkadang sulit untuk dijalankan."
Dengan sekali putar dan sobek, pembungkus itu terbuka. Mulai terlihat jelas bentuk dan warna permen berwarna merah muda yang menggoda. Tercium aroma strawberry segar yang menguar saat pembungkus plastik itu terlepas sepenuhnya.
Dimas lalu mendekatkan permen itu ke mulut Meila untuk menyuapinya. Diikuti dengan wajahnya yang semakin mendekat yang bergerak untuk menggodanya. Terasa deru nafas yang beradu hanya dengan beberapa senti saja. Namun, hal itu gagal saat sebuah bel berbunyi tepat ketika wajah Meila sudah bersemu merah.
Dengan salah tingkah, Meila mendorong wajahnya mundur sambil berucap tergeragap.
"Bi-biar... aku aja yang buka pintunya." Lalu langsung merebut lollipop itu dari tangan Dimas dan berlari ke arah pintu masuk. Meninggalkan Dimas yang masih terkikik geli tanpa suara.
Mulai menghisap lollipopnya, Meila menyeret kakinya sampai pintu utama sambil menetralkan nafasnya yang sempat menderu. Lalu, disaat perasaannya telah normal kembali, Meila memutar gagang pintu dan membukanya.
Betapa kagetnya Meila saat apa yang dilihatnya adalah seseorang yang tidak pernah terfikirkan sebelumnya akan bertamu. Dengan mata membulat dan mulut yang masih ternganga dengan lollipop yang masih berada di dalamnya.
"Siapa yang datang, sayang?"
Mendengar suara Dimas yang berseru dari kejauhan, membuat Meila refleks mengeluarkan lollipop dari mulutnya.
"I-itu..."