
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Perbincangan ringan yang tercipta di ruang tamu itu terasa hangat dan nyaman. Dan itu artinya, sudah waktunya James pamit pulang.
"Om, sepertinya ini sudah hampir larut. Aku sudah terlalu lama disini sampai lupa waktu." James berkelakar ringan.
Adrian menanggapi dengan tertawa. "Ah, bukan masalah, James. Om yang seperti terlalu lama menahanmu untuk menemani om ngobrol."
"Kalau gitu, om, tante, aku pamit undur diri dulu. Terima kasih banyak atas jamuan makan malam dan sambutan hangat kalian."
"Jangan merasa sungkan begitu, James. Tante sangat senang kamu mau datang berkunjung kemari." Riana menjawab dengan sikap khas seorang ibu. "Dan terima kasih juga sudah menjaga Sisil." Lalu merangkulkan tangannya ke bahu Sisil dengan hangat. Tepat saat Sisil berada di samping Riana yang tampak diam.
"Sama-sama, tante. Saya senang bisa membantu om dan tante. Kalau gitu, saya pamit dulu."
"Ayo, kami antar sampai halaman." Adrian tampak berjalan memimpin dengan James yang berjalan berdampingan. Sementara Riana dan Sisil terlihat mengikuti dari belakang dengan langkah ringan dan santai.
"Oh, iya. Besok kamu bisa mengantar Sisil ke kampus? Ini bukan karena om sibuk atau ada meeting, tapi ini karena permintaan om aja."
Kedua mata Sisil membelalak mendengar permintaan Adrian yang tiba-tiba. Dia sempat menyanggah ucapan Adrian sebelum kemudian berhenti setelah diberi peringatan kecil oleh Riana.
"Papa?!"
"Loh, kenapa? James tampaknya nggak keberatan, kok. Iya, kan, James?" Adrian sengaja meledek putrinya sambil melirik pada James yang terlihat santai menanggapinya.
"Dengan senang hati, om. Aku akan datang besok untuk mengantar Sisil seperti biasa." Sahut James penuh janji. Dan itu malah semakin membuat Sisil membulatkan bola matanya.
Dasar laki-laki! Baru dibaikin sedikit, malah semakin menjadi!
"Aku pamit dulu. Selamat malam, semuanya."
Setelahnya James langsung berbalik menuju mobilnya. Mengendarai mobil itu menuju jalanan komplek yang hanya menyisakan lampu kuning yang berpendar dan mengecil dikejauhan hingga akhirnya menghilang.
"Ayo, kita masuk. Udaranya dingin."
Adrian masuk lebih dulu setelah mengucapkan kalimat perintah. Lalu setelahnya Riana dan Sisil mengikuti sambil menutup pintu utama lebih dulu dan menguncinya.
"Sisil, sepertinya James sangat baik sama kamu,"
"Mama, itu nggak seperti apa yang mama liat. Dia itu suka tebar pesona dan mencuri-curi kesempatan."
Riana tampak mengerutkan dahinya karena tertarik dengan kalimat yang Sisil ucapkan. Dia langsung bergegas mengikuti langkah Sisil yang dua langkah lebih cepat dengan langkahnya.
"Eh, eeehh... Kamu kok ngomongnya gitu? Jangan terlalu benci dengannya, Sisil. Karena pembatas antara benci dan cinta itu sangat tipis."
"Nggak akan, ma... Aku nggak mungkin suka sama dia." Jawab Sisil keras kepala.
Dan kalau itu benar terjadi, aku akan segera memutuskan perasaan itu. Karena.... itu nggak mungkin terjadi dengan kondisiku ini.
"Iya deh, iya... ya sudah, kamu istirahat, ya. Sudah malam. Good night, sayang.." Riana tampak mengalah dan menghentikan pembicaraan mereka. Dia memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraannya mengingat waktu yang hampir larut.
"Good night too, mom."
โโโ
Di waktu hampir tengah malam, Meila terbangun dan merasakan kram di sekitar perutnya sedikit lebih baik dan tidak terlalu sakit. Dia sempat terkejut ketika menyadari dirinya sudah berada di kamar. Karena seingatnya, dia sedang berbaring di sofa saat menahan sakit perutnya. Dan jika dia telah di kamar, itu tandanya sudah pasti Dimas yang telah menggendongnya kemari.
Kenapa dia tidak tau kapan Dimas pulang?
Meila lalu menoleh ke samping dan melihat Dimas yang sedang terlelap. Perasaannya berkecamuk seiring dengan rasa sungkan yang muncul kala dia berpikir untuk membangunkan Dimas dari tidurnya. Tangannya tergerak sendiri begitu akan menyentuh lengan Dimas dan menggoyangkannya. Tetapi alih-alih membangunkan, Meila malah menarik kembali tangannya dan mengurungkan niatnya.
Meila memilih bangkit dan menuruni tempat tidur dengan hati-hati. Sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan suara gemerisik yang nantinya akan membangunkan Dimas.
Meila akhirnya berhasil keluar kamar dan berjalan menuruni anak tangga menuju dapur. Dia lalu bergegas mengambil susu di dalam kulkas dan menyiapkan sebuah panci untuk memanaskan susu sebelum kemudian menyalakan kompor lebih dulu. Meila sengaja tidak menyalakan lampu untuk meminimalisir cahaya.
Wajahnya berubah lesu dan tidak bersemangat. Meila menuangkan susu itu ke atas panci di atas kompor dan memanaskannya beberapa menit hingga mendidih dengan rata. Dan beberapa menit kemudian susu itu telah siap untuk disajikan ke dalam gelas jika saja suara berat Dimas dari arah belakang tidak mengagetkannya tiba-tiba.
"Kamu sedang apa malam-malam begini?"
"Akh!"
Prang!!!
"Mei..?!" Sontak Dimas langsung menghampiri Meila untuk menariknya menjauh agar tidak mengenai pecahan gelas tersebut. Lalu menggiringnya ke wastafel untuk membasahi tangannya yang tersiram susu panas ke air yang mengalir.
Sambil merasakan tangannya yang panas sekaligus perih, Meila meringis kesakitan dengan mata berkaca-kaca. Sementara Dimas, langsung mengambil kotak obat yang ada di samping lemari dapur. Mengambil salep luka bakar berwarna bening dingin dan dioleskan langsung ke tangan Meila.
"Kamu ngapain di dapur malam-malam? Kenapa lampunya nggak dinyalahin juga?" Dimas lalu menyalakan lampu dapur hingga akhirnya terang dan terlihat jelas kondisi sekelilingnya. Lalu kembali mengobati tangan Meila yang mulai memerah sambil meniupinya. "Awas, jangan bergerak kesitu. Kacanya akan melukai kamu."
Baru saja Meila bergerak sedikit, Dimas sudah mencegahnya lebih dulu. Takut pecahan kaca itu terinjak oleh Meila.
"Aku.... Aku cuma mau buat susu hangat aja." Meila berucap sambil menunduk dengan suara pelan dan terdengar lemas.
Disitulah Dimas baru melihat dengan jelas wajah Meila yang sedikit pucat dan berkaca-kaca seperti sedang menahan tangis.
"Kamu bisa bangunin aku, kan? Ayo, kamu duduk di sofa, sana. Aku yang akan buatkan untuk kamu." Sambil memberikan perintahnya, Dimas langsung mengambil alih dapur dengan membersihkan pecahan kaca lebih dulu baru setelahnya membuatkan susu untuk Meila.
Sedangkan Meila yang diperintahkan oleh Dimas untuk menjauh dan duduk di sofa, malah berdiri terpaku di belakang Dimas dekat dengan meja marmer dapur. Memperhatikan Dimas dari belakang dengan muka memelas sambil menyimpan rasa bersalahnya sejak tadi.
Air matanya seketika mengalir ke pipinya, entah karena rasa bersalah, atau juga karena rasa perih di tangannya. Yang pasti, saat ini dia sangat ingin menangis dan tidak bisa menahannya.
"Kakak.... kamu masih marah?" Suaranya mulai bergetar. "Aku... mau minta maaf,"
Dimas terdiam seketika tanpa menoleh. Bahkan tak sedetik pun tangannya berhenti dan tetap berkutat di atas kompor yang panas.
"Ak-aku, juga nggak tau kalau ada kak Dion disana. Sung-guh..... Aku cuma meminta Airin untuk mencari sebuah taksi tapi tiba-tiba malah Airin datang bersama kak Dion." Isakan-isakan kecil yang tidak tertahan akhirnya pecah juga. "Itu karena,.. aku minta izin pulang lebih cepat karena... Karena, ak-aku merasa demam. Selebihnya aku benar-benar nggak tau. Dia menawarkan untuk mengantar aku pulang. Aku sempat menolaknya tap-tapi... kak Dion tetap memaksa." Suaranya tersekat. Dan itu membuat Dimas merasa sesak mendengarnya.
Meila tidak memberi tahu Dimas tentang masa periodenya. Tetapi dia juga tidak berbohong soal dirinya yang demam.
Dimas memejamkan matanya saat mendengarkan penjelasan Meila yang dia tau, gadis itu tidak akan berbohong padanya.
"To-tolong jangan diamkan aku kayak gini." Isakannya mulai terdengar keras hingga Dimas tidak mampu lagi mendengarnya. "Kak Dimas boleh marahin aku. Pukul aku juga juga nggak apa-apa. Tapi jangan diam begitu.... Aku...jadi takut,"
Benarkah? Meila takut padanya yang marah?
Karena tidak mampu mendengar suara Meila yang menyedihkan, Dimas pun berbalik dan menarik Meila ke dalam pelukannya. Memeluknya erat sambil menenangkannya. Mengusapkan tangannya ke punggung dengan gerakan lembut seirama.
"Mana mungkin aku memukul kamu? Aku akan menyesal seumur hidupku jika melakukan itu." Dimas berucap di atas rambut Meila dekat dengan pelipisnya. Mengecupinya dengan lembut.
Tangisan Meila semakin menjadi seiring dengan tangannya yang mengerat memeluk Dimas.
"A-aku minta maaf karena menerima tawaran kak Dion. Aku benar-benar ng-nggak bermaksud bikin kamu marah," kalimatnya tenggelam di balik dada Dimas yang melingkupinya.
"Ssshh... iya, nggak apa-apa. Aku cuma takut kamu kenapa-napa disaat aku nggak ada bersama kamu." Dimas menyahut sambil mengusap rambut kepala Meila yang harum.
Tangisan dan isakannya masih berlanjut bersamaan dengan kalimat penghiburan dari Dimas yang dibisikkannya. Dimas sedikit menjauhkan tubuh Meila darinya tapi tetap dalam rengkuhannya. Menatapi wajah gadis itu yang memerah berurai air mata sambil menyeka air matanya dengan lembut.
Dimas menangkup wajah Meila yang basah menggunakan tangannya yang hangat.
"Aku minta maaf karena udah marah dan bikin kamu takut." Ditatapnya mata Meila dalam-dalam yang basah dan sayu. "Berapa kali aku bilang, jangan sungkan kabari aku kalau kamu butuh sesuatu. Aku pasti akan menyingkirkan hal mendesak apapun jika itu menyangkut kamu... kamu tau itu, kan?"
Sambil masih terisak, Meila mengangguk tanda mengerti. "Aku minta maaf,..."
Dimas akhirnya tersenyum sangat lembut. Sambil menunduk pada Meila yang mendongak padanya. Dan Meila akhirnya bisa melihat senyuman Dimas lagi setelah tadi pria itu marah tanpa ekspresi. Rasanya sudah lama Meila tidak melihat senyum Dimas yang meneduhkan dan membuatnya lega.
"Aku juga minta maaf, ya..." sambil mengelus pipi Meila yang terasa kenyal karena air mata.
Dengan wajah yang menengadah Meila menatap Dimas dalam-dalam. Lalu memeluk Dimas dengan sikap manjanya yang khas sambil bersandar ke dadanya. Hal itu tentu membuat Dimas tersenyum lega dari perasaan gelisah yang mengisi hatinya. Kemudian menciumi kening dan juga pelipis Meila, hingga menghirup aroma rambutnya yang harum sambil meletakkan dagunya disana.
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Halo Guys!!! ๐งโโ๏ธ
Maaf terlalu lama baru update lagi. Alhamdulillah kondisi sudah membaik dan masih pemulihan. Disempatkan buat upload hehehe๐ฅ
Terima Kasih banget yang selalu meluangkan waktu membaca dan menunggu episode selanjutnya... ๐๐ป๐
SALAM SEHAT SELALU โค