A Fan With A Man

A Fan With A Man
Kekasih?



Suasana kamar itu seketika menjadi hening seiring dengan kalimat pengakuan mengejutkan yang dilontarkan Meila pada Dimas. Dimas sendiri juga tidak bisa menutupi keterkejutannya, pria itu masih terpaku dan berusaha mencerna perkataan Meila yang saat ini masih menengadah padanya sambil berkaca-kaca kembali.


"Kamu bilang apa barusan? Pria itu.... datengin kamu?" Otaknya agak sedikit lamban mencerna kata-kata Meila. Dimas harus mengulang perkataan Meila seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Meila mengangguk lemah, berusaha mengusir rasa gemetarnya dengan menggigit bibir bawahnya.


"Dia ngelakuin apa ke kamu? Apa dia menyentuh kamu? Atau.... dia mengancam kamu?" Dimas bertanya memastikan, berusaha menggali kejujuran dari gadis yang saat ini sedang menahan rasa gemetarnya.


Meila tidak menjawab satupun pertanyaan yang dilontarkan Dimas untuknya. Justru malah sebaliknya, gadis itu malah mengeluarkan air matanya kembali dengan kondisi yang begitu menyedihkan hingga Dimas pun dapat menangkap reaksi Meila tanpa harus menjawabnya. Sudah pasti pria itu, Beno, sudah menyentuhkan tangannya pada gadis mungil dihadapannya itu.


Bodoh! Sudah pasti pria gila itu akan melakukannya! Buat apa gue nanya hal itu lagi?


Meila terisak kembali begitu tatapan Dimas kembali melembut, menangkup wajahnya dengan perlahan sebelum kemudian menarik kembali Meila ke dalam dekapan hangatnya.


"Jadi bener, pria itu udah menyentuh kamu?" Dimas menebak prasangkanya dengan tepat diikuti dengan anggukan Meila dalam dekapannya.


"Aku takut untuk mengatakannya. Pertemuan itu udah berhasil membangkitkan trauma aku lagi, kak." Meila berucap sambil terisak, dadanya terasa sesak seperti ada yang mengikat saluran pernapasannya dengan kencang.


"Aku kan udah bilang sama kamu, kamu boleh mengadu apapun masalah kamu, Mei. Jadikan aku sandaran kamu. Jangan pendam itu sendirian, biarkan aku juga merasakannya." Tangan Dimas mengusap punggung Meila. Gadis itu terisak mendengar pengakuan Dimas, ditambah ekspresinya yang tidak marah atau kesal karena ia telah menyembunyikan masalahnya.


"Maaf, kak..." Ucap Meila kemudian disertai isakan menyesakkan yang tak terkendali.


Dimas mendesah pelan, dia menjauhkan Meila dari dekapannya, menatap lurus ke arah bola mata Meila untuk mencari sesuatu yang mungkin saja masih disembunyikan darinya. Namun hal itu tidak ia temukan, mata polos itu sedang sangat ketakutan, menyisakan kabut kegelisahan dari mata polosnya yang tak berdosa.


Tangannya menangkup sisi wajah Meila, menghapus air matanya, diikuti dengan tatapan penuh sayang yang tidak dibohongi.


"Nggak apa-apa. Lain kali nggak boleh kayak gini lagi. Apapun itu, ceritain semuanya, jangan ditunda-tunda apalagi sampe disembunyiin. Okay?!" Ucapan penuh pengertian Dimas itu malah membuat Meila merasa bersalah, bukannya merasa senang karena Dimas tidak marah padanya, malah ia kembali menumpahkan air matanya kembali yang tadi sudah hampir berhenti.


Aku nggak seharusnya berbohong, bukan? Pria dihadapan aku ini mencerminkan lebih dari kata pria baik. Tapi aku malah belum mempercayainya sepenuhnya.


Sambil menundukkan kepalanya, Meila tidak mampu menatap ke arah mata Dimas.


"Hei... kenapa lagi? Kenapa kamu nangis lagi?" Dimas mengangkat dagu Meila menggunakan jarinya agar kembali menatapnya.


Meila menggeleng pelan, "kamu terlalu baik, kak. Kamu bukannya marah sama aku karena aku nyembunyiin suatu hal dari kamu, tapi kamu malah memperlakukan aku kayak gini.." ucapnya sambil terisak, "aku... aku merasa sangat bersalah sama kamu." Meila mengusap pipinya dengan gerakan asal hingga membuat Dimas terkekeh karena tingkahnya.


Dimas menangkup wajah Meila dengan ekspresi gemas, "kenapa aku harus marah? Aku mengerti posisi kamu, aku mengerti kegelisahan kamu menghadapi semuanya. Aku berusaha memposisikan diri aku sebisa mungkin agar aku juga ikut merasakan ketakutan kamu." Dimas menjelaskan dengan sabar, membuat Meila harus kembali menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan isakan yang tak terkendali.


"Jangan gigit bibir kamu kayak gitu, itu akan menimbulkan luka." Dimas mengusap bibir Meila dengan ibu jarinya, seolah sedang melepaskan bibir gadis itu untuk berhenti menggigitinya.


"Karena... luka dibibir itu akan terasa menyakitkan," tanpa aba-aba, Dimas menjatuhkan bibirnya ke bibir Meila yang sedikit terbuka untuk memberikan kecupan hangat serta menyapu bibir itu dengan sapuan lembut oleh bibirnya.


Meski ciuman itu terbilang singkat, namun menyisakan kehangatan sekaligus kelembutan di permukaan bibir Meila. Pipinya merona seketika, begitu dua pasang mata yang saling bertemu dan beradu pandang, meski dengan tatapan mata sayu dari sang gadis.


"Pria itu... nggak menyentuh bibir ini menggunakan bibirnya, kan?"


Dimas berucap sambil memainkan ibu jarinya untuk mengusap bibir Meila disana. Mengusapnya lembut, dengan suara parau menjurus pada nada merayu yang menghanyutkan.


Entah Meila yang terlalu polos, atau memang pertanyaan Dimas yang terlalu mengintimidasi namun berbalut rayuan, gadis itu menggelengkan kepalanya perlahan, seolah sedang meyakinkan pada pria dihadapannya kalau itu adalah jawaban pasti yang ia utarakan melalui ekspresi.


Dimas tersenyum gemas, hampir menertawai tingkah Meila yang sedikit malu-malu namun berusaha meyakinkan dirinya agar mempercayainya.


"Tentu! Karena bibir ini...." Dimas mengecup kembali bibir manis itu, "...cuma aku aja yang bisa menyentuhnya," kemudian pria itu mendekatkan dahi mereka agar saling menempel, "dengan atau tanpa izin dari kamu." Dimas berbisik di wajah gadis itu, lalu menggesekkan hidungnya ke hidung Meila, sekaligus menghembuskan napas hangatnya ke permukaan wajah Meila dengan mata keduanya yang saling terpejam.


●●●


"Selamat pagi..."


Ucap Dimas sambil membawa satu nampan kecil berisi sarapan sekaligus hot cokelat favoritnya ketika memasuki kamar Meila untuk memastikan apakah gadis itu sudah bangun atau masih memanjakan dirinya dengan bergelung manja dibalik selimutnya.


Rupanya gadis itu sudah bangun dan baru saja membuka matanya yang agak sedikit bengkak karena menangis semalam.


Meila tersenyum, gadis itu menolehkan kepala ketika Dimas yang terlihat sudah rapi dengan pakaian casual nya sedang menghampirinya sambil membawa nampan ditangannya lalu meletakkan nampan itu ke samping nakas tempat tidur.


"Selamat pagi.." balas Meila dengan senyuman manisnya begitu mendapati Dimas yang sedang beranjak duduk ditepi ranjangnya.


Meila merubah posisinya hingga bangun terduduk dengan dibantu Dimas yang menarik tangannya perlahan. Dimas mengamati wajah Meila sambil tersenyum, membaca ekspresi wajahnya dalam diam.


Berbeda dengan semalam, suasana hati Meila pagi ini begitu cerah dengan senyuman manis serta rona merah yang menyemburat ditulang pipinya, ketika menjawab ucapan selamat pagi dari pria dihadapannya dengan nada yang begitu ceria. Meski dengan mata yang sedikit bengkak, namun gadis itu tampak terlihat cantik ketika baru bangun tidur.


"Tidur kamu nyenyak?" Dimas mengelus pipi Meila, menyusuri kelembutan kulitnya. Meila mengangguk pelan, balas menatap Dimas yang sedang menatapnya.


Setelah mengalami mimpi buruknya semalam, Dimas sempat menemani Meila sampai gadis itu tertidur kembali dan tidak meninggalkannya sampai Meila benar-benar sudah tidur pulas dengan napas yang teratur.


Seketika Meila mengerutkan kening, menyusuri keseluruhan Dimas yang tampak sudah rapi seperti akan pergi ke suatu tempat, sedangkan kuliah sedang diliburkan untuk beberapa hari kedepan.


"Kamu mau kemana, kak? mau pergi?" Tanya Meila polos yang tidak sabar untuk menanyakan rasa ingin tahunya pada Dimas.


Dimas tersenyum, meraih kedua tangan Meila untuk meremasnya dengan lembut.


"Bukan aku, tapi kita." Jawab Dimas dengan nada misterius.


Meila menaikkan kedua alisnya, "ki-kita...?" Tanya Meila dengan membeo. "Kemana?" Sambarnya lagi untuk mencari tahu.


"Ya. Kita! Kita akan pergi ke sebuah pameran yang terdapat berbagai macam-macam Novel dan Komik didalamnya." Dimas berucap sambil berbisik, membuat Meila sedikit membelalakkan matanya karena terkejut sekaligus senang dengan ajakan Dimas.


"Serius?" Meila terkejut senang, "berarti aku boleh pilih-pilih juga?" Tanya Meila dengan nada antusias manja berbalut kesenangan seperti anak kecil yang akan pergi ke sebuah taman bermain.


Dimas terkekeh pelan, tangannya terangkat untuk mengusap rambut Meila dengan gemas, "Ya. Boleh. Apapun!" Jawab Dimas final memutuskan. Meila terlihat senang bukan kepalang, wajahnya menampakkan kebahagiaan yang nyata. Tanpa bisa diprediksi oleh Dimas, Meila menghambur begitu saja untuk memeluknya dengan erat, menumpahkan kebahagiaannya sambil mengucapkan rasa terima kasihnya berulang-ulang.


"Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih, kak!" Meila sampai mengucap berkali-kali. Pelukannya pada Dimas yang tiba-tiba hampir saja membuat Dimas kehilangan keseimbangannya kalau saja dia tidak menahan tubuhnya kuat-kuat agar tidak jatuh.


Dimas terkekeh geli, mengusapkan tangannya ke punggung Meila dengan lembut.


"Sama-sama, Sayang! Tapi... bisa kamu lepasin aku dulu? Kalo nggak... kita bisa jatuh, Mei."


Pernyataan Dimas itu sontak membuat Meila terpaku, lalu menjauhkan tubuhnya sedikit dengan perasaan malu luar biasa. Pipinya memerah seiring dirinya yang memundurkan posisi duduknya.


"M-maaf, kak. Aku terlalu bersemangat." Meila tergeragap mundur, dengan wajah menahan malu.


Dimas tergelak pelan, terkikik sendiri menertawai Meila.


"It's okay! Aku tau kamu terlalu bersemangat. Dan nggak sabar untuk ke tempat itu." Jemarinya bergerak untuk meraih dagu Meila. Kemudian mengecup pipinya singkat dengan sengaja.


Setelah mengecup pipi Meila, Dimas mengambil nampan berisi sarapan berikut hot coklat yang masih hangat itu, lalu memberikannya ke pangkuan Meila yang masih terpaku karena ciuman singkat Dimas di pipinya.


"Sekarang kamu sarapan, lalu bersiap-siap! Aku tunggu kamu dibawah. Okay?!"


Kemudian Dimas meninggalkan Meila seorang diri dan memberikan waktu untuk gadis itu sambil tersenyum geli akan pipi Meila yang kembali merona karena ulahnya.


Sepeninggal Dimas dari kamarnya, Meila menyentuh pipinya sendiri bekas ciuman Dimas tadi menggunakan tangannya, dan dengan wajah memerah malu tak terkendali.


●●●


Tempat pameran itu rupanya sudah dipadati oleh berbagai pengunjung dari berbagai kalangan hingga mengharuskan Dimas untuk menggandeng tangan Meila agar tidak terlepas ditengah kerumunan orang. Pameran itu diadakan disebuah ballroom besar hingga dapat menampung ribuan orang didalamnya. Bukan hanya pameran saja, bahkan bazaar buku-buku berjenis Novel dan Komik dengan berbagai genre pun dijajakan di ruangan itu sesuai stand-nya.


Meila sendiri tak henti-hentinya memberikan senyumannya ditiap mereka saling beradu pandang sambil melangkah memasuki ruangan pameran itu.


"Kamu seneng?" Dimas mendekatkan wajahnya untuk berbisik ke depan telinga Meila. Meila mengangguk dengan cepat dibarengi senyuman puas yang terpancar dari wajahnya.


"Kamu boleh memilih-milih apapun disini. Membelinya sesuka kamu." Ucap Dimas mengizinkan, Dimas bahkan harus sedikit mengangkat suaranya agar bisa didengar oleh Meila ditengah suasana bising kerumunan pengunjung.


Mata Meila mengerling senang, "Beneran, kak? Apapun?" Tanyanya lagi memastikan.


"Ya. Apapun! Sesuka kamu!" Jawab Dimas sambil meremas tangan Meila dengan remasan lembut.


Dimas belum pernah melihat Meila sebahagia ini. Dia memang sering melihat sifat ceria gadis itu, namun tingkah ekspresi yang saat ini sedang ia saksikan adalah hal yang sangat langka untuknya. Sungguh! Membahagiakan Meila sangat mudah, dengan hal sederhana seperti datang ke acara pameran buku-buku, Novel atau Komik dan sebagainya adalah hal yang paling mudah untuknya.


Dimas mengamati Meila dalam diam, tersenyum ke arahnya. Dimas mengawasi gadis itu yang sedang berbinar takjub antusias ingin segera memilih-milih buku bacaan ke tangannya. Namun, ditengah lamunan Dimas yang hampir membuatnya terhanyut, seorang pria berpakaian rapi dan berdasi datang menghampirinya dengan sikap membungkuk hormat ke arahnya.


"Selamat datang, Tuan! Senang bertemu Anda disini."


Suara bariton penuh hormat itu menghentikan lamunan Dimas hingga memaksanya menoleh. Dimas harus sedikit lebih cepat menggali ingatannya untuk mengingat sosok yang saat ini sedang memberi salam hormat selamat datang pada mereka. Jika biasanya terletak papan nama di bagian dada sebelah kanan pegawai, ini justru tidak terdapat papan nama disana. Namun, karena ingatan Dimas yang memang bagus, dengan cepat Dimas bisa menebak sosok lelaki ramah dan penuh hormat itu.


Julian adalah salah satu pegawai di perusahaan milik orang tua Dimas. Namun, keberadaan Julian di acara pameran besar ini tidak diketahui Dimas sebelumnya. Meila yang menjadi pendengar, hanya bisa mengernyitkan alisnya penuh rasa ingin tahu.


"Ya. Tuan. Pameran ini adalah salah satu acara dari perusahaan yang sedang diadakan di Indonesia. Tujuannya untuk menarik minat baca pengunjung agar lebih tertarik dalam membaca." Julian memberikan penjelasannya pada Dimas.


"Jangan panggil saya secara formal, Julian. Kita cuma beberapa bulan aja nggak ketemu, kenapa kamu bersikap kaku gitu didepan saya?" Dimas terkekeh dengan senyuman ironi. "Tenang aja, saya bukan papa yang harus bersikap formal dimanapun itu."


Julian menangguk paham, tersenyum sambil melonggarkan sedikit sikapnya pada Dimas. Beberapa detik kemudian, pandangan Julian terpaku pada sosok mungil yang berada disamping Dimas dengan tangan yang sedang digenggam mesra oleh tuannya itu.


"Tuan, ini....."


"Ah, Ya, Julian. Kenalin, ini Meila. Meila, ini Julian, di bekerja dengan papa dikantor, bisa dibilang dia yang mengurus dan mengatur semua keperluan di perusahaan." Belum sempat Julian menyelesaikan kalimatnya, Dimas sudah menyambarnya sekaligus memberikan penjelasan pada Meila tentang Julian.


Meila sendiri memberikan salam pada Julian dengan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dengan sikap hormat seperti yang ditunjukkan Julian kepada Dimas tadi. Dan Julian pun membalas sapaan Meila dengan senyuman dan sedikit membungkuk.


"Dia... kekasih Anda?" Tanya Julian dengan nada hati-hati namun meminta jawaban pasti. Bukan tanpa alasan Julian menebak jika Meila adalah kekasih Dimas, selama Julian bekerja dengan papanya, dia belum pernah melihat Dimas bersama dengan seorang wanita, apalagi datang bersama ke sebuah acara sambil menggandeng mesra teman wanitanya.


Dimas tersenyum, menolehkan wajahnya ke arah Meila yang saat ini sedang menengadah ke arahnya, seperti sedang menanti jawaban apa yang akan Dimas keluarkan. Namun, pria ini selalu mampu membuat kejutan yang tidak pernah dibayangkan olehnya.


"Akan!" Dimas memberi jeda, "Secepatnya!" Kemudian menyambung jawabannya lagi dengan mata menatap lurus ke arah bola mata Meila. Jawaban itu terdengar seperti sebuah harapan, dan akan ia wujudkan se segera mungkin, dan itu pasti.


Jawaban Dimas yang lantang dan terus terang itu berhasil membuat pipi Meila merona hingga merasakan panas ke seluruh wajahnya. Hal itu membuat Meila merasa malu luar biasa hingga harus menolehkan wajahnya ke segala arah sambil mengatur detak jantungnya yang berdegup kencang.


●●●


"Kak, aku mau yang itu!"


Pinta Meila tiba-tiba sambil menarik tangan Dimas yang sedang menggenggamnya erat, kemudian membawanya ke tempat stand bazaar yang ditujunya. Dimas mengerti kenapa Meila harus menariknya seperti itu, rupanya memang posisi buku yang diletakkan di rak bagian atas sehingga tidak memungkinkan Meila yang memiliki tubuh kecil mampu menggapainya.


"Yang mana?" Tanya Dimas memastikan sambil melihat ke arah jari telunjuk Meila, "yang ini?" Ucapnya lagi begitu buku yang dimaksud Meila sudah ia temukan. Meila mengangguk cepat dengan wajah berbinar.


Dimas langsung mengambilkan buku yang dimaksudkan, lalu memberikannya pada Meila, "pantes kamu narik-narik, ternyata nggak nyampe." Ucap Dimas meledek sambil terkekeh pada Meila, dan gadis itu langsung memperlihatkan giginya.


"Ada lagi?" Dimas bertanya dengan lembut ketika dia memperhatikan wajah Meila yang begitu sumringah seperti bayi yang baru saja mendapatkan mainan baru.


Pandangan Meila turun untuk melihat kantong berisi buku-buku yang hampir penuh karena dia terlalu kalap hingga tanpa sadar sudah membuat satu papper bag besar ditangannya hampir penuh.


Dimas memperhatikan perubahan ekspresi Meila sambil membuka-buka papper bag ditangannya, alisnya mengernyit dalam, lalu dia bertanya kembali untuk memastikan.


"Mei, kenapa? Ada lagi yang kamu pengen?" Tangannya meraih bahu Meila kemudian meremasnya lembut.


"Ah," Meila sedikit tersentak, "n-nggak usah, kak. Ini udah lebih dari cukup. Udah banyak banget." Gadis itu terlihat berpikir sejenak untuk memberi jeda, "malahan... kayaknya ini kebanyakan deh? Apa aku kurangin aja, ya?" Tanya Meila sambil menengadah ke arah Dimas.


Dimas mendengus pelan sekaligus terkekeh, "ngapain dibalikin lagi?"


"Mmm... Ini ternyata udah banyak banget. Aku nggak bisa terima ini. Ini terlalu banyak."


Dimas menaikkan sebelah alisnya, "emang harus kamu baca sekaligus? Nggak, kan?" Tanya Dimas sambil menilai ekspresi Meila, dan gadis itu pun menggelengkan kepalanya, "yaudah gak usah dibalikin, kan bacanya bisa bertahap." Sambung Dimas dengan nada pengertiannya.


Meila menimbang-nimbang ucapan Dimas, berpikir sebelum kemudian menatap Dimas dengan tatapan mata polosnya yang masih sedikit bengkak, sekaligus dengan pancaran binar dari bola mata jernihnya, "nggak apa-apa?"


"Ya nggak apa-apa, Sayang..." Tatapannya berubah lembut disertai usakan tangannya ke kepala Meila dengan gerakan kasih sayang.


Meila pun terlihat sangat senang dengan perlakuan Dimas padanya. Dan Dimas pun juga merasa bahagia bisa menghibur gadis mungil itu, rasanya sangat menyenangkan membahagiakan seseorang yang kita cintai. Dimas berjanji pada dirinya sendiri, dia akan berusaha membahagiakan Meila bagaimanapun caranya, apapun kondisinya, ditiap kesempatan, waktu dan tempat, serta apapun suasana hati gadis itu.


●●●


"Baik, pak! Satu jam lagi saya akan ke tempat bapak untuk menyerahkan tugas saya."


Dimas menutup sesi pembicaraan bersama dosennya melalui ponselnya. Sang Dosen baru saja menghubunginya untuk menyerahkan tugas yang diberikan pada Dimas hari ini juga. Dimas sendiri masih berpikir akan mengajak Meila ikut bersamanya atau meninggalkannya sendiri di rumah tanpa pengawasan darinya.


"Kakak, kenapa? Kok mukanya kayak bingung gitu? Ada apa?"


Sebuah suara dari arah belakang muncul dengan tiba-tiba, membuat Dimas dengan cepat menolehkan kepalanya. Meila baru saja keluar dari toilet, ketika Dimas menunggunya tadi di sekitar rest-room area, Dimas mendapatkan panggilan telepon yang sangat mendesak hingga mengharuskannya untuk menjauh sedikit agar lebih nyaman melakukan sesi pembicaraan.


"Aku harus segera memberikan tugas ke dosen setelah ini." Ucap Dimas dengan nada meragu.


"Lalu?" Sambar Meila menimpali.


"Aku nggak bisa ngebiarin kamu sendirian." Dimas tampak berpikir, "Oh, atau aku hubungi Rendy aja biar dia temenin kamu dulu?" Jawab Dimas tegas, memberikan penawarannya.


Meila menghembuskan napasnya sejenak, kemudian tersenyum setelah memberi jeda, "aku baik-baik aja kak. Kalo aku ikut kamu, malahan nanti konsentrasi kamu akan terpecah, kan?"


Dimas menunduk sambil mengawasi Meila yang menengadah ke arahnya.


"Tapi...."


Belum sempat Dimas melanjutkan ucapannya, Meila sudah menyambar dengan cepat dan meraih tangan Dimas seolah meyakinkannya untuk tidak mengkhawatirkan dirinya.


"Kak Dimas... aku baik-baik aja. Aku akan jaga diri, kok. Aku janji." Meila mengucap penuh janji disertai dengan senyuman, seolah sedang mengultimatum dirinya sendiri untuk lebih berhati-hati lagi.


Tangan Dimas berbalik menindih tangan Meila yang diletakkan di atas tangannya. Pria itu kemudian tersenyum dengan ekspresi tenang sebelum akhirnya berucap,


Tatapannya melembut, kemudian berucap dengan nada rendah, "Okay. Kamu janji, ya. Yaudah kalo gitu... aku anter kamu dulu, sekalian ambil tugas dirumah."


Kemudian Dimas menggandeng tangan Meila dan mengajaknya untuk pulang bersamanya. Dengan senyum sumringah yang terpancar dari wajah mungil gadis itu.


●●●


Ketika Dimas menuruni anak tangga setelah mengambil beberapa berkas tugasnya dikamar, tampak Meila sedang membuka papper bag besar miliknya yang tadi diisi dengan macam-macam banyak buku didalamnya sambil memasang wajah penuh senyuman.


Disaat Meila sedang asyik membuka-buka bukunya, tiba-tiba suara tegas namun lembut terdengar dari arah kejauhan.


"Mei, aku akan pergi sekarang. Kalo perlu apa-apa, di pantry ada banyak makanan dan minuman yang akan cocok dengan selera kamu."


Meila menoleh cepat dengan senyuman yang masih terpasang diwajahnya, "Ah, Iya, kak. Maaf aku gak langsung merespon kamu, aku lagi liat-liat buku ini." Ucapnya sambil menunjukkan beberapa tumpukan buku ditangannya.


Dimas tersenyum menghampiri, lalu berhenti dihadapan Meila.


"Kalo ada apa-apa, atau ada sesuatu yang mencurigakan, segera hubungi aku atau Rendy, ya?"


Meila tersenyum menimpali, kemudian tangannya bergerak membentuk sikap hormat yang ditujukan kepada Dimas hingga Dimas merasa gemas mengusak rambutnya.


"Siap, Bos!" Meila mengucap dengan suara lantang namun manja. Membuat Dimas terkekeh geli sampai menggelengkan kepalanya gemas.


Dimas menundukkan kepala, lalu mengamati Meila dalam diam dengan ujung bibirnya tertarik ke atas sebelum kemudian berucap, "kamu keliatan seneng banget, ya? Aku perhatiin... dari tadi senyum kamu gak berhenti sejak kita meninggalkan pameran itu."


Meila mendongakkan kepalanya, menatap Dimas yang terlihat menjulang tinggi darinya, kemudian gadis itu meminta agar Dimas untuk sedikit membungkukkan tubuhnya dengan memberi isyarat. Tanpa diduga, dengan gerakan cepat kakinya berjinjit agar sedikit lebih sejajar dengannya sekaligus mengangkat kedua tangannya lalu berpegangan pada bahu Dimas.


Gadis itu rupanya memberikan kecupan singkat ke pipi Dimas, hingga membuat pria itu sedikit terkejut sampai harus terpaku di tempat beberapa detik ketika merasakan bibir tipis dan lembut itu mendarat ke pipinya.


"Terima kasih untuk hari ini." Ucap Meila malu-malu dengan pipi merona merah sambil menahan hawa panas di wajahnya.


Kalau dipikir-pikir, ini adalah pertama kalinya Meila memberikan kecupan padanya. Hal itulah yang membuat Dimas sampai terpaku beberapa detik dengan perasaan seakan tidak percaya. Dimas kembali menatap Meila dengan wajah masih setengah terkejut, mengamati dalam diam seperti sedang menahan diri agar tidak kehilangan kendali.


Dimas memajukan tubuhnya, merapatkannya ke tubuh Meila lalu merengkuh pinggangnya dengan gerakan menggoda, "kamu tau, kalo aku lagi nggak terburu-buru, aku akan balas kamu dengan kecupan yang lebih mesra." Godanya lagi sambil berbisik merayu di depan wajah Meila yang langsung berubah merona layaknya buah apel matang yang siap untuk dimakan.


Dan benar saja, Meila tersipu malu tak terkendali.


"Kakak!" sergahnya dengan nada peringatan hingga memelototi Dimas.


Dimas hanya terkekeh sambil memundurkan tubuhnya sedikit untuk memberi ruang pada Meila. Pria itu memilih untuk berhenti menggoda Meila, karena baginya, masih banyak waktu nanti untuk ia habiskan bersamanya.


"Yaudah, aku pergi dulu. Kunci pintunya. Jangan langsung menerima tamu kalo kamu nggak kenal. Karena, setiap ada orang yang dateng ke rumah ini atau orang itu ingin bertemu aku, mereka akan melewati sistem keamanan di luar sana." Dimas memberikan penjelasannya sebelum berpamitan dengan Meila. Meila pun dengan cepat mengangguk paham akan instruksi yang Dimas berikan.


"Gadis pintar!" Tangannya kembali mengusap kepala Meila dengan gerakan sayang.


Setelah memberikan instruksi pada Meila dengan panjang lebar, Dimas membalikkan tubuhnya menuju pintu keluar. Pria itu berjanji dalam hatinya akan menyelesaikan tugasnya segera, agar dia bisa menemaninya lagi serta menghabiskan waktu bersama gadis mungilnya itu.