
"Bagaimana keadaanmu, Mei?"
Saat ini, semuanya sudah berkumpul di dalam ruang rawat inap dimana Meila berada. Beruntung ruangan itu sangat luas seperti kamar VIP yang dikhususkan untuk kalangan tertentu saja. Jadi, saat ada tamu yang berkunjung lebih dari tiga orang, tidak akan merasa pengap di dalamnya.
"Aku... merasa lebih baik, tante. Terima kasih." Meila menyahuti dengan bibirnya yang pucat meski masih terdengar lemah.
"Syukurlah. Tante udah mendengar semuanya dari Sisil tentang bagaimana rak itu bisa jatuh. Untung saja rak itu nggak menimpa kamu, nak."
Sesaat, Meila melirik ke arah Sisil yang memilih memisahkan diri dari mereka. Dia sedikit menjauh dan terdiam tanpa suara, hanya mendengarkan pembicaraan diantara mereka saja.
Meila menipiskan bibirnya, "Ini berkat Sisil juga, tante. Padahal, kemarin dia udah mengingatkan aku dan menyelamatkan aku. Tapi... karena nggak bisa menahan rasa sakit di perut aku, malah begini kejadiannya." Ulasnya yang dibalut cengiran.
Sakit... di perut?
Sontak, Sisil menoleh saat mendengar kata-kata itu. Sejenak, ada perasaan tidak nyaman di hatinya. Dia langsung mengingat tentang luka yang pastinya diakibatkan oleh Beno saat itu. Dan, perasaan aneh muncul kala pikirannya berkecamuk memutar ingatannya kembali tentang Beno yang berniat akan menghabisi Dimas namun malah Meila yang terkena tusukan itu hingga menyebabkannya harus mendapatkan operasi dan rawat inap selama satu minggu hingga dia harus vacum kuliah selama satu bulan lamanya.
"Lalu... apa kata dokter?"
Papa Sisil, yang sedari tadi hanya memperhatikan, akhirnya tidak tahan juga untuk tidak ikut andil dalam menanyakan kondisi Meila.
"Nggak ada yang perlu dikhawatirkan untuk saat ini, om. Semua hasil pemeriksaannya menyatakan baik. Nggak ada infeksi dalam ataupun komplikasi serius." Dimaslah yang menyahutinya. Pria itu tampak tenang dalam menjelaskan kondisi Meila.
"Syukurlah, nggak ada luka serius." Jawab papa Sisil lagi.
"Oh, ya, Mei. Sebenarnya... tante membuatkan cheese-cake buat kamu yang tante titipkan ke Sisil tadi. Tapi... sebelum kue itu sampai ke kamu, kejadiannya udah kayak gini. Tante janji, lain kali akan tante buatkan lagi untuk kamu, ya?" Lalu, ibu Sisil menoleh ke arah putrinya dan berkata,
"iya kan, Sisil?"
Sisil tergeragap mendadak, namun tak urung dia mengangguk dan menyahut dengan canggung. "I...i-iya,"
Meila tersenyum. "Terima kasih, tante. Nggak perlu repot-repot. Kalian dateng ke sini juga itu udah lebih dari cukup." Sahutnya merendah.
Tangan ibu Sisil perlahan terangkat, mengusap lengan Meila yang dibalut baju rumah sakit berwarna biru muda itu. "Nggak perlu sungkan, Mei. Tante senang kok bisa buatkan itu untuk kamu."
Tiba-tiba seorang perawat datang dengan membawa satu nampan lengkap makan malam untuk Meila. Perawat itu masuk ke dalam ruang rawat sambil meletakkan nampan itu ke atas meja nakas dan mengintruksikan untuk segera memakannya karena dokter akan segera datang untuk memeriksa kondisinya sebelum mengkonsumsi obat kembali.
Melihat kondisi Meila yang masih lemah dan mengharuskannya istirahat total, orang tua Sisil akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dan membiarkan Meila memakan makan malamnya dengan nyaman tanpa harus membagi fokusnya. Sebab, dilihat dari sisi manapun, kondisi gadis itu masih sangat lemah dengan mata sayu dan bibir yang masih pucat dan kering.
"Sepertinya... udah waktunya kami pamit dulu. Kamu istirarahat, ya? Dan cepat sembuh." Ucap ibu Sisil dengan penuh perhatian.
"Terima kasih... om, tante, Sisil, udah mau datang jenguk aku. Maaf... kalo udah ngerepotin kalian." Jawab Meila dengan suara pelan.
"Kami nggak merasa direpotkan, kok. Kami senang bisa menjenguk kamu. Cepat pulih, ya." Kali ini papa Sisil yang menjawab sembari meletakkan tangannya ke atas dahi Meila.
Setelahnya, semuanya berjalan menuju pintu keluar sebelum kemudian pamit pada Meila dan Dimas. Sementara Dimas, berjalan mendekati Meila untuk mengatakan sesuatu padanya.
"Tunggu sebentar, ya. Aku mau antar mereka dulu." Bisik Dimas setengah membungkuk. Meila pun mengangguk disertai senyuman tipis.
Saat semuanya nyaris keluar dari pintu, Sisil yang berdiri paling belakang perlahan berjalan mendekat dengan hati-hati menuju ranjang Meila. Dia terlihat gugup dan canggung sebelum kemudian mengucapkan sesuatu pada Meila yang berhasil membuatnya sedikit tertegun.
"Mmm... get well soon." Ucapnya pelan dan sangat cepat disertai intonasi yang diseret. Bahkan matanya pun tidak mampu menatap pada Meila. "Dan.... sorry!" Tutupnya sambil berjalan pergi menuju pintu keluar dengan cepat. Meninggalkan Meila yang memasang wajah tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
●●●
Airin sedang berada di dapur. Menyiapkan minuman untuknya dan juga Bryant yang baru saja datang berkunjung ke rumahnya. Pria itu membawakan pizza untuk menemani kebersamaan mereka malam ini.
"Kamu tau, kak. Hari ini ada kejadian nggak terduga di kampus."
Sambil berjalan dengan membawa nampan, Airin membuka pembicaraannya.
Bryant yang saat itu sedang bersandar di sofa langsung menoleh ke arahnya dengan alis yang saling bertautan.
"Kejadian? Kejadian apa?"
Airin memberikan segelas jus untuk Bryant sembari mendudukkan dirinya ke samping pria itu.
Dengan hembusan perlahan, Airin menyahuti. "Kamu ingat kan? Barisan rak buku yang ada di persimpangan yang menghubungkan antara meja komputer dan lemari besar? Tadi, secara nggak terduga rak buku itu roboh sampai nyaris menimpa Meila dan kak Vika."
Terkejut, Bryant menyudahi minumnya dengan meletakkan gelas ke atas meja.
"Gimana ceritanya rak itu bisa roboh? Bukannya rak itu keliatan kokoh?" Dengan alis yang naik sebelah, Bryant berusaha mencari tahu.
Airin berdecak ringan sembari meletakkan gelas minumannya ke atas meja.
"Jangan cuma ngeliat luarnya aja, kak. Rak-rak itu nggak se-kokoh yang kita duga. Di bagian celah-celah kayunya udah ada retakan akibat keropos yang nggak terlihat karena saking tersembunyi tempatnya."
Berhenti sejenak, Airin menarik napasnya dan menghembuskannya perlahan. "Beruntung kak Vika menarik Meila dengan sigap. Kalo nggak, badan kecilnya itu bakal tertimpa rak sebesar itu dan menutupi dirinya."
Kemudian, wajahnya berubah seketika dengan ekspresi lemas seolah menyayangkan. "Tapi... karena nolongin Meila, kaki kak Vika yang tertimpa rak itu. Pergelangan kakinya terkilir. Sedangkan Meila... dia harus menjalani operasi kecil untuk menutup luka di perutnya lagi."
Dengan wajah terkejut Bryant langsung memutar tubuhnya, memposisikan dirinya untuk saling berhadapan dengan Airin.
Sekali lagi, Airin berdecak ringan. "Meila nggak tertimpa rak itu. Tapi, rasa sakit di perutnya itulah yang menjadi penyebab dirinya nyaris tertimpa."
Sembari menyandarkan tubuhnya ke kepala sofa dan menopang kepalanya dengan sebelah tangannya. "Kamu ingat luka tusuk di perutnya akibat ulah Beno itu, kan?"
Sudah pasti Bryant mengingatnya! Karena dialah yang membawa kabar itu kepada Airin saat mereka masih sama-sama berada di Bandung saat itu.
"Kak Dimas bilang, beberapa hari terakhir ini Meila merasakan sakit di perutnya. Dan kak Dimas baru mengetahuinya tadi pagi saat Meila nggak bisa menyembunyikannya lagi darinya. Dia udah meminta Meila untuk melakukan check-up ke dokter dan izin kuliah. Tapi anak itu malah ngeyel." Nada suara Airin berubah layaknya seorang ibu yang sedang memarahi anaknya. "Ternyata rasa sakitnya itu disebabkan dari luka jahitannya yang terbuka." Seketika senyum getir di bibirnya muncul disertai gelengan kepala. "Sampai akhirnya gadis polos itu mendapatkan rasa sakitnya lagi bersamaan dengan yang entah bagaimana caranya rak itu bisa roboh tepat di depannya."
Bryant menghembuskan napasnya perlahan. "Baru sehari aku nggak masuk. Udah ada kejadian itu di kampus. Gimana kalo berhari-hari aku nggak kuliah?" Kekehnya.
Ya! Bryant tidak ada di kampus saat kejadian. Dia sedang meminta izin untuk menyelesaikan beberapa berkas yang harus disetujui di kampus lamanya.
Airin menipiskan bibirnya, "itu nggak masalah. Yang terpenting adalah, mereka udah mendapatkan penanganan terbaik dan kondisinya juga baik-baik aja. Kak Dimas bilang, Meila membutuhkan waktu dua sampai tiga hari lagi untuk memulihkan kondisinya."
"Hmmm... kalo gitu... kita bisa jenguk dia besok." Ucap Bryant.
Wajah Airin tersenyum penuh binar. Dan tangannya refleks memegang lengan Bryant.
"Okay! Setelah pulang dari kampus kita ke sana." Sahutnya penuh sumringah yang dibalas kekehan geli oleh Bryant.
●●●
Malam mulai larut. Semuanya sudah mulai sepi. Hanya terdengar suara langkah kaki perawat yang bertugas yang saling bersahutan di luar sepanjang koridor rumah sakit. Di ruangan itu tampak sunyi. Hanya suara deru napas halus dari dua insan yang saling memeluk tanpa ada yang bersuara.
Tidak! Mereka sama sekali belum memejamkan mata. Dimas dan Meila masih sama-sama terjaga. Setelah menemani dan mengurusi Meila memakan makan malamnya, seperti yang dibilang perawat tadi jika dokter akan datang mengecek kondisinya, dan itu benar. Tepat saat Dimas meletakkan piring dan gelas kotor ke atas meja besi samping ranjang, dokter Yoga datang untuk mengecek kondisinya dan memperhatikan dosis obat yang harus dikonsumsi secara berangsur. Lalu mengingatkannya untuk tidak memikirkan sesuatu yang membebani pikiran dan segera beristirahat untuk segera memulihkan kondisinya.
Namun, bukannya memejamkan mata, Meila justru masih teringat dan terbayang akan ucapan Sisil padanya. Wajahnya yang tampak canggung serta gerakan tubuhnya yang kaku mengisyaratkan jika Sisil sangatlah sekuat tenaga mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan hal yang mustahil keluar dari bibirnya itu.
Saat ini sedang ada Dimas yang duduk setengah berbaring di ranjang itu. Membelai rambut kepala Meila dengan sayang dan seirama. Berusaha membuat gadisnya terpejam dan mengantarnya ke alam mimpi.
"Kenapa belum tidur? Ini udah hampir malam, Mei."
Melihat gadisnya masih terjaga dengan mata yang membuka sempurna, membuat Dimas keheranan dan ingin tahu apa penyebabnya.
"Kak... kamu tau, apa yang Sisil katakan sama aku tadi?" Bukannya menjawab, Meila malah berucap dengan sebuah pertanyaan untuk Dimas.
"Dia bilang... agar aku cepat sembuh dan juga... ada kata 'maaf' di akhir kalimatnya." Sambungnya lagi dengan kepala terdongak dan mata menyalang.
Sekarang Dimas tahu penyebab Meila belum juga terpejam. Gadis itu sedang memikirkan perkataan Sisil yang menurutnya sangat jauh dari sifatnya.
"Jadi itu yang membuat kamu belum juga tidur?"
Meila mengangguk, ekspresinya yang manja selalu berhasil membuat Dimas melembutkan diri.
Didahului dengan senyuman, Dimas menjawab dengan memberikan kecupan singkat ke keningnya. "Itu bagus, bukan? Sebuah kemajuan pesat untuknya yang benar-benar ingin merubah dirinya?"
"A..aku tau. Tapi... maksud dari kata 'maaf' itu apa, kak? Aku udah memaafkan semua kesalahannya, melupakan semuanya yang pernah dia lakuin sama aku bahkan sampai kejadian terburuk itu." Meila sedikit menyergah, memainkan bola matanya ke penjuru ruangan diikuti dengan suara pelan saat mengucap kata 'kejadian terburuk' yang merujuk pada penculikan dirinya.
"Kamu ingat ekspresinya saat dia berucap tadi?" Dimas bertanya ingin tahu.
Meila tampak berpikir, mengingat-ngingat ekspresi Sisil tadi saat berbicara dengannya.
"Yang aku tau, dia nggak berani menatap mata aku. Tapi yang aku ingat dengan jelas, ekspresinya sangat gugup dan canggung. Sesekali menunduk sambil memainkan jarinya. Setelahnya... dia langsung pergi terburu-buru."
"Itu menandakan penyesalan," sahut Dimas menyimpulkan. Seketika Meila mendongak kembali, menatap Dimas dengan ekspresi tidak sabar agar Dimas melanjutkan kalimatnya.
"Saat seseorang terlihat gugup, canggung, bahkan tidak menatap lawan bicaranya dengan baik diikuti dengan rasa gelisah, itu menandakan jika dia sedang merasa bersalah yang dibalut penyesalan. Entah itu kejadian yang lalu atau baru aja terjadi." Dimas mulai menjelaskan. "Dia berusaha untuk mengucapkan rasa bersalahnya namun belum sempurna.
Dikarenakan ada perasaan mengganjal yang mengganggu pikirannya, makanya di saat orang itu melihat ada kesempatan, dia langsung mengatakan semampunya dan itu adalah sebuah kejujuran."
Sesaat, Meila mengingat kembali dan menerawang ekspresi Sisil dengan lekat. Memang benar, sikap Sisil sangat diluar kebiasaannya. Tingkahnya yang biasanya meledak-ledak dan arogan, seketika berubah gugup dan gelisah.
Jika itu benar, apa Sisil sedang berusaha mengatakan sebuah penyesalan padanya?
"Tapi... penyesalan seperti apa yang Sisil maksud itu, kak...?"
Sejenak, Dimas menipiskan bibir. Menyelampirkan anak rambut Meila ke belakang telinga sebelum kemudian memainkannya.
Dimas menghembuskan napasnya perlahan seraya menggedikkan kedua bahunya. "entahlah..." dia berhenti sejenak. "Tapi yang pasti, ada sesuatu yang udah membuatnya merasa bersalah sama kamu, Sayang. Hanya saja... dia belum terbiasa buat bersikap yang seharusnya dia tunjukkan sama kamu. Maka dari itu kalimatnya terasa menggantung dan membingungkan. Iya, kan?"
Mendengar penjelasan Dimas, Meila pun mengangguk paham. Pikirannya yang sedari tadi tidak menentu akhirnya secara tidak langsung dapat memahami maksud dari kalimat Sisil.
"Sekarang, udah nggak ada yang mengganggu pikiran kamu lagi, kan?" Dengan suara paling lembut, Dimas bertanya tiba-tiba. "...Tidurlah..." perintahnya.
Dengan bibir yang masih terlihat kering dan sedikit pucat, Meila berusaha tersenyum pada Dimas dengan wajah menengadah dan tingkah yang membuatnya gemas.
Sudah tentu tangan Dimas semakin tidak bisa diam, jemarinya bergerak mengelus pipi Meila dengan sayang dengan gerakan lembut seirama. Membelai gadisnya hingga masuk ke alam mimpi sebelum kemudian mengecup keningnya lembut, dan mengusap kepalanya hingga terlelap dalam peluknya.