A Fan With A Man

A Fan With A Man
Liburan Kecil



"Okay... sampai disini dulu rapat kita. Gue harap, kejadian ini sebagai evaluasi kerja kita kedepannya."


Rendy menutup sesi rapat yang dia adakan untuk membahas masalah yang telah diselesaikan. Bukan hanya itu, Rendy juga menegaskan kepada semua anggota senator lainnya untuk selalu berhati-hati dan teliti ketika bertugas. Dia tidak mau kejadian seperti ini terulang kembali.


"Terima kasih untuk waktu kalian. Kita ambil sisi positifnya dari kejadian ini. Semoga... kita semakin solid lagi dalam bertindak selanjutnya." Rendy menambahkan kalimatnya kembali.


Melihat dari kejadian yang telah berlalu, bukan hanya satu orang saja yang akan disalahkan, tetapi semuanya, semua anggota senator lain, karena mereka adalah tim. Jika untuk tim saja, mereka tidak merasa keberatan untuk menyelesaikan bersama, namun tidak untuk dekan, mereka akan terus mendesak agar semua kembali seperti sedia kala entah bagaimana caranya.


Satu persatu anggota senator lain membubarkan diri, khususnya bagi anggota junior yang baru bergabung dan belum terlibat terlalu jauh dalam kegiatan kampus.


Tak jarang dari anggota junior yang keluar ruangan itu berjalan sambil mengobrol dengan diselipi tawa. Tak jarang pula dari mereka membicarakan masalah yang baru saja mereka hadapi dan berhasil diselesaikan.


Entah datang dari mana, tiba-tiba anggota junior yang tadi sedang asyik mengobrol itu berpapasan dengan Sisil yang akan menuju ruang dosen. Telinganya menajam ketika dirinya mendengar pembicaraan tiga anggota junior itu. Langkahnya memelan sambil berpura-pura menguping isi dari pembicaraan mereka.


"Syukurlah, masalah ini selesai." Ucap salah satu anggota


"Iya! Kerja keras kakak ketua senat dan kakak senior lainnya nggak diragukan lagi. Nggak heran kak Rendy masih diberi kepercayaan menjabat dan bertahan dengan jabatannya." Sambung salah satu anggota lain.


"Jangan dilupain juga, peran kak Dimas juga berpengaruh disini. Meski dia hanya mahasiswa dari pertukaran universitas lain, kontribusinya untuk tim kita juga sangat besar." Ucap anggota lain yang berjalan berjajar di posisi ujung, tepat berseberangan dengan Sisil saat melewati dirinya.


Tangannya mengepal dengan perasaan kesal menggebu-gebu. Tak perlu diperjelas lagi untuknya bertanya pada mereka, arah pembicaraan mereka sudah pasti pada kejadian dimana dirinya melakukan konspirasi kebocoran data. Dia menghentakkan kakinya, dan mengetatkan rahangnya.


"Sial! Gimana bisa mereka meyelesaikan masalah secepat ini? Padahal jelas-jelas gue pastiin mereka nggak akan bisa mengembalikan data-data itu lagi. Dan lagi-lagi pasti dua pria sok pahlawan itu yang ngebela mati-matian si cewek manja dan sok polos itu."


Kemarahan Sisil rupanya tidak terbendung lagi. Dia terus saja menggumamkan kata-kata kasar tak puas hati akan nasib baik yang selalu menghampiri Meila. Matanya menyipit mengisyaratkan tanda ancaman berbahaya.


"Beno payah!"


Setelah mengucapkan kata-kata itu, Sisil langsung membalikkan tubuh dengan wajah memerah menahan amarah yang dalam hitungan detik saja akan meledak jika tidak ditahan untuk beberapa jam kedepan. Dia pastikan dirinya akan menghubungi Beno dan membicarakan cara kerjanya yang tidak becus itu.


●●●


Ruangan itu hanya tersisa Airin, Bryant, Dimas, Meila dan juga Rendy atau mereka biasa disebut juga dengan anggota inti senior. Sebelumnya juga ada Axel yang ikut bergabung dalam rapat namun kemudian keluar lebih dulu untuk urusan pribadi yang sudah mendapat izin dari pihak kampus.


Dimas dan Meila yang duduk bersebelahan tak mampu membuat yang lainnya seakan tutup mata dan pura-pura tidak tahu akan kedekatan mereka. Bukan tidak sadar, Meila sadar betul akan pandangan mengejek yang ditujukan untuk dirinya dan juga Dimas tentunya. Disaat Meila tengah beradu tatap dengan Airin yang sedang menggodanya melalui kedipan mata, Dimas memecah konsentrasi Meila yang sedang memasang wajah penuh peringatan untuk Airin.


"Mau makan apa?" Sambil bertanya lembut, Dimas memajukan wajahnya sedikit, membuat pandangan Meila teralih padanya.


Meila hampir saja tergeragap kalau dirinya tidak bisa mengontrol diri.


"Aku... masih belum laper kak.." Meila menjawab dengan senyuman


"Udah... kamu makan aja bareng sama Dimas, rapat udah selesai, kan? Kalian bisa bebas." Rendy menyela dengan nada meledek yang kental membuat Meila hampir malu dibuatnya.


"Bener tuh, Mei.. Atau kalian mau makan diluar? Mungkin kalian bosan sama menu makanan dikantin? Boleh kan, kak Ren?" Airin menyanggah pernyataan Rendy sambil mengompori Meila. Hal itu malah membuat Airin semakin dipelototi olehnya.


Kali ini Rendy memilih setuju dengan Airin, dia memilih mengiyakan pertanyaan Airin dengan menganggukkan kepalanya tanda menyetujui.


Mereka masih dalam suasana masa class meeting. Untuk sementara mereka telah dibebaskan dalam tugas dan mata kuliah. Sebenarnya Meila sendiri butuh sedikit sentuhan hiburan untuk meringankan kepenatan selama beberapa hari kemarin. Namun dia masih belum bisa membagi waktu mana yang harus didahulukan dan mana yang harus di kerjakan belakangan.


"Tuh liat kan, si ketua udah ngasih izin." Dimas berucap. Sekali lagi memberikan penawaran pada Meila.


Namun ternyata Meila masih saja berpikir, terdiam bingung. Tidak mengiyakan, tidak juga menolak ajakan Dimas. Melihat kediaman Meila yang belum juga mengeluarkan suara atas keputusannya, membuat Dimas tak tahan untuk bergerak cepat. Dimas tau kalau sebenarnya gadis ini sangat menginginkan sedikit saja hiburan untuk menyelingi kegiatan, tapi bukan Dimas namanya kalau tidak bisa membaca raut wajah gadis itu.


Dimas melirik pada Rendy sejenak, matanya mengedipkan tanda isyarat yang langsung dapat dimengerti olehnya. Didetik Dimas mengedipkan mata, saat itu juga Rendy menganggukkan kepala. Dengan gerakan cepat Dimas berdiri, mengambil jemari Meila tegas namun juga lembut.


Meila sempat kaget dengan tindakan Dimas yang tiba-tiba. Seakan Dimas tak mau menunggu sanggahan Meila, dirinya berucap seolah meminta izin pada Rendy.


"Ren, kita izin keluar sebentar." Dimas mengucap kata 'kita' sambil membawa Meila untuk mengikutinya. Meila yang bingung tak sempat mengeluarkan sanggahannya untuk menahan Dimas.


"Sip, bro! Jangan lupa anterin adek gue pulang." Jawab Rendy dengan kekehan kalimat, memberikan izinnya pada keduanya.


Tanpa menoleh, Dimas memberikan isyarat jawaban dengan mengangkat sebelah tangannya seakan berjanji.


"Have fun ya, kalian!" Tambah Airin dengan nada mengejek yang kental dengan sosok Dimas dan juga Meila yang hilang dibalik pintu.


●●●


"Kak.. kita mau kemana?" Tanya Meila tak sabar, dirinya masih bingung dengan sikapnya yang masih saja diam dengan senyum misterius mencurigakan. Dia tak bisa menahan rasa penasarannya ketika tangannya terus digenggam oleh Dimas tanpa niat melepas genggamannya.


Mereka masih melewati koridor kampus setelah keluar dari ruang senat menuju halaman parkir. Meila sudah tak menghiraukan tatapan-tatapan siswa yang menatapnya heran. Yang sekarang dia pikirkan adalah mencari tau kemana Dimas akan membawanya pergi. Meila masih terus menoleh ke arah Dimas, sambil sesekali memperhatikan langkahnya agar tidak terselip atau tersandung nantinya. Sampai dilihatnya tak ada jawaban dari Dimas, Meila memberanikan diri kembali untuk memanggil namanya.


"Kak..." panggil Meila sekali lagi.


Akhirnya mereka sampai di halaman parkir. Dimas menghela Meila menuju kursi penumpang disamping kursi kemudi, membukakan pintu untuknya dan ketika dilihatnya Meila sudah masuk dan duduk dengan nyaman, Dimas menutup pintu dengan cepat kemudian berlari memutari mobil menuju kursi kemudi. Setelahnya, mereka keluar dari area kampus dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.


●●●


Mereka sampai pada sebuah restoran dengan penghijauan yang asri. Restoran alam terbuka yang menampilkan suasana nyaman dengan lampu-lampu kecil warna-warni memenuhi hiasan disepanjang sisi restoran itu. Restoran yang terlihat lebih seperti pada konsep garden party seperti pesta-pesta yang pernah Meila lihat di televisi atau sekedar dalam cerita novel yang pernah ia baca.


Wajah Meila tak henti-hentinya menatap takjub dengan keseluruhan dekorasi ruangan, sebagian diselingi dengan sisi-sisi kaca transparan seperti rumah kaca yang langsung memperlihatkan suasana alam terbuka yang indah dipandang oleh mata telanjang.


Dirinya masih sempat membayangkan, jika di siang hari saja suasananya seindah ini, apalagi jika di malam hari? Pasti akan lebih indah. Karena bukan hanya lampu saja yang dijadikan sebagai penerang, tetapi juga bintang-bintang di langit sana yang kerlap-kerlip semakin menambah suasana mengasyikkan yang sayang untuk dilewatkan. Mungkin di lain waktu dia akan ke tempat ini lagi di waktu makan malam, mungkin?


Entahlah, dirinya tak sanggup untuk membayangkan betapa indahnya suasana itu. Mulutnya menganga, seakan tak henti-hentinya mengisyaratkan kata 'wah' pada tiap sudut sisi ruangan yang dilihatnya.


"Dari pada kamu menganga diluar kayak gitu, mendingan kita masuk dan langsung rasain suasananya dari dalam."


Dimas menghampiri Meila, dia tak bisa menahan senyumnya untuk tak membuat gadis itu menoleh ke arahnya. Ucapannya tadi rupanya membuat Meila menoleh dengan mata berbinar penuh harapan, wajahnya begitu cerah ketika senyum manisnya mengembang memenuhi wajah cantiknya.


Diraihnya jemari mungil yang terasa pas dalam genggamannya itu. Dihelanya Meila untuk masuk ke dalam restoran dan langsung menempatkan diri pada posisi paling nyaman ruangan itu.


Suasananya tak begitu ramai, sehingga menguntungkan untuk mereka menempati meja mana yang akan ditempati. Hanya ada beberapa dari pengunjung yang menikmati makan siang dan sebagian pula yang keluar begitu selesai menikmati santapan siang mereka.


Akhirnya Dimas memutuskan untuk menempati meja dengan posisi dekat dengan jendela kaca yang luas dengan sisi-sisinya dipenuhi dengan hiasan pernak-pernik penuh menyala berbagai warna yang menyenangkan dipandang mata.


"Kamu suka tempat ini?" Dimas bertanya ketika memperhatikan ekspresi wajah Meila yang seperti anak kecil menggemaskan.


Meila hanya menganggukan kepalanya dengan semangat.


"Kapanpun kamu mau, kita bisa dateng kesini lagi." Dimas menawarkan dengan suara pelan untuk menarik perhatian Meila.


"Boleh kak?" Tanya Meila polos penuh antusias seperti anak kecil yang dijanjikan berliburan oleh orang tuanya untuk kesekian kalinya.


"Boleh. Kapanpun!" Jawab Dimas lembut.


Setelahnya Dimas mengambil buku menu yang ada didepannya, dia membuka buku menu itu dan membacanya. Sebelumnya dia melirik Meila sejenak dan mengingat ucapannya tadi yang masih belum merasa lapar.


"Kamu yakin masih belum laper?" Dimas bertanya dengan nada menggoda. "Disini menunya enak-enak loh.." dirinya berucap kembali sambil membolak-balik deretan macam daftar menu.


Dilihatnya Meila yang mulai menimbang-nimbang, tanpa sadar dia mengusap perutnya yang mulai terasa lapar, kemudian selang beberapa detik perut itu berbunyi tanpa tahu malu. Pipinya langsung merona seketika dan dipalingkannya wajahnya agar tak terlihat oleh Dimas.


Dimas terkekeh pelan, tatapannya melembut. Dia meletakkan buku menu itu di samping meja, kemudian memajukan tubuhnya agar lebih dekat dan meraih dagu serta mengangkat wajah gadis itu agar dapat dengan jelas menatap wajahnya yang menggemaskan.


"Kenapa? Kamu malu karena aku dengar suara bunyi perut kamu yang menagih untuk diisi itu. Hm?" Tanya Dimas lembut dengan tatapan sayang.


Pipinya semakin merona, dia tak punya pilihan lain untuk tidak menatap Dimas. Dimas yang melihat Meila tergeragap akhirnya melembutkan diri, tidak tega untuk melanjutkan godaannya, pegangan jarinya yang ada di dagu kemudian merambat naik ke atas, berhenti tepat berada di pipi Meila yang merona. Dia mengusapnya lembut disana, usapan lembut tak terkira.


"Jadi, kamu mau pesan menu apa?" Tanyanya lembut masih sambil mengusapkan ibu jarinya dipipi Meila.


"Emmm... apa aja.." Meila berhenti sejenak, "terserah kak Dimas aja, asalkan... asalkan jangan makanan yang terlalu pedas." Jawab Meila menyambung kembali dengan sedikit terbata.


Setelahnya Dimas memutuskan untuk memesankan menu berat dengan porsi pas untuk Meila dan seperti permintaannya, makanan yang tidak terlalu pedas. Dirinya padahal sudah mengetahui dari Rendy bahwa Meila tak bisa memakan makanan pedas dengan level-level gila yang diluaran sana sangat disukai banyak orang.


Mungkin itu sebabnya, banyak orang-orang bilang kalau orang yang tidak menyukai makanan pedas itu tidak memiliki sifat pemarah, orang itu akan didominasi dengan sifat lembut dan menyenangkan seperti gadis di depannya ini.


Mereka menyantap makan siang mereka dengan lahap. Terutama Meila yang rupanya tidak perlu susah-susah untuknya memilih-milih menu, lidahnya langsung cocok dengan hidangan menu yang dipesankan oleh Dimas, tidak pedas dan dalam porsi pas.


●●●


"Gimana menunya? pas?" Dimas bertanya ketika dilihatnya Meila telah selesai menyantap makan siang.


"Pas, kak. Pas banget! Dan nggak pedas juga." Jawab Meila cepat dengan senyum sumringahnya.


"As you wish.." jawab Dimas kembali sambil meraih minumannya.


Dimas memperhatikan Meila yang sedang mengaduk-aduk strawberry fruit punch miliknya. Dia berpikir untuk mengajak Meila bersantai dulu, menikmati suasana di tempat ini sebagai bentuk liburan kecil setelah kejadian kemarin.


"Mau jalan-jalan dulu di sekitar sini?" Dimas meletakkan minumannya, "kalo kamu mau, kita bisa jalan-jalan dulu sambil nunggu sore." Tanya Dimas memastikan kembali.


Raut wajahnya tak bisa dibohongi. Meski gadis itu belum menjawab pertanyaan Dimas, tapi pria ini langsung bisa mengetahui hanya dengan melihat raut wajah Meila saja. Dengan gemas Dimas mengangkat tangannya ke puncak kepala Meila, lalu mengusapnya gemas disana.


Dimas akhirnya memutuskan, sambil terkekeh pelan dengan tatapannya yang melembut. "Okay..! kita akan jalan-jalan dulu disini."


Kata-kata Dimas itu bagaikan ultimatum yang tak bisa ditolak oleh Meila. Bahkan bukan tidak bisa, tapi mungkin tidak mau untuk Meila tolak. Karena Meila juga tidak mau membohongi diri, kalau dirinya memang sedang membutuhkan liburan meskipun itu hanya liburan kecil dan beberapa jam saja.