A Fan With A Man

A Fan With A Man
Liburan Singkat ( Intermezzo )



Mereka akhirnya memutuskan untuk menghabiskan waktu liburan singkat mereka dengan menonton, berbelanja bahkan bermain ke sebuah wahana permainan yang ada di pusat gedung. Seharian penuh mereka bermain tanpa henti. Dimulai dari berbelanja, makan siang, sampai di akhiri dengan menonton film. Semuanya terlihat bahagia, tak terkecuali para gadis yang tidak berhenti menampilkan wajah sumringah dan binar bahagia dari wajah masing-masing.


"Kamu senang hari ini?"


Dimas bertanya tiba-tiba sambil berbisik. Sambil mengistirahatkan diri di sebuah kursi tunggu dekat ballroom yang luas, yang dihiasi lampu gantung yang mulai menyala serta bunga-bunga hias yang memenuhi area lantai dasar mall tersebut. Sementara pasangan lainnya, Rendy dan Vika, sedang memisahkan diri membelikan minuman untuk mereka ber-empat.


"Bukan cuma senang. Tapi sangat senang." Jawab Meila dengan ceria. "Terima kasih untuk hari ini. Untuk semuanya. Dan juga untuk semua barang-barang yang kamu belikan ini." Meila tampak menghela napas sejenak sebelum akhirnya berbicara kembali. "Jujur, aku ngerasa nggak enak hati buat menerimanya. Tapi mau gimana lagi? Kamu nggak memberikan aku waktu untuk menolaknya, kan?" Sambungnya kemudian dengan berbisik. Ada kata bernada ledekan yang Meila tunjukkan pada kalimatnya. Lalu, memberikan senyuman manisnya di akhir kalimatnya pada Dimas.


Dimas terkekeh melihat tingkah Meila hingga tidak tahan untuk tidak memberikan usapan lembut ke kepalanya dengan sayang. Lalu, merangkulnya rapat sambil memainkan jemarinya ke pipi Meila dengan mencubitnya ringan.


"Aku ikut bahagia kalo kamu senang. Bikin aku nggak tahan untuk membelikan kamu barang-barang lagi." Godanya dengan sengaja.


Mendengar perkataan Dimas membuat Meila terkesiap disertai tatapan matanya yang penuh peringatan.


"Apa? Nggak, nggak. Jangan lagi, kak. Aku mohon. Ini semua udah lebih dari cukup." Pinta Meila memohon sambil mengibaskan kedua tangannya.


Dimas tergelak mendengarnya. Entah mengapa, Meila sangat takut jika dirinya membelikan lagi barang-barang untuknya. Padahal, para gadis di luaran sana sangat memimpikan untuk dibelikan barang-barang branded oleh kekasihnya. Tetapi, gadis ini justru sebaliknya. 


Ditengah-tengah perbincangan hangat dan gelak tawa mereka, Rendy dan Vika datang membawa empat cup milkshakes untuk semuanya.


"Minuman datang..." sambil berseru, Vika memberikan satu cap milkshake untuk Meila yang langsung diterima dengan antusias.


"Strawberry Milkshake?" Ucapnya dengan mata berbinar. "Thank you..."


Vika menyahuti dengan senyuman. Sedangkan Rendy memberikan satu cup coffe-latte untuk Dimas.


"Thanks, Ren." Ucap Dimas saat menerima minuman dari Rendy.


"Untuk para gadis, berhubung waktu sudah sore dan hari mulai gelap, baiknya kita pulang sekarang sebelum cuacanya semakin dingin nanti. Kita juga harus masuk kuliah lagi besok, kan?"


Sambil menyeruput ice cappuccino miliknya, Rendy berucap untuk menyarankan agar mereka segera pulang dan beristirahat. Karena mereka akan kembali berkuliah lagi besok dan beraktifitas dengan jadwal yang tak kalah penuh dari hari sebelumnya.


"Benar yang dibilang Rendy." Vika menyahuti begitu dia selesai menyeruput ice americano miliknya. "Lebih baik kita istirahat dan mempersiapkan diri untuk kuliah lagi besok."


"Iya. Aku juga mau un-boxing semua buku-buku aku." Ucap Meila menimpali disertai tawa khasnya.


Tanpa ada suara lagi, semuanya menyetujui. Mereka mulai menuruni eskalator yang dikepalai oleh Dimas dan Meila yang saling bergandengan, disusil oleh Rendy dan Vika yang tampak mengekori dengan tangan yang saling bergandengan juga.


Saat mereka sudah sampai di lantai dasar yang terdapat banyak kedai makanan dan minuman, mata Meila tidak lepas untuk memperhatian toko kue yang menjajakan banyak jenis kue termasuk cheese cake.


"....Kak...." suara manjanya tiba-tiba memasuki telinga Dimas.


Tangan Dimas yang tadinya menggenggam, terlepas dan beralih untuk merangkul dan mendekap Meila, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu sambil berbisik.


"Aku mengingatnya, Sayang."


Jawabannya itu langsung disambut ceria oleh Meila dengan wajah mendongak dan jarak yang sangat dekat.


"Ren, gue mau ke toko kue dulu. Kalian mau balik duluan atau....."


"Kita ikut," Vika menyela tanpa membiarkan Rendy menyahutinya lebih dulu. "Ya, Rendy, ya?" Ucapnya lagi dengan memohon pada Rendy.


Tentu! Bukan tanpa alasan Vika memohon, dia juga ingin menikmati pudding cake dari toko itu dan membungkusnya pulang.


"Kita ikut kalian. Gue juga mau beli sesuatu yang pacar gue inginkan di


toko kue itu." Sahut Rendy meledek, dengan menekankan kata 'pacar' pada kalimatnya disertai gerakan matanya yang mengarah pada toko kue.


Mereka akhirnya ke toko kue bersama-sama. Dimas yang membelikan strawberry cheese cake untuk Meila, dan Rendy yang membelikan banana pudding cake untuk Vika. Begitu mereka keluar dari mall dan menuju basement, tampak hari sudah senja menjelang petang. Terlihat dari lampu-lampu jalan raya yang mulai menyala di tiap sisi jalan.


Mereka berpisah arah saat mobil mereka mulai keluar dari area parkir basement. Menuju rumah masing-masing dengan membawa suasana kebahagiaan yang menyelimuti hati mereka.


●●●


Selama Sisil memulai kegiatan perkuliahannya kembali, sifat dan sikapnya mulai berubah dari sebelumnya. Sisil yang menanamkan sifat iri dan dengki di dalam hatinya perlahan membuka diri untuk berbaur dari orang-orang di sekitarnya.


Seperti saat ini, dia sedang mengerjakan tugas kampusnya dengan pintu kamar yang dibiarkan setengah terbuka. Tidak lama ibu Sisil datang menghampirinya dengan perlahan, mengetuk pintu kamar putrinya sebelum kemudian memasuki kamar setelah mendapat persetujuannya.


"Ah! Apa mama mengganggumu? Keliatannya kamu lagi sibuk mengerjakan tugas kampus kamu?"


Ibunya tampak berbasa-basi lebih dulu. Menilai reaksi putrinya untuk mengetahui perkembangan sifatnya setelah beberapa hari memulai aktifitasnya kembali.


"Hanya sedikit persiapan untuk menghadapi kuis." Sahutnya singkat juga pelan tanpa menolehkan wajah. Namun terdengar lebih sedikit lembut pada nada suaranya.


Ibunya tampak mengangguk pelan, lalu berjalan mendekati kaki ranjang sembari mendudukkan bokongnya di sana.


"Bagaimana hubungan kamu dengan teman-teman kamu di kampus?"


Ucapnya memberi jeda. "Sama.... Meila?" Suaranya terdengar mengambang saat menyebut nama 'Meila'. Seperti ragu-ragu untuk menyebutnya. "Baik-baik aja, kan?"


"Hm," hanya gumaman singkat yang terdengar. Namun, sesaat kemudian suaranya terdengar kembali dengan nada meyakinkan sekaligus menenangkan.


"Kalian nggak perlu khawatir. Aku berusaha menahan diri dari sikap buruk yang akan membuat kalian malu."


Ibunya mendesahkan napas lega, baru kemudian melengkungkan senyum tipisnya. Sisil langsung menyadarinya meski dia tidak melihatnya langsung. Namun, tanpa dilihat pun dapat Sisil rasakan jika ibunya sedang tersenyum lega setelah mendengar pernyataannya.


Mendengar ibunya tidak mengucapkan kalimat apapun lagi, membuat Sisil paham maksud kedatangan ibunya ke kamarnya. Ada sesuatu yang ibunya inginkan dan tentunya harus Sisil lakukan.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang harus aku lakukan?"


Ibunya sedikit terkesiap. Dia berdehem pelan sebelum mengucapkan maksud dan tujuannya.


"Kamu memang putri mama yang peka, Sisil." Ucapnya memuji. Sisil hanya diam, namun ucapan ibunya itu sedikit berpengaruh padanya.


Terlihat dari perubahan wajahnya yang sedikit melembut dan tenang.


"Mmm... Sisil, mama berniat untuk membawakan cheese cake untuk Meila." Ibunya berucap tanpa basa-basi. Sedangkan Sisil, tubuhnya sempat terdiam beberapa detik. "Karena mama dengar, Meila sangat suka dengan cheese cake, makanya mama ingin sekali membuatkannya. Tapi... mama belum sempat memberikannya secara langsung. Jadi, mama pikir akan......."


"Siapin aja kuenya. Aku yang akan memberikan padanya di kampus besok." Sisil menyela dengan cepat juga tegas, tanpa ada keraguan dalam kalimatnya. Meski tidak menyebutkan nama 'Meila' secara langsung, namun suaranya terdengar jelas dan lantang, seperti ada niat baik yang tersembunyi namun belum berani untuk menunjukkannya secara langsung.


Ibunya tertegun mendengar pernyataan putrinya. Dia nyaris tidak percaya, dan tidak menduga jika Sisil akan mengucapkan jika dia yang akan memberikannya langsung pada Meila. Terlebih lagi perlakuannya pada gadis itu yang jauh dari kata wajar.


"Baiklah, mama akan siapkan kuenya. Biar besok pagi, kamu bisa membawanya ke kampus dan memberikannya pada Meila." Ucapnya senang.


"Terima kasih, nak." Ucapnya tulus. "Kalo gitu, mama keluar dulu. Kamu lanjutkan belajar kamu, ya."


Setelahnya ibu Sisil langsung berbalik menuju pintu keluar. Namun, beberapa detik kemudian membalikkan tubuhnya kembali dan berjalan mendekati Sisil. Mendaratkan kecupan ke belakang kepala putrinya dengan penuh kelembutan hingga membuat Sisil tertegun.


"Jangan terlalu lelah. Dan, jangan tidur terlalu malam, ya?" Ucapnya dengan penuh perhatian sambil menggerakkan tangannya mengusap kepala Sisil dengan sayang.


Sisil nyaris membeku hingga tidak sadar jika ibunya sudah tidak berada di kamarnya. Dia terkejut sekaligus menghangat. Bohong jika dia tidak meleleh dengan perlakuan ibunya barusan. Hingga akhirnya muncullah sebuah senyum tipis yang samar, yang nyaris tak terlihat. Yang semakin menyelimuti kehangatan di dalam  hati dan jiwanya.


●●●


Satu jam dalam perjalanan yang ditempuh akhirnya membawanya kembali ke rumah. Hari sudah gelap begitu Meila keluar dari mobil.


Membawa beberapa papper bag di tangannya diikuti dengan Dimas yang berjalan di sampingnya. Dimas sampai setengah berlari untuk menyamai langkah Meila yang tampaknya ingin buru-buru menuju kamar agar segera mandi lalu membuka semua barang-barang belanjaannya.


"Hati-hati, Mei." Ucap Dimas bernada peringatan begitu melihat Meila yang berjalan tergesa-gesa saat akan menaiki anak tangga.


Meila tersenyum lebar. Menampilkan deretan gigi-giginya yang rapi pada Dimas.


"Aku nggak sabar mau membuka semuanya, kak." Sahutnya polos seperti anak kecil yang baru dibelikan banyak mainan oleh orang tuanya.


Dimas hanya tersenyum mendengar celotehan gadisnya yang tampak menggemaskan saat langkahnya hampir sampai.


"Aku tau kamu nggak sabar. Tapi kamu juga harus mandi dulu dan aku juga belum membawa paket buku-buku itu semuanya. Sebagian lagi masih ada di mobil."


Langkah Meila terhenti. Lalu, menghadiahkan senyuman manisnya pada Dimas.


"Tentu aku akan mandi dan membersihkan diri. Dan setelahnya, baru membuka semua barang-barang itu." Sahutnya polos dan terdengar sangat manis.


Dimas mendengus pelan seraya tersenyum hangat. Kemudian memajukan tubuhnya dan setengah membungkuk.


"Lalu... aku harus letakkan paket berisi buku-buku ini dimana? Di kamar aku atau di kamar sebelah?"


Oh My.... dia hampir lupa! Saat ini dia sedang berada di rumah Dimas, bukan di rumahnya. Bagaimana bisa dia lupa dan bersikap tidak sopan layaknya tuan rumah? Sepertinya dia harus mencatat di dahinya agar tidak bersikap seenaknya lagi nanti. 


"Mmm.... te-terserah kak Dimas aja," suaranya sangat pelan. Nyaris tidak terdengar. Dimas bisa melihat jika gadisnya sedang merasa malu karena pipinya yang mulai bersemu merah dan berusaha memalingkan wajahnya.


Di detik itulah Dimas tergelak, menyemburkan tawanya di depan Meila yang saat itu wajahnya langsung memanas karena menahan malu luar biasa.


"Kenapa ekspresi kamu langsung berubah drastis kayak gini, hm?"


Dimas bertanya serta meraih dagu Meila, menariknya lembut agar menatapnya. "Dengar aku. Kamu boleh melakukan apapun di rumah ini semau kamu, Mei. Anggap aja rumah ini sebagai rumah kamu juga. Okay?"


Dimas seketika menegakkan tubuhnya, mengajak Meila mengikutinya menuju kamarnya.


"Jadi keputusannya, aku akan meletakkan semua barang-barang kamu di sini." Ucap Dimas saat memasuki kamarnya.


Meila mendongak dengan pancaran binar mata beningnya. Lalu, melengkungkan sebuah senyuman padanya seraya berucap pelan.


".....thank you....."


"Nah sekarang, kamu letakkan semuanya di sini," sambil meletakkan


barang di tangannya ke pinggir ranjang, dan mengambil alih barang yang ada di tangan Meila. "Lalu mandi dan bersih-bersih. Aku akan mengambil sebagiannya lagi di mobil. Okay, Sayangku?" Dimas memerintah dengan lembut dan Meila pun mengangguk patuh.


"Ah! Satu lagi." Seketika Dimas berjalan menuju lemari pakaian dan mengambilkan setelan baju hangat miliknya yang tebal berwarna biru laut lembut lalu memberikannya pada Meila. "Pakai ini." Meila sempat tertegun hingga mengalihkan matanya pada pakaian milik Dimas yang tampak tebal namun terasa lembut dan kebesaran juga pastinya.


"Cuacanya dingin. Ini akan menghangatkan tubuh kamu." Lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang mulai berkabut dan menghembuskan angin kencang seperti akan turun hujan.


Meila mengangguk lagi tanpa perlawanan. Entah kenapa dirinya selalu mematuhi perkataan Dimas yang layaknya perintah untuknya.


Sehingga dengan mudahnya, dia langsung menyetujui apapun perkataan yang dikatakan pria itu.


"Ingat, gunakan air hangat dan jangan terlalu lama. Mengerti?"


"Iya," suaranya pelan disertai anggukan. Dan tidak lupa juga untuk memberikan senyumannya.


Dimas pun keluar dari kamarnya, kembali ke halaman untuk mengambil barang-barang belanjaan yang tersisa di mobilnya. Sekaligus memberikan Meila waktu untuk membersihkan diri dengan nyaman.


●●●


"Oh! Akhirnya sampai juga." Vika menyerukan suaranya ketika masuk ke dalam ruang utama rumah Rendy. Dia tampak kegirangan dengan mendesahkan napas lega. "Aku merasa seperti tulang-tulangku lepas semuanya."


Rendy tampak tersenyum sambil mengekori. Kemudian meletakkan semua barang-barang belanjaannya ke atas sofa.


"Lebih baik kamu mandi sebelum cuacanya semakin dingin. Biar aku yang akan rapikan ini semuanya."


"Kamu nggak mandi?" Tanya Vika polos.


Rendy mendengus pelan disertai kekehan geli, "tentu aku akan mandi setelah merapikan semuanya." Suaranya berhenti sejenak, lalu sebuah ide jahil muncul begitu saja di benaknya. "Atau... kamu mau kita..." suaranya menggantung disertai wajah jahilnya.


"Kita.... apa?" Timpal Vika dengan tanda tanya penuh antisipasi. Tetapi, sesaat kemudian dia langsung bisa menyadari maksud nakal Rendy.


"Nggak, nggak. Aku... aku akan mandi sekarang." Cegahnya cepat sambil mengibaskan tangannya ke depan wajah Rendy sambil melangkah mundur.


Setelahnya, Vika langsung lari terbirit-birit menuju kamar mandi sebelum Rendy menggodanya lebih jauh lagi.