A Fan With A Man

A Fan With A Man
Ancaman Beno



Sisil sedang menunggu James di dalam mobil. Tepat di sebuah stasiun pengisian bensin untuk mengisi bahan bakar mobilnya yang hampir kosong. James nyaris saja lupa jika alarm pengingat pengisian bahan bakar yang tiba-tiba berbunyi mengingatkannya untuk segera mengisi bensinnya.


Beruntung di tengah perjalanan menuju kampus Sisil mereka melewati stasiun pengisian bensin. Mereka akhirnya berhenti disana dan James langsung menyuruh Sisil untuk menunggunya di tempat parki. Sementara dia melakukan pembayaran di loket administrasi.


Wajah Sisil tampak kesal saat menunggu James yang juga tak kunjung datang. Posisi duduknya menjadi serba salah hingga hampir saja dia berniat untuk keluar dari mobil sebelum bunyi sebuah pesan masuk ke ponselnya.


Sisil langsung mengambil ponselnya di dalam tas dan melihat adanya pemberitahuan pesan sebuah foto yang masuk dari nomor yang tidak dikenalinya. Dan seketika Sisil langsung mengerutkan dahinya.


Bingung!


"Siapa yang ngirim foto?" Gumamnya pelan. Namun tak urung Sisil langsung membuka pesan itu karena dia juga merasa penasaran.


Tak sampai 2 detik pesan itu pun terbuka. Wajah Sisil seketika memerah karena kaget dengan mulut yang terbuka lebar. Antara syok bercampur bingung.


Sebuah foto yang menggambarkan kejadian saat dia menghabiskan satu malam bersama Beno di apartemennya. Dengan posisi yang tampak vulgar dan begitu memalukan. Berbeda jauh dengan Beno yang menggambarkan wajahnya yang tampak senang dan puas.


Yang lebih mengagetkannya lagi, di bawah foto itu, ada sebuah pesan lain yang berisi ancaman yang tidak lain dan tidak bukan dari Beno sendiri. Entah dari mana laki-laki itu mendapatkan nomornya, akan tetapi bunyi ancaman itu cukup menjelaskan jika kali ini laki-laki itu tidak main-main.


"Setelah melihat foto ini, apa lo masih berpikir gue cuma main-main sama lo? Mungkin lo menganggap remeh gue selama ini. Tapi, dengan foto ini udah cukup membuktikan sama lo kalo gue gak bisa lagi lo remehin kayak dulu. Silahkan nikmati foto-foto ini. Kalo lo mau hapus, itu hak lo! Tapi ingat! Gue nggak sebodoh yang lo kira, Sisil. Karena gue masih nyimpen banyak kenangan kita di memory lain yang nggak lo ketahui."


Bunyi pesan itu membuat Sisil merinding hingga bergidik. Ekspresi tercengang yang ditunjukkannya seketika berubah menjadi resah gelisah disertai tangan yang gemetar sambil memegangi ponsel.


Hawa ketakutan pun menyeruak memenuhi tubuhnya. Seolah menguap mengudara memenuhi keseluruhan isi kabin mobil hingga sesak yang sialnya hanya ada dirinya disana.


Perasaan lega yang baru saja tercipta seakan hilang tergantikan dengan rasa takut. Foto-foto penampakan vulgar dirinya yang sangat jelas dan menjijikkan itu benar-benar sangat memalukan. Bahkan tanpa sadar Sisil sampai mengutuk dirinya sendiri agar menuai karma.


"Ba-bagaimana ini?" Sisil berucap terbata.


Sisil mencoba menghubungi nomor tersebut namun kali ini Beno sudah mematikan ponselnya lebih dulu. Sengaja mengusik ketenangan dan kedamaian Sisil setelah kemarin merasa menang karena terlepas dari ancamannya.


Nggak aktif?


Tubuh Sisil melemas seketika. Disandarkannya tubuhnya ke kursi jok mobil dengan wajah mendongak dan mata berkaca-kaca. Hingga tanpa sadar, dia menjatuhkan ponselnya ke kolong kursi bersamaan dengan kedatangan James yang membuatnya kaget.


"Kau sedang apa?" James bertanya karena bingung.


Melihat penampilan serta ekspresi Sisil yang jauh berbeda dari beberapa menit sebelumnya, sudah pasti membuat James curiga. Sebab, baru setengah jam yang lalu wajah Sisil begitu cerah diliputi kelegaan. Dan sekarang, wajah lega tadi yang dia tunjukkan berubah muram. Seakan baru menerima kabar buruk dari seseorang sehingga membuatnya syok.


"Ah, nggak! Aku kepanasan disini. Kenapa kamu lama banget, sih?!" untuk menutupi kegugupannya, Sisil berucap ketus seperti ciri khasnya.


Sambil mengambil ponselnya, Sisil menggerutu dan meminta James untuk segera mengantarnya ke kampus. Hal itu justru membuat James semakin curiga. Terlebih lagi, ekspresi Sisil yang tidak mau menatapnya ketika berbicara. Dan tindakannya yang langsung buru-buru menyembunyikan ponselnya ke dalam tas.


"Kenapa ponselmu bisa jatuh?" Karena penasaran, James akhirnya bertanya karena ingin tahu.


Sisil tampak tergeragap sebelum bisa menjawab. Namun, dia akhirnya menyahuti dengan rangkaian kata-kata yang dia susun dengan asal dan cukup masuk akal.


"Karena lama nunggu kamu, aku memainkan game di ponselku sampai game over! Aku sengaja melempar dan menjatuhkannya karena kesal." Sisil menjawab seadanya. Dan dia yakin, alasannya itu cukup kuat untuk meyakinkan James agar tidak merasa curiga.


Namun bukan James yang bisa dengan mudah percaya begitu saja. Pandangan James yang tajam seketika mengawasi gerak-gerik Sisil yang tampak gelisah dan gusar. Seperti ingin cepat-cepat menghindarinya.


"Cepat! Aku harus sampai kurang dari setengah jam lagi." Sisil membuyarkan pandangan James hingga pandangannya terputus.


Sambil masih memandang curiga, James pun akhirnya kembali mengemudikan mobilnya dengan laju sedang dengan berbagai macam kesimpulan yang berputar di otaknya.


Ada yang disembunyikan. Ada yang Sisil sembunyikan darinya. Dan James akan mencari tahu apa yang disembunyikannya itu.


●●●


Seringaian Beno kali ini menunjukkan kepuasan yang nyata. Sambil memegangi ponsel yang simcard nya baru saja ia lepaskan, rasa sakit di sekujur tubuhnya seakan hilang ketika membayangkan bagaimana reaksi Sisil saat ini.


"Pasti wajah lo pucat sekarang." Seringaian di bibir Beno melebar tatkala membayangkan wajah Sisil. "Pasti sekarang lo lagi kebingungan sambil berusaha menelepon ke nomor ini." Tawanya puas.


Beno lalu meremas ponsel itu hingga kuku-kuku jarinya memutih. Dia begitu kesal. Dan mungkin saja, dendam amarah yang tersimpan begitu dalam sehingga dia tidak bisa mentolerir lagi tindakan Sisil yang terlalu merendakannya.


"Kita liat. Lo atau gue yang akan menyerah pada akhirnya, Sisil! Jangan lo pikir gue main-main karena lo anggap gue gak punya bukti. Lo salah! Gue udah mempersiapkan semuanya sebelum lo anggap gue cuma sekedar kuman yang patut lo basmi!"


Geraman yang disertai suara yang meninggi membuat amarah Beno meluap-luap. Belum lagi kejadian menjengkelkan saat dia dipukuli habis-habisan oleh James yang entah dari mana datangnya tanpa bisa berbuat apapun meski hanya sekedar melawan.


Padahal, hanya tinggal beberapa senti saja jemarinya menembus ke kelembutan kulit Sisil yang mampu membuat hasratnya bergejolak kuat. Tetapi, hal yang dibayangkannya itu hancur dengan datangnya James yang menjadi pelindung sekaligus pahlawan untuk Sisil.


Rahangnya mengetat saat mengingat wajah James yang begitu melekat dalam pikirannya. Suara ancamannya yang terngiang-ngiang di telinga seolah tidak mau hilang meski dia pura-pura lupa. Tetapi, setelah dia mengirimkan beberapa foto satu malamnya dengan Sisil, Beno yakin, Sisil akan menghindari James dan memilih untuk menyelamatkan reputasinya sendiri daripada harus memberitahukan kejadian sebenarnya pada laki-laki itu.


Beno sangat mengenali Sisil. Perempuan itu, lebih mementingkan egonya dari pada harus berkata jujur tentang keburukannya. Dan Beno yakin, setelah ini, Sisil akan mencarinya dan membuat kesepakatan padanya. Dan itu sangat menyenangkan baginya.


"Ayo! Cari gue, Sisil. Kita harus buat kesepakatan yang saling menguntungkan." Serunya puas disertai tawa mengerikan .