
Sesuai janjinya semalam, Dimas sudah sampai di depan rumah Meila dengan mobil terparkir di bawah pepohonan rindang. Dia sengaja datang lebih awal agar Meila tak menunggu terlalu lama, karena dia pikir lebih baik dirinya yang menunggu meski itu lama daripada harus membiarkan gadis itu yang menunggunya.
Tak sampai lima menit, gadis yang ditunggunya keluar dengan langkah sedikit terburu-buru menghampiri seseorang yang sedang menunggunya. Dimas sudah menghubungi Meila sejak dia baru tiba di depan pintu gerbangnya.
Senyumnya mengembang begitu matanya menangkap sosok pria yang sedang memperhatikannya dengan lekat penuh antisipasi. Pria yang sedang berdiri menunggunya dengan tubuh tegap besandar pada sisi pintu kanan kemudi mobil sambil bersedekap.
Penampilan Meila begitu manis dan simple hari ini. Dengan kaos pendek tebal bermotif garis-garis yang sangat pas dengan porsi badannya, tidak kelonggaran namun tidak juga kekecilan, dan rok midi dress dibawah lutut dengan rempel di bagian atasnya yang langsung jatuh bagai air terjun ketika bersentuhan dengan lututnya ketika berjalan.
Ditambah flat shoes berwarna peach pastel dengan hiasan pita diatasnya dan rambut panjangnya yang dia biarkan tergerai begitu saja sambil sesekali menyelipkan anak rambut dibelakang telinganya, semakin menambah kesan manis didirinya.
"Selamat Pagi..." Sapa Meila sambil tersenyum ketika langkahnya berhenti tepat dihadapan Dimas.
"Selamat Pagi..." jawab Dimas tak kalah lembut seakan menirukan kalimat Meila.
Mata itu rupanya belum selesai menyusuri keseluruhan yang ada pada diri gadis itu. Meila mengernyitkan alisnya mempelajari kemana arah mata elang itu. Dia melakukan hal sama, menyusuri dirinya sendiri dengan lekat dan mengalihkan pandangannya kembali pada pria di hadapannya.
"Kenapa, kak? Ada yang aneh sama penampilan aku? Atau... make-up aku terlalu tebal, ya?" Meila terperangah ketika menyadari senyum Dimas semakin mengembang terkekeh karena wajah paniknya.
"Sempurna! terlihat cantik dan manis!" Lagi-lagi Dimas memberikan senyuman jahilnya dengan membungkukkan sedikit tubuhnya ke arah Meila.
"Hah..???" Meila terperangah, "ada-ada aja deh... masih pagi, kak! dilarang ngegombal." Semprot Meila pada Dimas yang tak henti-hentinya menggoda.
Dimas terkekeh, kemudian dia ingat akan luka memar di kening Meila dan seketika matanya langsung beralih kekeningnya. "Gimana keningnya? Masih sakit?" Dimas bertanya lembut dengan menyelipkan nada perhatian didalamnya.
Meila tersenyum lembut, "Udah nggak, kok. Paling... tinggal sisa memarnya aja yang masih sedikit keliatan."
Jawabannya itu langsung dimengerti oleh Dimas, dia menganggukkan kepala dan setelahnya mengambil kunci mobilnya dari saku celana jeansnya.
"Kita berangkat sekarang?" Sambil memainkan kunci mobilnya, dia bertanya pada Meila untuk meyakinkan.
Tidak perlu menunggu lama, Meila langsung mengangguk cepat dan dengan sikap elegan, Dimas mempersilahkan Meila berjalan melewatinya layaknya pangeran memperlakukan tuan putrinya. Dimas membukakan pintu untuknya, ada rasa geli ketika Dimas memperlakukannya sangat formal berbeda dengan sikap biasanya. Setelah menutupkan pintu untuk Meila dan memastikan gadis itu telah duduk dengan nyaman, dia langsung berjalan memutari mobil menuju samping kemudi dengan seulas senyum diwajahnya.
●●●
"Rendy ada kejutan buat kamu!"
Suara Dimas memecah keheningan didalam kabin mobil itu, seketika Meila langsung menolehkan kepalanya sambil memasang wajah antusias seolah menggambarkan ketidaksabaran.
Matanya mengerling, "Kejutan apa?" Meila bertanya dengan nada antusias dengan sedikit memiringkan posisi duduknya.
"Nanti juga kamu tau. Kalo aku kasih tau, bukan kejutan namanya." Dimas menyunggingkan senyumnya sambil menoleh gemas.
Meila mengerucutkan bibirnya sejenak, kembali dia berucap. "Sedikit aja nggak mau kasih tau gitu, kak?" Tanyanya lagi sambil memasang wajah memelas, alih-alih Dimas akan terpancing. Tapi reaksi Dimas sungguh diluar harapan Meila, pria itu tetap keukeuh untuk tak terpancing pada rengekan gadis disampingnya itu. Justru malah memasang senyum dengan mengedikkan bahunya cuek.
"Sabar... Sebentar lagi kita sampe! Nanti kamu akan tau sendiri apa kejutannya." Dimas memberikan jeda pada kalimatnya, dia menoleh sejenak, "Okay?" Sambungnya lembut menenangkan pada gadis disampingnya.
Meila menurut, tak bertanya lagi dan sekuat tenaga menenangkan diri agar sifat penasarannya bisa terkendali. Dimas pun tahu itu, karena sifat polos seperti Meila terkadang seperti anak kecil yang tidak sabaran menunggu sesuatu yang telah dijanjikan, namun sifat kekanakan yang ada pada gadis ini sungguh tak semenyebalkan layaknya anak kecil pada umumnya, justru malah menyenangkan untuk digoda dan dijahili.
●●●
Mereka turun dari mobil dan langsung mendapatkan tatapan heran sekaligus mengejutkan dari para siswa dan siswi yang berlalu lalang melewati. Ini seperti sebuah rekor yang terpecahkan karena kali pertama selama mereka berkuliah di kampus ini melihat Meila yang jarang terlihat dekat dengan seorang pria atau hanya sekedar datang bersama, kecuali hanya Rendy yang selalu menempel padanya.
Sikap tatapan penuh intimidasi itu sedikit berpengaruh pada Meila, dia sedikit canggung dengan tatapan-tatapan aneh penuh tanya yang ia lihat ketika mereka melintasi koridor demi koridor. Ditambah lagi dengan tatapan siswi yang menampilkan tatapan iri ingin berlomba-lomba mendekati Dimas yang notabene-nya sudah termasuk dalam idola kampus pendatang baru yang langsung mengungguli kandidat pria-pria didalamnya. Begitupun dengan para pria yang selalu mepet-mepet penuh harap agar setiap perhatiannya tersentuh oleh hati Meila. Tatapan itu lebih kepada tatapan patah hati, bukan tatapan iri.
Dimas yang berjalan santai dan terkesan cuek dengan tatapan-tatapan aneh itu justru malah semakin ingin meledek.
"Kenapa? Kamu risih dengan tatapan-tatapan mereka?" Ucapan Dimas langsung tepat sasaran. Meila menengadahkan kepalanya, dirinya bingung untuk menjawab pertanyaan pria disampingnya.
Sambil menaikkan ujung bibirnya, dia mengambil tangan Meila dengan lembut dan menggenggamnya erat tanpa mempedulikan reaksi terkejut yang ditunjukkan secara terang-terangan dari mereka. Apalagi yang akan dilakukan Meila sekarang? Dirinya terlalu lamban untuk memprovokasi logikanya ketika perasaannya sendiri bertentangan dengan apa yang dipikirkan.
Dimas terkikik sendiri, merasa gemas, didetik itu juga sifat jahilnya muncul ingin sekali menggoda Meila saat itu juga, "Tumben kamu nggak berusaha menghindar, biasanya baru ditatap sedikit aja... udah berubah tuh pipi kayak buah apel." masih tertawa dengan menampilkan giginya, dia menoleh ketika pikiran nakal melintasinya. "Atau jangan-jangan......"
"Mau gimana lagi? Meskipun aku menghindar juga, kak Dimas tetep akan usaha, kan?" Sanggah Meila cepat sambil memutar bola matanya. Dan sikapnya yang spontan itu malah semakin membuat Dimas tergelak puas.
"Gadis cerdas!" Ucap Dimas menambahkan yang langsung ditanggapi Meila dengan cengirannya yang khas.
Seperti dugaannya, Rendy telah sampai diruang senat menunggu kedatangan adik dan sahabatnya. Mereka memasuki ruangan dengan Meila terlebih dulu disusul dengan Dimas dibelakangnya yang langsung menutup pintu. Rendy terlihat sedang mengotak-atik layar pipih didepannya dengan tatapan serius namun tampak tenang berbeda dengan beberapa hari lalu yang terlihat kusut begitu dihadapkan dengan layar laptop.
"Selamat pagi, kak Rendy.." suara Meila lantang dengan nada cerianya yang kental.
"Selamat pagi, adik manis! Akhirnya yang ditunggu-tunggu dateng juga." Goda Rendy pada adiknya yang tak kalah semangat menyapanya.
"Pagi, bro!" Dimas menyapa Rendy dengan santai dan langsung mengambil alih kursi untuk Meila duduk disamping Rendy.
"Gue pikir... lo cuma bercanda begitu lo bilang bakal dateng bareng adek gue." Rendy tertawa ringan dengan menaikkan kedua alisnya.
Dimas mendengkus pelan, mengedikkan bahunya acuh. "Gue nggak pernah bercanda sama ucapan gue, bro! Terutama... sama adek lo ini." Dimas meledek dengan memainkan alisnya naik turun ke hadapan Meila.
Dan itu membuat Meila sedikit jengah dengan pembicaraan dua pria dihadapannya itu. Dia tak sabar ingin mendapatkan kejutannya.
"Untuk para pria, bisa nggak pembicaraan kalian dilanjut nanti? Sekarang, biarin aku nagih kejutan yang katanya buat aku itu.. Mana? Mana kejutannya?" Meila tak sabar menunggu kejutan yang sudah disiapkan Rendy untuknya dengan menengadahkan telapak tangannya seperti anak kecil yang meminta uang jajan pada ibunya.
Dua pria itu saling bertukar pandang dan terkekeh bersama. Sikap kedua pria dihadapannya itu benar-benar aneh dan berhasil membuat Meila menyipitkan matanya kesal penuh intimidasi.
Rendy berdehem, "Oke... oke..." sela Rendy di tengah-tengah tawanya. Kemudian dengan hati-hati dia memutar laptop, memposisikan agar Meila dapat dengan leluasa melihat apa yang ada didalam laptop itu.
Dahinya mengernyit dalam ketika dihadapkan dengan layar laptop yang menggambarkan begitu banyak urutan data-data yang telah ter-input kembali secara rapi. Meskipun tak se-semaksimal seperti semula, setidaknya penggambaran data-data itu telah mampu membuat mata Meila membelalak kagum akan kecekatan dan kesigapan mereka dalam membantunya dan selalu siap pasang badan membelanya.
"Kak...... i-ini beneran?" Ekspresinya sungguh diluar dugaan, bukan ekspresi bahagia dengan melompat-lompat kegirangan atau ekspresi berlebihan lainnya, tetapi malah ekspresi haru bercampur bahagia.
"Seperti yang kamu liat!" Rendy menggedikkan bahunya, lalu bersedekap.
Dimas yang tak tahan untuk tak ikut berpartisipasi mengeluarkan ekspresinya, dengan gerakan cepat dia mencubit pipi Meila gemas. Tindakannya itu membuat Meila tak bisa menghindar dan mengelaknya.
"Sakit, kan? Ini bukan mimpi. Ini nyata!" Dimas tergelak puas karena sekali lagi telah berhasil menjahilinya.
Meila mengalihkan kembali pandangannya pada layar laptop itu, matanya menyusuri keseluruhan data yang ter-input dengan rapi sambil sesekali memainkan kursor, menaik-turunkan tanda panah pada mouse sambil memajukan tubuhnya dengan ekspresi wajah kagum.
"Perfect! Ini perfect, kak! Kok bisa? Gimana caranya data-data ini...... Bukannya hampir semuanya hilang dan nggak bisa dikembaliin lagi?" Meila memberondong pertanyaan demi pertanyaan yang ada dikepalanya. Karena terkejut, otaknya menjadi lamban dan malah mengumpulkan pertanyaan beruntun.
"Kamu pikir... kakak kamu ini udah berapa lama menjabat jadi ketua senat?" Rendy memajukan tubuhnya, membaca ekspresi wajah Meila yang mulai memasang wajah sedang berpikir keras.
"Udah lama banget!" Jawabnya polos, mungkin benar kalau ucapan itu adalah doa, salah satunya Rendy yang selalu bilang bahwa adiknya itu adalah cewek polos, dan sekarang memang terbukti kepolosannya.
Rendy terkekeh geli, begitupun dengan Dimas yang juga tergelak melihat kebingungan yang ditampilkan dari wajah gadis yang disukainya. Meila merasa bingung ditertawakan oleh dua pria di antara dirinya. Dia menoleh ke kanan dan kiri bergantian, menatap keduanya dengan tatapan intimidasi.
"Kenapa kalian malah ketawa? Emang ada yang lucu sama ucapan aku?"
Suara kekehan itu memelan, mereka berusaha menetralkan diri masing-masing hingga kemudian Rendy kembali bersuara, menjelaskan. "Sebelum aku meng-input data ke laptop ini dan menyimpannya, aku selalu bikin hard-copynya terlebih dulu, kemudian hard-copy itu aku simpan dengan rapi ditempat yang hanya aku aja yang tau. Takut-takut kalau ada kejadian seperti ini, minimal kita bisa menyalin kembali data-data atau draft laporan tugas kegiatan yang telah kita susun sebelumnya. Ya... minimal dengan begini kita masih bisa tertolong dengan adanya hard-copy ini." Rendy menjelaskan dengan sabar pada Meila agar dapat dicerna oleh kepala mungilnya itu.
"Kenapa kamu nggak bilang sama aku sih, kak? Aku tuh stress mikirin gimana caranya data-data ini bisa kembali lagi. Belum lagi ucapan pak Andre yang masih terngiang di telinga aku sampe sekarang." Meila merajuk dengan memasang muka memelasnya yang jika siapapun dihadapkan dengan ekspresi seperti itu, tak akan ada yang mampu untuk menolaknya.
Rendy menarik napas dalam, menundukkan kepalanya kemudian menatap kembali pada Meila. "Maaf... kemarin aku juga hampir putus asa karena lupa meletakkan hard-copy itu dimana. Seandainya aku bilang ke kamu kalo aku punya hard-copynya tapi aku sendiri nggak tau atau lupa meletakkannya dimana, itu sama aja dengan menambah beban pikiran kamu, Mei. Sedangkan kita hanya diberi waktu tiga hari sama pak Andre untuk menyelesaikan ini, dan aku baru menemukannya kemarin. Melihat kamu yang terus-terusan merasa bersalah, aku nggak bisa menambah beban pikiran kamu lagi."
"Okay... Aku maafin.." suaranya memelan. "Aku... aku juga minta maaf, karena... harusnya aku juga ikut andil menyelesaikan masalah ini. Malahan kalian berdua yang aku repotin terus sedangkan aku nggak berbuat apa-apa." Ucap Meila terbata dengan nada bersalah yang tak ditutupi.
Sikap Meila yang mendadak mellow itu membuat kedua pria disampingnya saling bertukar pandangan dan merasa iba karena rasa bersalah yang masih ia simpan.
Dimas benar, tujuan pelaku bukan pada obyek tetapi pada subyeknya. Mereka mengincar target yang mudah sekali terintimidasi, sehingga target merasa dipojokkan dan merasa bersalah berkepanjangan. Mereka akan terus memikirkannya, dengan frekuensi sesekali rasa bersalah itu akan naik ke permukaan meski permasalahannya sudah dituntaskan. Dan sepertinya pelaku memang berhasil mengincar Meila yang memiliki sifat lembut dan kepekaan tinggi, terbukti dia masih menyimpan rasa bersalah yang berkepanjangan sampai detik ini.
"Kamu nggak perlu merasa bersalah terus-terusan seperti ini, Mei. Kamu nggak perlu takut akan menghadapi ini sendirian, ada kita yang akan siap dibelakang kamu kapanpun kamu butuh. Kita hadapi ini bersama-sama. Ya... meski aku baru bergabung disini, tapi aku seneng bisa bantu kalian dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan kalian." Dimaslah yang memecah suasana jengah dan perasaan tak enak yang menyesakkan dihampir seluruh ruangan itu. Dengan senyumnya yang menenangkan, dia berhasil membuat senyum gadis itu membingkai wajahnya kembali.
"Terima kasih banget buat kalian yang udah bersedia membantu aku. Aku sungguh terharu. Aku senang bisa kenal sama kalian. Kalian sungguh pria-pria baik!" Senyumnya tak bisa ditahan lagi, dia sedikit geli mendengar ucapannya sendiri yang terdengar aneh.
Dimas dan Rendy terkejut dengan ucapan gadis polos ditengah-tengah mereka itu, mereka tak habis pikir, kata-kata yang keluar dari bibir gadis polos itu terdengar seperti celotehan anak kecil berusia lima tahun. Dan itu berarti, Meila sudah tidak apa-apa. Gadis ini baik-baik saja. Dirinya sudah berhasil menekan rasa bersalahnya dan berusaha tidak membiarkan perasaan itu naik kembali ke permukaan.
Mungkin bukan Meila yang beruntung bisa mengenal mereka. Tetapi mereka lah yang sangat beruntung bisa mengenal gadis ini. Gadis unik, polos dan ceria yang bisa membuat mereka rela melakukan apapun demi menjaga dan melindungi. Kedua pria ini sudah berjanji, mereka akan berusaha menjadi tempat berlindung Meila dan tak perlu untuk segan-segan meminta perlindungan darinya. Karena mereka tahu, mereka tak akan rela jika gadis itu terluka atau tersakiti meski hanya seujung kuku.