A Fan With A Man

A Fan With A Man
Meningkatkan Penjagaan



Sisil tampak tertidur pulas di dalam mobil ketika dalam perjalanan menuju apartemen James. Perjalanan menuju apartemen yang biasanya hanya memakan waktu satu jam, kali ini tampak lebih lama dan hampir memakan waktu dua jam. Bukan James yang tidak peka dengan menyadari Sisil yang mulai menguap berkali-kali dengan mata yang berair.


Dan tidak lama kemudian Sisil pun jatuh terlelap dengan kepala yang nyaris membentur kaca mobil. Beruntung suasana sedang macet tanpa pergerakan sedikitpun. Sehingga James langsung bisa menahan kepala Sisil dengan tangannya agar tidak sampai terbentur kaca. Lalu membenarkan posisi kursi dengan menekan tombol yang ada di bawah kursi menjadi posisi setengah berbaring. Hal itu bertujuan agar Sisil bisa tertidur dengan posisi yang nyaman.


Sisil tampak begitu kelelahan. Wajahnya yang masih sedikit sembab begitu kentara di bawah pantulan cahaya dari luar kaca. Dan tindakan James yang memilih untuk membawanya kembali ke apartemennya adalah hal yang bijak. Sebab, dia juga tidak mungkin memberi jawaban yang sebenarnya jika Sisil sendiri tidak menginginkannya.


Setelah James memarkirkan mobilnya di basement, dia langsung menuju kursi samping dan membawa Sisil dalam gendongannya. Dengan penuh kehati-hatian James menggendong Sisil memasuki lobby apartemen hingga menuju lift khusus. Berada berdua saja di dalam lift  membuat James tidak membuang-buang waktunya untuk memperhatikan Sisil yang langsung merebah ke dadanya dengan kepala yang lunglai. Bahkan itu menimbulkan senyuman di bibir James.


Saat lift berdenting tanda mereka sudah sampai, James langsung membawanya ke kamar dan membaringkannya di atas ranjang. Menyelimutinya hingga batas dada sebelum kemudian mengusap lembut kepalanya sembari berucap setengah berbisik.


"Tidurlah, Sisil. Tidurlah dengan lelap. Istirahatkan tubuh serta pikiranmu."


Setelah mengucapkan kalimat itu, James langsung keluar dari sana dan membiarkan Sisil yang dengan dengkuran halusnya mengistirahatkan diri sejenak. Sambil perempuan itu mengembalikan energinya sebelum nanti James akan benar-benar mengantarnya pulang.


●●●


Dimas terlihat serius menghadapi lima anak buahnya dari tim keamanan. Lima orang tersebut adalah tim utama yang bertugas memantau sekaligus juga yang mengerahkan semua tindakan yang harus dijalankan jika ada pergerakan mencurigakan atau hal ganjil yang terjadi.


"Jadi bagaimana perkembangannya? Tidak ada pergerakan mencurigakan setelah kemarin, kan?"


"Tidak, tuan. Kami telah mengawasi dan mengecek apapun dengan teliti. Tetapi kami tidak menemukan adanya keanehan. Hanya rekaman itu saja yang telah kami kirimkan."


Dimas mengangguk puas. "Bagus. Terus pantau area sekitarnya. Laporkan padaku jika ada sedikit saja hal yang mencurigakan. Aku tidak mau membuat Meila cemas dan ketakutan karena harus menghadapi hal yang sama berulang-ulang."


"Baik, tuan."


"Ah, dan satu lagi. Untuk beberapa hari ke depan, aku akan sibuk di kantor dan mungkin Meila akan dijemput oleh Henry. Disaat aku tidak bersamanya, tingkatkan sistem keamanan di luar dan juga di dalam rumah. Bisa saja dia diikuti oleh target yang sedang berusaha kita jauhkan darinya."


"Baik, tuan. Kami akan menambahkan beberapa penjaga untuk meningkatkan keamanan."


Dimas mengangguk puas dengan jawaban yang orang itu berikan. Dan setelah memastikan semuanya benar-benar sesuai dengan apa yang diperintahkannya, dia pun beranjak pergi dari ruangan itu untuk segera menemui Meila lagi yang mungkin masih belajar di dalam kamar.


Tetapi sebelum itu, Dimas berpikir untuk membuatkan segelas jus segar untuk Meila. Sebab dia tau, kekasihnya itu begitu menyukai jus buah segar tanpa gula dengan sedikit creamer. Dimas pun langsung menuju dapur dan membuatkan jus buah strawberry dengan tambahan sedikit creamer sebagai pemanis diatasnya. Tak sampai 10 menit, jus itu telah siap dan segera Dimas membawanya ke balkon kamar tempat dimana Meila sedang berkutat dengan buku dan alat tulisnya.


Dengan menaiki anak tangga menuju kamar, langkah Dimas memelan memasuki kamar. Dimas membuka pintu kamar dengan perlahan diawali dengan sedikit mengintip dari balik pintu. Dan sosok mungil yang dicintainya masih terlihat tekun dan serius di sudut kamar bagian balkon dengan rambut terurai karena angin yang meniup-niup wajahnya.


Dimas berjalan mendekati Meila sambil memasang senyum. Disusul oleh suara lembutnya yang khas yang langsung membuat Meila menoleh dengan segera.


"Pacar aku masih betah disini rupanya."


Meila tersungging dengan wajah cerah dan rambut berantakan terkena angin.


"Iya. Baru aja. Sebelum naik kesini aku membuatkan ini buat kamu. Ini, diminum dulu jusnya." Dimas pun memberikan jus itu kepada Meila dan menempatkan dirinya duduk di sebelahnya.


"Terima kasih," ucap Meila dengan senyum manisnya. "Kenapa cuma satu? Kamu nggak?" Tanyanya ketika hanya melihat satu gelas jus saja yang dibawa oleh Dimas.


"Kekasihku yang mungil lebih membutuhkannya. Aku bisa membuatnya nanti." Ujar Dimas sambil membenarkan rambut Meila yang berantakan tertiup angin. Mendengar jawaban Dimas, sontak membuat Meila mengerucutkan bibirnya malu-malu. Dan untuk menyamarkannya Meila langsung meminum jus segar itu dengan segera.


Tentu saja Dimas menyadarinya. Sebab, memang itulah tujuan Dimas menggodanya. Ingin membuat kekasihnya malu dan salah tingkah.


"Apa ada yang kamu nggak mengerti?"


Meila seketika menggeleng. "Nggak ada. Masih aman. Aku masih bisa mempelajarinya."


"Good girl." Dimas memberikan pujian untuk Meila sambil mengusapi kepalanya dengan sayang. "Aku tau kemampuan pacarku. Aku yakin, pasti besok kamu bisa menjawab semuanya."


"Kalimat itu sebagai semangat atau pujian sebelum berperang?" Dengan gayanya yang lucu, Meila bertanya dengan polos.


Dimas langsung tergelak mendengarnya. Dia lalu menyelonjorkan kakinya dengan tubuh bersandar ke kaca besar belakang balkon. Kaca yang menghubungkan antara kamar dengan balkon yang menyatu.


"Oh, iya. Apa kamu ke ruang cctv barusan?"


Dimas melirik sembari menipiskan bibirnya. "Iya."


"Jadi benar orang yang aku lihat semalam itu adalah... Dia?"


Dimas pun mengangguk. Lalu merangkulkan tangannya ke bahu Meila. " Tapi kamu gak perlu khawatir. Aku udah memerintahkan mereka untuk menambahkan pengawasan dan juga pengamanan buat kamu." seru Dimas menenangkan.


Sekarang giliran Meila yang mengangguk. Lalu dia mengingat lagi untuk menanyakan hal yanh cukup penting pada Dimas.


"Lalu, apa penambahan dan pengawasan itu juga berlaku selama di kampus?"


Dimas memulas senyum lembut. "Tentu, sayang. Justru itu adalah tempat yang mungkin rawan untuknya menerobos penjagaan. Sebab, sangat besar kemungkinannya jika berada di tempat umum. Dan sebaliknya, itu akan memudahkannya untuk melakukan hal yang tidak terpikirkan oleh kita."


"Tapi... aku nggak mau terlihat mencolok sama teman-temanku ketika di kampus. Aku takut mereka salah faham."


Dimas merasa gemas sampai mengelus-ngelus pipi Meila yang kenyal.


"Aku udah memikirkan itu sebelumnya. Kamu nggak perlu memikirkan itu. Aku yakin, mereka nggak akan mencolok di depan teman-temanmu. Mungkin kamu pun juga nggak akan mengenali mereka nanti."


Meila pun tersenyum lega. Dia memberikan senyuman termanisnya pada Dimas yang saat itu langsung membuat Dimas ingin sekali mengigit pipinya yang menggembung ketika tersenyum dengan wajah berseri-seri. Tetapi hal itu langsung Dimas urungkan. Karena dia tidak mau terburu-buru. Baginya, masih banyak hal positif lain yang akan dia lakukan bersama kekasihnya itu.