
Suasana kampus tampak ramai. Dikelilingi dengan para mahasiswa yang berdatangan juga bergerombol untuk masing-masing memasuki kelas. Tak terkecuali Meila, sekarang dia sudah berada di kampus dan akan memasuki kelas untuk mengikuti jam mata kuliah pertamanya.
Diantar oleh Dimas dengan tangan yang saling bertautan, mengantarkannya sampai depan kelas yang sudah penuh oleh siswa. Diliriknya kelas itu, dilihatnya Airin yang tampak melambaikan tangan padanya untuk segera memasuki kelas. Meila pun membalas lambaian itu sambil tersenyum.
"Saatnya aku masuk kelas!" Meila berseru penuh semangat.
Tangan Dimas beralih mencubit pipi Meila dengan gemas, "belajar yang pintar, ya? Jangan mikirin aku terus." Ledeknya dengan menggoda.
Meila membelalak dan mendesis disaat yang bersamaan. "Issh! Kamu kepedean, ya, kak."
Sambil terkekeh, Dimas memajukan wajahnya sedikit sambil berbisik. "Tapi benar, kan?"
Meila memberengutkan bibirnya dengan malu-malu, lalu Dimas mencubit gemas dagu itu dan sedikit memajukannya.
"Sayang sekali ini di kampus. Kalo nggak, udah aku cium bibir kamu yang menggoda ini." Ucapnya menggoda hingga menimbulkan semburat merah di tulang pipinya.
"Kak Dimas!" Cebiknya dengan mata yang membelalak penuh peringatan. Dimaspun terkekeh melihat perubahan wajah Meila yang malu-malu dan berusaha memalingkan wajah darinya.
Tatapan Dimas pun akhirnya melembut, digerakkannya jarinya untuk mengelus pipi Meila yang bersemu merah itu sambil mengucapkan sebuah kalimat.
"Udah waktunya kamu masuk. Aku juga harus ke ruang senat. Kita ketemu saat jam makan siang, nanti. Okay?"
Dimas memerintah dengan suara lembutnya, membuat Meila yang mendengarnya menghangat seketika dengan nada perhatian yang diselipkan pada kalimat Dimas untuknya.
Setelahnya, Meila mengangguk sambil menghadiahkan senyuman paling manisnya untuk Dimas. Sementara Dimas, memastikan sampai Meila benar-benar masuk ke dalam kelasnya. Dia lalu berjalan menuju ruang senat, tempat dirinya akan menyelesaikan tugas yang belum terselesaikan sebelumnya. Dia harus membicarakan beberapa konsep kerja pada Rendy sebelum dia memulai menjalankannya.
Dimas memasuki ruang senat, matanya langsung menangkap sosok Bryant bersama anggota lainnya dengan kesibukan masing-masing. Ada juga Vika yang duduk di bagian ujung yang sedang fokus pada laptopnya.
"Dim, baru dateng?" Sapa Bryant saat melihat kedatangan Dimas.
"As you see, Yant. Gue abis anter Meila dulu ke kelasnya." Dimas menyahuti dengan tegas sambil membawa bokongnya ke kursi.
Bryant berdehem meledek, "makin lengket aja, ya ni anak. Nggak heran sih, gue." Kekehnya pelan.
Dimas menyeringai mendengar ejekan yang dilontarkan Bryant. "Sama halnya kayak lo, kan?"
Mereka tergelak bersama, suaranya memenuhi isi ruangan sampai Dimas menyadari kalau Rendy tidak ada di ruangan itu. Matanya mengekori tiap sudut ruangan seolah penuh tanya. Sebab, tidak biasanya Rendy seperti itu. Dia pasti sudah ada dalam ruangan itu dengan tugas-tugas di tangannya.
"Anyway... Rendy kemana? Belum dateng?" Dimas bertanya pada Bryant yang masih belum berhenti dari tawanya. Lalu, beralih melirikkan matanya pada Vika yang tampak pura-pura tidak mendengar pertanyaannya.
"Vika, kamu tau, Rendy dimana?" Tanya Dimas memancing.
Seketika Vika tergeragap, dirinya berubah salah tingkah dan bingung untuk menjawab apa.
"Mmm... itu, mungkin belum datang. Aku... juga belum liat dari tadi." Sahut Vika sekenanya.
Tak berapa lama, orang yang sedang dibicarakan akhirnya datang. Menampilkan wajah suram tak terbaca sambil membawa langkahnya mendekati meja. Aura ruangan itu berubah seketika. Tegang. Tanpa bersuara ataupun menyapanya. Hal sama pun terjadi, tanpa berniat bertanya pada Rendy, mereka memilih bungkam dan memperhatikannya dengan wajah bingung penuh tanya.
Namun, hanya Dimaslah yang berani bertanya pada Rendy. Dengan sengaja menyapanya begitu pria itu menarik kursi untuk mendudukkan bokongnya dengan kasar.
"Tumben, Ren, baru dateng. Biasanya lo dateng lebih dulu dari gue?!"
Terdengar gumaman dari mulut Rendy sebelum akhirnya pria itu menyahuti pertanyaan Dimas.
"Ada hal yang bikin gue terkejut dan kesal tadi." Suaranya terkesan menyindir disertai tatapan matanya yang membunuh. Nadanya pun terdengar dingin. "Yang bikin emosi gue memuncak dan harus meredamnya dulu sebelum masuk." Sambungnya lagi. Dan kali ini dengan aura dingin yang menusuk.
Namun, seolah menyadari, entah mengapa Vika merasa jika hal yang dibicarakan Rendy itu tertuju padanya. Dengan hati-hati, ekor matanya mencoba mengikuti keberadaan Rendy. Dan seketika, tubuhnya bergidik ngeri saat menyadari tatapan membunuh dari Rendy yang sedang memandanginya. Hal itu membuat Vika gelisah dan tidak nyaman.
Ada apa sama Rendy hari ini? Kenapa auranya begitu suram dan juga....menyeramkan!
Berusaha menghindarinya sambil menelan ludahnya kasar, perlahan Vika merapikan berkas beserta file-file miliknya, pun dengan laptopnya.
"Semuanya, aku izin permisi dulu." Ucap Vika dengan pelan dan terkesan terburu-buru.
Sikap Vika yang tiba-tiba rupanya telah mencuri perhatian Bryant juga Dimas. Bahkan sesekali, Dimas melirikkan matanya kepada Rendy dengan alis yang terangkat sebelah penuh selidik. Berusaha mencari tahu jika perubahan sikap Vika memanglah karena keberadaan dan sikap Rendy. Hal sama pun dilakukan Bryant. Pria itu tampak mengekori tingkah Vika, lalu bergantian kepada Rendy saat gadis itu sudah benar-benar keluar ruangan dan hilang di balik pintu.
"Ternyata benar yang Meila bilang, ada sesuatu diantara Vika dan Rendy." Gumam Dimas dalam hati.
Dan, setelah mengambil kesimpulan, Dimas pun diam tanpa bicara lagi. Membiarkan pengetahuannya tentang Rendy dan Vika ia simpan dengan rapat tanpa berniat untuk ikut mencampurinya. Dan jika memang sangat diperlukan, mungkin dia akan sedikit menggali dengan pelan-pelan dengan cara menanyakannya langsung pada yang bersangkutan tanpa di depan banyak orang seperti saat ini.
●●●
*flashback on
Secara tiba-tiba, Rendy menghadang mobil James saat pria itu akan melajukan kendaraannya yang baru saja keluar dari area kampus. Entah kapan datangnya, Rendy sudah berdiri di depan mobil James hingga membuat pria itu menghentikan mobilnya secara mendadak.
Dahi James mengerut disertai beberapa pertanyaan tentang siapa pria yang tiba-tiba menghentikannya itu.
Rendy mulai memutari mobil James sampai berhenti di depan kaca kemudi dan mengetuknya pelan, yang mengisyaratkan jika James agar segera keluar dari mobilnya. Namun, meski Rendy mengetuk kaca itu dengan pelan, terlihat jelas ada raut ketidaksabaran di wajahnya.
Dengan perlahan dan mengikuti, James pun keluar dari kemudi. Mendekati Rendy yang telah sedikit menjauhkan diri dari tempat keramaian. Tanpa membiarkan James memgambil kesempatan untuk bertanya, Rendy sudah lebih dulu mengucapkan apa yang mengganggunya sejak tadi. Bukan! Bahkan sejak beberapa hari lalu, sejak dia melihat kedekatan Vika bersama pria lain, yang tidak lain adalah pria yang sedang dihadangnya saat ini.
"Dengar! Gue nggak mau basa-basi. Ada hubungan apa antara lo sama Vika?"
Rendy bertanya spontan maksud dirinya menghentikan James. Dan sontak dahi James semakin mengerut kala Rendy tampak menahan emosi saat menekankan kata 'hubungan' dalam kalimatnya. James langsung mengerti sekaligus dapat langsung menebak siapa pria di hadapannya itu. Yang dengan beraninya, menghentikan dan menahannya dengan lancang.
Apa dia... pria yang bernama Rendy itu?
Sambil mengawasi, James menyusuri Rendy dengan raut wajah yang tak terbaca dan tampak santai seolah tanpa beban.
"Vika? Vika siapa yang lo maksud?" James menyahuti dengan bertanya balik disertai mata yang menyipit penuh selidik.
"Nggak usah pura-pura. Gue udah ngeliat semuanya. Dan gimana perlakuan lo ke dia tadi."
Mendenger pengakuan Rendy, membuat kedua alis James saling bertautan, tapi juga ada kesan geli di dalam hatinya.
Oh! Jadi, pria ini diam-diam telah melihat kedekatan kami tadi.
Ada sekilas senyum tipis di bibir James yang sangat samar. James sangat tahu jika Rendy sedang cemburu padanya. Namun, James juga tahu bagaimana perasaan seorang pria jika melihat wanita yang dicintai dekat dengan pria lain, terlebih lagi jika mereka terlihat sangat akrab.
"Nggak selamanya apa yang terjadi sesuai dengan apa yang dilihat. Mungkin ada kesalahpahaman yang tidak terbaca." James mencoba menyahuti dengan santai dan tenang.
James dapat melihat jelas jika saat itu api sedang menari-nari di bola mata Rendy. Pria itu terbakar api cemburu namun berusaha menutupi.
Rendy tampak mendesis, "kesalahpahaman lo bilang? Kesalahpahaman yang bagaimana sampai lo berani merangkul dan menyentuh dia dengan gampang?" Rupanya Rendy sudah terpancing oleh perkataan James.
James mendengus ringan, menunduk sekilas sebelum kemudian menjawab pertanyaan Rendy yang terdengar mengintimidasi.
Sambil mengangkat wajahnya dan dengan pembawaan yang tetap tenang, James berucap, "dengar, apa yang lo liat tadi dan mungkin udah pernah lo liat sebelumnya itu nggak seperti dugaan lo.
Semuanya terjadi begitu aja tanpa rekayasa. Akan ada saatnya lo mengetahui segalanya tanpa harus mengandalkan emosi. Dan pada saat lo mengetahui kebenarannya, gue yakin lo nggak bisa berbuat banyak, hanya ada sebuah pertanyaan yang dijawab oleh pertanyaan juga di benak lo. Dan gue harap, lo berhenti untuk buat perasaan Vika terombang ambing, Rendy. Beri dia kepastian tanpa harus menahan perasaannya lagi."
Kedua mata Rendy membelalak sempurna saat mendengar James menyebut namanya. Padahal, dia belum memperkenalkan dirinya tadi. Mungkinkah Vika sering membicarakannya?
"Apa maksud lo dengan 'mengetahui sebuah kebenaran'?" Sanggah Rendy seketika dengan mata penuh selidik. "Kenapa ucapan lo sama dengan apa yang Vika pernah ucapin ke gue? Sebenarnya ada apa diantara kalian, hah? Kenapa rasanya terlalu banyak teka-teki disini?
Jelasin sama gue ada apa? Gue nggak bisa nahan lagi jika sekali lagi, gue ngeliat kebersamaan kalian! Dan gue nggak yakin kalo gue nggak akan berbuat sesuatu yang akan membuat lo menyesal nantinya!"
Dan benar! Rendy sudah terpancing oleh emosinya sendiri. Pria itu sampai meninggikan nada bicaranya, bahkan sampai mengeluarkan kata-kata ancaman untuk tidak membiarkan mereka bersama.
Berbeda dengan Rendy, James justru terlihat masih santai. Pria itu tampak mendengus ringan sebelum kemudian menyahuti ancaman Rendy.
"Silahkan! Silahkan lakukan apapun yang lo mau sama gue. Tapi, ingat! Jangan buat Vika semakin terpuruk dengan tindakan yang akan memperburuk hubungan kalian nantinya. Sebab, saat lo udah mengetahui sebuah alasan, bukan Vika yang akan menyesalinya, melainkan diri lo sendiri, Rendy. Camkan kata-kata gue. Hanya butuh waktu yang tepat buat lo menyadari semuanya." Pungkas James kemudian sebagai penutup pembicaraan mereka.
Setelahnya, James tampak membalikkan tubuhnya, berjalan kembali memasuki kursi kemudi. Meninggalkan Rendy seorang diri dengan perasaan penuh tanda tanya besar, disertai kekesalan luar biasa karena merasa sedang dipermainkan. Dengan tangan terkepal menahan emosi, Rendy tampak mengetatkan rahangnya. Matanya mengawasi James yang mulai menancapkan gas mobilnya, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang hingga akhirnya hllang dalam pandangannya.
Kebingungan Rendy semakin menjadi, pun dengan kekesalannya pada James dan juga Vika yang seolah kompak menyembunyikan sesuatu darinya. Dan Rendy semakin kesal karena merasa dipermainkan. Sedangkan dia, tidak mengetahui apapun dan entah bagaimana caranya untuk membuat Vika mau menjelaskan yang sebenarnya.
*flashback off
"Kenapa lo? Dari tadi... gue perhatiin kayak lagi kesal banget,"
Suara Dimas memecah konsentrasi Rendy yang sedang berkelana.
Seolah mengingat kejadian beberapa jam lalu, Rendy terlihat muram dan menyeramkan dengan tangan sambil mengepal pulpen dan sedang meremasnya kuat. Pria itu semakin kesal saat mengingat perkataan James yang sama dengan cara Vika berbicara. Dan itu malah menambah kekesalannya pada mereka, dan ingin segera menuntaskan rencananya untuk memaksa Vika menjelaskan semua yang disembunyikan darinya.
"Cuma masa lalu yang tiba-tiba muncul lagi, tapi memilih untuk bersembunyi. Bikin gue jengkel!" Geram Rendy menyahuti. Bahkan tangannya sampai harus menggebrak meja sambil melempar pulpen ditangannya.
Dimas tentu tau siapa yang Rendy maksud dalam kalimatnya itu. Dia menautkan kedua alisnya penuh selidik sebelum akhirnya mengucap dengan lantang dan spontan.
Kalimat Dimas itu tanpa sengaja telah membuat Rendy berpikir keras sekaligus mencerna. Dia berpikir, apa yang dikatakan Dimas tidaklah salah. Mungkin tidak ada salahnya jika dia harus sedikit melembutkan sikapnya pada Vika, serta menyingkirkan sedikit egonya pada gadis itu.
●●●
Jam istirahat akhirnya datang. Setiap mahasiswa berloma-lomba menuju kantin untuk mencari tempat duduk ternyaman guna mengisi perutnya yang mulai terasa lapar dengan makan siang. Tak terkecuali Meila, gadis itu rupanya sedang menyantap makan siangnya bersama Dimas setelah pria itu menghampirinya ke kelas.
Dimas sangat memperhatikan pola makan Meila akhir-akhir ini.
Apalagi semenjak gadis itu menderita radang tenggorokan yang disertai asam lambung. Membuatnya tidak bisa membiarkan gadisnya mengkonsumsi makanan sembarangan terutama makanan pedas dan berminyak. Terlebih lagi, Meila yang memang tidak menyukai makanan pedas sehingga tidak menyulitkannya untuk menghindari makanan itu.
"Udah makannya?" Tanya Dimas seketika saat dilihatnya Meila mendorong piring makanan dan beralih menyeruput jus strawberry miliknya.
Meila mengangguk seraya menjawab, "udah kenyang," lalu menyahuti disertai senyuman.
"Kak Rendy nggak makan siang, kak?" Meila menanyakan Rendy yang tidak terlihat keberadaannya.
Gadis itu tampak mengedarkan pandangan ke penjuru kantin yang penuh oleh mahasiswa.
"Masih di ruangan. Aku udah ajak dia. Dan.... dia bilang, masih ada tugas yang harus diselesaikan." Pungkas Dimas menjelaskan.
Meila hanya menganggukkan kepalanya sambil ber-oh ria.
Sedangkan Dimas, tampak mengawasi Meila sebelum akhirnya mengatakan sesuatu yang membuat perhatian Meila terfokus padanya.
"Mei, kamu bilang, Rendy dan Vika itu sempat memiliki hubungan."
Dimas memulai pembicaraannya yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Meila.
Dimas tampak menghela napasnya sebelum akhirnya menyambung kembali. "Hari ini... sikap Rendy sangat jauh dari biasanya. Terutama waktu dia datang dan memasuki ruang senat. Wajahnya tampak kesal penuh amarah. Sampai-sampai seluruh isi ruangan dapat merasakan aura kemarahan yang Rendy tunjukkan. Tapi, aku bisa menangkap kalo kemarahannya itu ada hubungannya sama Vika.
Karena... pada saat Rendy menguarkan aura membunuh dari tatapan matanya, tiba-tiba Vika langsung pergi dan menjauhi Rendy. Seolah... Vika lagi menghindari Rendy."
Penjelasan Dimas itu sedikit membuat Meila terpengaruh. Gadis itu sedikit terperangah dan tidak percaya.
"Beneran, kak?" Tanya Meila memastikan.
Dimas mengangguk seraya menjawab, "ya. Disitu juga ada Bryant. Bahkan... Bryant juga sampai memperhatikan Rendy dan Vika secara bergantian tadi." Pungkasnya.
Meila sedikit menggeser gelas jusnya ke samping. Melipat kedua lengannya ke atas meja sambil menghembuskan napasnya sesaat.
"Aku juga nggak tau sebenernya hubungan mereka kayak gimana, kak. Apa masih sama atau udah berubah. Tapi yang aku tau, mereka belum sepenuhnya putus dan masih sama-sama memiliki perasaan satu sama lainnya. Sejauh ini aku belum mendengar alasan penyebab dari renggangnya hubungan mereka. Tapi aku percaya, ada sebuah alasan yang belum terjelaskan. Mungkin waktunya belum tepat. Mereka hanya butuh berkomunikasi dengan baik untuk memulai pembicaraan dengan baik juga." Jawab Meila memberikan pendapatnya sambil mencetak sebuah senyuman tipis nan tulus di bibirnya.
Dimas tersenyum, terpesona, juga terkesima melihat sikap Meila yang lebih dewasa dari biasanya. Perasaannya membuncah bangga, namun tetap dia tidak mau kehilangan sifat manjanya padanya.
Melihat Dimas yang terdiam dan hanya menatapnya saja, membuat Meila menautkan alisnya bingung dengan sedikit mendekatkan wajahnya ke arah Dimas.
"Kak Dimas, kamu ngeliatin apa? Kok bengong?"
"Aku lagi ngeliatin kamu," jawabnya cepat tanpa keraguan. "Aku terpesona sama pacar aku yang mempunyai pemikiran dewasa kayak gini." Sahutnya lantang dan tulus. Terlihat dari pancaran matanya yang tampak tenang.
Meila tersenyum, namun tidak bisa menyembunyikan semburat merah di tulang pipinya karena pujian dari Dimas yang diberikan untuknya.
"Aku... belajar dari kamu," jawabnya polos dengan malu-malu.
Suaranya sangat pelan, nyaris tidak terdengar karena teredam oleh suara riuh rendahnya mahasiswa yang memenuhi kantin.
Jawaban Meila yang jujur itu tetap meninggalkan sifat polosnya. Membuat Dimas terkekeh dan tidak tahan untuk tidak menyentuhkan jarinya ke dagu Meila dan sedikit mencubitnya ringan yang syarat akan rasa sayang.
"Sayangnya aku." ucap Dimas tiba-tiba hingga berhasil membuat perasaan Meila melambung. Pipinya pun merah padam, hingga
Meila dapat merasakan hawa panas menjalari tulang pipi, wajah, dan menyebar ke lehernya.
Dan jika bisa, dia akan lebih memilih menyembunyikan wajahnya di balik bantal, merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang tidak karuan.
Oh My... perasaan apa ini? Rasanya.... seakan menggelitik seperti ada kupu-kupu yang singgah di perut aku.
●●●
"Jadi, kapan kak Vika akan cerita sama aku? Kamu masih punya hutang cerita loh, kak."
Seperti sedang membujuk, Meila tampak menyeringai layaknya anak kecil yang meminta sesuatu kepada orang tuanya dengan penuh permohonan agar dikabulkan. Mereka duduk dengan saling berhadapan.
Saat ini mereka sedang berada di perpustakaan. Setelah jam makan siang berakhir dan Meila memilih pergi ke perpustakaan untuk menyalin beberapa materi tugasnya. Guna memenuhi mata kuliahnya yang akan datang. Tanpa disengaja, dia menemukan Vika yang sedang sibuk mendata buku-buku di bagian belakang sudut perpustakaan. Vika memilih menyendiri karena dia tidak ingin ada yang mengganggu konsentrasinya. Namun, saat dia mulai bisa bernapas lega, tiba-tiba Meila mendatanginya dan mengatakan akan menemaninya karena dosennya yang tidak datang.
Terjebaklah Vika! Gadis itu tidak bisa melakukan sesuatu kecuali melunasi janjinya pada Meila untuk menceritakan semuanya padanya.
Melihat perubahan yang amat nyata di wajah Vika, membuat Meila merasa tidak enak hati dan berencana menarik ucapannya serta mengurungkan niatnya untuk membuat Vika menceritakan segalanya.
"Tapi, kak, kalo kamu belum siap nggak apa-ap......."
"Nggak, nggak. Nggak apa-apa. Aku akan ceritain semuanya sama kamu."
Vika tampak menghelas napasnya sesaat, matanya seolah menerawang, mencoba memutar kembali ingatan masa lalu yang membuatnya gemetar sampai sekarang.
"Semua itu... tiga tahun lalu. Dimana aku dan Rendy masih sama-sama SMA dan pacaran tanpa ada yang mengetahui hubungan kita. Dan cuma kamu yang tau itu, Mei." Diselipi senyum getir dalam nada suaranya. "Hampir setahun kita berhubungan, dan tepat pada suatu malam, Rendy ngajak aku makan malam ke sebuah restoran yang udah disiapkan olehnya. Aku nggak tau kalo malam itu ternyata dia udah membuat sebuah kejutan untuk merayakan satu tahun hubungan kita." Vika mulai membuka pembicaraannya. Dia berusaha bersikap tenang meski tangannya mulai dipenuhi keringat dingin.
"Tapi rupanya acara makan malam itu nggak bisa aku hadiri. Saat aku udah bersiap-siap dan akan mendatangi Rendy, tiba-tiba aku mendengar sesuatu yang pecah dari arah lantai bawah tepatnya dari arah dapur. Aku berlari dengan cepat karena perasaan aku yang tiba-tiba nggak enak, sehingga mendorong kaki aku buat cepat berlari untuk mencari tau."
Seketika suasana hening. Dapat juga Meila rasakan kesedihan mendalam dari tatapan mata kosong nan muram.
Tampak Vika menggigit bibirnya sambil berusaha berbicara. "A-aku... melihat papa udah tergeletak tidak sadarkan diri di lantai. Aku panik, cemas, sekligus takut. Tanpa pikir panjang aku langsung membawa papa ke rumah sakit. Beberapa menit papa diperiksa, dokter keluar dengan membawa kabar kalo papa di vonis terkena serangan jantung. Aku syok, lemas, dan nggak bisa berbuat apa-apa. Otak aku mendadak beku. Badan aku juga terasa lemas. Dokter menyarankan agar papa segera menjalani operasi jantung di Singapura. Aku langsung menyetujuinya. Tapi, rupanya sebelum menjalani operasi itu, papa udah menjodohkan aku kepada anak dari salah satu koleganya dan meminta agar aku bertunangan dengannya. Aku semakin syok. Aku nggak bisa mencintai pria lain selain Rendy. Hati aku nggak ingin menerimanya. Tapi, aku juga nggak bisa berpikir egois karena mengesampingkan nyawa papa." Suara Vika mulai terdengar bergetar. Matanya pun mulai berkaca-kaca.
Meila pun tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya terdiam membeku mendengar penjelasan menyedihkan dari bibir Vika yang menahan tangisnya. Dan disaat inilah Meila menyadari jika ini adalah sebuah kebenarannya. Kebenaran yang belum terjawab dan terungkap.
Perlahan, tangan Meila bergerak untuk menggenggam tangan Vika, meremasnya lembut seakan menyalurkan kekuatan dari sana.
"Tanpa sadar aku menyetujuinya. Karena, yang ada di pikiran aku saat itu, apapun akan aku lakukan asal papa selamat dan mau menjalani operasinya. Pikiran aku langsung dihantui rasa bersalah pada Rendy. Aku juga nggak bisa menghubungi Rendy karena aku harus fokus merawat papa di rumah sakit. Aku juga harus bolos sekolah karena nggak mau membiarkan papa sendirian. Karena aku juga nggak bisa jika hanya menyerahkan kondisi pada suster khusus aja. Sampai keadaan papa sedikit membaik, aku akhirnya memberanikan diri datang ke rumah Rendy. Itupun disaat papa mulai bisa tidak dengan nyaman. Aku meminta maaf pada Rendy, sekaligus menjelaskan semuanya, karena itu berkaitan dengan hubungan kita, kan?" Vika pun berhenti sejenak, tatapannya begitu pilu, seolah tidak mampu untuk melanjutkan kalimatnya. Sampai terbentuk sebuah garis senyum getir disertai air mata yang mulai mengalir ke pipinya.
"Rendy nggak menerima aku, Mei." Suaranya terdengar lirih dan perih. "Dia memutuskan hubungan kita sebelum aku menjelaskan semuanya. Bahkan dia mengusir aku dan meminta agar aku jangan menghubunginya lagi." Ada segaris senyum getir di tengah air mata yang menderas. "Aku sadar, sikap Rendy yang tiba-tiba berubah itu juga karena aku, kan? Aku terlalu pengecut untuk menghadapi dia."
Meila menjadi tidak tega dan merasa bersalah karena telah memaksa Vika bercerita. Dia sangat kasihan melihat kondisi Vika yang begitu menyedihkan. Matanya ikut berkaca-kaca, seolah dapat merasakan rasa sakit yang Vika rasakan.
"Lalu.... pertunangan itu?" Tanya Meila dengan hati-hati. Dia juga sangat ingin mendengar ceritanya sampai selesai. Namun, dia juga tidak tega membiarkan Vika meneruskannya.
Vika membawa pandangannya pada Meila, menatapnya nanar dengan mata sembab dan wajah yang basah.
"Tepat seminggu setelah papa di rumah sakit dan dokter menyatakan kondisinya sudah membaik, kita pergi ke Singapura untuk mengadakan pertunangan. Namanya James, James Anderson." Vika menyebutkan nama James disertai senyuman tulus.
"Dia sangat baik. Keluarganya juga sangat baik. Mereka sangat menerima aku. Aku pun sangat menghormati mereka karena papa.
Hingga akhirnya pertunangan kita selesai dan berjalan lancar. Tapi, rupanya rasa takut itu masih belum mau pergi dari aku, Mei. Beberapa jam setelah pertunangan, saat semua kolega dan keluarga besar James mengadakan jamuan makan malam, papa pingsan dan tidak sadarkan diri. Kami langsung membawa papa ke rumah sakit terdekat dan segera mengambil tindakan untuk melakukan operasi tanpa harus menunggu esok hari." Vika semakin gemetar, isakannya tidak bisa ditahan lagi. Begitupun dengan Meila, dia ikut terisak melihat Vika yang tertunduk lemah dalam kesedihannya. "Papa.... papa... nggak bisa diselamatkan." Suara Vika tersekat dan berat.
Seolah tidak mampu untuk melanjutkannya lagi. Namun, dengan sekuat tenaga dia berusaha menguasai diri dan tetap tenang.
Meila yang tidak tega, langsung berpindah tempat duduk di samping Vika untuk merangkulnya dan memberi usapan menenangkan ke punggung lengannya.
"Hati aku hancur, Mei. Aku sangat menyayangi papa aku. Tapi, aku juga nggak bisa mencegahnya, kan? A-a-aku.... aku nggak berdaya, Mei." Vika terisak, suaranya begitu memilukan di telinga. "Tepat satu minggu setelah kepergian papa, James membebaskan aku dari pertunangan itu karena James tau aku memiliki kekasih yang nggak bisa digantikan oleh siapapun. Dia memutuskan untuk berteman dan memilih untuk menjadi keluarga sekaligus saudara laki-laki buat aku.
Begitupun dengan kedua orang tuanya, mereka membatalkan pertunangan kami dan menganggap aku sebagai putrinya. Aku di berikan semua perhatian dan kasih sayang layaknya seorang putri. Begitupun dengan James, dia selalu berusaha melindungi aku dari bahaya apapun layaknya seorang kakak." Tangisannya berubah menjadi senyuman haru.
Meila tampak menatap Vika lekat-lekat, sebelum akhirnya dia memberanikan diri untuk berucap.
"Jadi... apa ini sebuah kebenaran yang belum diketahui kak Rendy itu, kak?"
Vika menoleh dan mengangguk, "....ya...." Sahutnya lemah. "Dan aku terlalu pengecut untuk mengatakannya. Aku selalu gemetar saat menceritakan kejadian ini. Bahkan saat aku mengingatnya, aku merasa takut dan sesak." Pungkasnya disertai senyuman getir dan raut wajah tak terbaca.
Tetapi, sesaat kemudian wajahnya berubah cemas sambil menatap Meila dengan penuh permohonan. Diselingi dengan tangannya yang mengusap air matanya kasar, lalu memegangi tangan Meila sambip berucap dengan penuh permohonan.
"Mei, aku mohon, jangan katakan pada Rendy tentang kebenaran ini. Aku... aku belum siap untuk menerima kemarahannya. Aku nggak sanggup, Mei." Ucapnya dengan sangat memohon. Sampai-sampai, Meila dapat merasakan pegangan tangan Vika di tangannya yang mengencang.
Melihat permintaan penuh permohonan Vika, membuat Meila tidak tega dan terpaksa mengiyakannya. Dan seketika itu juga Meila dapat melihat ekspresi kelegaan dari wajah Vika. Mereka akhirnya saling berpelukan, dengan Vika yang langsung menumpahkan kesedihannya ke pundak Meila. Sedangkan Meila, menahan rasa bersalahnya pada Rendy yang sudah terlanjur berjanji pada Vika untuk tidak menceritakan kebenarannya.
Namun, mereka juga tidak mengetahui jika Rendy telah mendengarkan segalanya di balik rak-rak buku yang menjulang. Tanpa sengaja, telah mendapatkan sebuah jawaban yang selama ini menjadi pertanyaan besar tentang hubungannya dengan Vika.
Tapi satu hal yang pasti, Rendy benar-benar sangat kacau saat ini.