A Fan With A Man

A Fan With A Man
3 Detik



"Pelan-pelan makannya, Mei..."


Meila memberikan senyuman khasnya yang dibubuhi cengiran. Pagi ini dia tampak ceria dan bersemangat. Terlihat dari penampilan dan raut wajahnya yang begitu menggemaskan. Rambut panjang sebahu bergelombang yang terurai, ditambah dengan polesan bedak tipis aroma bayi yang lembut serta liptint strawberry berwarna pink cerah.


"Kamu keliatan senang sekali hari ini."


"Iya. Aku ngerasa bersemangat aja pagi ini."


Dimas menaikkan sebelah alisnya. "Apa karena mau bertemu Sisil?"


Seketika Meila tersenyum. Dari senyumannya itu, dapat Dimas tangkap jika pertanyaannya itu adalah benar. Mungkin karena ini adalah hari pertama mereka akan bertegur sapa secara normal dan memulai hubungan antar mahasiswa dengan wajar. Dan maklum jika kekasihnya itu terlihat sangat bersemangat dan senang pagi ini.


"Mungkin salah satunya itu," Dia lalu meletakkan sendok dan garpunya ke atas piring. "Tapi selain itu mungkin akan ada hal baik lagi nanti?" Imbuhnya.


Dimas mendengus pelan disusul dengan kekehan kecilnya.


"Apapun itu, selama senyuman ini menghiasi wajah cantik kamu, aku ikut bahagia."


"Terima kasih," ucap Meila kemudian sambil menunjukkan wajah manisnya kepada Dimas. "Oh, iya, kakak kan, akan antar aku dulu, apa nanti kamu nggak telat untuk meeting?"


"Aku bahkan bisa menunda beberapa perkerjaan kalau itu menyangkut kamu. Kamu tetap bisa mengandalkan aku. Aku akan menyuruh Henry untuk menjemput kamu sebelum jam makan siang nanti." Jawab Dimas dengan santai.


"Eh, gak boleh gitu. Nanti kalau pekerjaan kamu beneran tertunda gimana? Aku nggak mau ya, disalahkan karena kamu nanti kalah tender?"


Dimas tergelak mendengar kepolosan Meila. "Eh, kamu, ya! Denger dari mana sih, udah kenal tender segala?"


Tertawa dengan khas cengirannya, Meila menjawab sambil lalu.


"Ya... suka denger aja dari film dan pernah baca juga di novel-novel. Hehehe."


Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berucap kembali dengan kalimat perintah pada Meila untuk segera menghabiskan sarapannya.


"Ayo, dihabiskan sarapannya. Nanti kamu telat."


●●●


"Setelah meminta maaf,... bagaimana perasaanmu sekarang? Apa masih ada yang mengganjal?"


James membuka obrolan tanpa mengalihkan fokusnya dalam menyetir. Mereka sedang dalam perjalanan menuju kampus Sisil.


"Aku merasa lebih baik sekarang. Rasanya... sungguh lega! Benar-benar lega." lalu menoleh pada James dan memandangnya beberapa detik. "Thank you anyway."


Sisil berujar jujur dan tulus di akhir kalimatnya. Sambil menoleh dan sedikit senyuman tipis yang tidak pernah dia tunjukkan sebelumnya, hari ini mulai dia tunjukkan. Sisil terlihat lebih santai dan sumringah. Jauh dari kesan jutek dan galak yang selama ini ditunjukkan.


James tersenyum seraya menanggapi. "Aku jauh lebih senang jika kamu sudah merasa lebih baik. Tapi... ada sesuatu yang mau aku katakan padamu, Sisil."


Sisil sedikit mengerutkan keningnya tanda bingung. Namun tak urung dia bertanya dengan ekspresi ingin tahunya yang nyata.


"Apa?"


"Mungkin ini bisa dibilang perintah, bukan permohonan. Jadi, aku akan katakan langsung dengan tegas padamu. Tolong kirimkan link dari nomor ponsel yang laki-laki itu kirimkan ke ponselmu. Aku akan melacaknya melalui anak buahku."


Bohong jika Sisil tidak terkejut. Dia tersentak dengan ucapan yang James lontarkan. Sebab, dengan dia mengirimkan link yang dikirimkan Beno ke ponselnya, otomatis secara tidak langsung dia telah membiarkan James melihat kondisi terburuknya. Kondisi saat dimana dirinya merasa terhina dengan perbuatannya sendiri. Meskipun itu bisa dibilang dalam keadaan antara sadar dan tidak.


"A-apa? Tap-tapi......." suara Sisil melemah disertai kecemasan dalam nada suaranya.


Salah satu tangan James yang diletakkan di balik setir kemudi dia alihkan pada Sisil untuk menggenggamnya. Meremasnya lembut sambil menyalurkan kehangatan disana.


"Sisil.... hey.... Aku mengerti kecemasanmu. Kamu takut aku melihat video dan foto itu, bukan? Sekalipun aku melihatnya, itu tidak akan merubah pandanganku padamu. Aku tidak akan merendahkanmu. Sekalipun aku memang terpaksa melihatnya, itu dibutuhkan sebagai bahan penyelidikan. Dan apa kamu pikir, aku akan memperlihatkan video dan foto itu pada anak buahku juga?" James tertawa getir sebelum kemudian melanjutkan kembali kalimatnya. "Tidak, Sisil! Aku tidak sebejad itu yang dengan cerobohnya menyebarkan informasi pribadi seseorang kepada orang lain. Terlebih lagi jika itu berkaitan dengan dirimu, wanita yang berarti untukku."


Dengan tenang, Sisil mendengarkan penjelasan serta alasan James dengan seksama. Tanpa perdebatan atau sanggahan yang keluar dari bibirnya. Tetapi meski begitu, belum ada keputusan apapun yang keluar dari mulut Sisil sebelum akhirnya James membangkitkan keberaniannya lagi hingga berhasil menyentak Sisil yang nyaris terhanyut dalam ketakutannya sendiri.


"Apa kamu masih belum mempercayaiku sepenuhnya?"


James lagi-lagi terkekeh sendiri. Dan seketika tatapannya melembut begitu ada kesempatan untuknya menoleh pada Sisil. Tepat saat rambu lalu lintas di tepi jalan menunjukkan warna merah tanda untuk berhenti.


"Apa kamu tidak dengar apa yang aku katakan tadi?" James lalu menarik napasnya perlahan. "Aku tidak akan menilai ataupun menghakimi. Aku hanya perlu menyelidiki dimana posisi laki-laki brengsek itu berada melalui link yang dikirimkan padamu. Kalaupun jika aku memang melihatnya, seperti yang aku katakan, itu tidak akan merubah apapun tentang pandanganku terhadapmu."


Tatapan Sisil berubah sayu disusul dengan wajahnya yang menunduk. Terpejam sesaat sambil menarik napasnya dalam-dalam. Hingga akhirnya berucap memutuskan.


"A-aku akan mengirimnya padamu," ujarnya dengan suara yang sangat pelan.


Tatapan James berubah sayang disusul dengan usapan lembutnya ke kepala Sisil.


"Aku berjanji padamu. Semua akan baik-baik saja." imbuh James penuh janji.


●●●


"Aku masuk dulu. Kakak hati-hati, ya.. Jangan ngebut. Semangat juga meetingnya.. Dadaaahhh..." Meila bergegas untuk segera turun dari mobil sebelum tangan Dimas menahan tangannya dengan cepat.


"Hei... tunggu dulu!"


Ketika mereka sampai, Meila terlihat ingin bergegas masuk ke kelas dengan penuh semangat. Tidak lupa dia memberikan serentetan peringatan yang lucu untuk Dimas ingat. Tetapi, ketika tangannya akan meraih gagang pintu mobil untuk dibukanya, suara Dimas terdengar disusul dengan tangannya yang langsung menahan tangan Meila.


Meila otomatis langsung menoleh bingung. "Ada apa? Apa ada yang ketinggalan?"


"Iya. Ketinggalan. Ini...." sambil mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu memajukan wajahnya sambil menunjuk-nunjuk ke pipinya, rupanya Dimas sedang menagih untuk minta dicium sebagai bentuk penyemangat.


Meila mengernyitkan alisnya. "Kenapa sama pipi kamu? Oh, apa kamu sakit gigi? Iya?" Tanyanya polos.


"Kok sakit gigi? Mana kecupannya? Ayo, cepat! Nanti kita sama-sama terlambat." Seru Dimas mendesak. Yang saat itu langsung membuat Meila kebingungan.


"Tap-tapi.... Aku benar-benar udah terlambat, kak. Lagian ini kan di kampus," ujar Meila sedikit merajuk.


"Memang kenapa kalau di kampus? Kaca mobilnya nggak akan menembus keluar, kok. Makanya ayo, biar kamu nggak telat. Hanya 3 detik." Dimas berujar lagi dengan memajukan pipinya semakin dekat.


Kedua mata Meila membelalak heran. Dia merasa jika Dimas sedang menggodanya hingga akhirnya dirinya terdesak dan menuruti keinginannya. Tapi kali ini Meila juga akan sedikit menjahilinya. Mungkin kejahilannya nanti akan sedikit membuat Dimas kesal.


Memikirkan kejadian yang akan terjadi nantinya, Meila cekikan sendiri di dalam hati. Dia lalu berdehem dan pura-pura bergerak akan menciumnya dengan meminta sebuah syarat.


"Cuma 3 detik, ya. Tapi.... mata kakak harus terpejam dulu."


Karena bersemangat, Dimas langsung tersenyum dan mengikuti permintaan Meila dengan segera.


Setelah mata Dimas terpejam, barulah Meila pura-pura memajukan wajahnya seperti akan mencium pipi Dimas. Dalam jarak 5 senti, Dimas sudah dapat merasakan hawa tubuh Meila yang menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya. Tetapi, disaat dirinya sedang menunggu kecupan itu berlabuh ke pipinya, alih-alih mendaratkan kecupan, Meila malah berkilah kalau dirinya sudah telat dengan alasan mendengar suara bel tanda masuk berbunyi.


"Astaga, kak! Loncengnya berbunyi. Aku harus masuk sekarang. Ingat, ya, jangan ngebut-ngebut. Dadaaaahhhh...."


Dengan masih terpejam, kening Dimas berkerut seperti sedang mencerna sesuatu.


Lonceng? Sejak kapan di kampus ada suara lonceng?


Seketika Dimas tersadar jika dirinya sedang dijahili Meila. Dia pun membuka matanya sambil terperangah.


"Hei, tunggu! Awas, ya, kamu!"


Meila langsung kabur tanpa menghiraukan reaksi Dimas yang tampak kecewa. Dirinya langsung tertawa cekikikan membiarkan Dimas yang merasa kegemasan sendiri ketika melihat dirinya yang berlari tunggang langgang sambil meledekinya. 


Karena tidak ada yang bisa Dimas lakukan, dia akhirnya menghela napas kasar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Dasar gadis nakal!" Kelakarnya sendiri sembari menyalakan mesin mobilnya kembali.


Setelahnya, ekspresi Dimas langsung berubah gelap dan serius. Karena pasalnya, dia akan bergegas menemui Simon yang sudah dari kemarin malam ada dalam genggamannya. Dia akan mengorek semua informasi tentang Dion tanpa menunda atau dengan alasan berputar-putar lagi. Karena kali ini, Dimas tidak akan mengulur waktu lagi untuk mencari tahu kebenaran gelap tentang laki-laki itu.