
Seperti ucapan Sisil tadi pagi yang mengatakan pada James untuk jangan menjemputnya karena dia akan menaiki taksi, hal itu benar-benar Sisil lakukan hingga sekarang dia sudah di dalam taksi yang akan membawanya ke sebuah taman.
Setelah jam pulang, Sisil langsung keluar tergesa-gesa sambil berlari ke luar gedung yang untungnya, langsung menemukan taksi yang saat itu sedang lalu lalang. Dia langsung menghentikannya dan buru-buru masuk sebelum James yang keras kepala itu benar-benar datang dan memaksanya pulang bersamanya.
"Mbak, apa benar taman yang ini?"
Sesuai permintaan Sisil, taksi itu akhirnya membawa Sisil pada sebuah taman yang cukup jauh dari pusat kota. Sebab, mengingat soal taman, James pernah menemukannya dengan mudah ketika dia sedang menyendiri. Dan Sisil tidak mau mengulang kecerobohannya lagi.
"Oh, iya, pak. Disini aja." Sambil melihat lokasi taman yang tidak begitu ramai namun sangat asri oleh pepohonan rindang.
Kalau disini James nggak akan menemukannya, kan?
Sisil lalu mengeluarkan selembar uang kertas dan memberikannya pada supir untuk melakukan pembayaran. Setelahnya Sisil keluar dari taksi itu dan dengan spontan menghembuskan napas panjang untuk menghirup udara segar.
Suasana sejuk dari taman itu begitu menenangkan bagi Sisil. Hingga akhirnya dia tidak sabar untuk masuk ke dalam taman dan berjalan-jalan disana. Sisil lalu membawa kakinya ke sebuah bangku panjang dan duduk dengan nyaman.
Tanpa sadar, Sisil melengkungkan senyumnya lebar-lebar saat angin sejuk menyapu wajahnya hingga membuat anak-anak rambutnya berantakan.
"Sejuknya,..."
Tetapi, tidak sampai 5 menit kedamaian itu terasa, bunyi dari sebuah pesan masuk yang tidak berhenti mengusiknya seketika. Membuatnya sedikit mendecakkan lidahnya namun tak urung mengambil ponselnya juga yang ada di dalam tas.
Dilihatnya nomor baru yang tidak dikenalinya. Dan seketika perasaan tidak enak pun langsung menyelimuti dirinya.
Perlahan namun pasti, Sisil membuka pesan itu dengan perasaan was-was karena takut itu adalah pesan ancaman seperti sebelumnya. Dan benar saja, kedua matanya langsung membelalak sempurna ketika dia menemukan sebuah video berdurasi 15 detik yang membuatnya tercengang.
Tanpa Sisil sadari, dia langsung membuang ponselnya ke atas rerumputan dengan wajah syok luar biasa. Tubuhnya gemetar tidak terkendali dengan dadanya yang langsung terasa sesak.
"Kenapa....?! Kenapa hal ini terjadi sama aku,?!"
Sambil berujar pilu, Sisil akhirnya terisak sendirian di taman itu. Tangan-tangannya yang gemetar berusaha menutupi wajahnya yang berurai air mata dengan perasaan yang tidak dapat didefinisikan.
●●●
Dimas membawa Meila ke sebuah toko pastry. Berbagai macam makanan manis dari snack ringan, camilan berat, hingga lolipop dari berbagai macam rasa pun ada. Kedua mata Meila tak henti-hentinya mengerling senang saat dia menatap ke semua jenis makanan manis yang disusun rapi dalam sebuah kaca display.
Tak lupa juga beberapa tester makanan yang disuguhkan sebagai bentuk penyicip rasa bagi para pengunjung.
"Aku mau yang ini. Boleh?" Meila menunjuk ke salah satu kue yang akan dibelinya.
"Boleh. Kamu pilih yang manapun juga boleh. Asalkan tetap secukupnya, ya."
Meila tersenyum kegirangan sembari memberi anggukan. "Kalau gitu... Aku mau beberapa tapi dalam bentuk cup kecil. Gimana?"
"Iya. Terserah kamu aja."
Meila melengkungkan senyumnya lebar-lebar karena terlalu senang. Setelah mendapat izin dari Dimas, Meila langsung memilih kue-kue dalam bentuk cup kecil untuk dibawa pulang. Sementara Dimas cukup mengikuti dan memperhatikan tiap sisi wajah Meila yang berseri-seri saat menemukan makanan yang disukainya. Berbeda ketika tadi pagi yang terlihat begitu tegang dan panik dibalik wajahnya yang cantik.
Karena tidak bisa menahan dirinya, akhirnya Dimas mengangkat tangannya dan mengusap-usap rambut Meila dengan sayang. Memulas senyum hangat sebelum kemudian mengeluarkan kartu berwarna gold sebagai alat pembayaran.
Sembari menunggu pramusaji menyiapkan pesanannya, Meila tidak henti-hentinya menempel pada Dimas dengan tingkah manja. Bergelayut manja di lengannya sambil melihat kue-kue yang terjajar rapi di lemari kaca display sambil menunjuk kegirangan dengan tingkah lucu.
Di sebuah kafe yang tidak jauh dari toko kue yang didatangi Dimas dan Meila, seorang wanita dengan penampilan glamor tampak duduk santai ditemani secangkir kopi. Tatapan mata yang begitu tajam dan menyimpan penuh rasa iri. Perasaan ingin menggantikan dan memiliki Dimas seutuhnya. Siapa lagi kalau bukan Shila. Wanita yang bertemu dengan Dimas dengan cara tidak sengaja di sebuah supermarket yang langsung membuatnya jatuh cinta saat pertama kali melihatnya. Tidak! Bahkan sejak pertama kali mendengar suaranya.
●●●
Tangan Sisil yang masih gemetar mencoba mengambil kembali ponselnya yang terjatuh di atas rerumputan. Wajahnya yang penuh air mata karena habis menangis berusaha menahan sesak ketika layar pertama yang dia lihat adalah penampilan ruang chatting dari pesan video yang baru saja diterimanya.
Sisil benar-benar yakin jika ini adalah ulah Beno yang sengaja menekannya. Ingin membuatnya terdesak hingga akhirnya menyerah padanya dan mengikuti kemauannya. Tetapi Sisil lagi-lagi bertekad untuk tidak lagi mendengarkan laki-laki itu dan membiarkan harga dirinya terinjak-injak untuk kedua kalinya.
Tetapi, Beno menyimpan semuanya. Menyimpan bukti-bukti kebersamaan mereka yang entah berapa banyak lagi akan dia kirimkan padanya. Bagaimana jika foto dan video itu tersebar luas dan sampai ke tangan mama dan papanya?
Karena kepalanya terasa berat memikirkan kemungkinan buruk yang menumpuk di kepalanya, perlahan Sisil bangkit dari bangku itu dan mulai berjalan terhuyung seperti tidak mempunyai tumpuan. Dia berjalan sepanjang taman dengan wajah sembab dan putus asa. Layaknya seseorang yang tidak mempunyai tujuan hidup dan hilang arah.
Setelah berjalan-jalan tanpa tau kemana kakinya akan membawanya, tanpa disadarinya Sisil sudah sampai di depan gerbang masuk halaman tempat dimana dia memasuki lapangan itu tadi.
Di waktu yang menjelang sore, lalu lalang kendaraan mulai ramai karena bersamaan pada jam sibuk para pekerja kantoran yang kembali ke rumah masih-masing setelah 9 jam berkutat dalam mencari nafkah.
Melihat banyak kendaraan yang berlalu lalang, pikiran Sisil tiba-tiba dipengaruhi oleh niat buruk akan menyakiti dirinya sendiri. Otaknya berpikir untuk menabrakkan dirinya kesana. Dengan begitu semua masalahnya akan selesai.
Ya! Dibulatkan oleh tekad yang kuat, Sisil menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya. Mulai membawa kakinya ke sisi jalan raya sambil memperhatikan kondisi sekitar. Tidak satu atau dua kendaraan saja yang membunyikan klakson secara bergantian untuk memperingatinya. Tetapi Sisil tidak menghiraukannya dan justru malah melangkah dengan mantap hingga sampai ke tengah-tengah jalan.
Dilihatnya ada sebuah mobil yang sedang melaju ke arahnya. Sisil pun mulai memposisikan dirinya ke tengah-tengah jalan dan berdiri dengan tegap. Mulai memejamkan kedua matanya rapat-rapat sementara bunyi klakson yang saling bersahutan mulai berbunyi bergantian.
Mobil itu semakin mendekat ke arah Sisil. Melaju dengan kecepatan sedang sambil membunyikan klaksonnya tanpa henti. Dan sesuai keinginannya, mobil itu mulai mendekat dan nyaris menabraknya jika saja tidak ada sebuah tangan yang menarik lengannya dengan cepat. Menariknya ke pinggir jalan sambil mendekapnya kuat-kuat.
"Apa yang kamu lakukan disini, hah? Kamu bisa tertabrak mobil itu dan mati konyol disana!"
Bentakan itu begitu keras karena harus berkejaran dengan suara ramainya kendaraan.
"Itu! Itu yang aku mau sebelum kamu datang!" Bukannya diam, Sisil malah melawan. "Aku udah bilang, kan, jangan mencampuri urusanku. Kenapa kamu suka banget ikut campur, James?!" Gertakan yang meninggi di akhir kalimat itu membuat James sadar jika Sisil sedang benar-benar kacau.
Mata sembab serta hidung yang memerah seperti habis menangis habis-habisan itu terlihat jelas dimatanya.
"Lepas! Biarin aku kesana! Biarin aku menyelesaikan masalahku sendiri! Minggir!" Sisil meronta-ronta dari cengkeraman tangan James padanya.
Tetapi bukan James jika semudah itu melepaskannya. Dia justru semakin mengencangkan cengkraman pergelangan tangan Sisil hingga Sisil merasa kesakitan.
"Ikut aku!" James menarik Sisil untuk mengikutinya.
"Nggak! Aww.. sakit, James. Kamu gila, ya?! Lepasin!"
Tanpa menghiraukan ocehan Sisil yang memekakan telinga, James terus menarik Sisil dengan langkah terseret. James berjalan sambil membawa Sisil dengan mencengkeram tangannya kuat-kuat menuju mobilnya.
"Masuk!"
"Kamu apa-apaan! Biarin aku pulang sendiri! James, lepas!" Lagi-lagi Sisil membentak dengan suara yang sangat tinggi. Tapi tetap, itu tidak berpengaruh pada James yang tampak santai menghadapi Sisil. Hingga akhirnya Sisil berhasil masuk ke kursi penumpang samping kemudi, dan James langsung menutupnya dengan keras sampai membuat Sisil berkedip karena saking kagetnya.
Setelahnya, James langsung berlari memutar menuju ke kursi kemudi dan tanpa membuang waktu langsung melajukan mobilnya dan membawa Sisil bersamanya.