
"Kenapa kamu nggak ngabarin dulu kalo mau dateng ke Indonesia?"
Setelah beberapa lama berpelukan melepas rindu, James dan Vika akhirnya saling duduk berdampingan di sebuah sofa. Sementara Mira, sang asisten, sudah lebih dulu pulang setelah mendapatkan penjelasan tentang apa yang dilihatnya tadi. Mengenai ada hubungan apa antara Vika dengan seorang CEO pada agensi yang menaunginya.
"Justru tadinya aku malah akan memberikan kejutan dengan mendatangi langsung ke rumahmu besok pagi. Tapi... malah kamu sendiri yang mendatangiku ke sini." Sahut James dengan tawa khasnya.
Diam beberapa saat, James teringat akan sebuah kotak berukuran sedang yang dibawanya. Kotak itu dititipkan oleh ibu James khusus untuk Vika.
"Tunggu, aku hampir lupa. Ada sesuatu untuk kamu." James berucap penuh teka-teki saat dirinya bangkit dari tempat duduk menuju meja kerjanya.
James mengambil kotak itu dan berjalan kembali mendekati Vika yang menunggunya dengan wajah bingung namun juga penasaran.
"Mama menitipkan ini untukmu. Dia bilang, kotak ini harus sampai kepada putrinya dengan selamat." James berujar nakal kala dirinya mendudukkan bokongnya kembali ke atas sofa.
Vika menerima kotak itu dengan wajah berbinar diselipi dengan senyuman lebar. Dibukanya kotak itu perlahan, dan seketika wajahnya berubah sumringah dengan pancaran binar bahagia yang nyata.
"Pudding cake?" Ucap Vika dengan mata berbinar kesenangan.
"Your favorite food, right?" James menyahuti dengan cepat.
Vika mengangguk kesenangan, "She's very kind. I'll call her later. Thank you, James." Vika mengucapkan terima kasihnya pada James dan berucap janji bahwa dia akan menghubungi ibu James nanti.
"Anyway... kamu akan menginap dimana malam ini, James?" Vika bertanya kembali ketika dia memikirkan tentang James yang akan mengistirahatkan dirinya setelah melakukan perjalanannya.
James tampak berpikir sejenak, "aku akan tinggal di apartemen untuk sementara waktu. Tapi... karena kedatanganku mendadak dan belum dipastikan apartemen mana yang akan aku tinggali, dan aku juga sudah bertemu denganmu, jadi aku berniat untuk berkunjung ke rumahmu. Boleh?"
"Sure! Kenapa nggak boleh? Aku justru senang karena akan ada seorang kakak yang menemaniku di rumah." Sahut Vika antusias.
Disambut oleh kekehan disertai gelengan kepala oleh James.
Setelahnya, mereka melanjutkan perbincangan mereka. Sesekali diselipi dengan tawa dari keduanya. Perbincangan hangat setelah hampir tiga tahun tidak mereka lewati bersama.
●●●
Sementara James dan Vika saling melepas rindu dengan cara mereka, ditempat lain Dimas dan Meila masih terjaga dengan memandangi langit luar di balik kaca jendela besar yang berembun karena rintik-rintik hujan yang mulai turun.
"Hujannya mulai turun. Untung tadi kak Dimas nggak keujanan."
Meila berujar saat dilihatnya hujan yang mulai berjatuhan dari awan gelap yang menyelimuti. Disusul dengan suara gemuruh petir yang saling bersahutan satu sama lainnya.
Dimas tersenyum mendengar perkataan Meila, dipeluknya gadis itu, dikecupnya belakang kepala Meila yang harum khas aroma bayi.
"Aku teringat kamu di rumah. Jadi aku terburu-buru dan langsung pulang biar nggak keujanan." Sahutnya santai sambil berbisik nakal.
Menggesekkan bibirnya ke rambut Meila yang halus nan harum.
Mendengar alasan Dimas yang terdengar seperti godaan, seketika Meila menggerakkan lengannya untuk menyikut perut Dimas dengan pelan. Membuat pria itu tergelak seketika karena aksi yang Meila berikan.
"Itu benar, Sayang. Aku selalu mikirin kamu. Apalagi... kalo aku lagi berada jauh dari kamu. Rasanya... sepi. Nggak ada yang bisa aku peluk..." seketika Dimas mengeratkan pelukannya di perut Meila. "....nggak bisa dikecup..." lalu mengecup puncak kepala Meila dengan lembut. "....juga nggak bisa menghirup aroma kamu yang kayak bayi ini. Bikin aku betah." Kemudian, meletakkan dagunya pada bahu Meila dan menghirup aroma Meila dengan menggoda seperti sedang gemas menghadapi seorang bayi. Belum lagi karena
Meila yang menguncir rambutnya tinggi yang memperlihatkan leher mulus dan jenjangnya. Sehingga semakin membuat Dimas lebih leluasa untuk menjelajahi sekitar leher Meila yang hangat menyenangkan dengan sengaja menggodanya.
Mendapat perlakuan seperti itu, sontak membuat Meila tergelak kencang sambil menggeliat tidak nyaman ingin melepaskan diri dari rengkuhan Dimas karena merasa geli.
"Geli, kak! Berenti....! Aku mohon...." Ujar Meila manja penuh permohonan.
Sejenak, Dimas menghentikan aksinya. Lalu, membalikkan tubuh mungil itu agar saling berhadapan. Dimas bisa melihat jelas wajah Meila yang berseri-seri yang sedikit tertutupi anak rambutnya, efek dari pergerakannya tadi. Sebelah tangan Dimas memeluk pinggang Meila dengan posesif, sementara yang satunya lagi ia gunakan untuk menjumput anak rambut itu lalu menyelipkannya ke belakang telinga.
Tangan itu lalu beralih turun, mengelus pipi Meila menggunakan ibu jarinya. Kemudian sedikit turun lagi untuk meraih dagu Meila dan menariknya perlahan dengan sedikit menengadahkan ke arahnya.
Dimas menatap Meila lekat-lekat, dengan posisi mereka yang sangat dekat dan nyaris tanpa jarak.
"Cantik!" Dimas berucap jujur. "Jangan ikat rambut kamu di hadapan pria lain, ya. Karena aku nggak suka ada orang lain yang ngeliat area leher kamu selain aku." Dimas berujar pelan sambil menangkup rahang Meila yang menjurus ke lehernya.
Pernyataan Dimas yang jujur itu seketika membuat pipi Meila merona padam. Kemudian, pria itu melepaskan pengikat rambut Meila hingga rambutnya itu tergerai jatuh dengan indah.
Tentu saja Dimas tidak suka jika gadisnya mengikat rambutnya di hadapan orang lain. Karena akan memperlihatkan leher jenjangnya yang putih dan mulus. Itu sama saja dengan memberikan umpan pada pria hidung belang di luar sana.
Setelahnya, dengan tiba-tiba langsung mendaratkan ciuman ke bibir tipis Meila yang menggoda, yang terasa lembut dan halus itu. Memagutnya perlahan, mencecap rasa manisnya dengan kelembutan, kemudian mengakhiri ciumannya dengan menyesap sudut bibir Meila dengan gerakan paling lembutnya.
Saat Dimas melepaskan bibirnya, pria itu belum mau menjauhkan wajahnya, dan malah semakin merapat dengan dahi yang saling menempel dan deru napas yang saling berkejaran. Meila tampak sedang mengatur napasnya, sementara Dimas berusaha mengendalikan diri dengan membuka matanya perlahan seraya berujar parau.
"Ini yang aku rasakan ketika ada di dekat kamu. Rasanya, setiap detik waktu yang berlalu, terbuang sia-sia tanpa melakukan hal paling berkesan dan menenangkan bersama kamu. Seperti ini contohnya. Aku selalu nggak bisa untuk nggak memberikan kecupan itu." Dimas menghentikan kalimatnya sejenak. Bersamaan dengan berhentinya kalimat Dimas, di saat itu juga Meila membuka matanya.
Kedua mata itu saling bertemu, seolah saling berbicara tanpa harus berkata-kata.
Pancaran binar dari mata polos Meila di bawah cahaya temaram membuat Dimas gemas dan tanpa sadar terkekeh sambil menangkup sebelah wajah Meila dengan sayang.
"So, I love you..." ucap Dimas seketika.
Jantung Meila berdegup kencang disertai pipi yang memerah padam saat Dimas menyatakan kata cinta yang ke sekian kali itu untuknya.
Padahal, bukan kali pertama Dimas mengatakannya. Tapi, entah mengapa Meila selalu merasa canggung, deg-degan, dan matanya mendadak panas, seperti sedang mengiris bawang hingga mengakibatkan matanya perih. Bahkan, masih merasa malu saat Dimas memperlakukannya dengan berlebihan.
"Aku tau," Meila menjawab dengan suara serak dan mata yang berkaca-kaca. "....love you, too...." Sambungnya lagi dengan suara bergetar dan haru luar biasa.
Ucapan Meila seketika membuat Dimas tersenyum hangat.
Tatapannya pun berubah sayang. Ditariknya gadis itu ke dalam rengkuhan lengannya yang kokoh sambil menciumi puncak kepala Meila dengan kecupan lembut nan hangat.
"Bahkan, meski udah berkali-kali pun aku mengatakannya, kamu masih tetap berkaca-kaca dan merona." Ujarnya sengaja sambil menundukkan wajahnya. "Aku suka!" Sambungnya kembali dengan nada berbisik. Yang langsung disambut hangat oleh Meila dengan mengeratkan lengannya pada pinggang Dimas.
"Kita tidur sekarang?" Ajak Dimas seketika dengan kepala menunduk. Disambut dengan anggukan kepala Meila di dadanya.
Setelahnya Dimas menghela Meila menuju tempat tidurnya, membiarkan gadis itu naik ke atas tempat tidur lebih dulu baru kemudian dirinya. Ditariknya selimut itu menutupi sebagian tubuh mereka. Lengan Dimas yang kokoh pun mengikuti, menyusup ke belakang kepala Meila untuk bergerak merapat. Seolah sudah mulai terbiasa, perlahan Meila pun langsung mendekatkan dirinya pada Dimas, menelusupkan wajahnya di kehangatan antara leher Dimas yang hangat menyenangkan, serta harum vanilla yang bercampur dengan aroma green tea menyegarkan yang menguar di sana.
"Selamat malam, kak." Ucap Meila seketika dengan mata sayu dengan rasa kantuk yang mulai merayapinya, menandakan jika dia telah siap untuk memasuki alam mimpinya.
"Selamat malam juga untukmu," Dimas menyahutinya dengan lembut sambil mengecup dahi Meila. Bersiap masuk ke alam mimpi dengan saling memeluk di bawah lingkupan heningnya malam yang dingin nan juga damai.
●●●
"Siapkan apartemenku dengan segera. Aku akan menempatinya sore ini."
Tutup James pada sebuah sambungan telepon di pagi harinya.
Setelahnya kembali menyesap secangkir macchiato miliknya dengan uap yang masih mengepul. Dia telah berpakaian rapi, dan berniat akan membangunkan Vika sesaat setelah menelepon asistennya. Sebab James sendiri tahu, kalau Vika pasti sangatlah lelah dengan pemotretan yang dijalaninya kemarin.
"Selamat pagi, kak James! Tidurmu nyenyak semalam?"
Vika menyapa dengan suara lantang juga ceria dan sedikit meledek, dengan menekankan kata 'kak' pada James yang dengan cepat bereaksi menaikkan sebelah alisnya dan memutar tubuhnya seketika.
Melihat Vika menuruni anak tangga, James memperhatikan gadis itu yang tampak sudah rapi dengan tas yang dilingkarkan pada lengan mulusnya dan jari-jari lentiknya yang indah. Menggambarkan ciri khas dari seorang aktris yang sangat memperhatikan perawatan di tubuhnya.
"Aku baru akan membangunkanmu, Vika. Tapi tiba-tiba kamu datang dan menyapaku dengan sebutan.... 'kak' di depan namaku?"
Vika terkekeh melihat ekspresi yang James tunjukkan. Pria itu jelas belum terbiasa, bahkan tidak terbiasa. Karena memang dia tidak memiliki seorang adik yang akan memanggilnya seperti itu.
Otomatis wajahnya langsung terkesima dan juga... ada sedikit rasa senang di raut wajahnya yang sangat tipis.
"Apa aku nggak boleh memanggilmu seperti itu? Aku mencoba menghormatimu sebagai kakakku, James." Sahut Vika saat dirinya sudah duduk di kursi meja makan untuk sarapan.
"Mungkin aku memang harus mulai terbiasa dengan sebutan itu?"
Vika membalas perkataan James dengan sebuah senyuman hangat.
"Thank you, James. Kamu baik sekali."
Saat Vika sedang mengolesi selai coklat ke atas rotinya, seketika dirinya terkejut kaget saat teringat jika dia belum mengabari Eliana untuk mengucapkan terima kasihnya. Da terlalu lelah semalam, sesampainya di rumah, Vika langsung menuju kamarnya untuk beristirahat setelah mengantarkan James ke kamar yang akan ditempati pria itu.
"Astaga, James. Aku lupa mengabari tante El."
James menaikkan sedikit alisnya ke atas dan tetap berekspresi santai ketika menyahuti perkataan Vika.
"Nggak perlu terburu-buru, Vika. Lagipula... semalam kamu tampak lelah karena sebuah pemotretan, bukan? Aku rasa, mama juga....."
Tiba-tiba suara dering ponsel yang bergetar menghentikan ucapan James. Dilihatnya ponsel itu dan seakan sebuah kebetulan pun terjadi. Panggilan itu sebuah panggilan video yang tertera nama 'mom' di layar ponsel pada panggilan masuk itu.
Dengan tidak sabar, Vika pun bertanya. "Siapa, James?"
"Mama," jawabnya singkat.
Wajahnya berubah antusias, "Cepat angkat, James. Aku mau bicara dengannya!"
Dengan cepat, James mengangkat panggilan itu dan mengarahkan ke arahnya.
"James, kenapa lama sekali mengangkat teleponnya?"
Suara Eliana terdengar dari seberang telepon. Dengan asal, James menggaruk belakang kepalanya sendiri yang tidak gatal.
"Sorry, mom. Itu karena... putrimu yang satu ini....."
Tanpa membiarkan James melanjutkan kalimatnya, Vika sudah lebih dulu mengambil ponsel James dari tangannya.
"Good morning, tante." Sapa Vika ceria saat dirinya bertatapan langsung dengan Eliana.
Wajah Eliana langsung berubah bahagia, "Vika sayang, bagaimana kabarmu di sana, nak? Kami sangat merindukanmu."
"I'm good tante. I also really missed you so bad." Sahut Vika dengan ekspresi menggemaskan dari sudut pandang James. Ya! Pria itu tampak memperhatikan dan terkadang tersenyum sendiri melihat tingkah Vika yang menurutnya lucu itu.
"James menjagamu dengan baik, kan? Dia tidak merepotkanmu, kan?" Tanya Eliana lagi.
"Kak James sangat menjagaku, tante. Dia sama sekali nggak merepotkanku. Maaf, harusnya aku yang menghubungimu kemarin.
Tapi, aku sangat kelelahan karena sebuah pemotretan." Vika mengucapkan kata maafnya pada Eliana.
"It's okay, Sayang. Tante mengerti posisi kamu. Asalkan kamu baik-baik aja, itu sudah cukup, nak. Kami sudah sangat bahagia."
Vika tersenyum haru, "thank you so much. You're really kind persons. Anyway, terima kasih juga untuk pudding-cake nya. Aku sangat menyukainya."
"Sama-sama, Sayang. Yasudah, kamu baik-baik ya, di sana. Jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan pada James. Dia sekarang adalah kakakmu. Sudah menjadi tugasnya untuk menjagamu dan memperhatikanmu."
Dengan cepat, Vika mengarahkan layar ponsel itu kepada James.
"As you wish, mom. Don't worry, i'll do my job very well." Sahut James penuh janji dan pasti.
Setelahnya, James menutup panggilan teleponnya sambil mengarahkan lagi layar ponsel itu pada Vika. Dan Vika pun melambaikan tangannya pada Eliana dari seberang telepon dan mengakhiri panggilan video itu.
"Selesaikan sarapanmu. Aku akan mengantarmu kuliah hari ini."
Ucap James seketika. Disambut dengan mata gadis itu yang
melebar sempurna penuh kebinaran.
"Really?" Sahut Vika tidak percaya. Yang dijawab anggukan pasti oleh James.
"Anggap aja... ini adalah tugas seorang kakak terhadap adik perempuannya. Sudah menjadi tugasku untuk menjagamu, bukan?" Sahut James sambil meraih secangkir macchiato miliknya lalu menyesapnya. Yang langsung disambut anggukan kepala serta ekspresi santai dari Vika disertai senyuman manisnya.
●●●
Berbeda saat semalam dengan cuaca yang dingin karena disambut oleh rintik hujan. Pagi ini sangatlah cerah. Begitu Dimas mengerjapkan matanya, sebuah cahaya matahari yang mengintip dari celah kaca besar berhasil membuka matanya.
Dilihatnya jam di atas meja yang menunjukkan pukul 06.45 pagi. Lalu, beralih lagi pada sosok mungil yang ada dalam dekapannya dengan manja. Dimas menggerakkan jarinya untuk mengelus pipi mulus itu dengan senyuman nakalnya. Yang berhasil membuat sosok mungil itu menggeliat tidak nyaman dan semakin meringkuk mencari kenyamanan.
"Sayang, bangun," ucap Dimas perlahan, berusaha menarik Meila dari alam mimpinya.
Bukan tanpa alasan Dimas membangunkan Meila. Dia berniat untuk mengajaknya memulai masuk kuliah lagi hari ini tanpa memberitahunya lebih dulu. Sebab, masih ada waktu satu setengah jam bagi mereka untuk bersiap-siap dan berangkat kuliah.
Belum juga mendapatkan respon, Dimas kembali memainkan pipi Meila yang halus itu dengan mencubitnya pelan dan gemas. Dan kali ini aksinya berhasil. Gadis itupun menggeliat tidak nyaman kemudian mengerjapkan matanya perlahan hingga membuka matanya sempurna. Meski masih sedikit berkabut, Meila berusaha melengkungkan sebuah senyuman di bibirnya.
"Selamat pagi, kak." Ucapnya parau dengan wajah mendongak.
Dimas tersenyum, lalu mencium kening Meila dengan lembut sebagai ciuman pembuka di pagi hari.
"Pagi, Sayang. Apa aku membangunkan kamu dengan paksa?" Sahut Dimas dengan sebuah pertanyaan.
Meila menggeleng pelan disertai tatapan mata sayu khas bangun tidur.
Melihat Meila yang tersenyum, seketika tangan Dimas bergerak menyentuh dahi Meila, memeriksa suhu tubuh gadis itu dengan seksama. Dan, sebuah senyuman lebar terbentuk sempurna pada bibir Dimas saat dirasakannya suhu tubuh Meila yang sudah normal dan jauh dari kata mengkhawatirkan.
"Kamu bilang, kamu kangen ngampus kan?" Tanya Dimas seketika, yang langsung dijawab anggukan cepat oleh Meila.
"Kalo kita ngampus lagi mulai hari ini... mau?"
Pertanyaan Dimas langsung membuat bola mata Meila berbinar kesenangan penuh semangat. Menandakan jika gadis itu sangat setuju dengan ajakan Dimas untuk masuk kuliah lagi. Dengan cepat,
Meila beringsut dari posisinya dengan tangan menopang manja pada dada bidang Dimas tanpa sengaja. Membuatnya salah tingkah disusul dengan pipi yang merona.
Dimas tergelak seketika, lalu menarik dagu Meila dengan lembut dan mengarahkan padanya.
"Ngapain malu, Sayang. Aku suka kamu yang manja kayak gitu. Bikin aku gemes!" Ujarnya menggoda yang semakin membuat pipi Meila merah padam.
Meila mencebik malu, tangannya digerakkan untuk menepuk dada Dimas dengan pelan. "Kak Dimas!" Ujarnya malu disertai pipi yang memanas.
Sambil tergelak, Dimas lalu membawa Meila lagi ke dalam pelukannya. Membawa gadis itu ke atas dadanya sambil mengecupi pucuk kepala gadisnya dengan kecupan hangat layaknya sinar mentari pagi. Meila pun tidak menolak. Gadis itu tampak bersandar nyaman dengan sebuah senyuman tipis di bibirnya.
"Kalo gitu, sekarang kamu mandi dan bersiap-siap. Aku juga akan menyiapkan sarapan untuk kita berdua dan bersiap-siap. Hm?" Dimas memberi perintah.
Meila mengangkat kepalanya perlahan, lalu menganggukkan kepala tanda mengerti sambil terenyum manis pada Dimas. Membuat pria itu tidak bisa untuk tidak memberikan kecupan hangat ke bibirnya.
Kecupan itu sangat singkat namun juga hangat. Membuat Meila terdiam sejenak sambil memandangi Dimas dengan lekat.
Kemudian, tanpa berpikir dua kali, Meila langsung membalas ciuman
Dimas dengan mengecup pipi Dimas singkat, sontak membuat pria
itu tertegun karena ulah gadisnya.
"Terima kasih," ucap Meila sangat pelan dan terdengar tulus ketika
melepaskan bibirnya dari pipi Dimas.
Setelahnya, gadis itu langsung beringsut bangun dari rengkuhan lengan Dimas sebelum pria itu kembali menahannya untuk mendekapnya. Membiarkan Dimas terdiam sambil memperhatikan Meila yang berlari menuju kamar mandi sampai sosok mungil itu hilang di balik pintu. Menyisakan senyuman lembut yang terbentuk dari wajah Dimas yang mempesona.