A Fan With A Man

A Fan With A Man
Sandaran



James mengerjap pelan sambil berusaha menyerap cahaya yang masuk ke dalam matanya. Dia merasakan tubuhnya begitu segar karena akhirnya bisa terlelap dari insomnia yang menyerang. Suasana kamar yang terlihat terang dengan pencahayaan sinar matahari yang masuk membuat suhu kamar itu menjadi hangat sekaligus juga sejuk.


Pandangannya yang berkabut langsung menangkap keberadaan Sisil yang masih terlelap nyaman dalam rengkuhan lengannya. Seketika James mengulas senyum lebar. Ini adalah kedua kalinya Sisil menjadi pemandangan pertama di pagi hari setelah kejadian malam dimana dia menangis sesegukan. Tetapi bedanya, saat itu hubungan mereka belum menunjukkan perkembangan seperti sekarang. Seolah masih jalan ditempat dan belum menunjukkan adanya kemajuan bagi perasaan masing-masing.


Dan kali ini, untuk kali kedua, James merasa sangat bahagia. Dia lebih leluasa untuk menunjukkan perasaannya secara langsung mulai sekarang. Tidak ada yang dia tahan, ataupun ditutupi. Dan untuk pertama kalinya juga, Sisil terlihat begitu tenang dan damai dalam posisi terlelap di atas lengannya.


"Good morning," James berbisik di depan telinga Sisil dengan sedikit menjahilinya.


Berhasil, Sisil terlihat begitu terganggu karena merasa seperti ada yang sengaja menjahilinya. Dia kembali meringkuk lebih dalam dan itupun hampir berhasil sebelum akhirnya tubuhnya menyadari kalau dirinya sedang berada dalam lingkupan seseorang yang begitu dikenalinya. Aroma parfum yang sudah dia hafal bahkan ketika sedang berada di alam bawah sadarnya.


Tanpa mengerjap dengan mata yang langsung membuka sempurna, Sisil langsung beringsut mundur begitu menyadari dirinya yang sedang berada dalam pelukan James. Belum lagi dengan ekspresi pria itu yang sedang memandangnya dengan santai disertai ulasan senyum tipis.


"Ke-kenapa kamu ada disini? Padahal semalam, kan......."


Sisil mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi, tetapi tetap saja tidak ada kejadian yang diingatnya.


"Apa? Padahal semalam kamu merengek sambil sesegukan untuk meminta ditemani."


"Aku? Aku merengek sama kamu?" Sisil tampak tidak percaya dengan dirinya yang berbuat aneh. Pasalnya tidak ada satupun kejadian yang dia ingat. Yang dia ingat hanya saat dirinya yang langsung beranjak tidur dan terlelap setelah berganti pakaian.


"Kamu bercanda, kan? Kamu mengambil kesempatan, kan? Iya, kan?"


James tertawa mendengar tuduhan Sisil untuknya. Tapi meski begitu, dia tidak menganggapnya serius.


"Sisil, mana mungkin aku mengambil kesempatan dari perempuan yang sedang tertidur pulas." Sambil menghela napasnya, James akhirnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. "Semalam, karena aku takut kamu mengalami seperti setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk melihat kondisi kamu dengan sedikit mengintip dari pintu. Tetapi, karena selimut yang kamu pakai itu tidak menutup dengan sempurna, akhirnya aku berinisiatif untuk menyelimutimu. Dan setelahnya aku berniat pergi dan ke luar dari kamar ini. Tetapi disaat yang bersamaan tiba-tiba kamu meracau, menahan tanganku sambil merengek dan memohon untuk jangan ditinggalkan sendirian. Air matamu bahkan nyaris keluar sambil mulai terisak. Sekarang menurut kamu, sebagai pria yang gentle, apa yang harus aku lakukan  ketika melihat perempuan sedang memelas dan memohon seperti itu?"


James menjelaskan kejadian yang sebenarnya sembari membaca ekspresi wajah Sisil yang tampak diam membisu.


"Tentu aku akan menemanimu, Sisil. Tidak peduli apa pendapatmu tentangku, aku akan berada dipihakmu." Sekali lagi, James berusaha meyakinkan Sisil akan kesungguhannya. Sambil menangkup wajah Sisil dengan lembut, James tidak menahan-nahan lagi untuk menunjukkan kesungguhan dari perasaannya.


"Ma-maafkan,... aku," Sisil mengucapkannya dengan sedikit rasa bersalah karena telah menuduh James yang tidak-tidak. "Aku nggak terbiasa mendapatkan perlakuan khusus dari seseorang. Terlebih jika itu adalah..... seorang pria."


James memaklumi maksud Sisil. Dia lalu memberikan senyuman hangatnya untuk Sisil sebelum kemudian menghadiahi Sisil dengan sebuah kecupan di kening.


"It's okay. Aku sangat mengerti. Kita lupakan itu. Sekarang kita siap-siap, karena ada hal baik yang akan kita lakukan hari ini." James berujar dengan penuh teka-teki. Tetapi Sisil langsung bisa menangkap apa maksud dari 'hal baik' yang James maksud. Yaitu, melakuan permintaan maaf kepada Meila dengan cara yang benar tanpa melibatkan sisi kearoganan yang nyata.


●●●


Dimas telah selesai menyiapkan sarapan untuk mereka santap bersama. Dia hanya menyiapkan menu sarapan simpel, yaitu omelet sayur yang di potong dadu kecil, berbagai macam sosis yang di panggang serta susu hangat dan juga segelas jus buah sebagai pelengkap.


Setelah setengah jam lamanya Meila bermanja-manja dalam pelukannya sambil mengurai tawa bersama, akhirnya Dimaslah yang lebih dulu bangun dan mandi. Sementara dirinya yang melihat Meila yang tampak masih mau bermalas-malasan sambil merebah di dalam tenda dan membiarkannya di dalam tenda itu selama yang Meila mau.


Tetapi setelah melihat Dimas selesai mandi dengan tampilan segar, barulah Meila bergegas berlari ke kamar mandi bergantian. Sementara Dimas turun ke lantai bawah untuk menyiapkan sarapan.


Dan sekarang, ketika semua sarapan sudah siap, Dimas memanggil Meila dari ruang tamu sambil setengah berteriak. Karena sudah satu jam Dimas membiarkan Meila mandi sementara dirinya menyiapkan sarapan untuk mereka setelah dirinya mandi lebih dulu. Itu dirasanya sudah cukup untuk sekedar menyegarkan diri.


"Mei, ayo turun. Sarapannya udah siap."


"Aneh, apa dia belum selesai juga?" Dimas berujar kemudian sambil memasang wajah bingung.


Sementara Dimas menunggu dan memanggilnya di lantai bawah, Meila yang baru saja memakai baju tiba-tiba dihadapkan dengan rantai kalungnya yang tersangkut oleh benang yang menjuntai melalui celah baju yang dia kenakan.


Kebingungan pun langsung melanda Meila begitu dia mendengar panggilan dari Dimas yang menyuruhnya untuk segera turun dan sarapan.


"Aduh, kenapa pakai nyangkut segala, sih," Meila menggerutu sendirian sambil berusaha melepaskan benang yang membelit kalungnya. "Susah banget lagi,"


Susah payah Meila mengurai benang itu. Tetapi tetap saja, benang yang membelit rantai kalungnya cukup kuat sehingga dia harus menggunakan sedikit tenaganya untuk melepaskannya. Tetapi, Meila juga tidak mau kalung itu putus atau terlepas karena kecerobohannya. Sebab, itu adalah kalung pemberian Dimas yang sangat disukainya dan juga berharga.


Akhirnya dengan hati-hati dan penuh kesabaran, Meila mulai mengurai benang-benang itu satu persatu. Dan di tengah-tengah usahanya melepaskan kalungnya dari benang yang kusut, tiba-tiba kedatangan Dimas disertai suara beratnya yang khas mengagetkannya seketika.


"Sayang, kenapa belum turun ju............ga?"


Dengan perasaan kaget, Meila langsung terperanjat mundur hingga melepaskan tangannya dari kalungnya.


"Itu..... ka-kalungnya tersangkut oleh benang. Aku lagi berusaha melepasnya."


Kedua alis Dimas mengernyit dengan pandangan yang mengarah pada kalung yang Meila kenakan diiringi dengan senyuman sesaat.


"Tersangkut?" Dimas membeo sambil berjalan mendekat. Sedangkan Meila hanya mengangguk sambil menatap ke bawah karena salah tingkah.


"Boleh aku lihat?" Dimas berujar lagi. Dan Meila lagi-lagi hanya mengangguk.


Dengan penuh kehati-hatian dan kelembutan, Dimas mengibaskan lebih dulu rambut Meila ke depan baru kemudian mencoba melepaskan benang yang membelit dari kalung Meila dengan sabar.


Teliti, sabar, dan juga lembut. Itulah yang Dimas lakukan ketika melepaskan rantai kalung dari belitan benang yang kusut hingga tidak membutuhkan waktu yang lama benang itu akhirnya terlepas.


"Sudah," Dimas berujar sambil membenarkan posisi kalung itu.


"Sudah?" Meila menghela napas lega, "untunglah...." lalu tersenyum lebar melihat kalungnya yang sudah tidak tersangkut dan kusut. Kemudian dia menoleh pada Dimas yang saat itu masih berada di belakangnya. Sedikit mendongakkan kepalanya.


"Terima kasih, kak." Ucap Meila disertai senyumannya yang paling manis.


Dimas memandangi Meila yang mendongak. Lalu memberikan kecupan kecilnya ke bahu Meila yang tidak tertutup oleh rambut. Mengecupnya lembut dengan penuh perasaan.


"Sekecil apapun masalah yang kamu hadapi, sebisa mungkin aku yang akan menyelesaikannya." Dimas berujar seketika saat meletakkan dagunya ke bahu Meila. Sambil memeluknya dari belakang dan melingkarkan lengannya ke pinggang Meila yang ramping. "Tetaplah bersandar padaku," imbuhnya kemudian tepat di depan telinga Meila.


Karena bingung mau bereaksi seperti apa, dan karena dia juga sedang berusaha mengatur debaran jantungnya akibat tindakan spontan yang Dimas lakukan, Meila akhirnya membalas ucapan Dimas dengan meletakkan tangannya ke atas lengan Dimas yang melingkari perut ratanya. Lalu mengucapkan sebuah candaan yang membuat Dimas tertawa dengan penuh sayang.


"Apa kakak nggak merasa berat kalau aku bersandar terus? Aku mulai berat, loh!" Celotehnya seketika disertai mata bulatnya yang menggemaskan.


Dimas tentu saja tergelak dibuatnya. "Kamu tuh, ya! Sekarang selalu bisa ngejawab!" sambung Dimas sambil mengeratkan pelukannya pada Meila. Lalu mengusak-usakkan wajahnya ke rambut Meila yang harum.


Tawa Dimas pun menular pada Meila. Mereka akhirnya tertawa bersama dengan penuh bahagia yang diselimuti oleh suasana yang hangat.