
Sisil menggeliatkan tubuhnya dengan perlahan sambil mengerjapkan matanya yang terasa lengket. Sinar cahaya yang memantul dari jendela kaca yang tidak tertutup tirai, mampu membuat matanya membuka sempurna dengan cepat. Pandangannya yang sedikit berkabut mulai menyusuri seluruh sudut ruangan. Dan tidak memerlukan waktu lama, seketika Sisil langsung menyadari keberadaannya.
Apartemen James...
Sisil menghela napasnya sejenak. Memandangi seluruh penjuru ruangan yang entah mengapa membuat hatinya lega dan nyaman. Menciptakan suasana damai sekaligus menghangatkan perasaannya. Mungkin juga karena pantulan sinar matahari yang membuatnya hangat. Tetapi yang dia tau saat ini adalah, kedamaian dalam jiwanya yang belum pernah dirasakannya sebelumnya.
Sisil pun membalikkan lagi tubuhnya ke samping. Menghadap pada jendela kaca besar dekat dengan meja nakas. Terciuam aroma khas parfum dari bantal yang dipakainya begitu melekat ke hidung. Menyeruak masuk memenuhi indera penciumannya hingga menembus ke rongga dadanya.
Tanpa disadarinya, bibirnya melengkungkan sebuah senyum penuh kelegaan yang tidak ditutup-tutupi. Sisil lalu memeluk guling yang ada didekatnya sambil menghirup aroma parfum James yang menempel disana.
"Gue lupa kapan terakhir kali gue pernah merasakan perasaan kayak gini. Mungkin bertahun-tahun lalu? Disaat rasa iri dan dengki dalam diri gue belum menguasai diri gue."
Sisil lalu menghela napasnya sejenak. Menghirup udara dalam-dalam sebelum akhirnya dia bergumam kembali.
"Tapi sekarang...... rasanya berbeda. Rasanya ada seseorang yang udah membangunkan gue dari mimpi buruk dan menggantikan mimpi buruk itu dengan ketenangan. Dia menyadarkan gue sebelum gue melangkah lebih jauh lagi. Dan orang itu adalah....." ucapannya menggantung di udara. Lidahnya pun kelu. Tidak sanggup mengucapkan satu kata yang masih memberatkan lidahnya.
Dan mengingat akan James, entah bagaimana pria itu bisa mengungkapkan perasaannya dengan gamblang tanpa memikirkan balasan atas perasaannya yang jelas-jelas lebih dipilih Sisil untuk menghalau dan membiarkan perasaan yang mulai mengusik dirinya itu ia buang jauh-jauh. Tetapi, pria itu malah mengungkapkan secara jujur saat dirinya sedang benar-benar terpuruk dan bingung.
Kalau begitu, apakah ungkapan perasaannya itu hanya untuk membuatnya membuka suara tentang masalahnya? Kalau memang benar, apakah James telah menjebaknya dengan mengakui perasaannya padanya?
Kecurigaan serta kewaspadaan Sisil yang menyeruak tiba-tiba mulai menguasai dirinya. Ingin rasanya dia percaya. Tetapi terlalu banyak pikiran buruk yang muncul dibenaknya. Namun, jika memang pria itu hanya ingin mengambil kesempatan dan memainkan perasaannya, lalu apa arti perhatian dan perlakuannya selama ini? Apakah itu hanya kedok agar Sisil bisa dengan mudah mempercayainya dan bersandar padanya?
Ditengah-tengah pergolakan bathin serta pikirannya, dia dikagetkan dengan suara ketukan dari pintu yang disusul dengan suara James dibelakangnya.
"Sisil, kamu sudah bangun?"
"....i-iya." Sisil menjawab gugup sambil bergegas bangun.
"Boleh aku masuk?"
"....iya."
Setelah mendapatkan jawaban dari Sisil, pintu itu terbuka dan James masuk setelahnya. Menampakkan sosok James yang masih mengenakan kemeja putih kantornya yang digulung sampai siku. Dengan dua kancing bagian kerah yang terbuka. Menampilkan tulang selangka yang mengintip terekspose dengan jelas.
Tetapi anehnya, bagaimana bisa dia tetap bekerja di hari libur?
"Bagaimana perasaanmu? Sudah lebih baik?" James bertanya ketika dia mendudukkan dirinya di pinggir ranjang.
Tanpa berlama-lama Sisil langsung menjawab diawali dengan anggukan.
"...Udah. Udah jauh lebih baik. Te-terima kasih." Ujar Sisil disertai sikapnya yang masih sedikit canggung.
James tersenyum lembut. "Sama-sama." Imbuhnya sambil membawa tangannya ke kepala Sisil. Lalu mengusapnya pelan seperti biasa yang dilakukannya. "Sebenarnya aku mau membangunkanmu sejak tadi. Tapi sepertinya kamu begitu kelelahan karena habis menangis. Jadi aku biarkan dulu. Dan karena kamu sudah bangun, ayo...! Kamu harus makan siang. Ini sudah hampir lewat jam makan siang, kan?"
"....aku belum lapar."
Kedua alis James mengernyit mendengar jawaban Sisil. "Tetapi kamu harus makan walau sedikit. Ayo! Aku akan temani."
"Tapi aku belum lapar, James. Perutku masih kenyang....." ditengah-tengah perkataannya, suara perut yang bergemuruh justru berbanding terbalik dengan mulutnya. Hal itu membuat wajah Sisil memerah padam menahan malu akan dirinya sendiri.
James pun langsung tertawa tanpa ditahan-tahan lagi. Dia lalu tampak memperhatikan Sisil yang sedang menunduk malu. "Benarkah seperti itu? Tetapi perutmu baru saja protes meminta untuk segera diisi."
"Kayaknya kamu puas banget ngetawain aku!" Ujar Sisil seketika dengan wajah memberengut.
Sambil beranjak bangun dari duduknya, James berdiri dengan setengah membungkuk di depan Sisil yang masih merona.
"Aku tunggu kamu di meja makan. Jangan terlalu lama, oke?" James berujar kemudian dengan lagi-lagi mengusap kepala Sisil dengan sayang disertai dengan tatapannya yang meneduhkan.
Sepeninggal James, Sisil lalu merutuki dirinya sendiri sambil memegangi perutnya yang memprotes di waktu yang tidak tepat. Lalu tangannya sontak bergerak naik ke dadanya yang berdegup kencang sesaat setelah James mengusap kepalanya. Kemudian dia pun menyentuh kepalanya sendiri dengan gaya salah tingkahnya yang nyata.
●●●
Sisil akhirnya menghabiskan makan siangnya dengan lahap. Ketika melihat menu makan siang yang telah James siapkan melalui pelayanan kamar terlihat begitu menggiurkan, nafsu makannya seketika melonjak. Dia pun langsung melahap dan menghabiskan santapannya.
"Sudah? Apa menunya sesuai dengan seleramu?"
Sisil mengangguk seketika. "Iya. Terima kasih."
"Sama-sama. Aku senang jika seleramu sama denganku. Anyway..... apa yang kamu bicarakan dengan Meila tadi? Keliatan nya kalian sudah mulai akrab." James bertanya sambil melipat kedua tangannya ke atas meja. Mencari jawaban dari Sisil yang sempat mengelak.
"Kita belum membicarakan sesuatu yang lebih. Kita hanya membicarakan soal perkuliahan aja. Oh, ya. Tadi dia sempat menyinggung tentang dirinya yang merasa sudah terlalu lama tinggal di rumah Dimas hingga menyebabkan Dimas kerepotan. Dia sempat berpikir untuk kembali ke rumahnya setelah jadwal kuis di kampus berakhir."
"Lalu? Apa tanggapanmu?"
Sisil menarik napasnya pelan. "Aku langsung mencegahnya. Karena aku pikir situasi di luar sana lagi nggak aman juga buat dia. Apa aku salah?"
James seketika tersenyum. "Tidak. Tidak sama sekali. Tindakan kamu sudah tepat, Sisil. Secara tidak langsung kamu telah membantu melindunginya."
Sisil merasa lega jika tindakannya itu benar. Dia memang melakukannya agar Meila aman dari ancaman Beno. Sebab, bukan tidak mungkin jika Beno menggunakan Meila untuk mengancamnya dengan menyakitinya lagi seperti dulu. Dan Sisil tidak mau hal itu terulang kembali.
"Setelah aku berbicara langsung dengannya, saling mengungkapkan perasaan kami satu sama lain, aku mulai menyadari betapa jahatnya aku sampai berpikir untuk menjatuhkan perempuan polos seperti dia." Sisil mulai berbicara. Mengeluarkan isi hatinya dengan penyesalan yang nyata. "Bahkan, mata hati aku tertutup oleh sifat dengki yang menyelimuti perasaanku, James. Tapi semuanya adil." Sisil terdiam sejenak hingga menyambung kalimatnya kembali. "Aku mendapatkan karma yang setimpal dengan perbuatanku. Aku menerima hasil keburukan yang telah aku tanam. Yaitu kebencian, James."
Sambil tersenyum getir, Sisil mulai membuka pembicaraan yang cukup dalam.
"Aku nggak tau sejak kapan kebencian itu tertanam dalam diriku. Kebencian saat melihat orang lain bahagia. Kebencian saat melihat orang lain mendapatkan sesuatu yang berharga. Aku merasa iri sampai benci melihatnya. Disaat aku dipenuhi dengan kebencian, aku terkadang berfikir, kenapa aku nggak bisa berada di posisi mereka? Kenapa cuma mereka yang mendapatkan kasih sayang serta perhatian semua orang? Mungkin karena mama dan papa terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka sampai-sampai sekedar mengabari dan menanyakan kabar putrinya pun tidak mereka penuhi. Sampai akhirnya kejadian itu terjadi. Kejadian dimana kehidupanku rasanya berputar 180⁰. Sejak itulah mama dan papa memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Apa harus sampai ada kejadian itu dulu agar mereka bisa memperhatikan putrinya? Pertanyaan itulah yang pertama kali terbersit saat melihat mereka ada dihadapanku. Aku pikir... setelah kejadian itu, mereka nggak akan menerimaku sebagai putrinya. Karena kelakuanku yang udah diluar batas dan mencoreng nama mereka. Tetapi aku salah. Meski awalnya mereka sangat marah, bahkan benar-benar marah, terutama papa. Aku masih ingat saat dimana papa menahan marah di wajahnya. Tetapi mereka tetap menerimaku. Mereka terus membimbingku agar aku nggak hilang arah dan terjerumus lagi. Itulah saat dimana aku merasa sangat bersalah sama mereka, James. Kamu tau, aku masih merasa takut untuk sekedar menatap mata mama dan papa saat berbicara. Jika aku melakukan itu, justru aku yang merasakan sakit, James. Sakit, sampai aku berpikir untuk menyayat nadiku sendiri."
"Ssssttt... Jangan, Sisil. Jangan berpikir untuk melakukannya." Tangan James bergerak menyentuh tangan Sisil. Menggenggamnya erat dan hangat. "Aku bisa mengerti jika itu adalah perasaan bersalah akibat perbuatanmu di masa lalu. Tetapi, mereka sangat menyayngimu. Om Adrian, meskipun dia keras, aku bisa merasakan kasih sayangnya untukmu yang begitu dalam. Dan tante Riana, mama mu, dia selalu berusaha bersikap lembut padamu agar kamu tidak merasa kesepian seperti dulu. Mereka sedang sama-sama berusaha merebut kepercayaanmu kembali agar kamu percaya pada mereka. Ya... meskipun mereka punya cara sendiri, tetapi itulah yang aku tangkap." James menatap Sisil dengan seksama sambil memberikan sedikit remasan ke tangannya.
"Kamu tau, James, apa yang aku pikirkan tentangmu saat papa menyuruhmu mengantarku pertama kali?" Sisil berucap dengan sebuah kalimat pertanyaan untuk James. Tanpa menunggu jawaban James, Sisil langsung melanjutkan kalimatnya. "Aku berpikir kamu itu pria hidung belang yang mengambil kesempatan untuk memanfaatkan seorang perempuan." Jawabnya gamblang tanpa ditahan.
James terkekeh. "Benarkah seperti itu? Lalu, sekarang apa pendapatmu tentangku?"
Sisil mendengus pelan sambil melihat lurus pada James. "Jujur aja, untuk saat ini aku belum bisa menerka bagaimana pendapatku tentangmu. Aku masih belum bisa menyimpulkan sesuatu yang menggambarkan dirimu. Tetapi, ada satu hal yang aku mengerti darimu. Bahwa, nggak semua pria bisa mengubah jalan pikir seseorang terlebih itu kepada seorang perempuan. Dan aku berterima kasih padamu." Sisil berucap tulus dari hati tanpa ia tutupi.
Dalam sekejap, James dibuat terpaku hingga tatapannya menghangat diikuti oleh senyuman yang meneduhkan.
"Sebenarnya aku tidak mau mempermasalahkan ini. Tetapi, mungkin aku harus sedikit mengingatkan."
Ekspresi Sisil berubah bingung. "...apa?"
James menghela napasnya kasar sambil meraih tangan Sisil dan mengecupnya pelan. "Harusnya caramu memanggilku sama seperti Meila. Sebab, kita itu terpaut 4 tahun dan kamu lebih muda dariku. Tetapi... aku memakluminya karena kamu telah berucap jujur dan mengakui keberadaanku. And for me, that's more than enough!"
Sisil terkesima dengan sikap James yang terlalu lembut hingga membuatnya terhanyut sampai dirinya tidak sadar jika James telah mendekat dan bersiap untuk menciumnya. Karena refleks, Sisil langsung mendorong James menjauh untuk menghentikannya.
"Kenapa?" tanya James bingung.
"Ja-jangan, James. Kita akan pulang sebentar lagi. Dan aku nggak mau menimbulkan pertanyaan yang nantinya nggak bisa aku jawab." Jawab Sisil sambil tersipu lengkap dengan ekspresi juteknya yang khas. Namun kali ini, ekspresi jutek itu sudah kalah dengan sikapnya yang baru. Yang lebih sedikit berbeda.
James tersenyum geli dan mengerti apa maksud ucapan Sisil. Mungkin Sisil takut jika dirinya akan meninggalkan jejaknya seperti kemarin.
"Apa kamu pikir aku akan meninggalkan jejakku seperti kemarin?" ujar James spontan dan lantang. "Tidak, Sisil... aku hanya ingin menciummu sebagai bentuk ungkapan perasaanku."
"O-oh..." Sisil berujar lirih sambil memalingkan wajahnya.
James terkikik tanpa suara melihat tingkah Sisil. Hingga akhirnya dia tidak tahan untuk menghadiahkan kecupan ke kening dan bibir Sisil dalam hitungan detik tanpa bisa Sisil halau atau mencegahnya.