A Fan With A Man

A Fan With A Man
Kuliah Lagi



Saat mobil Dimas memasuki halaman parkir kampus, senyum di wajah Meila tak henti-hentinya berkembang. Gadis itu tampak sangat bahagia untuk memulai perkuliahan lagi dan bertemu teman-temannya. Tak terkecuali sahabatnya, Airin.


Dimas memarkirkan mobilnya ke tempat yang sudah biasa ditempatinya. Keluar dari kursi kemudi dan berjalan mengitari mobilnya untuk membukaan pintu untuk gadisnya.


Sambil menghirup udara dan menghembuskannya perlahan, Meila berucap, "Aku kangen banget sama kampus ini, kak. Rasanya nggak sabar untuk menjalani perkuliahan lagi. Ketemu Airin, dan yang lainnya." Ucapnya senang kala dirinya keluar dari kirsi penumpang.


Bersamaan dengan Dimas yang menarik tangannya untuk digenggamnya.


"Aku tau itu. Makanya aku memutuskan untuk kita, masuk kuliah lagi hari ini." Dimas menyahuti dengan lembut.


Senyum keduanya sama-sama tak bisa dihilangkan dari wajah mereka. Keduanya memasuki kampus di awali dengan koridor sambil bergandengan. Pemandangan itu sangatlah indah, semua orang memperhatikan mereka dengan tatapan terkesima. Tak jarang pula sebagian mahasiswa yang melewati mereka, menyempatkan diri untuk menyapa Meila dengan raut wajah sumringah bercampur terkejut. Dan tak jarang pula Meila membalas sapaan mereka dengan senyuman atau sekedar menyapanya kembali dengan sikap ramah.


Sementara Dimas dan Meila memulai perkuliahan mereka dengan semangat dan bahagia, Vika baru saja sampai dengan diantar oleh


James sampai mobilnya memasuki halaman parkir.


"Ini kampus kamu?" James bertanya saat mobilnya berhenti tepat di depan halaman menuju ke koridor pintu masuk kampus. Matanya pun mengikuti, mengitari sekeliling kampus itu dengan seksama.


"Ya." Sahut Vika singkat. Namun, ada tatapan nanar di wajahnya yang tidak bisa disembunyikan. Sejenak Vika menghela napasnya sambil membuka sabuk pengamannya. "Sebenarnya... ini bukan kampus asli aku, James. Aku adalah mahasiswa perbantuan di sini. Ini hari ke-tiga aku berada di sini, James." Jelas Vika kemudian.


"Tapi kamu menyukai kampus ini, kan?" Tanya James seketika, dan mata tajamnya mengikuti perubahan wajah Vika.


"Bagitulah, James. Suka atau tidak suka, aku harus menerimanya, bukan?" Jawab Vika sekenanya.


Mendengar ada sesuatu yang Vika simpan dan belum sempat dijelaskan padanya, membuat James melembutkan dirinya. Digerakkan tangannya untuk mengusap rambut Vika dengan penuh perhatian, seperti seorang kakak kepada adiknya.


"Aku tau, Vika. Ada sesuatu yang kamu simpan dan belum mau kamu bicarakan padaku. Aku akan menunggunya sampai kamu siap menceritakannya." James berujar lembut seraya memberikan senyuman pengertian pada Vika.


"You're very kind, James. I'm so lucky to have a brother like you."


Vika berkata tulus sambil memberikan senyumannya pada James.


Lalu, menarik tangan James untuk digenggamnya sejenak.


"Aku akan menceritakannya padamu saat kita memiliki waktu yang lebih luang, nanti!" Vika mengucap janji.


"Kabari aku kapanpun kamu mau, Vika. Aku akan selalu siap untuk mendengarkan keluh kesahmu." Sahut James dengan penuh pengertian. Yang lagi-lagi membuat Vika tersenyum lembut padanya.


Vika tersenyum lembut mendengar pernyataan James, "You take it easy, James. I'll do that to you." Kemudian senyuman itu berubah menjadi gelak tawa yang menular pada James.


"Baiklah, aku masuk dulu. Kamu hati-hati, kak James!" Vika berkata dengan nada meledek yang kental.


James tersenyum ironi, "aku akan menempati apartemenku sore ini. Nanti Satya akan menjemputmu di sini. Dia yang akan mengantarmu pulang. Kabari aku kalo ada apa-apa." James memberikan serentetan perintah yang harus Vika patuhi.


Ya! Satya adalah salah satu kaki tangan James yang sangat dipercayainya. Dia sangat berkompeten dan sigap dalam menghadapi situasi dan kondisi apapun. Maka dari itu, James menunjuknya untuk mengawal Vika dan bertugas untuk menjemput atau mengantarnya jika jadwal James bertabrakan dengan jadwal Vika.


"Siap, kak James!" Sahutnya cepat dengan sikap hormat dan nada menggoda yang kental. Setelahnya, Vika keluar dari kursi penumpang sembari menunggu James meninggalkan halaman kampusnya. Kemudian, dirinya baru memasuki pintu koridor sampai mobil itu tak terlihat oleh pandangannya lagi.


●●●


Saat Vika berjalan di koridor, entah mengapa dirinya ingin sekali ke toilet. Dengan cepat, dia langsung berlari memutar arah dan masuk ke toilet dengan cepat.


Tak berapa lama, Vika keluar dengan memasang senyum lega. Dia beralih ke wastafel untuk mencuci tangannya, lalu menatap dirinya di cermin untuk mengecek penampilannya yang pasti sedikit berantakan karena berlari-lari tadi.


Tanpa sengaja, matanya menatap ke arah jam tangan yang di pakainya, dan betapa terkejutnya Vika saat dirinya tahu bahwa dia nyaris terlambat dan harus segera sampai ke ruangan senat sebelum dirinya benar-benar telat dan mendapatkan tatapan membunuh dan dari sang ketua, Rendy.


Tanpa berpikir panjang, Vika langsung keluar dari toilet itu tanpa memperhatikan langkahnya. Saat dia akan berlari, dirinya langsung bertabrakan dengan seseorang yang diketahuinya adalah salah satu dari mahasiswa kampus ini pastinya.


"Aww!" Meila memekik kaget saat dirasakan bahunya membentur bahu Vika dengan cukup keras. Beruntung Dimas memeganginya dengan sigap.


"Sayang, kamu nggak apa-apa?" Tanya Dimas dengan sedikit cemas.


Bukan tanpa alasan, Dimas mencemaskan jika benturan tadi mengenai luka bekas operasi di bagian perutnya.


Meila menggeleng pelan dan tersenyum. "Aku nggak apa-apa, kak."


Lalu, menyahuti Dimas dengan sikap tenang.


Dengan perasaan bersalah, Vika mencoba bertanya. "S-sorry, sorry! Gue nggak sengaja. Gue buru-buru. Lo nggak apa-apa, kan?" Tanya Vika dengan panik.


Meila mengangkat kepalanya perlahan, membawa wajahnya bertatapan langsung dengan wajah yang dipastikannya adalah seorang mahasiswi di kampusnya. Dan betapa terkejutnya Meila, wajah familiar yang setelah sekian lama hilang tanpa kabar, kini saling bertemu lagi pada situasi dan kondisi yang tidak disangkanya.


"Kak Vika?" Ucap Meila terkejut saat didapatinya Vika sedang berada di kampusnya.


Dan tak kalah terkejutnya dengan Meila, Vika pun sangat terkejut dan terperangah. "Meila?" Vika rupanya masih mengingat Meila dengan jelas.


Keduanya saling berpelukan melepas rindu. Dengan disaksikan Dimas yang memasang wajah bingung sambil menautkan kedua alisnya ingin tahu.


"Kak Vika kemana aja? Aku kangen," ucap Meila saat pelukannya belum terlepas.


"Aku harus menyelesaikan tugasku, Mei. Aku juga kangen sama kamu." Sahutnya sambil melepaskan pelukan mereka.


"Kak Vika apa kabar?" Tanya Meila seketika.


"Aku baik-baik aja, Mei. Sangat baik. Kamu sendiri apa kabar?" Vika menyahuti lagi dengan balik bertanya dengan santai dan senyuman.


"Aku juga baik-baik aja, kak." Jawab Meila dengan sikap ramahnya.


"Ah, iya. Aku hampir lupa. Kak Dimas, kenalin ini kak Vika. Dan kak


Vika, ini kak Dimas." Meila berusaha mengenalkan keduanya dengan riang.


"Dimas,"


"Vika,"


Keduanya saling mengucap bersamaan sambil berjabatan tangan.


"Pacar kamu?" Tanya Vika spontan hingga berhasil membuat pipi Meila merona. "Adik kecil ini ternyata udah besar, ya?" Ledek Vika hingga membuat Meila malu untuk melirikkan matanya pada Dimas.


"Gimana kalo pembicaraannya di lanjut nanti aja? Kita harus segera ke ruangan senat untuk mengejutkan seseorang." Dimas menyela dengan cepat. Yang Meila tau maksud dari kata 'mengejutkan seseorang' itu adalah Rendy. Sementara Dimas memberikan solusi pada dua gadis itu untuk cepat datang ke ruangan senat, seketika membuat Vika teringat kembali akan keterlambatannya.


"Astaga! Aku juga udah telat." Sambar Vika kemudian dengan wajah cemas.


"Tenang aja, kak. Kak Vika nggak akan kena marah kalo ada aku."


Ucap Meila dengan seringaian nakalnya yang berhasil membuat Dimas terkekeh karena tingkah gadisnya.


●●●


"Selebihnya, bisa langsung dipraktekkan di depan mahasiswa baru. Usahakan kalian bisa mengambil hati para mahasiswa itu untuk menarik minat mereka bergabung bersama kita. Kalian mengerti?"


Rendy sedang memberikan pengarahannya pada semua anggotanya mengenai kegiatan mereka selanjutnya nanti. Sebagai ketua senat, dirinya perlu mengevaluasi setiap kegiatan yang sudah maupun baru akan dilaksanakan. Agar bisa meminimalisir kendala-kendala yang tidak diinginkan nantinya.


"Baiklah, gue rasa sampai sini dulu rapat kita. Silahkan kerjakan tugas kalian sesuai porsi kalian. Terima kasih atas perhatiannya."


"Selamat pagi, semuanya."


Kalimat di akhir sebagai penutup pada rapat itu berbunyi bersamaan dengan suara Meila yang lantang di balik pintu yang terbuka lebar.


Membuat semuanya menoleh dengan seksama. Tak terkecuali Rendy, yang tampak tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Meila?" Airin lah yang lebih dulu berteriak,


Meila pun bergegas masuk, diikuti oleh Dimas di belakangnya baru


kemudian Vika muncul dengan kondisi canggung takut untuk menatap Rendy karena keterlambatannya untuk datang.


"Gue kangen banget sama lo, Mei. Kenapa nggak bilang kalo mulai masuk hari ini?" Airin beralih memeluk Meila dengan erat.


"Gue juga kangen sama lo, Rin. Gue pengen bikin kejutan buat kalian." Sahut Meila sambil terkekeh.


Lalu, melepaskan pelukannya pada Airin dan beralih mendekati Rendy. Dan tanpa basa-basi, Rendy langsung melebarkan lengannya dan Meila pun langsung menghambur ke pelukan Rendy.


"Bagaimana kabar kamu, Mei. Udah lebih baik? Aku senang kamu kembali lagi ke kampus ini." Ucap Rendy seraya memeluk adiknya, Meila.


"I'm okay, kak Rendy. As you see, i'm very good so far. Aku juga senang bisa ketemu kakak lagi dan yang lainnya." Sahut Meila seketika. Kemudian melepaskan pelukannya dan sedikit menjauh, membiarkan Dimas dan Rendy bercakap-cakap dengan nyaman.


"Maaf, kak kita telat." Sambung Meila kemudian sambil melirikkan matanya pada Vika. Dan perubahan di wajah Rendy sangatlah terasa, membuat wajah pria itu sedikit kikuk dan....hanya tersenyum datar tentunya.


"Kenapa lo nggak ngabarin gue kalo kalian masuk hari ini?" Rendy bertanya pada Dimas.


"Seperti yang tadi adek lo bilang, buat kejutan." Sahut Dimas meniru perkataan Meila dengan sedikit kedipan mata ke arah Meila.


Semuanya tampak duduk. Sedangkan para pria, masih sibuk membicarakan hal yang tidak dimengerti para gadis.


"Kak Vika, kamu belum cerita sama aku kemana aja kamu selama ini. Kamu hutang cerita sama aku, ya?" Meila tiba-tiba berucap saat dirinya telah berhasil duduk pada sebuah kursi.


Mendengar Meila dengan sikap manja yang masih sama, Vika hanya tersenyum menghadapinya seraya berucap lembut penuh janji.


"Aku akan menceritakan ke kamu semuanya. Aku janji!" Jawab Vika penuh janji. Membuat Meila tersenyum senang.


Melihat Meila dan Vika yang tampak berbincang akrab, membuat Airin bingung dan juga penasaran dibuatnya. Pertanyaan yang tiba-tiba muncul seketika di ucapkannya begitu saja.


"Kalian udah saling kenal? Sejak kapan?"


Meila terkekeh mendengar pertanyaan Airin, begitupun dengan Vika yang hanya tersenyum melihat wajah bingung Airin yang tampak lucu. Hal itu tanpa sengaja membuat perhatian Rendy teralihkan untuk melirikkan matanya sejenak, memperhatikan Vika dari jarak yang cukup jauh dan tanpa sadar telah menyunggingkan senyum ironi di bibirnya.


"Kita udah kenal lama banget. Jauh sebelum gue kuliah. Iya kan, kak?" Meila menyahuti dengan sebuah pertanyaan di akhir kalimatnya. "Nanti gue ceritain ke lo."


Mendengar jawaban Meila, Airin hanya ber-oh ria disertai anggukan kepala tipis. Namun, reaksinya itu masih belum bisa menutupi rasa ingin tahunya tentang ada hubungan apa antara Vika dan Rendy.


Mencoba menjauhkan pikiran aneh dibenaknya, Airin berusaha tetap


bersikap biasa saja. Toh, akan ada saatnya nanti dia akan tahu juga dan mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang berkumpul di benaknya.


Selang berapa lama, Rendy mengambil beberapa tugas dan tumpukan buku di atas mejanya. Sambil kemudian berucap pada Meila dan anggota lainnya.


"Semuanya, kalian bisa mengerjakan tugas kalian seperti yang gue udah berikan tadi. Dan buat kamu dek, kamu bisa tanya sama Airin atau yang lainnya, apa aja yang harus dan nggak harus kamu lakukan. Jangan terlalu dipaksakan, kamu baru mulai hari ini, kan? Anggap aja.... kamu lagi dalam masa perkenalan." Rendy memberikan penjelasan yang disertai kekehan kecil, penjelasan yang ditujukan pada Meila khususnya.


"Siap, kak. Thank you." Meila menyahuti dengan nada ramah disertai senyuman khasnya.


Melihat keramahan yang ditunjukkan Rendy pada Meila. Jujur, membuat Vika merasa iri, dan tanpa sadar telah menimbulkan senyuman getir sekaligus tatapan nanar. Dan sebelum Meila dan Rendy menyadari sikapnya, dia bergegas menguasai diri.


"Kami akan kembali ke kelas. Silahkan mulai kerjakan tugas kalian masing-masing." Tutup Rendy kemudian.


Bersamaan dengan ucapan Rendy, disaat yang bersamaan pula


Dimas mendekati Meila sambil berucap penuh kelembutan.


"Aku akan masuk kelas. Kamu di sini aja bersama yang lainnya. Ingat, jangan lakukan sesuatu yang akan membuat kamu kelelahan. Karena kamu baru aja pulih dari sakit kamu. Okay? Kita ketemu saat jam makan siang. Hm?" Dimas berucap lembut sambil memberikan beberapa perintah pada Meila, yang layaknya seperti memberikan perintah pada anak kecil berusia lima tahun.


Meila tampak tersenyum seraya menganggukkan kepalanya dengan patuh. Lalu, membiarkan Dimas tersenyum dengan mengedipkan matanya diikuti dengan tangannya yang bergerak mengusap kepala Meila dengan usapan sayang.


Aksinya itu tak luput dari tatapan Vika, dan tanpa sadar telah melengkungkan senyum tulusnya untuk Meila. Melihat Meila yang tampak bahagia diperlakukan dengan lembut oleh Dimas, seketika telah menumbuhkan rasa iri di hatinya akan kejelasan hubungannya bersama Rendy. Tapi, melihat semuanya tidak ada perkembangan dan kejelasan dari kedua pihak, bagaimana hubungannya akan membaik selagi sikap dingin Rendy selalu menguar saat bersamanya? Bagaimana dia akan memulai untuk mencoba menjelaskan semuanya jika dia sendiri tidak memiliki kesempatan untuk sekedar saling bertegur sapa?


Berusaha menepis rasa getir di hatinya, Vika mulai mengatakan sesuatu yang lagi-lagi membuat pipi Meila merona saat dilihatnya para pria telah meninggalkan ruangan.


"Dia kayaknya sayang banget sama kamu, ya? Dia perhatian banget sama kamu, Mei. Keliatan dari cara dia menatap kamu dan memperlakukan kamu dengan istimewa."


"Kamu cuma melihat sebagian aja, kak. Udah banyak dan akan lebih banyak lagi yang akan mereka tunjukkin ke kita nanti. Asalkan.... kita kuat aja menghadapinya." Airin menyahuti dengan gelak tawa serta ledekan yang kental. Membuat Meila tersipu malu dengan sedikit menyikut lengan Airin dengan sengaja.


Perkataan Airin itu berhasil membuat Vika terkekeh renyah, "aku senang kalo adik kecil ini udah bisa merasakan apa itu cinta. Aku senang karena udah ada seorang pria yang mencintai dan menyayangi kamu dengan tulus." Cecar Vika seraya mengusap lengan Meila dengan pelan.


Saking bingungnya mau menjawab apa, Meila hanya tersenyum sambil tersipu malu. Lalu, menundukkan wajahnya dengan debaran perasaan yang membuncah tak karuan.