
Meila tampak berjalan menuju ruang kerja Dimas dengan membawa secangkir teh hangat di tangannya. Setelah mandi, dia tidak menemukan Dimas di kamar. Sedangkan pria itu bilang, dia akan pergi ke ruang kerja sebentar untuk mengecek sebuah e-mail.
Tetapi, sudah satu jam sejak dia mandi dan berganti pakaian, Dimas masih belum juga masuk kamar. Apa mungkin ada hal penting sampai harus membuatnya berlama-lama di ruangan itu? Mungkin saja ada beberapa file penting yang harus dia selesaikan seperti kemarin, bukan?
Akhirnya, Meila berinisiatif membuatkan teh hangat dengan aroma peppermint yang segar. Dia membawanya dari dapur sampai sekarang sedang menuju ruang kerja Dimas yang ada di sebelah kamar.
"Kakak, aku membawa teh hangat buat kamu. Boleh aku masuk?"
Meila mengetuk pintu lebih dulu sebelum akhirnya berucap. Dan setelah mendapatkan jawaban dari dalam, dia lalu membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Kenapa repot-repot? Aku sebentar lagi selesai, kok." Dimas bertanya sembari merapikan file-file yang telah dia cetak ke dalam map biru.
"Nggak repot, kok. Kakak kan juga sering buatin aku teh hangat." Sahut Meila tak mau kalah. Dia lalu meletakkan teh itu ke atas meja kerja Dimas lalu duduk ke sofa dekat meja kerja. Tempat dimana dia tidur kemarin malam.
"Terima kasih, sayang." Ucap Dimas lembut. "Aku minum, ya."
Dimas lalu meminum teh itu. Dan menikmati tiap aroma hangat yang memasuki hidungnya. Diperhatikannya Meila dengan seksama. Ditelisiknya lebih jauh gerak-gerik gadis itu yang tampak gusar seperti ingin mengatakan sesuatu namun masih ragu.
"Ada yang mau kamu bicarakan?" Dimaslah yang bertanya lebih dulu.
"Mmm... sebenernya iya. Tapi aku bingung mau mulai dari mana."
"Memang tentang apa? Tentang kuliah, atau tentang rapat tadi siang?"
Meila menggelengkan kepala. "Bukan. Bukan semuanya. Ini mengenai... kak Dion yang kemarin mengantar aku pulang." Meila berucap dengan sangat hati-hati. Takut Dimas akan marah.
Mendengar nama Dion disebut, membuat Dimas terdiam dan teringat. Dia kemarin berjanji untuk membicarakannya dengan Meila setelah dia sampai di rumah. Tetapi, hal itu tidak terjadi karena insiden lain yang membuatnya melupakan hal cukup penting itu. Sekarang, Meila sepertinya sedang menagih janji darinya.
Dan memang, karena hal itu belum dibicarakan dengan benar, Meila akhirnya mengangkat kembali seakan ingin membicarakannya dan menyelesaikannya dengan Dimas. Agar tidak ada salah faham atau timbul kecurigaan darinya yang akan menimbulkan perselisihan dalam hubungan mereka. Sebab, Dimas berhak tau dan pria itu berhak memberikan pendapatnya padanya.
Dimas sendiri juga berfikir jika dia juga perlu mengingatkan Meila agar waspada pada sikap Dion yang menurutnya sangat janggal. Dia tidak perlu bersikap keras pada Meila. Cukup dengan memberikan sedikit pengertian dengan pelan, gadis itu pasti akan mengerti maksud dari perkataannya.
"Aku pikir... aku perlu membicarakan ini sama kakak. Jadi sekarang bagi aku adalah waktu yang cukup tepat untuk itu." Meila masih berucap dengan hati-hati sambil menatap Dimas yang sedang memasang wajah tanpa ekspresi.
Seketika, Dimas tersenyum dan bangkit dari kursi meja kerjanya. Berjalan menghampiri sofa tempat dimana gadis itu duduk.
"Jadi, kamu mau membicarakan itu sekarang?"
Meila menjawab dengan sebuah anggukan.
"Tapi sebelum itu ada sebuah syarat yang harus kamu penuhi. Dan kamu harus berjanji untuk memenuhi syarat itu apapun kondisinya." Dimas berucap dengan teka-teki sampai membuat Meila memasang wajah bingung. Namun tak urung dia menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Iya. Aku janji."
Sahut Meila pada Dimas yang langsung merubah ekspresi pria itu menjadi serius setelah mendengar kalimat persetujuan Meila yang sedikit membuatnya lega.
"James bilang semalam kamu menginap di rumah temanmu karena harus menyelesaikan tugas?"
Adrian yang sedang menyantap makan malam, bertanya tiba-tiba pada Sisil. Dan begitu mendengar pertanyaan papanya, Sisil langsung terperangah dan hampir tergeragap ketika menjawab.
"Oh. Iya, pa. Ada tugas kampus yang harus dikerjakan secara berkelompok. Dan karena harus segera diselesaikan, aku terpaksa menginap dirumahnya."
Adrian terlihat santai mendengar jawaban Sisil. Dia tetap tenang saat menyantap kembali suapan demi suapan makan malamnya.
"Lalu, kenapa kamu nggak menjawab telepon kami? Kami khawatir sekali padamu, Sisil."
Kali ini Riana yang menyusul bertanya. Dia yang sedari tadi hanya menyimak, akhirnya tidak sabar juga untuk tidak bertanya juga.
"Eh, itu ma... karena waktu pengumpulan tugas yang sangat mepet. Aku jadi terlalu fokus untuk cepet-cepet menyelesaikannya. Jadinya aku mengaktifkan mode hening agar nggak terganggu. Aku minta maaf karena udah buat kalian khawatir." Sisil memberikan alasannya dan berkata dengan tulus.
"Lain kali jangan seperti itu, ya. Mama sangat khawatir takut kamu kenapa-napa. Minimal kamu bisa mengabari kita kalau akan pulang terlambat atau mau menginap di rumah temanmu."
"Iya, ma. Aku nggak akan mengulanginya lagi."
"Untung ada James yang saat itu langsung mengangkat telepon papa. Dan setelah kami cerita semuanya, dia langsung bersedia untuk membantu mencarimu." Adrian menyambung setelah meneguk air putihnya.
Mendengar nama James disebut oleh Adrian, suasana hati Sisil langsung berubah. Dia sedikit malas jika harus membicarakan pria itu dengan papanya. Jika boleh mengumpat, dia pasti akan mengoceh dan mengeluarkan rasa kesalnya untuk pria yang suka ikut campur dan selalu mengambil kesempatan darinya. Apalagi dengan sifatnya yang suka tebar pesona itu, dia selalu saja mencari perhatian mama dan papanya dengan alasan tidak enak menolak permintaan orang tua.
"Kamu nggak lupa untuk bilang terima kasih padanya, kan? Semalam setelah dia menemukan keberadaanmu, dia langsung mengabari papa kalau kamu akan menginap di rumah temanmu karena tugas yang belum selesai. Dia juga bilang kalau dia yang akan menjemputmu esok paginya dan mengantarmu pulang sehingga itu membuat kami merasa sedikit lega mendengarnya." Adrian berkata sambil menggeser piring yang telah kosong ke samping meja. "Papa takut kamu terkena masalah sehingga kamu memilih menghindarinya dengan alasan mengerjakan tugas. Itu nggak benar, kan?" Kali ini pertanyaan Adrian terdengar mengintimidasi. Pandangannya menelisik seperti sedang mengintrogasi.
Hal itu membuat Sisil membeku dan terdiam. Dia merasa terkejut sekaligus kehabisan kata sampai-sampai bingung akan menunjukkan ekspresi apa kepada orang tuanya.
"Sisil, kamu nggak mendengar pertanyaan papa?"
Karena pertanyaannya tidak dijawab, Adrian bertanya kembali dengan penuh penekanan.
Begitu pun dengan Sisil, karena merasa dirinya terpojok namun tetap harus memberikan jawaban yang masuk akal, akhirnya dia menjawab sekenanya dan tentu dengan ekspresi wajah tetap tenang.
"Ah, eh.. nggak, kok, pa. Aku nggak ada masalah apapun. Papa tenang aja."
"Kamu yakin? Kamu mengatakan seperti bukan karena agar kita percaya sama kamu, kan?" Adrian berucap dengan mendesak. "Karena kalau sampai iya, papa mau kamu membicarakannya dengan kami. Papa akan bantu kamu menyelesaikannya."
Hati Sisil terenyuh mendengar ucapan Adrian yang begitu sangat ingin membela dan membantunya menyelesaikan masalahnya. Tetapi, dengan masalah teror yang dia hadapi saat ini, tidak mungkin dia mengatakannya pada Adrian dan Riana. Terlebih lagi, teror ini adalah teror yang mengulas kejadian kelam atas kesalahan fatal yang dia lakukan sampai membuat Adrian dan Riana sangat marah bahkan malu. Keperawanan yang terenggut dengan sukarela dan tanpa kesadaran penuh, itu adalah hal paling hina dan menjijikkan yang menurutnya sangat fatal.
"Iya, pa. Papa nggak perlu khawatir. Semuanya aman, kok. Aku nggak punya masalah apapun. Jadi, papa nggak perlu memikirkan untuk membantu menyelesaikannya."
Dan, setelah kalimat penenangan itu terucap, di detik itulah perasaan bersalah muncul dari lubuk hati Sisil yang paling dasar. Rasa bersalah karena telah membohongi orang tuanya, rasa bersalah karena telah merusak kepercayaannya dengan bersikap kekanak-kanakan hanya untuk mendapatkan perhatian seseorang. Rasa bersalah karena pernah memiliki rasa iri dan dengki sehingga menyebabkan orang lain sesama kaum wanita menderita karenanya.
Dan itu rasanya masih belum cukup jika harus disandingkan dengan kata maaf meski diucapkan berulang-ulang.