
"Tumben kamu nggak meledak-ledak. Biasanya sangat ketus."
James dan Sisil sedang dalam perjalanan menuju kampus Sisil. Tepat setengah jam lalu James tiba di rumah Sisil yang disambut hangat oleh Adrian dan Riana. Bahkan keduanya sampai memaksa James untuk ikut sarapan bersama mereka. Dan tentu saja mau tidak mau James mengiyakannya karena tidak ingin mengecewakan mereka.
Dan kini sudah 15 menit berlalu sejak mereka berangkat dari rumah. Dan setelah 15 menit itulah James baru bersuara untuk membuka pembicaraan.
"Aku lagi malas berdebat sama kamu. Fokus menyetir aja. Bisa, kan?"
Akhirnya yang diharapkan James terjadi. Sisil akhirnya menjawab pertanyaannya dengan ketus. Ya... meski tidak seketus biasanya, sih~
"Nah! Baru disebut udah mulai ketus lagi." Kikik James.
Sisil segera menoleh kepada James. Karena perkataannya itu terdengar seperti sebuah ejekan, akhirnya Sisil mendecakkan lidahnya karena kesal.
"Kamu tuh emang nyebelin, ya! Padahal barusan kamu sendiri yang ngomong. Dasar!"
Bukannya kesal atau marah, James malah tertawa mendengar kalimat Sisil yang menurutnya sangat menggelitik.
"Jangan ketawa! Fokus aja menyetir." Sisil memperingati James lagi yang tidak berhenti tertawa. Dan seketika suara tawa James tertelan tetapi belum sepenuhnya berhenti. James masih tetap terkikik geli meski tertahan.
"Padahal, ada satu kabar baik tentang kejadian di klub beberapa waktu lalu." James berujar memancing untuk menarik perhatian Sisil. "Tapi sepertinya kamu nggak tertarik. Huhhh... sayang sekali." Imbuhnya sambil membuat ekspresi tampak menyesal.
"Kabar baik? Oh, apa ada sesuatu yang belum kamu bilang sama aku?"
Umpan berhasil mengenai sasaran. Akhirnya keingintahuan Sisil terpancing hingga rasa ingin tahunya tidak bisa ditutupi.
"Yaa... tadinya aku mau memberitahu kamu. Tapi sepertinya kamu lagi nggak mau diajak bicara. Jadi alangkah baiknya aku simpan sendiri." James berujar meledek. Semakin berusaha memancing rasa penasaran Sisil.
"Jangan bercanda, James! Cepat katakan ada apa?! Aku harus tau agar aku merasa lega."
Mendengar kata 'lega' yang diucapkan Sisil, membuat James menolehkan wajahnya pada perempuan itu. Tadinya dia akan menjahilinya sedikit lagi. Tetapi, dia kembali tidak tega jika melihat raut wajah Sisil yang tampak begitu cerah hari ini.
"Haaahh... baiklah." James mengalah, dan mulai berbicara serius. "Kamu ingat apa yang aku tanyakan padamu malam itu melalui telepon setelah kejadian?"
Sisil langsung mengingat keras dengan menggali ingatannya. "Ah, tentang saksi! Kamu bertanya itu sama aku. Apa ada hal baik?"
"Tepat sekali! Saksi mata yang kamu bilang itu, aku berhasil mencarinya dan memintanya baik-baik untuk bersedia menjadi saksi untukmu. Dan karena dia memang tidak ada masalah denganmu dan dia melihat kejadian yang sebenarnya, akhirnya dia mau bersaksi dan menceritakan kronologi yang sebenarnya. Ya... tentu saja dengan ceritanya itu telah merugikan pihak lawan. Dan pria yang mengganggumu itu dikenakan pasal 335 ayat 1 (KUHAP) atas perbuatan tidak menyenangkan."
Sisil terkejut sekaligus lega. Dia akhirnya menghela napas lega panjang sebelum akhirnya berkata.
"Haaahh... Akhirnya! Akhirnya, James! Aku takut akan jadi masalah panjang jika berurusan dengan polisi. Apa yang akan aku katakan sama papa dan mama kalau akhirnya mereka tau putrinya udah melukai seorang laki-laki di sebuah klub malam." Kepala Sisil lalu bersandar di kepala jok mobil. "Akhirnya aku bisa sedikit lega sekarang."
James tersenyum melihat Sisil yang tampak senang. "Kenapa cuma sedikit? Aku bisa membuat kamu jauh lebih lega dari itu."
Sisil menoleh dengan cepat. "Apa maksud kamu?"
"Aku bisa bikin kamu merasa lega tanpa harus diteror laki-laki itu lagi. Bahkan aku bisa membuatnya jera hingga tidak berani untuk melakukan apapun lagi ke kamu dan wanita manapun di luar sana."
Sisil mengerutkan dahinya. Membenarkan posisinya untuk duduk dengan tegak sambil menghadap pada James.
"Kalau kamu mau pun, aku akan melakukannya." James menimpali dengan santai.
"Jangan aneh-aneh, ya. Suasananya udah sedikit tenang. Jangan buat semuanya kacau lagi cuma karena emosi kamu!" Sisil tanpa sadar sedang memperingati James. Dan itu membuat James senang hingga berpikir untuk menggodanya.
"Apa kamu mengkhawatirkan aku?"
Sisil terperangah sekaligus tergeragap. Dia menjadi salah tingkah sampai harus membuang mukanya ke jendela mobil. Menatap ke luar jalanan yang terlihat mulai dipenuhi kendaraan.
"Si-siapa yang mengkhawatirkan kamu? Lagian... Kamu juga ngelakuin itu ada maksud lain, kan? Iya, kan?"
"Kalau aku jawab 'YA', apa reaksi kamu?" James berbalik bertanya dengan memancing. Dia mendadak gemas dan ingin sekali mencubit pipi Sisil yang tampak merona itu.
"Memangnya aku harus bereaksi apa ke kamu? I-itu bukan urusanku. Kan kamu sendiri yang mau membantuku."
Untuk mengalihkan perasaannya, Sisil harus sampai berucap ketus bahkan kasar pada James. Itu semata karena Sisil tidak mau menunjukkan sisi buruknya pada James karena takut suatu saat nanti laki-laki itu akan merendahkannya seperti yang Beno lakukan. Meski kemungkinannya sangat kecil, tapi Sisil melakukannya untuk berjaga-jaga.
Mendapat perkataan kasar dari Sisil, tidak membuat perasaan James terluka atau goyah sekalipun. Justru sebaliknya. Dia merasa Sisil yang sebenarnya adalah perempuan lemah yang hanya pura-pura kuat sebagai tameng pertahanan dirinya. Dan James yakin, ada sebuah alasan kuat dalam setiap tindakan. Dan James sangat memakluminya.
"Baiklah. Mungkin itu memang bukan urusanmu. But, your bussiness is also be my bussiness, now! Mau kamu suka atau sebaliknya, aku akan tetap melakukannya."
James berujar terang-terangan sambil membawa pandangannya pada Sisil dengan tatapan penuh makna. Sengaja membuat Sisil bingung dengan posisinya. Dan disaat James berucap lantang, disaat itulah perasaan Sisil kembali berkecamuk. Perasaan yang kemarin mengganggunya tanpa Sisil mampu untuk bisa menelaahnya.
●●●
"Kak Dimas, hari ini kamu beneran nggak ke kantor? Apa jangan-jangan karena aku kamu jadi harus menyelesaikan rapatnya dengan cepat?"
Dimas memulas tersenyum. Melirik ke arah Meila tanpa melepaskan fokusnya dalam menyetir.
"Kenapa ngomong gitu? Aku justru sengaja menyelesaikan rapat yang tertunda biar aku bisa mengantar dan ke kampus bareng kamu lagi."
Wajah Meila mendadak murung. "Aku minta maaf, ya. Karena gara-gara aku, rapat kakak jadi tertunda. Iya, kan?"
"Nggak apa-apa, sayang. Toh, semuanya udah terselesaikan. Aku sengaja meminta Henry menambahkan jadwal meeting hingga malam kemarin. Dan sekarang, dia hanya perlu memeriksa ulang hasil rapatnya dan tinggal dikirim lewat email nanti." Ucapnya menenangkan. Lalu mengusap rambut Meila dengan sayang. "Udah, jangan dipikirin lagi, ya?"
Meila mengangguk disertai senyuman tipis. Setipis polesan liptint berwarna nude pink yang di apilkasikan di atas bibirnya yang mungil.
Tak sampai 5 menit, mereka pun akhirnya sampai. Seperti biasa Dimas langsung masuk ke halaman dan memarkirkan mobilnya disana. Setelahnya, Dimas keluar lebih dulu dan membukakan pintu penumpang untuk Meila. Dan Meila langsung menyambutnya dengan senyuman cerah.
"Terima kasih," ucapnya pelan. Yang dijawab dengan senyuman dan kedipan mata oleh Dimas.
Dimas langsung menggenggam tangan Meila dengan erat. Menghelanya berjalan berdampingan dengan saling melempar senyuman.
"Kayaknya udah lama banget kita nggak masuk kampus sambil gandengan kayak gini." Dimas berujar tiba-tiba. Meila pun mengiyakan dengan anggukan kepalanya.
Ketika kaki mereka akan melangkah masuk ke koridor dengan dataran yang lebih tinggi, disaat itulah suara seorang laki-laki yang dikenali Meila datang mendekat dengan cara yang tentu membuatnya kaget. Yaitu dengan menyentuh bahunya. Hal itu sontak membuat Meila terperanjat mundur disertai pegangan tangannya yang begitu erat pada Dimas.
Tentu saja Dimas ikut terkejut bukan main. Sebab, tidak lain dan tidak bukan, laki-laki itu adalah orang yang harusnya tidak muncul dengan menciptakan suasana hati Meila berantakan setelah semalam dia berhasil mengalihkan rasa takutnya. Dan yang lebih menjengkelkan lagi, sikap percaya diri laki-laki itu yang begitu tinggi lah yang membuatnya yakin jika dia akan benar-benar diterima kedatangannya.