A Fan With A Man

A Fan With A Man
Prioritas Utama



Dimas meletakkan semua kantung belanjaan itu ke atas meja dekat dengan dapur. Lalu terdengar kalimat bernada perintah yang kental dari mulutnya untuk Meila.


"Kamu langsung ke kamar, ya? Istirahat. Biar aku yang beresin semuanya."


Saat tiba di rumah, Dimas langsung menyuruh Meila segera masuk kamar dan beristirahat. Meskipun Meila tidak mengatakan jika dia lelah, namun Dimas mengetahuinya. Terlebih lagi dengan keadaannya yang baru saja pulih dan pulang dari rumah sakit. Bukan tindakan yang benar dengan mengajak gadis itu keluar rumah di saat dokter mengharuskannya beristirahat.


Mendengar perintah Dimas, Meila belum mau merespon. Namun tak urung dia menghentikan langkahnya di dekat tiang penyangga dengan ekspresi ragu-ragu.


Melihat Meila yang setengah terdiam, membuat Dimas paham. Gadis itu pasti ingin membantunya menaruh barang belanjaan dan kemudian pergi bersama untuk istirahat. Tetapi, itu pasti akan Dimas wujudkan saat dia telah selesai merapikan semua barang belanjaannya. Dan itu hanya membutuhkan waktu yang tidak lama.


"Aku tau kamu mau membantu aku buat merapikan ini," sahutnya seketika sambil menunjuk ke arah kantung belanjaan. "Tapi kali ini kamu harus istirahat. Aku udah memperbolehkan kamu untuk ikut ke supermarket, dan sekarang waktunya buat istirahat. Okay?" Dimas memberikan pengertiannya pada Meila. Dan itu membuat Meila sedikit mengerti hingga akhirnya menganggukkan kepalanya pelan seraya menyahuti dan samar-samar terdengar kata 'oke' yang nyaris tidak terdengar namun sampai ke telinga Dimas. Tetapi, gerakan dari bibirnya bisa Dimas lihat hingga membuat dia tersenyum lembut.


"Aku akan menyusul," janji Dimas yang dibalut nada perhatian.


Senyum tipis nan manis muncul di bibir Meila. Dengan langkah ringan juga santai, gadis itu akhirnya mulai berjalan menaiki anak tangga, bergegas menuju kamar dan berpikir akan membaca beberapa Novel yang masih tersimpan rapi di dalam box yang telah Dimas belikan untuknya.


●●●


Wanita bertubuh seksi itu sedang berbaring di atas tempat tidurnya. Dikelilingi dengan cahaya redup nan kontras dengan dinding di kepala ranjang bertuliskan namanya yang dihiasi lampu menyala di tiap hurufnya. Huruf itu bertuliskan nama indah dengan ukiran lengkungan huruf yang begitu seksi. Sangat cocok dengan bentuk fisiknya yang rupawan.


Ya! Dinding itu bertuliskan nama 'Ashila'. Dengan memakai piyama tidur berwarna pink magenta yang sangat pas dengan ukuran lekukan tubuhnya, matanya menerawang ke langit-langit kamar. Menyalang tajam sambil sesekali menarik sudut bibirnya dengan seringaian tipis penuh makna.


Dirinya teringat kembali akan pertemuannya dengan Dimas beberapa saat lalu. Bagaimana cara Dimas bersikap, dan memperlakukannya dengan acuh. Namun seolah tidak pantang menyerah, wanita itu semakin menyeringai lebar. Memiringkan tubuhnya seraya berkata,


"Sikapnya memang dingin. Tapi itu nggak akan membuatku menyerah begitu aja." Serunya lantang. "Seorang wanita bernama Ashila ini akan selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Sekalipun rintangan itu sangat terjal dan berbahaya." Sambungnya dengan tekad kuat yang ditutup dengan senyuman mematikan.


Entah apa yang ada dipikirannya sampai Ashila berucap seperti itu. Bahkan terdengar dari nada suaranya, dia begitu berambisius ingin memiliki Dimas melalui cara apapun. Dia tidak peduli jika ada wanita lain di sisi Dimas sekalipun gadis kecil yang menurutnya, hanya bisa mengandalkan kepolosannya untuk mendapatkan perhatian dari pria seperti Dimas.


●●●


"Kamu belum tidur?"


Begitu Dimas masuk kamar, dilihatnya Meila yang masih terjaga sambil mambaca sebuah Novel. Gadis itu sedang bersandar nyaman pada sofa dengan kaki berselonjor. Mendengar suara Dimas menyapanya, dia langsung menurunkan kakinya dan menoleh. Memasang senyuman sambil menggeleng pelan.


Dimas pun berjalan mendekatinya. Meraih tangan Meila perlahan hingga gadis itu berdiri di hadapannya. "Obatnya udah diminum?" Jemarinya bergerak naik, merapikan rambut-rambut Meila yang keluar untuk diselipkan ke belakang telinga.


"Udah." Sahutnya singkat diikuti senyuman. "Mmm... aku...."


"Kenapa? Katakan.!" melihat Meila yang ingin mengatakan sesuatu,


"Apa besok aku udah boleh ke kampus? Aku kangen kuliah," pintanya memelas. Bahkan dengan setengah memohon.


Dimas menghela napas ringan disertai tatapan matanya yang berubah lembut.


"Maaf, Sayang, masih belum bisa. Kamu masih perlu istirahat minimal satu hari lagi sampai luka itu benar-benar dibersihkan dan kondisinya aman." Dimas menjawab dengan kalimat paling lembut. Berusaha untuk tidak menyinggung atau mengecewakan gadis yang disayanginya.


"Tapi aku udah sehat, kok. Aku pengen kuliah dan ketemu yang lainnya. Banyak tugas-tugas kampus yang harus aku selesaikan juga." Lagi, Meila menjelaskan keinginannya.


"Aku tau," Dimas menyela. "Aku tau kamu sangat ingin kuliah. Tapi om Yoga menyarankan agar kamu istirahat satu sampai dua hari lagi. Dan setelahnya, kamu bisa beraktifitas lagi seperti biasa." Melihat Meilanya berubah murung, Dimas langsung mencairkan suasana. "Aku pengen kamu bersabar dulu. Minimal sampai luka itu dibersihkan dan benar-benar kering." Lalu menjeda sejenak sebelum akhirnya berkata lagi. "Mengerti?"


Dengan wajah yang masih cemberut, Meila mengangguk setuju. Hal itu membuat Dimas gemas sampai tidak bisa menahan diri untuk tidak menghadiahkan kecupan ke pucuk kepalanya.


"Lebih baik," setelah melepaskan bibirnya dari pucuk kepala Meila, Dimas mengambil Novel dari tangan Meila dan meletakkannya ke atas meja. Kemudian mendudukkan dirinya di sofa sambil menghela Meila untuk duduk ke atas pangkuannya dengan hati-hati. Lalu merangkulnya perlahan sambil membawa kepala gadis itu bersandar ke dadanya. "Sekarang kamu istirahat agar semakin cepat pulih dan bisa cepat masuk kuliah lagi."


"Kalo aku izin kuliah terus, lalu kuliah kak Dimas gimana?" Saat kepalanya sudah bersandar, dia mengangkat kembali wajahnya dan mendongak. Memasang wajah polos dengan mata sayu.


Dimas terkekeh melihat ekspresi gadisnya, "aku udah masuk ke tahap skripsi kalau kamu lupa. Jadi aku hanya perlu menyerahkan referensi laporan dari tiap bab pada dosen pembimbing untuk meminta persetujuannya sampai tugas itu di ACC."


"Oh iya, ya. Aku lupa kalo kamu udah sampai tahap itu. Berarti.... sebentar lagi kamu akan lulus dan jadi sarjana." Kelakarnya senang layaknya anak kecil yang kegirangan dijanjikan sesuatu. "Dan itu artinya... ki-kita akan jarang ketemu karena kamu akan melanjutkan ke pasca sarjana dan juga... mengurus perusahaan orang tua kamu, kan?" Kali ini Meila berucap sambil menahan rona merah di pipinya.


Dengan alis mengernyit, Dimas mengeluarkan kalimat protes sambil menahan tawanya.


"Siapa bilang kita akan jarang ketemu? Aku akan selalu samperin kamu dimanapun itu." Tangannya bergerak naik, mengusap batang hidung Meila yang mungil dengan jari telunjuknya. Kemudian, beralih menangkup pipinya agar terfokus padanya. "Kamu itu tetap menjadi prioritas aku meskipun aku harus mengurus perusahaan nantinya. Lagipula, memangnya nggak boleh mengurus perusahaan sambil mengurus gadis kecil ini? Hm?"


Dan sekarang, didetik Dimas berucap, disaat itulah rona merah di pipi Meila benar-benar terlihat. Pipinya memerah padam bersamaan dengan tatapan lekat dari pemilik sepasang mata tajam nan teduh yang sedang memandanginya. Pandangannya seakan menembus ke jantungnya hingga Meila dapat merasakan gemuruh dari detakan jantungnya yang bertalu-talu. Seperti ingin melompat keluar dari rongga dadanya.


Dengan salah tingkah, Meila berusaha menjawab. "A-aku... aku udah besar. Bukan anak kecil lagi." Ucapnya terbata dengan bibir merengut.


Tawa yang tadi Dimas tahan akhirnya pecah. Dia terkikik geli mendengar kalimat Meila. Kemudian mengusap kepala Meila sekilas sebelum kemudian menyahutinya dengan kalimat lembut penuh kasih sayang.


"Secara fisik kamu memang udah besar. Tapi bagi aku, kamu itu tetap gadis kecil manja yang akan selalu aku sayang dan perlu diperhatikan." Jawabnya dengan lantang dan tegas. Tangannya mengikuti, menghela kepala Meila dengan lembut hingga kembali bersandar ke dadanya.


"Istirahatlah, gadis kecil. Kamu masih perlu memulihkan kondisi kamu pasca operasi." Bisiknya lembut sambil mengecup sekilas puncak kepala Meila.


Meila pun tersenyum dalam rengkuhan hangat Dimas. Membawa lengannya untuk melingkari dan memeluk pria itu dengan manja. Pun dengan Dimas yang langsung menyandarkan tubuhnya ke kepala sofa sambil menepuk-nepuk ringan bahu Meila sebagai penghantar tidur layaknya seorang ibu yang menepuk-nepuk bokong anaknya.