A Fan With A Man

A Fan With A Man
Mendengar Suara



Mobil James akhirnya sampai di pekarangan rumah Sisil. Seperti janjinya tadi, James mengantar kembali Sisil pulang dengan segala persiapan jawaban yang telah disiapkan kalau-kalau Adrian dan Riana bertanya sesuatu tentang kemah dadakan itu.


Setelah memarkirkan mobil dan menarik rem tangan, tampak James memperhatikan Sisil yang terlihat ragu untuk turun. Karena perasaannya yang tiba-tiba tidak enak dan takut akan dimarahi.


"Kamu tidak mau turun? atau kamu mau kembali ke apartemenku lagi?" James memancing sambil berkelakar. Sudah tentu candaannya itu langsung mendapatkan tatapan peringatan dari Sisil.


James pun tertawa, "oke, oke! Baiklah. Aku hanya bercanda. Kenapa kamu cepat sekali marah? Ayo, papa dan mamamu sedang pasti sudah menunggumu di dalam."


"Emmm..." Sisil mulai bersuara dan tampak ragu untuk mengucapkan kalimatnya. "....kamu akan masuk juga, kan?"


Tatapan James melembut seketika. Mendengar pertanyaan Sisil yang berbalut permohonan, James pun langsung mengerti kegugupannya yang tertahan. Sambil memulas senyum hangat, James menyentuh tangan Sisil yang sedikit dingin dan basah.


"Aku akan masuk ke dalam bersamamu. Kamu tidak perlu gugup." Ucapnya kemudian sambil memberikan remasan lembut ke tangan Sisil sebagai bentuk penenangan. "Mereka tidak akan menanyakan apapun padamu." Imbuhnya.


Sesaat, perasaan Sisil yang campur aduk seketika menghangat disusul dengan ulasan senyum tipis yang melengkung di bibirnya. Lalu kemudian disamarkan oleh sebuah anggukan untuk menanggapi ucapan James.


Mereka pun turun dari mobil dan mulai berjalan menuju pintu utama melalui jalan setapak bebatuan yang terhubung dengan pintu utama. James langsung menekan bel dua kali hingga akhirnya pintu pun dibuka oleh seorang asisten rumah tangga yang langsung mempersilahkan mereka masuk.


"Silahkan duduk, tuan. Saya akan panggilkan tuan dan nyonya."


Belum sempat asisten itu memanggil Adrian, pria paruh baya itu telah turun lebih dulu disusul oleh istrinya, Riana. Berjalan pelan sambil memasang senyum ramah dari kejauhan.


James yang menyadari kedatangan Adrian, langsung bergegas berdiri menyambut kedatangan Adrian dan Riana dengan sopan. Menyalami mereka dengan sopan dan penuh senyum yang tak kalah ramah.


"Selamat malam, om, tante."


"Malam, James..." sahut Adrian ramah.


"Selamat datang untukmu, James." Riana menimpali.


"Terima kasih, tante."


Wanita paruh baya itu lalu menghampiri Sisil dan mengambil posisi berdiri disampingnya. Melihat Sisil dengan seksama dari ujung kaki hingga kepala tanpa berkedip sedikitpun.


"Sisil, bagaimana kabar kamu? Pasti banyak nyamuk, kan, disana? Kamu nggak digigit nyamuk, kan?"


Sisil terperangah mendengar kelimat pertama yang Riana tanyakan. Dia nyaris tersedak karena terkejut.


"Ng-nggak kok, ma... Aku nggak digigit nyamuk. Cuma... ada serangga yang lebih besar dari nyamuk dan lebih mengerikan disana."


Sisil sengaja menekankan kata 'mengerikan' dengan lantang bernada sindirian untuk James. Sudah benar Sisil menahan James untuk menciumnya karena takut meninggalakan jejaknya dimana-mana.


Ya~ meskipun pria itu tetap mengecupnya tanpa bisa dihalau.


"Apa? Tapi kamu gak apa-apa, kan? Gak digigit, kan?" Raut wajah Riana berubah khawatir.


"Nggak, ma... Aku baik-baik aja, kok."


"Haaah... mama ini." Adrian bersuara tiba-tiba. "Putrinya baru pulang berkemah, harusnya disuruh mandi dan bersih-bersih. Bukannya malah bertanya yang aneh-aneh." Adrian berkelakar.


"Duh, papa! Mama kan khawatir. Takut Sisil kenapa-napa." Riana memberi sanggahan dengan nada tak mau kalah.


Sedangkan James yang hanya diam memperhatikan, tampak memulas senyum melihat kehangatan dan keakraban di antara Sisil dan orang tuanya. Dia ikut merasa bahagia menyaksikan sendiri kasih sayang yang dicurahkan Adrian dan Riana untuk Sisil.


Kamu lihat, Sisil. Papa dan mamamu begitu mencintaimu. Mereka sangat menyayangimu. Dan aku senang melihatnya.


"Ya sudah, Sisil, kamu mandi dan ganti pakaian, ya. Kamu pasti lelah setelah berkemah." Adrian lalu menyuruh Sisil untuk pergi ke kamarnya. Memintanya untuk mandi sebelum kemudian bertanya kembali. "Apa kalian sudah makan malam?"


"Oh, baiklah kalau begitu. Ayo, kita santai-santai dulu. Kamu nggak keberatan, kan, James?"


"Oh, tidak, om. Waktuku selalu luang untuk om dan tante."


"Dan juga.... untukmu, Sisil."  Imbuh James dalam hatinya. Disertai dengan tatapan menusuk yang langsung tertuju pada Sisil hingga membuat jantungnya berdebar.


Adrian pun tertawa dan langsung mempersilahkan James duduk kembali.


"Ayo, Sisil, kamu mandi dulu sana. Kenakan juga pakaian hangat, ya, nak." Riana berujar lembut khas seorang ibu.


Sedangkan Sisil, setelah memberi anggukan tanda patuh, langsung berjalan ke kamarnya sambil melirikkan matanya ke arah James sekilas sebelum dia benar-benar membawa langkahnya menuju anak tangga.


"Ayo, ayo, silahkan James. Tante akan buatkan kopi untuk kalian."


●●●


Sisil baru saja akan memejamkan matanya sebelum suara dering telepon membuat matanya membuka kembali. Dia sudah merasa sangat mengantuk sekarang. Tetapi, siapa yang berani meneleponnya disaat dia akan menjemput mimpinya?


Ya! siapa lagi yang bisa mengganggunya kecuali James? Pria itu lah yang saat ini sedang meneleponnya dan menunggu panggilannya itu diangkat oleh si empunya ponsel.


"Halo!?" Sisil seketika menjawab dengan spontan.


Tampak heran, James menjauhkan sedikit ponselnya dari telinga sambil mengernyitkan alisnya.


"Perempuan yang beberapa jam lalu itu mulai bersikap kalem, kenapa tiba-tiba ketus lagi?"


Sisil memutar bola matanya malas yang dibarengi dengan suara decakan lidahnya.


"Menurut kamu, aku harus bersikap bagaimana sama pria yang mengganggu wanita yang baru akan beranjak tidur?"


James terkekeh sendirian di seberang telepon. Hal itu membuat Sisil keheranan, "Kenapa kamu malah ketawa? ada apa menelepon? Aku baru akan memejamkan mataku barusan."


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mendengar suaramu sebelum tidur."


Karena mungkin, itu adalah salah satu obat insomniaku.


"Kamu aneh, ya, James! Yang ada kamu malah menggangguku. Ada apa, cepat! Kalau memang alasan kamu cuma itu, aku akan benar-benar mematikan panggilannya." seru Sisil mengancam.


James menghela napasnya pelan. "Oke, oke! Aku mau mengatakan jika besok aku akan datang untuk mengantarmu seperti biasa."


"Cuma itu?" reaksi Sisil tampak di luar dugaan. Jika biasanya dia menolak, kali ini tampak mulai menerima tanpa protes lebih jauh. "Baiklah... ada lagi?"


"Tumben kamu tidak protes? biasanya kamu akan menjawab dan menolak."


Mata Sisil yang tadinya hanya setengah melek, tiba-tiba membuka sempurna mendengar pernyataan James.


Benar juga! Biasanya gue pasti bakal membantah atau menolak tawarannya. Tapi barusan gue malah...


Wajahnya memerah seketika. "Y-ya eemm... Terus aku harus jawab apa ke kamu? kalaupun aku nolak, kamu juga akan tetap datang, kan?" Sisil berusaha mencari jawaban yang cocok sebagai bentuk pembelaan.


Terdengar suara kikikan geli dari James sebelum akhirnya menanggapi. "Baiklah... tidurlah! Aku akan matikan panggilannya. Dan... karena aku tidak ada disampingmu, jika di tengah malam kamu bermimpi buruk, kamu boleh menghubungiku." pungkas James penuh arti disertai suara lembutnya.


Seketika Sisil menjadi kikuk dan berubah tidak enak hati. "...i-iya. Terima kasih. Good night!"


"Good night, too..." Dan panggilan telepon pun berakhir.