
"Jadi, Vika itu mantan pacar Rendy?"
Pertanyaan itu mengudara, kala Meila baru saja menceritakan tentang siapa Vika kepada Dimas. Saat ini mereka sedang berada di dapur, dengan Dimas yang tampak sedang memotong buah strawberry dan dimasukkannya ke dalam mesin pembuat jus.
Sedangkan Meila sendiri tampak duduk nyaman di atas meja marmer dekat dapur dengan kaki yang menggantung diayunkan.
Mendengar pertanyaan kesimpulan dari Dimas, seketika Meila menganggukkan kepala mengiyakan. Namun, sejenak kemudian dia bersuara seakan menepis jawabannya sendiri.
"Bisa dibilang sih belum jadi mantan, kak." Meila tampak menghela napasnya sejenak lalu menatap nanar dengan kepala menunduk.
"Aku juga nggak tau hubungan mereka saat ini apa dan kayak gimana. Tapi yang aku tau, kalo kak Vika saat itu pergi tanpa ngasih kabar ke kak Rendy dan hubungan mereka selesai gitu aja,"
Suara penjelasan Meila itu saling berlawanan dengan mesin juicer yang Dimas nyalakan, sehingga Dimas harus menolehkan wajahnya pada Meila untuk mendengar pernyataannya.
Tak berapa lama, jus strawberry itupun jadi. Dimas menuangkannya ke dalam gelas dan tak lupa juga memberikan hiasan irisan buah strawberry di ujung bibir gelas. Sehingga semakin menambah kesan cantik pada gelas itu.
Dimas memberikan jus itu pada Meila, lalu berdiri di depannya.
Meilapun dengan senang hati menerimanya sambil menghadiahkan senyuman paling manisnya.
"Terima kasih," ucap Meila ketika jus strawberry itu sudah mendarat di tangannya dengan sempurna.
Dimas menyahutinya dengan senyuman, jemarinya bergerak untuk menjumput anak rambut Meila dan menyelipkannya ke belakang telinga.
"Kok kamu nggak pernah cerita soal ini?"
Meila menaikkan bahunya acuh sambil sesekali meneguk jus miliknya.
"Karena kak Dimas nggak pernah nanya." Sahut Meila asal dengan nada polosnya.
Jawaban Meila itu seketika membuat Dimas terkikik geli sambil menggerakkan jemarinya untuk mencubit ringan hidung mungilnya.
"Udah pinter jawab ya, sekarang," ucap Dimas gemas sambil menghadiahkan kecupan pada pipi Meila yang halus dan hangat menyenangkan seraya menghirup aroma bayi dari sana.
Aksi Dimas itu rupanya memancing gelak tawa Meila yang berusaha menghindari Dimas. Namun, pria itu telah lebih cepat merengkuh pinggang Meila dengan kuat menggunakan lengannya yang kokoh.
"Berhenti, kak. Gelasnya akan jatuh nanti," pinta Meila manja sambil berusaha memegangi gelas di tangannya dengan erat. Takut-takut jika gelas itu jatuh dan menumpahkan semua jusnya ke atas lantai.
Belum lagi dengan pecahan kaca yang akan berserakan kemana-mana, yang mungkin akan melukai jika terkena pecahannya nanti.
Karena telah mendengar gadisnya merengek dengan manja, dengan senang hati Dimas menurutinya. Pria itu lalu mengacak rambut Meila gemas lalu membelainya dengan sayang sambil berujar kata.
"Baiklah, Sayangku. Kamu mau makan apa untuk makan malam nanti?" Tanya Dimas dengan pertanyaan paling lembut.
Meila tampak memutar bola matanya berpikir, "mmm... apa aja," sahutnya singkat, tapi sedetik kemudian pikirannya berubah disertai dengan mata yang mengerling penuh binar. "Spaghetti?"
Sambungnya kembali. Dan kali ini benar-benar sangat antusias saat mengucapnya.
"Kamu mau spaghetti?" Tanya Dimas mengulangi untuk memastikan. Dan langsung disambar dengan anggukan kepala cepat dari Meila.
"Okay. As you wish. Tapi ingat, jauhi makan......."
"Makanan yang mengandung banyak minyak, minuman bersoda, sirup atau minuman lainnya yang akan memicu sakit tenggorokan aku meradang lagi. Hanya boleh, jus, perbanyak minum air putih dan juga minuman hangat yang dicampur madu dan lemon. Benar, kan?" Meila menyela dengan cepat kalimat Dimas dengan penuh semangat. Bahkan gadis itu juga memainkan jemarinya saat menyebutkan makanan dan minuman yang tidak boleh di konsumsi olehnya untuk sementara waktu.
Dimas tersenyum lembut seraya menangkup sisi wajah Meila, lalu
mendaratkan kecupan hangat ke dahi gadisnya.
"Gadis pintar!" Dimas menyebutnya dengan sayang sambil mengusap pipi Meila dengan sayang. "Baiklah! Ayo kita buat spaghetti untuk makan malam,"
"Aku boleh bantu?" Tanya Meila pada Dimas dengan mata mengerling.
"Of course, Sayang." Sahut Dimas mengizinkan sambil meraup tubuh mungil Meila yang ringan dan menurunkannya dari atas meja marmer tempat gadis itu mendudukkan bokongnya dengan nyaman.
●●●
Pemotretan itu berjalan dengan lancar. Meski tidak seperti biasanya, jika Vika menjalani sesi pemotretan dengan senang dan wajah cerah, kali ini tampak berbeda. Raut wajahnya tampak lesu dan tidak bersemangat, pandangan matanya pun tampak layu, tidak seperti biasanya yang selalu memancarkan binar ceria dengan bibir tersungging sempurna. Tetapi dia tetap secara profesional melakukan setiap pengarahan yang diberikan.
Vika mulai berjalan memasuki ruang make-up, diikuti oleh Mira yang tampak mengikuti dari belakang, berusaha mengamankan situasi ruangan tersebut agar steril dari orang-orang yang akan memasukinya. Para kru yang bertugas pun tampak merapikan peralatan syuting sesuai profesinya.
Vika menghela napasnya kasar begitu bokongnya telah menduduki sebuah sofa empuk dekat meja rias. Melepaskan mantel yang membalut tubuhnya perlahan dan meletakkannya ke sisinya.
"Kamu kurang bersemangat hari ini, Vik?" Mira bertanya saat dilihatnya Vika sangat lelah seolah sedang memiliki masalah.
Vika menghembuskan napasnya, "aku cuma kurang istirahat, Mir. Tugas aku lagi menumpuk. Belum lagi tugas-tugas tambahan. Bikin aku sedikit pusing." Tukasnya seraya memijat keningnya pelan.
"Apa perlu aku cancel beberapa schedule untuk satu minggu kedepan, Vik?"
"Nggak perlu, Mira. Aku masih bisa mengatasinya." Sahut Vika cepat berusaha melengkungkan senyum di bibirnya.
Mira tampak mengangguk mengerti, namun tak urung dia menaikkan kedua bahunya. "Baiklah. Beri tahu aku jika kamu butuh meluangkan diri kamu, ya? Karena aku juga nggak mau di tegur sama atasanmu, si James itu kalo kamu kenapa-napa." Pungkasnya kemudian dengan nada peringatan yang kental.
Vika terkekeh ringan, "James itu kakakku, tapi dia nggak akan aku
izinin buat marah sama kamu tanpa persetujuan aku. But, just calm down, Miraku sayang. Kamu emang asisten aku yang nggak ada duanya." Sebut Vika memuji dan terdengar jujur.
Mirapun menyeringai. "Yaudah, kamu istirahat dulu aja di sini. Aku mau ke ruang wardrobe buat nyiapin kostum kamu selanjutnya nanti." Mira berucap seraya meminta izin pada Vika.
Setelahnya, setelah mendapatkan izin dari sang aktris berupa anggukan kepala, Mira langsung beranjak pergi meninggalkan Vika seorang diri menuju ruangan wardrobe.
Sepeninggal Mira, tinggallah Vika seorang diri di ruang make-up, siapapun tidak akan ada yang berani memasukinya sebelum meminta izin langsung darinya. Sambil meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku dan pegal, Vika menyandarkan tubuhnya pada kepala sofa dengan bantal sofa sebagai penyangga punggungnya.
Seketika ingatan beberapa jam yang lalu meluncur kembali begitu saja. Adegan dimana dirinya telah menerima ciuman dari Rendy. Ciuman hangat akan kelembutan, dan juga syarat akan kerinduan.
Ciuman itu masih tetap sama. Rasanya masih tetap sama seperti saat dimana mereka pernah melakukannya.
Vika sangat merindukan sentuhan itu, sentuhan lembut penuh kasih sayang, yang membuatnya seakan dicintai oleh seorang pria dengan sepenuh hati. Saat dirinya masih berkecamuk dengan sebuah perasaan membuncah hingga membuat hatinya bergelora, sebuah kalimat yang Rendy katakan tadi membuat ekspresi wajahnya berubah. Belum lagi dengan sikapnya tadi yang tiba-tiba melembut seolah membuang topeng arogan yang sebelumnya dipasang dengan kuat.
Apa maksud dari kalimat, 'jika dia telah mendapatkan jawabannya?' Apakah dirinya tanpa sengaja telah mengatakan sesuatu yang tidak disadarinya? Atau mungkin... itu hanya alasan Rendy untuk memancingnya agar dia mengatakan hal yang seharusnya telah ia katakan sejak lama?
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di benaknya hingga berhasil membuat kepala Vika semakin pusing. Berusaha meredakan rasa sakitnya, Vika menggelengkan kepalanya pelan sambil memejamkan matanya. Sambil menghembuskan napasnya, Vika berusaha mencari jawaban dari perkataan Rendy dan juga perubahan sikap pria itu yang secara tiba-tiba.
"Kamu sungguh membuatku bingung, Rendy," gumamnya pelan dengan tatapan nanar.
●●●
Hal serupa juga dialami oleh Rendy. Pria itu tampak termenung di depan layar pipih miliknya dengan pikiran yang berkelana. Membuka ingatannya kembali tentang adegan ciuman yang telah dia ciptakan bersama Vika tadi.
Rendy terlihat berpikir dengan raut wajah tak terbaca. Selepas dirinya pulang dari kampus, dia langsung berkutat dengan sebuah laptop ditemani dengan secangkir mocca-latte yang nyaris tidak lagi mengepulkan uap panas dari sana. Pikirannya berkelana, mencoba menelaah perasaannya kembali dan mencari tau jawaban atas pertanyaan yang selama ini memenuhi pikirannya.
Seolah pikirannya semakin terpecah, Rendy akhirnya menutup layar pipih itu dengan helaan napas kasar.
"Ada yang salah sama hubungan kita, Vika. Apa yang aku nggak ketahui selama ini? Kenapa rasanya ada sebuah jarum kecil yang menusuk di dada aku saat melihat tatapan mata sendu kamu ketika menatapku? Apa yang kamu sembunyiin dari aku, Vika? Sebegitu sulitnyakah untuk dijelaskan?"
Lagi, berbagai macam pertanyaan yang muncul terucap begitu saja kala Rendy mengingat cecapan dari rasa bibir manis Vika yang masih tetap sama dan membekas. Dengan mata terpejam rapat,
Rendy masih bisa merasakan bagaimana Vika menyambut ciumannya dengan terkejut hingga akhirnya bersikap pasrah di bawah kuasanya. Menerimanya dengan sukarela tanpa berniat
menolaknya sekuat tenaga.
Seketika Rendy menipiskan bibirnya, menyeringai lebar tatkala
perasaannya yang selama ini ia duga tidak pernah salah dan meleset. Meski sekuat tenaga Vika mencoba menjaga jarak darinya, berusaha mengelak apapun saat Rendy mengintimidasinya dengan sikap dingin nan arogan, hanya satu yang diketahui olehnya dari dulu hingga kini dan belum pernah berubah,
Gadis itu masih mencintainya. Vika masih sangat mencintainya!
Menyimpulkan kalimat itu di pikirannya, seakan membangkitkan rasa penasarannya selama ini untuk terus ia gali lebih dalam lagi. Dia akan terus mendesak, mengintimidasi, bahkan jika perlu meneror
Vika dengan sikapnya yang dingin dan arogan itu agar Vika berbicara. Berbicara mengenai alasan yang selama ini tidak diketahuinya secara pasti.
"Aku akan buat kamu bicara, Vika. Aku akan buat kamu menjelaskan semuanya," tekadnya penuh janji disertai tangan yang mengepal kuat.
●●●
Ketika Dimas melangkahkan kakinya menuruni anak tangga, didapatinya Meila dengan segala kegiatan perkuliahannya beserta laptop terlihat diletakkan di meja ruang utama. Gadis itu tampak duduk meleseh di atas karpet tebal berbulu halus bercorak abu-abu putih milik Dimas.
Meila tampak tenang, santai, juga sesekali menyunggingkan sebuah senyuman. Terkadang punggugnya ia sandarkan pada kaki sofa-bed yang terasa empuk itu. Gadis itu tampak fokus pada kegiatannya, meski Dimas tau jika Meila masih belum diberikan tugas-tugas berat oleh Rendy, namun gadis itu tampak senang untuk memulai kembali masa perkuliahannya.
"Kamu lagi mengerjakan apa?"
Sambil tersenyum, Dimas bertanya pada Meila yang masih belum
menyadari kedatangannya dan berjalan mendekatinya.
Mendengar suara yang sangat familiar di telinganya, membuat Meila menoleh dengan segera sambil menyunggingkan sebuah senyuman manis khasnya. Matanya mengikuti arah Dimas yang mendekat lalu berhenti tepat di sampingnya dengan tubuh setengah membungkuk dan kepala yang menunduk.
"Aku cuma lagi ngecek-ngecek aja, abisnya aku bosen karena nggak ada tugas di hari pertama masuk," sahutnya santai sambil mendongakkan wajahnya diselipi dengan senyuman.
"Kenapa nggak melakukan hal lain? Seperti baca novel, atau nonton film?" Tanya Dimas lagi.
"Mmm..." sambil bergumam dan memasang wajah tampak berpikir.
"Aku lagi nggak pengen nonton, kak. Dan untuk novel.... semuanya udah aku baca dan hampir habis." Sambungnya kemudian dengan suara pelan dan malu-malu.
Dimas hampir saja membelalakkan matanya, "habis? Kenapa kamu nggak bilang?"
Dengan pipi yang merona, Meila masih berusaha mendongakkan wajahnya untuk menatap Dimas yang tampak menjulang tinggi dihadapannya.
"Aku... nggak enak sama kamu, kak. Aku... malu." Jawab Meila pelan dan nyaris tak terdengar.
Jawaban Meila itu membuat Dimas terkekeh, dia tidak segan-segan untuk menggerakkan tangannya mengusap kepala Meila dengan lembut sebelum kemudian mendudukkan bokongnya ke sofa tepat dibelakang gadis itu.
"Kenapa harus malu, Sayang. Aku malah nggak akan pernah tau kalo novel-novel yang aku belikan itu udah habis kamu baca semuanya. Justru aku senang, berarti kamu suka sama semua yang aku belikan
buat kamu."
Perkataan Dimas terdengar sangat lembut. Selalu diselipi oleh perhatian dan kasih sayang didalamnya.
"Aku janji, di hari libur nanti, kita akan beli lagi, ya? Kamu boleh pilih semuanya. Apapun yang kamu suka. Hm?"
Jangan ditanya bagaimana reaksi Meila mendengar perkataan Dimas. Tentu saja gadis itu tampak senang luar biasa. Wajahnya berseri-seri, sementara matanya berbinar dengan kegirangan. Layaknya anak kecil yang dijanjikan liburan oleh orangtuanya disaat hari libur telah tiba.
"Really?"
"Of course." Dimas menyahuti dengan pasti sambil menggerakkan jemarinya mengelus-elus pipi Meila dengan lembut.
"Thank you," Meila membalas ucapan Dimas dengan menghadiahkan senyuman paling manisnya.
"Yaudah, kamu lanjutkan tugas kamu. Aku akan ke ruang keamanan sebentar. Jangan malam-malam, ya? Karena besok kamu ada kelas pagi. Okay? Aku akan menyusul nanti." Dimas memberikan ultimatumnya diselipi dengan sebuah perhatian dan kasih sayang.
"Okay," Meila menyahuti dengan suara pelan dan manjanya. Membuat Dimas tidak tahan untuk menyentuhkan bibirnya ke pucuk kepala Meila dan mengecupnya sebelum beranjak pergi. Dan setelahnya, segera berjalan meninggalkan Meila seorang diri bersama kegiatannya.