A Fan With A Man

A Fan With A Man
Akhir Pekan



Di pagi hari, kala mentari terbit di ufuk timur bumi, seluruh makhluk ikut terbangun saat sinar hangatnya mulai menyapa kulit melalui celah-celah jendela kamar. Vika, yang masih terlelap dalam pelukan Rendy, belum mau beranjak dari mimpinya untuk menyambut hari yang cerah.


Berbeda dari Vika, Rendy sendiri mulai mengerjapkan matanya tatkala hembusan angin yang masuk melalui celah jendela kaca tepat di seberang tempat tidur membelai-belai kulitnya dengan hangat.


Sempat menengok ke arah jendela tepat dimana cahaya silau itu menusuk matanya, Rendy refleks menutupinya dengan telapak tangan. Lalu menoleh ke sampingnya dimana ada Vika yang masih meringkuk tampaj sedang berusaha menghindari cahaya.


Rendy pun memulas senyum. Ide jahil pun langsung melintasi dipikirannya. Dia menggeser tubuhnya perlahan hingga cahaya itu memantul pada Vika. Sontak membuat gadis itu mengerang gelisah dan malah menarik selimut dan menyembunyikan seluruh tubuhnya disana.


Bukan tersenyum, melainkan kikikan geli yang keluar dari bibir Rendy. Perlahan, Rendy menarik selimut itu dan menurunkannya dengan sengaja.


"Bangun, Vika. Ini udah pagi. Bahkan ayam pun bangun lebih pagi dari kamu." Ucapnya dengan nada menyindir.


Lagi-lagi hanya erangan penolakan yang terdengar.


"...aku masih ngantuk," gumamnya pelan dengan nada yang dimanjakan.


"Aku tau kamu masih ngantuk. Tapi hari ini cerah banget cuacanya. Coba kamu liat." Sambil membelai wajah Vika dengan lembut.


Tidak menunggu waktu lama, Vika mulai mengerjapkan matanya. Mengucek kedua matanya yang masih lengket. Dan pandangannya langsung kepada Rendy yang sedang menatapnya dengan tersenyum khas seseorang yang baru bangun tidur. Rambut acak-acakan, kaos putih longgar yang tampak kusut dan bibir yang kering berwarna merah muda yang dibumbui senyuman manis.


Rendy tampak sangat tampan pagi ini. Bahkan saat bangun tidur pun, dia tetap terlihat mempesona di mata Vika.


Inikah pria yang aku cintai?


Dengan gerakan manja, Vika langsung memeluk Rendy dan mengalungkan lengan ke lehernya.


"Aku masih ngantuk. Kamu tau kan semalam kita pulang jam berapa?"


Tentu! Semalam setelah mengikuti dan menikmati rangkaian pesta, mereka akhirnya pulang pukul 1 dini hari. Atau tepatnya satu jam setelah Meila dan Dimas meninggalkan pesta. Keluarga Anderson dan juga James tentunya, sudah meminta mereka untuk menginap di hotel, dimana pesta itu diadakan. Tetapi Vika menolaknya. Tentunya dengan penolakan yang lembut dan sopan, dan dengan alasan yang masuk akal. Akhirnya setelah berbagai alasan dan kondisi yang tepat, mereka akhirnya diizinkan untuk pulang.


Rendy tersenyum di balik sana. Dia bergerak mengusap rambut Vika dan memberikan kecupan kecil ke atas pundak Vika yang sedikit terbuka.


"Baiklah kalo itu yang kamu mau. Karena ini hari minggu, kita nggak akan kemana-mana. Kita hanya akan bersantai seharian di rumah."


Sekarang giliran Vika yang mengangguk dan tersenyum. Lalu melepaskan pelukannya dan menatap Rendy beberapa detik sebelum kemudian berucap,


"I love you." Bisiknya pelan.


Rendy tersenyum dan memberikan kecupan mesra ke bibir Vika. Dan setelahnya mereka saling memeluk kembali. Menikmati waktu akhir pekan yang hanya tersisa satu hari dengan bermalas-malasan.


●●●


Sinar mentari yang terpantul lewat kaca mulai berhasil mengusik tidur Meila. Dia tampak menggeliatkan tubuhnya yang masih berbalut selimut di atas sofa.


Di dekatnya, ada Dimas yang sedang kembali menyelesaikan pekerjaannya yang semalam sempat tertunda. Dia bangun satu jam lalu dan langsung membenarkan posisi Meila yang hampir jatuh saat dirinya baru akan bangkit dari sofa. Menyanggah kepalanya dengan bantal sofa dan menyelimutinya.


Sambil melangkah perlahan, Dimas turun ke area dapur. Meracik secangkir kopi menggunakan mesin espresso canggih untuknya. Dan tidak lupa dia juga membuatkan susu panas untuk Meila yang jika nanti gadis itu bangun, susu itu sudah menjadi hangat dan siap untuk diminum.


Begitu Dimas kembali lagi dengan membawa nampan kecil berisi secangkir kopi dan segelas susu, Meila masih terlelap dan juga dalam posisi yang sama. Meringkuk di balik selimut dengan muka polos.


Dengan gerakan sehati-hati mungkin, Dimas langsung menuju meja kerjanya. Meletakkan kopi dan juga susu. Menyeruput aroma harum dari warna hitam pekatnya kopi yang di blended dari biji kopi segar.


Dimas kembali melanjutkan pekerjaannya. Menyelesaikan secepatnya sebelum Meila benar-benar terbangun dari tidurnya. Sesekali dia juga melirikkan matanya pada Meila. Memastikan posisi gadis itu agar tetap aman dan tidak terjatuh.


Dan sekarang setelah setengah jam kemudian, gadis itu benar-benar bangun dari tidur nyenyaknya. Bertepatan dengan selesainya pekerjaannya.


"Selamat pagi."


Pria yang sedang fokus pada laptopnya itu menyapanya lebih dulu. Lalu mematikan laptopnya dan bangkit dari sana. Dimas berjalan mendekati Meila dengan membawa segelas susu yang sudah menghangat dan siap untuk diminum. Dimas pun duduk di pinggiran sofa. Sementara Meila masih belum mau beranjak untuk duduk.


"Selamat pagi." Meila menjawab sapaan Dimas. "Ini jam berapa?" Tanyanya kembali dengan suara khas baru bangun tidur.


"Sekarang baru jam 7. Tidur kamu nyenyak?"


Meila menganggukkan kepala tanda mengiyakan. Kedua matanya melirik ke arah susu yang Dimas pegang.


"Susu?" Sambil berucap, Meila perlahan bergerak bangun dan tampak Dimas mengulurkan tangannya dan menarik Meila dengan sangat hati-hati untuk duduk. Lalu Dimas memberikan susu itu pada Meila yang langsung ia pegang menggunakan jari-jari lentiknya.


"Terima kasih," serunya kemudian. Dan meminum susu itu seteguk saja.


"Berhubung hari ini adalah hari minggu, kamu mau kemana?" Dimas bertanya.


"Mmm... aku mau ke taman." Tanpa berpikir panjang, Meila langsung menjawabnya. Sepertinya dia memang sudah memikirkannya sejak awal dan meminta Dimas untuk pergi bersamanya sambil berolahraga pagi. Tetapi mungkin belum ada kesempatan untuk mengatakannya.


"Kamu mau ke taman?" Tanya Dimas untuk memastikan.


Meila langsung mengangguk tanpa ragu.


"Okay." Jawab Dimas singkat. Seperti seorang peri yang langsung mengabulkan keinginan seseorang tanpa harus menanyakan alasannya.


"Boleh? Kakak nggak mau tanya alasannya apa?" Meila justru malah bertanya balik dengan ekspresi antusias yang membuat Dimas gemas.


Dimas terkekeh mendengarnya. "Iya, boleh. Emang harus ada alasannya kalo mau ke taman? Selama itu bikin kamu bahagia, it's fine!"


Meila semakin senang mendengar jawaban Dimas. Dia lalu mengangguk senang sebelum kemudian meneguk susu hangatnya lagi.


"Aku mau ke bawah sebentar. Kamu bisa sambil siap-siap, kan?" Sambil beranjak dari sofa, Dimas berdiri menjulang hingga Meila nyaris tidak bisa menggapainya. Dia lalu menunduk, mengecup puncak kepala Meila sebelum kemudian berbalik dan berucap lagi dengan nada mengingatkannya yang lembut.


"Jangan lupa dihabiskan susunya," imbuhnya sambil berjalan menuju pintu dan menghilang di baliknya.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Meila langsung menghabiskan susunya dengan tandas tak bersisa. Lalu menjatuhkan kakinya ke lantai dan bergegas kembali ke kamar dengan setengah berlarian kecil untuk segera bersiap-siap.


《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》《》


...¤ Bismillahirrahmanirrahim ¤...


...Halo, teman-temans.. Selamat menjalankan Ibadah Puasa.🙋🏻‍♀️...


...Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca karya pertamaku ini. Aku sangat menunggu masukan dan coment kalian semua....


...Semoga puasa kalian lancar yaa.. 🙏🏻...


...Si Penyuka lollipop,...


...🍭🍭🍭...


...♡ LA ♡...