A Fan With A Man

A Fan With A Man
Dua garis Merah



Tampak seorang wanita duduk lemas bersandar, disertai penampilan kusut masai dengan mata sayu dan wajah yang tampak pucat pasi sambil sesekali memijat kepalanya yang sakit. Sementara perutnya terasa seperti melilit layaknya pakaian yang sedang diperas sehabis di cuci. Wanita itu seperti sedang kesakitan, terlihat dari buliran-buliran keringat dingin sebesar jagung yang memenuhi keningnya.


Ya! Entah sudah berapa kali Sisil bolak-balik ke toilet hanya untuk mengeluarkan isi perutnya yang bergolak mual namun sama sekali tidak mengeluarkan apapun dari muntahannya. Dirinya merasa ada yang tidak beres dengan keadaan tubuhnya sejak semalam. Sisil berpikir mungkin dirinya hanya salah makan dan seiring bergantinya malam menuju pagi hari, rasa tidak mengenakkan ini akan hilang dengan sendirinya.


"Gue sakit apaan sih sebenernya? Dari semalem rasa mual dan pusing ini belom juga ilang," sekali lagi, Sisil memijat-mijat keningnya, "malahan... bukannya ilang justru makin sakit dan bikin gue lemes."


Sisil menyandarkan kepalanya ke kepala ranjang, dengan mata terpejam dan kening yang berkerut dalam, "perasaan... gue nggak salah makan deh,"


Sisil mencoba mengingat-ngingat tentang apa yang dimakannya sehari penuh sebelum rasa sakit ini menimpanya, mulai dari sarapan pagi, lalu makan siang hingga makan malam selesai. Dia yakin bahwa dirinya tidak salah makan atau mengkonsumsi bahan makanan dan minuman yang membuatnya alergi.


Saat pikirannya sedang berkecamuk memikirkan hal yang belum juga menemukan jawabannya, seketika itu juga seberkas pikiran aneh memasuki jiwanya hingga memaksa matanya untuk membelalak sempurna. Tubuhnya menegak sempurna, wajahnya terperangah karena tidak percaya dengan apa yang terlintas dibenaknya.


Mungkinkah dia... Hamil?


"Nggak! Nggak mungkin!" Seruan itu keluar dari mulutnya dengan nada tidak percaya, kepalanya pun menggeleng kuat seolah sedang menyangkal pemikiran aneh yang sedang menghantuinya.


Seketika seberkas kejadian dimana dirinya dan Beno telah menghabiskan malam bersama dalam keadaan mabuk berat terlintas kembali. Mengingat kejadian malam itu yang baru berjalan satu minggu, dan sangat mustahil jika gejala yang dirasakannya saat ini sama persis seperti tanda-tanda awal kehamilan.


Saat dirinya masih memikirkan hal yang semakin membuat kepalanya berat, didetik itulah perutnya bergolak kembali dengan rasa mual dan mendorong langkah kakinya untuk berlari ke toilet dan memuntahkan isi perutnya di kloset.


Lagi, dirinya tidak memuntahkan apapun, hanya cairan bening hingga kuning pekat yang terasa pahit di lidah dan membuatnya lemas dan hampir jatuh terhuyung jika saja tangannya tidak berpegangan pada ujung wastafel dengan kencang. Tubuhnya terasa lemas, sementara matanya berkunang-kunang. Dibukanya kran wastafel untuk membasuh mulutnya dan mengelapnya perlahan, lalu membasuh wajahnya dengan asal dan terakhir mencipratkan air ke wajahnya dengan kasar.


"Nggak mungkin gue hamil," sambil mendesahkan napasnya perlahan, Sisil tampak melihat pantulan dirinya di cermin, sementara tangannya terkepal penuh keyakinan seakan sedang meyakinkan dirinya sendiri,


"Tapi kalo beneran gimana? Gue harus gimana? Sedangkan.... sedangkan gue nggak tau dimana keberadaan Beno sekarang." Wajahnya dipenuhi kecemasan, sementara tangannya mulai berkeringat karena gelisah. "Lagian, gue nggak sudi menyimpan benih si psikopat gila itu di rahim gue." Seru Sisil bersungut-sungut sambil berusaha menetralkan napasnya. "Nggak... nggak boleh terjadi!" Dengan napas terengah dan wajah panik, Sisil berusaha berdiri tegap ditengah kecemasan yang menghantuinya.


"Gue harus pastiin secepatnya," Sisil memaksa dirinya untuk menegapkan tubuh, tangannya terkepal kencang, dan ketika dirasakannya dirinya sudah kuat untuk berjalan, dia segera keluar untuk membeli beberapa alat tes kehamilan sebelum kemudian berganti pakaian terlebih dahulu, lalu pergi secepat mungkin untuk segera memastikan bahwa dugaannya itu telah salah.


●●●


Mereka sudah sampai kembali ke rumah Dimas. Didahului dari Dimas yang keluar lebih dulu lalu berjalan memutari mobil dan membukakan pintu untuk Meila dari kursi penumpang. Saat Meila akan menyentuhkan kakinya pada jalan setapak yang menghubungkan antara halaman dan pintu utama, dengan gerakan cepat tangan Dimas diselipkan ke belakang punggung dan ke bawah lutut lalu menggendongnya hingga membuat Meila memekik kaget.


"Kakak, aku bisa jalan sendiri. Nggak perlu gendong aku kayak gini," sergah Meila menolak, namun tak urung tangannya langsung dilingkarkan ke leher Dimas. Begitupun sebaliknya, sergahan Meila tidak membuat Dimas berhenti dari gerakannya.


"Oow... kamu terlambat, Sayang... Tangan aku udah lebih dulu bergerak," sanggah Dimas kemudian disertai tawa jahilnya sambil terus berjalan dengan langkah kaki yang mulai menapaki lantai menuju pintu utama.


Meskipun dokter sudah memberitahu jika jahitan di perut Meila sudah berangsur mengering dan hanya akan melakukan check-up mingguan pada jadwal yang telah ditentukan, tapi Dimas tidak mau mengambil resiko kalau-kalau luka jahitan itu akan terbuka kembali dan malah akan terjadi infeksi.


Meila memberengutkan bibirnya, terdengar mendesah pasrah menerima perlakuan Dimas yang terlalu berlebihan menurutnya. Dimas membawa Meila duduk di sofa-bed ruang utama televisi sebelum kemudian menawarkannya terlebih dahulu, apakah Meila ingin langsung beristirahat di kamar atau ingin bersantai di ruang utama. Dan jawaban Meila pun seperti yang Dimas sudah duga, gadis itu memilih untuk beristirahat di ruang utama dikarenakan lebih memudahkan untuk melakukan sesuatu dan lebih leluasa.


"Tunggu sebentar, ya." Seru Dimas ketika telah menempatkan Meila dan melepaskan alas kakinya, lalu mengambil beberapa bantal sofa didekatnya dan meletakkan ke belakang kepala agar Meila dapat bersandar disana.


"Ya ampun, kak. Nggak perlu berlebihan kayak gini, aku jadi nggak enak sama kamu," Dengan perasaan tidak enak, Meila berucap ketika matanya melihat Dimas yang tampak mondar-mandir mengurusinya dengan telaten.


"No. No. No. Jangan katakan itu, okay?" Dimas menyanggah kalimat Meila, terlihat jika dirinya tidak suka melihat Meila yang tampak sungkan padanya.


Tidak ada yang bisa Meila ucapkan ketika Dimas sudah mengeluarkan sanggahan yang tak terbantahkan. Gadis itu tampak mendesah pelan, sementara Dimas hanya memperhatikan sambil tersenyum ke arah Meila. Saat dirasa jika Meila sudah merasa nyaman, Dimas meminta izin pergi keluar halaman untuk membicarakan hal penting pada beberapa tugas keamanan yang berjaga.


"Aku akan keluar halaman sebentar, ada beberapa hal yang harus aku bicarakan oleh pihak keamanan." Tangannya terangkat untuk mengusap lembut kepala Meila. "Nggak akan lama. Aku akan kembali, segera!" Sambung Dimas seperti sedang mengultimatum dirinya sendiri. Sementara si gadis hanya menatap ke arah si pria sambil memberikan senyumannya disertai anggukan tipis kepalanya.


Tanpa membuang waktu lagi, Dimas langsung beranjak keluar untuk menghampiri tim keamanan yang telah disiapkannya. Meski saat ini Beno sudah tertangkap dan mungkin sudah mendekam dibalik jeruji besi, bukan tidak mungkin jika Sisil bertindak nekat untuk menjebol pertahanan keamanannya, bukan? Dimas sendiri sudah tahu sifat licik Sisil dan kenekatannya. Semua sudah terlihat jelas ketika dialah, yang menjadi otak penyekapan Meila beberapa waktu lalu. Dan kali ini, Dimas tidak ingin kecolongan lagi untuk kedua kalinya.


Oh, Jelas! Dimas tidak mau jika kegiatannya untuk mengurus Meila diganggu oleh siapapun. Dia ingin fokus kepada pemulihan Meila dan membiarkan dirinya sendiri yang mengurusnya. Jika memang ada sesuatu mendesak yang mengharuskannya untuk melonggarkan peraturannya, dia mengizinkan kepada tim keamanan yang telah ditugaskan untuk menghubunginya terlebih dahulu dan meminta izinnya.


●●●


Tangannya memegang erat benda pipih berbentuk panjang ke dadanya. Disertai kepanikan yang menyelimuti wajahnya, Sisil tampak merapalkan sesuatu dari mulutnya seolah sedang mengucap untuk mencegah sesuatu mengerikan yang akan terjadi. Dahinya mengkerut dalam, sementara matanya terpejam ketika dengan perlahan, dirinya membuka hasil tes urine ke tiga yang dilakukannya.


Dirinya sempat shock ketika dua testpack sebelumnya menunjukkan gambar dua garis merah secara bersamaan. Dan sekarang, dengan tangan gemetar menahan panik disertai rasa gelisah, Sisil membuka benda pipih ditangannya itu dengan gerakan perlahan.


Sisil terperangah sementara matanya membelalak sempurna. Ini adalah hasil tes ke tiga setelah dua tes sebelumnya menunjukkan hasil dua garis sama yang berdampingan.


"Nggak, nggak mungkin terjadi. Nggak mungkin gue hamil!" Sisil setengah berteriak sebelum kemudian dirinya membekap mulutnya sendiri karena terkejut dan melemparkan tespack itu ke segala arah hingga berserakan kemana-mana. Bahkan, saking terkejutnya hingga tidak bisa menahan diri karena panik, Sisil hampir saja berteriak kencang dan memancing orang rumahnya untuk mendatanginya.


Sekarang, apa yang harus dilakukannya setelah Beno menanam benih dirahimnya hingga berhasil dibuahi? Mengingat mereka hanya... hanya melakukannya sekali, dan... dengan posisi dirinya yang mabuk berat. Dan sekarang, dirinya tidak mengetahui keberadaan pria itu setelah kejadian panas mereka.


Sisil bersandar ke dinding toilet dengan kepala terdongak ke atas. Tangannya terkepal kencang sambil memukul-mukul ke meja wastafel dengan perasaan sesal di dada.


"Kenapa...? Kenapa semua ini terjadi sama gue?" Tidak bisa menahan sesak didada, air matanya berhasil membobol pertahanan dirinya, menyeruak membasahi pipinya.


Sisil tidak pernah menangisi apapun jika hal itu hanya sekedar membuat dirinya tersinggung, saat ditinggal seorang diri oleh kedua orangtuanya hingga dirinya merasa kesepian, bahkan sampai dikhianati oleh orang terdekatnya sekalipun dia tidak pernah menangisinya. Baginya, menangisi mereka yang tidak setia padanya hanya akan membuang energi. Tapi, kali ini berbeda. Kejadian ini sama saja telah membuatnya direndahkan sebagai seorang wanita.


Tangannya terkepal, memukul-mukul perutnya dengan putus asa hingga dirinya rubuh merosot ke lantai dengan air mata yang bercucuran.


"Beno Brengsek!" Rapal Sisil dengan menggeram, "gue nggak sudi mengandung benih dari pria brengsek kayak lo!" Serunya dengan bersungut-sungut dan air mata yang menderas kembali.


Sisil menangis sejadi-jadinya dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Sesekali tangannya bergerak menjambak rambutnya sendiri dengan putus asa. Sekarang, tidak ada lagi yang bisa Sisil banggakan. Hanya kekecewaan dan penyesalan yang saat ini menyelimuti rongga dadanya hingga titik terdalam.


●●●


"Mei, hot coklatnya diminum du.....lu," suaranya terhenti dengan suara rendah di akhir suku katanya, sementara dahinya mengkerut dalam ketika mata tajamnya tidak menemukan gadis mungilnya di kamar.


Kemana Meila? 


Dimas mencari gadisnya ke seluruh sudut rumahnya, mulai dari halaman depan, kebun belakang rumah tempat dimana gadis itu menghabiskan waktunya di sebuah ayunan kayu, hingga di balkon lantai paling atas yang jarang untuk didatanginya.


"Sayang, kamu dimana?" Seru Dimas dengan nada santai dan setengah berteriak.


Dimas tidak terlalu cemas karena tidak ada hal aneh pada sistem keamanan atau tim pengamanan diluar sana. Dirinya hanya bingung dimana gadisnya berada saat ini. Dimas tampak berpikir, dalam benaknya masih ada satu tempat lagi yang belum dihampirinya. Jika memang dugaannya benar dan Meila ada disana, dia harus cepat menyuruhnya masuk agar gadis itu tidak terlalu lama menghirup udara malam yang sudah terasa dingin ini.


Mungkinkah gadisnya sedang berada di kolam renang? 


Dimas langsung menuju kolam renang untuk memastikan. Ketika langkahnya baru akan memasuki pembatas antara sisi rumah menuju kolam renang, samar-samar telinganya mendengar suara kecipak air yang sedang dicipratkan, seolah memang sengaja sedang dibuat mainan oleh seseorang yang sedang mengunjunginya.


Dan benar, dugaannya tidaklah salah. Ketika Dimas menapaki sisi samping rumahnya yang hanya terpisah oleh sekat jendela kaca besar transparan, senyumnya seketika mengembang sempurna tatkala menyaksikan Meila sedang duduk bersantai di atas lantai marmer tepat di pinggir kolam renang.


"Ternyata bener kamu lagi disini," suara Dimas mengalihkan pandangan Meila yang sedang tertunduk senang memainkan air kolam yang dicipratkan.


"Kak Dimas...!" Sapa Meila dengan ceria, wajahnya tampak berseri-seri di bawah pancaran sinar bulan yang menghiasi langit sana.


Dimas menghampiri Meila sebelum kemudian mengambil selimut di kursi dekat kolam untuk menutupi tubuh Meila dari udara dingin yang menerpa. Dia menunduk untuk menyelimuti tubuh gadis mungilnya, lalu memberikan segelas hot coklat yang masih hangat dari tangannya dan menggenggamkannya ke tangan mungil Meila, yang juga langsung menangkupkan tangannya ke gelas untuk menyerap kehangatannya.


"Terima kasih..." ucap Meila dengan tulus, sementara matanya tampak berbinar. Didekatkannya wajahnya ke ujung bibir gelas untuk menghirup aroma khas coklat yang menyenangkan baginya.


Dimas tersenyum menanggapi, kemudian ikut mengambil posisi duduk disebelah Meila yang beralaskan lantai marmer itu. Wajahnya mengarah pada Meila yang saat itu sedang menyesap hot coklat sambil menghirup aroma khas minuman berwarna coklat pekat nan manis itu dengan senyuman.


"Kamu ngapain disini? Kenapa nggak nonton film atau baca novel aja di dalam? Disini dingin, Mei..." Dimas memulai percakapannya, mencari tahu kenapa di cuaca yang dingin ini gadisnya malah bermain air tanpa memakai pakaian hangat yang hanya beratapkan langit lepas.


"Aku sedikit bosen, kak... aku tadi bingung mau ngapain. Tapi setelah aku ngeliat kolam renang yang menggiurkan ini aku jadi pengen main air." Jawabnya polos dengan cengiran khasnya.


Sudut bibir Dimas terangkat, membentuk senyum ironi.


"Tapi jangan lama-lama, ya. Kamu masih harus memulihkan luka kamu." Sambil berucap tenang, tangannya bergerak mengusap kepala Meila dengan sayang.


Meila pun tak bergeming, dia hanya melirikkan matanya sekilas dan memberikan senyuman tanda senang karena meski hanya sebentar, Dimas mau memberinya izin untuk menikmati malam di area kolam renang yang memang mulai terasa dingin ini.


"Kak, kayaknya disini bakal jadi spot favorit aku, deh. Apalagi kalo malem, disini enak banget bisa langsung menatap langit dengan mata telanjang yang bertaburan bintang dan kerlap-kerlip." Kepalanya terangkat untuk menatap langit yang dipenuhi bintang, dan Dimas pun juga mengikuti. "Dan juga... spot favorit setelah balkon di taman belakang dengan ayunan kayu itu." Sambungnya lagi dipenuhi senyuman, sementara wajahnya menengok ke arah Dimas.


Dimas pun tersenyum lembut, "oh ya? Berarti aku nggak termasuk dalam spot favorit kamu?" Tanya Dimas memancing, nada suaranya terdengar lembut, sementara sebelah alisnya terangkat.


Kali ini tidak seperti biasanya, Meila akan tergeragap jika Dimas memberikan pertanyaan yang menyimpan rayuan dengan tiba-tiba. Sekarang, dirinya sudah bisa menguasai diri saat Dimas memberikan pertanyaan bernada rayuan seperti saat ini. Hanya pipinya saja yang secara sendirinya, dengan refleks berubah kemerahan sampai naik ke tulang pipi.


Meila berdehem sejenak, lalu berucap sesuatu untuk menjawab pertanyaan Dimas tadi.


"Kalo itu... kalo itu beda. K-kak Dimas selalu jadi favorit aku," tangannya bergerak meletakkan gelas hot coklat disebelahnya.


Jawaban Meila yang terdengar ringan dari suara rendahnya itu hampir tertelan ditenggorokannya. Suaranya sempat tersekat saat berusaha mengutarakan apa yang ada dibenaknya. Tapi bukan Dimas namanya jika tidak bisa mendengar jawaban Meila yang hampir tak terdengar itu, jawaban tulus dan spontan itu berasal dari hatinya, bentuk perasaan Meila padanya yang harus Dimas camkan dan simpan pada memorinya dalam-dalam.


"Ya. Karena aku adalah pilar kamu yang kokoh. Yang akan jadi pelindung kamu dari segala bahaya yang mengancam, yang akan selalu memeluk kamu saat kamu merasa takut," tangan Dimas menarik Meila kedalam pelukan, "yang akan menjadi sandaran kamu dari rasa resah dan gelisah," lalu tangannya mengusap kepala Meila dengan usapan sayang, "yang akan selalu menenangkan kamu dari kepanikan dan rasa cemas," kemudian lengannya melingkar, melingkupi tubuh Meila sambil membenarkan selimutnya. "Dan akan selalu memberikan kecupan mesra setiap saat." Dimas sedikit menjauhkan Meila darinya, sementara kedua tangannya terangkat menangkup sisi wajah Meila.  "Disini..." lalu mengecup dahi Meila dengan lembut, "...dan disini..." lalu turun sedikit untuk mengecup kedua mata Meila, sementara gadis itu memejamkan matanya perlahan. "...juga disini..." lalu menggeserkan bibirnya untuk memberikan kecupan ke kedua pipi Meila secara bergantian, "...lalu disini..." dan mengecup ujung hidung Meila sebelum kemudian menggesekkan hidungnya disana, "...dan juga disini..." sambil menghembuskan napas hangatnya, bibirnya bergerak mengecup bibir tipis berwarna natural nan menggoda itu dengan kecupan lembut dan mesra.


Dimas melepaskan bibirnya dari bibir Meila, tapi tidak menjauhkan wajahnya dari sana, dengan dahi yang saling menempel dan hidung yang saling bergesekan, lalu saling menghembuskan napas hangat hingga menerpa kulit wajah mereka.


Dengan dahi yang berkerut dalam dan mata yang terpejam, Dimas berucap dengan suara parau.


"Kamu tau, rasa manis dari bibir kamu ini nggak pernah bisa bikin aku puas untuk terus mengecupnya lagi, dan lagi." Dimas mendesah pelan, terdengar desahan menenangkan dari napasnya, lebih terdengar seperti sedang ditujukan untuk menahan diri dari godaan yang tampak nyata didepan matanya. "Tapi aku tahu batasanku. Aku nggak akan melakukan sesuatu yang melebihi batas. Aku akan membangun tembok pembatas itu sebagai pengingat buat diri aku sendiri." Suaranya tertahan, diikuti oleh matanya yang terbuka.


Hanya berselisih satu detik setelah Dimas membuka matanya, didetik setelahnya Meila lah yang membuka matanya perlahan dengan mata yang langsung menatap ke bola mata Dimas yang tajam, berkebalikan dengan tatapan mata sayu milik Meila yang sangat menggoda.


Lalu memberikan senyum terbaiknya pada Dimas sambil memajukan wajahnya, sementara tangannya gemetar ketika bergerak untuk menangkup sisi wajah Dimas hingga semakin mendekat, lalu memberikan sebuah kecupan ke pipi Dimas dan berbisik disana, "Terima kasih... kak Dimas!"


Dimas tersenyum, tatapannya melembut ketika ucapan Meila masuk ke telinganya. Disertai tatapan mata sayu dari gadisnya yang membuat rasa sayangnya bertambah berkali-kali lipat. Mungkin juga karena efek obat yang diminumnya tadi, yang mulai bekerja hingga menimbulkan rasa kantuk yang memberatkan.


Dimas membawa Meila kedalam pelukannya kembali, lalu memberikan kecupan ke pelipis gadisnya.


"Kita masuk, ya? Udaranya mulai dingin, dan kamu juga udah mulai mengantuk karena efek obat tadi." Perintahnya lembut diselipi nada perhatian.


Meila sendiri tidak bisa menyembunyikan rasa kantuknya lagi, dia hanya menganggukkan kepalanya dalam dekapan Dimas yang terasa hangat baginya. Dimas sendiri tidak akan membiarkan gadisnya itu berjalan sempoyongan menuju kamarnya sambil menahan kantuk yang mendera.


Dengan satu kali gerakan, diselipkannya tangannya ke belakang punggung dan belakang lutut Meila, lalu membawanya kedalam gendongannya. Kali ini tidak ada penolakan atau sanggahan yang keluar dari mulut gadis itu, justru sebaliknya, dengan mata setengah terpejam, Meila malah melingkarkan tangannya ke leher Dimas dan bergelayut manja, menyembunyikan wajahnya ke lekukan antara leher Dimas yang hangat.


Dengan bibir membentuk senyuman, Dimas membawa Meila menuju kamarnya dan membaringkannya disana, sebelum kemudian mencium kening gadisnya singkat dan meredupkan lampu kamar. Lalu pergi meninggalkan Meila yang sudah tenggelam dalam rasa kantuk yang memberatkan, dan terlelap dalam lingkupan selimut tebal yang melingkupinya.