
"Baiklah. Kita sudahi rapat kita kali ini. Dan untuk kedepannya saya harap kesepakatan yang telah kita buat bisa terjalin dengan baik. Selamat siang semuanya."
Dimas menyudahi rapatnya sambil menyalami para kolega dengan ramah. Dengan sikap kepemimpinannya yang tegas, Dimas tampak sangat berwibawa. Hal itu tak pelak langsung menarik perhatian salah satu investor yang sedang memperhatikannya dengan bangga. Investor paruh baya bernama Mr. Fondy itu terlihat menghampiri dan menyalami Dimas dengan sangat bersahabat.
"Senang bisa bekerja sama denganmu, Alex. Muda, tampan, pekerja keras, berwibawa dan juga pandai dalam menarik investor. Sungguh sangat sempurna."
Fondy memberikan pujiannya pada Dimas yang langsung ditanggapi santai oleh Dimas sendiri. Dimas terlihat tersenyum sambil merendah diri. Tidak menunjukkan kesombongannya pada lawan bicaranya.
"Jangan terlalu memujiku, om. Aku hanya menjalankan apa yang telah papa siapkan untukku. Menjalankannya sesuai yang semestinya."
Fondy pun menganggukkan kepalanya dengan ekspresi bangga. Dia pun lalu berniat mengajak Dimas untuk makan siang bersamanya di sebuah restoran dekat kantor.
"Kalau begitu, mari kita makan siang bersama. Kebetulan om bisa reservasi di restoran dekat sini lebih dulu."
"Oh, untuk itu... maaf aku harus menolaknya, om. Aku sudah ada janji dengan seseorang." Jawab Dimas sopan.
"Wah, sayang sekali. Mungkin lain kali ya, Lex. Nanti om akan kenalkan dengan putri om."
Fondy tidak mau melewatkan kesempatan sepertinya. Ketika tawaran makan siangnya ditolak oleh Dimas, dengan segera dia langsung mencari alasan untuk memperkenalkan putrinya pada Dimas. Namun lagi-lagi Dimas langsung menolaknya tanpa basa-basi karena tidak ingin memberikan harapan yang tidak akan Dimas penuhi nantinya.
Dimas pun terkekeh ringan tanpa dibuat-buat. Dan seketika langsung berujar mengatakan jika dirinya telah memiliki pilihannya sendiri. Dan dengan sengaja juga mengatakan jika pilihannya itu sudah menunggunya.
"Sekali lagi, terima kasih untuk ajakannya, om. Tetapi untuk yang satu itu, aku sudah memiliki pilihanku sendiri. Dan mungkin, dia sudah menungguku sekarang. Kalau begitu... aku permisi, om. Sampai jumpa di rapat-rapat selanjutnya."
Tanpa Dimas hiraukan lagi, dia langsung meninggalkan Fondy yang masih sedikit terkejut dengan pengakuan Dimas. Pasalnya, dia tidak pernah mendengar jika Dimas memiliki kekasih atau sedang dekat dengan wanita manapun. Itulah sebabnya dia mengatakan hal yang akan memperkenalkannya pada putrinya. Dan karena sedikit terpukul dengan kata-kata Dimas yang menolaknya, Fondy merasa diremehkan dan menaruh sedikit kesal dihatinya.
Setelah Dimas keluar dari ruang rapat, dia langsung menuju ruangannya sambil sesekali melihat jam tangannya. Senyum mengembang seketika diperlihatkan Dimas ketika waktu telah menunjukkan pukul 11.30 siang. Menandakan jika tidak lama lagi Meila akan datang ke kantornya dan makan siang bersamanya. Dimas menjadi tidak sabar menantikan itu. Dia lalu mempercepat langkahnya dan langsung duduk di kursinya.
Tok, tok!
Belum ada satu menit Dimas duduk, suara ketukan dari pintu membuat pandangannya teralihkan.
"Masuk."
Seorang perempuan yang bertugas sebagai sekretaris muncul dengan membawa dua buah kotak berbentuk bingkisan rapi.
"Pak, pesanan makan siang anda sudah sampai."
Dimas mengangguk pelan sambil melirik pada bingkisan di tangan sekretarisnya yang bernama Cindy itu.
"Letakkan itu di meja sana. Dan tolong untuk 2 jam ke depan, jangan ada yang masuk ke ruanganku sebelum aku sendiri yang keluar dari sini."
"Baik, pak. Kalau begitu, saya permisi."
Cindy pun lalu keluar dari ruangan Dimas dengan gaya yang sopan. Sepeninggal Cindy, Dimas sempat melirik pada bingkisan yang sudah ada di meja sofa sambil membubuhkan ulasan senyum tentunya.
"Aku nggak sabar mau bertemu sama kamu, Mei." Gumamnya pelan sambil mengucap rindu.
●●●
Dalam perjalanan, Meila tampak meminta pada Henry untuk berhenti di sebuah restoran cepat saji untuk membeli menu makan siang yang akan dimakannya di rumah. Tetapi dia belum menemukan restoran yang cukup cocok untuknya. Dan karena dia juga bingung ingin memakan apa untuk makan siangnya kali ini.
"Emmm... Henry, bisa kita berhenti di restoran cepat saji dulu? Aku mau membeli makan siang."
Meila mengernyit bingung. "Kak Dimas? Menyiapkan apa?"
"Iya, nona. Beliau meminta saya untuk mengantar nona ke kantor dan makan siang bersamanya."
Kedua mata Meila membelalak tidak percaya. Dia sedikit terperangah akan kata-kata Henry yang mengejutkan. Bahkan, untuk mencernanya, Meila sempat terpaku beberapa detik.
Ke... kantor? Makan siang bersama?
"Jadi maksud kamu kita sekarang mau ke kantor kak Dimas?" Karena saking tidak percaya, akhirnya Meila bertanya lagi untuk memastikan jika pendengarannya tidaklah salah.
"Benar, nona."
Jantung Meila seketika berdebar selama perjalanan itu. Dia bahkan sampai tidak bisa berfikir dan membayangkan jika nanti dirinya datang dan menjadi perhatian para karyawan disana. Itu pasti akan sedikit mengganggu nantinya.
●●●
Meila pun sampai di lobby kantor tempat dimana perusahaan Dimas berdiri dengan megah. Tidak begitu banyak karyawan yang berlalu lalang disana. Mungkin karena jam makan siang yang belum datang, atau mungkin mereka yang saling sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Henry segera membukakan pintu untuk Meila. Lalu setelahnya memberikan kunci mobil kepada petugas parkir vip untuk memarkirkan mobilnya sementara dirinya akan mengantar Meila ke ruangan tuannya yang sudah menunggunya.
"Mari, nona. Ikuti saya." Pinta Henry kemudian sambil memimpin jalan.
Mulai dari lobby hingga Meila benar-benar masuk ke dalam gedung, tidak henti pandangannya itu memperhatikan tiap detilnya. Hal pertama yang Meila tangkap saat tiba adalah, sebuah papan nama besi yang terukir besar yang terpampang nyata di dinding resepsionis dan bertuliskan, 'Alexsander's Hotels & Group Construction' yang sempat membuatnya terpaku. Pasalnya, Meila pernah mendengar nama perusahaan ini ketika papanya masih berada di Indonesia. Dan papanya juga sering sekali membicarakan perusahaan ini dengan akrab bersama mamanya. Tetapi, Meila tidak begitu ingat apakah dugaannya itu benar atau hanya ingatan yang muncul begitu saja.
Henry yang memimpin Meila berjalan, langsung mengajaknya pada suatu lift khusus vvip dengan material berbahan emas.
"Silahkan, nona."
"Terima kasih,"
Dapat Meila rasakan jika pergerakan lift itu sangat cepat. Namun, dia lebih merasakan kecepatan gerak jantungnya yang berdegup kencang saat lantai demi lantai dilewatinya. Lift pun berdenting tepat pada lantai 20. Menandakan itu adalah lantai paling atas gedung dimana ruangan Dimas berada.
Setelah keluar dari lift, mereka pun melewati koridor yang jaraknya tak lebih dari 3 meter. Menuju meja sekretaris yang sengaja ditempatkan dalam jarak 2 meter dari letak pintu ruangan Dimas. Cindy tampak menyapa Henry ketika pria itu terlihat keluar lift dan sempat terkejut melihat siapa perempuan yang ada di belakangnya. Namun meski begitu, Cindy tetap ramah dan sopan menyapa Meila seperti yang dilakukannya pada Henry.
"Nona, anda bisa langsung masuk. Tuan sudah menunggu."
Henry langsung meminta Meila untuk masuk tanpa meminta izinnya lagi. Dan ketika dirinya langsung diminta untuk segera masuk bahkan tanpa mengetuk pintu lebih dulu, Meila sempat terkejut dan bingung. Jantungnya berdebar-debar seperti seseorang yang akan melakukan interview pertama kalinya untuk melamar sebuah pekerjaan.
"Langsung masuk? Apa boleh begitu?" Meila tidak bisa mengendalikan kepolosannya. Hingga nyaris saja membuat Henry menyemburkan tawa. Namun dengan cepat Henry langsung berdehem seketika.
"Tidak apa-apa, nona. Tuan memang sudah menunggu nona sejak setengah jam yang lalu."
Meila sempat terdiam dua detik namun tak urung dia mengiyakan ucapan Henry.
"Ba-baiklah."
"Kalau begitu, saya permisi dulu,"
Henry langsung pergi begitu saja meninggalkan Meila yang masih ragu meraih gagang pintu. Namun sebelum dia mendorong pintunya, Meila lebih dulu mengetuknya perlahan sampai terdengar suara dari dalam yang menandakan jika dirinya memanglah boleh masuk ke ruangan itu tanpa meminta izinnya dulu.