
Sepertinya Dimas memang sudah sangat mengenal gadisnya. Sesuai apa yang disukai Meila, Dimas telah memilihkan bermacam film romantis setelah beberapa menit tadi gadis itu memikirkan genre apa yang akan ditontonnya. Lampu-lampu pun sengaja diredupkan, hanya cahaya dari layar monitor televisi saja sebagai sumber cahaya yang menemani kebersamaan mereka.
Posisi mereka sudah sangat nyaman. Dengan lengan Dimas yang dirangkulkan pada bahu Meila yang mungil, dan dirapatkan setengah membelakangi dada bidang Dimas. Tak lupa juga selimut yang menutupi keduanya hingga batas pinggang, semakin menambah suasana hangat dengan cuaca mendung dan berawan.
Dibiarkannya Meila bersandar rapat padanya. Tangan Dimaspun tak tinggal diam. Pria itu tak hentinya mengusap punggung lengan Meila dengan lembut seirama. Bibirnya pun mengikuti, sesekali diberikannya kecupan lembut ke belakang kepala Meila yang terasa harum.
Tidak ada popcorn, juga tidak ada minuman bersoda. Dimas sengaja menjauhkan jenis makanan seperti itu mengingat Meila yang baru mulai sembuh dari sakitnya. Sejenak, hening mengambil alih suasana, sebelum kemudian suara isakan kesedihan terdengar begitu dekat dari telinganya.
Dimas menautkan kedua alisnya bingung, memiringkan kepalanya seraya meraih dagu Meila perlahan. Dilihatnya gadis itu sudah berurai air mata dan hidung yang memerah, seperti sedang mengalami kesedihan yang amat dalam.
Sambil terkekeh, Dimas berucap seraya menghapus air mata dari pipi Meila yang basah.
"Kamu kenapa, Sayang?"
Seketika Meila memberengutkan bibirnya, menjawab pertanyaan Dimas dengan segera.
"....s-sedih, kak...." jawabnya singkat.
Sungguh! Dimas sangat gemas dibuatnya. Gadis itu sangat menggemaskan dan juga sangat menghibur. Dimas pun tak hentinya terkekeh sambil menangkup wajah Meila dengan gemas sekaligus menempelkan hidungnya pada hidung Meila yang memerah.
"Kamu bikin aku gemes! Pengen gigit rasanya." Dimas tergelak sambil menampilkan ekspresi akan menggigit ke arah hidung Meila.
Kemudian, membawa gadis itu ke dalam pelukannya seraya menempelkan dagunya ke atas rambut gadis itu.
"Kenapa milih nonton ini kalo nyatanya bakal sedih? Kan bisa pilih genre lain, seperti horor atau... cartoon?" Ucap Dimas sambil terkekeh.
"Aku nggak suka horor, kak." Sahutnya manja. "Aku lagi lebih suka yang mellow-mellow." Sambungnya lagi dengan wajah yang menengadah.
Perlahan Dimas melepaskan pelukannya, menatapnya lekat-lekat sambil merapikan rambut Meila yang sedikit berantakan.
"Kenapa nggak suka horor?" Tanya Dimas. Seketika ekspresi Meila langsung bergidik ngeri membayangkan adegan menyeramkan yang muncul dibenaknya. "Kamu takut? Kan ada aku yang akan peluk kamu di saat kamu takut, hm?"
Kali ini Meila yang berganti untuk menatap Dimas dengan lekat. Seolah sedang menyelami ke kedalaman mata Dimas yang meneduhkan itu.
"Meskipun begitu, aku tau... kalo kak Dimas nggak akan menunggu sampe aku merasa ketakutan untuk memeluk aku. Benar, kan?"
Dimas tersenyum hangat. Sangat hangat. Tanpa menjawab, pria itu langsung mengecup bibir manis milik Meila yang sudah tidak pucat lagi dengan kecupan paling lembut. Kecupan kasih sayang yang dia tunjukkan pada orang yang sangat dikasihinya.
Sementara Meila memejamkan matanya, Dimas sendiri menyapu lembut bibir tipis itu seraya berbisik. "Ya. Kamu benar. Aku akan selalu memeluk kamu tanpa alasan dan tanpa peringatan." Ucapnya parau di sela-sela ciumannya yang belum terlepas dan menggesekkan bibirnya di sana. Membuat pipi Meila merona dibuatnya.
Meila dapat merasakan hembusan napas hangat Dimas yang menyapu wajahnya ketika pria itu kembali mengecup dan menyesap sudut bibir Meila dengan lembut. Setelahnya, saat ciuman itu terlepas, dijauhkannya wajah Meila, diusapnya bibir tipis nan basah itu dengan usapan paling lembut. Ditatapnya mata indah dan sayu itu dengan intens. Lalu, ditangkupnya wajah cantik alami yang merona merah itu sambil seraya mengucap kata yang mampu membuat Meila melengkungkan senyumnya lebar.
"Kayaknya... gadis kecil ini udah mulai sembuh, ya?" Ujar Dimas sambil menyentuhkan telapak tangannya ke dahi Meila. Merasakan suhu tubuh gadis itu dengan perlahan sambil mengusapnya menggunakan ibu jarinya.
Tangan Meila beralih mengambil tangan Dimas yang ada di dahinya dan menggenggamnya.
Kemudian, gadis itu tersenyum seraya mengucapkan kalimatnya.
"I'm already feeling better now. And it's just because of you. Thank you so much for always being side of me. It's all very priceless moment to me." Meila menjeda kalimatnya sejenak, dan saat dirasa
Dimas masih menatapnya dalam diam, dia menyambung kembali. "....aku sayang kamu, kak...." ucapnya serak dan sangat pelan, disertai tatapan mata sayu.
Ungkapan yang Meila ucapkan terdengar begitu tulus hingga berhasil membuat Dimas menatapnya semakin lekat dan dalam.
Menciptakan suasana damai menenangkan yang jika Dimas mampu, akan melakukan segala cara untuk menghentikan waktu sehingga mereka bisa saling merasakan perasaan masing-masing dengan cara mengungkapkannya tanpa paksaan. Saling bertatapan, memeluk, memberikan kecupan, membelai, serta bergandengan disaat yang bersamaan.
"As I said before and I'll continue to say... I love you too, and so much love you, dearest."
Sekali lagi, Dimas menghadiahkan kecupan hangat ke pelipis Meila sambil membawanya ke dalam dekapannya kembali disusul dengan kecupan-kecupan kecil ke puncak kepala gadisnya. Sedangkan Meila, melingkarkan lengannya manja pada pinggang Dimas, mengeratkan pelukannya dengan posisi setengah meringkuk, mencari kehangatan dalam lingkupan dada Dimas yang hangat.
●●●
Seorang pria bertubuh tegap sedang duduk di meja kebesarannya. Tubuh tegapnya berbalut kemeja putih dengan lengan yang digulung sampai siku, sangat pas dengan porsi tubuhnya yang menampilkan otot-otot kekar yang terpahat indah yang mengintip dibalik kerah baju yang sedikit terbuka.
Tidak hanya itu, pergelangan tangannya juga di lingkari dengan jam tangan mewah bermerek tissot yang semakin menambah kesan elegan dari penampilannya.
Pria itu adalah James, pewaris tunggal dari bisnis yang dikelola orangtuanya sebagai bisnis keluarga. Tak sampai disitu, sebuah agensi yang menaungi Vika juga dialah yang mengelolanya, dikepalai, dan juga ditangani langsung olehnya.
"Bagaimana kabarmu di sana, Vika?" Ucapnya seraya menatap sebuah foto yang menampilkan seorang gadis sedang berpose cantik pada sebuah pemotretan. "Apa kamu baik-baik saja? Atau... justru sebaliknya?"
Semenjak Vika kembali ke Indonesia, gadis itu belum mengabarinya lagi mengenai keadaannya. James pun memakluminya. Mungkin gadis itu sibuk karena harus membagi waktunya antara kuliah dan jadwal pemotretan yang harus dijalaninya.
Matanya menerawang, menatapi wajah cantik gadis itu dengan sebuah senyuman tulus dari bibirnya.
"Aku mensyukuri tentang keputusanku akan hubungan kita. Dan aku sama sekali tidak menyesalinya. Justru keinginanku untuk terus melindungimu semakin kuat, meski hanya sebatas seorang kakak yang wajib melindungi adiknya. Jika ada hal yang bisa membuatmu bahagia, hal itu akan aku lakukan sebagai kewajibanku menjadi seorang kakak untukmu." Ujarnya tulus sambil menatapi selembar foto itu dengan lekat.
*flashback on
Tepat setelah satu minggu setelah meninggalnya Ayah Vika. Dengan
perasaan yang masih kacau, Vika masih terus berdiam diri di dalam kamar, bersandar pada kepala ranjang dengan mata sembab.
Semenjak pemakaman itu dilakukan, keluarga James memaksanya untuk tetap tinggal di kediaman rumah Anderson dengan tujuan agar keluarga itu tetap bisa memantau keadaan Vika terutama kesehatannya yang sempat drop.
Seorang asisten rumah tangga berjalan menaiki anak tangga dengan membawa nampan ditangannya. Nampan itu berisi santapan makan siang untuk Vika yang sudah disiapkan untuknya. Saat langkahnya masih menapaki anak tangga, asisten itu berpapasan dengan James dan pria itulah yang mengambil alih untuk memberikannya sendiri pada Vika.
Suara ketukan dari balik pintu membuyarkan lamunan Vika.
"Vika, boleh aku masuk? Aku membawakan makan siang untukmu."
Suara James dari luar terdengar jelas saat pria itu meminta izin Vika memasuki kamarnya.
"Masuk aja, James. Pintunya nggak dikunci." Vika menyahuti dengan suara parau. Gadis itu mengusap air matanya dengan cepat.
Tak berapa lama, James masuk dan berjalan menuju pinggir ranjang dan duduk di sana.
"Ini sudah waktunya makan siang, Vika. Kamu hanya memakan buburmu sedikit untuk sarapan. Perutmu pasti menagih lagi untuk diisi."
"Aku belum lapar, James." Jawab Vika lirih.
"Tapi kamu harus makan walau hanya sedikit, Vika. Makan, ya? Aku akan menyuapimu." Pinta James dengan kalimat yang lembut.
Vika pun akhirnya menurut, gadis itu menerima suapan demi suapan yang James sodorkan padanya hingga akhirnya Vika menolak untuk menerimanya lagi dengan alasan sudah kenyang. Dan James memahami itu.
"Sebenarnya... ada hal yang mau aku bicarakan sama kamu." Suara
James terdengar tiba-tiba saat pria itu menyuapi potongan buah jeruk ke mulut Vika.
"Hal apa, James?" Sahut Vika dengan suara parau.
Seketika James menatap Vika dengan lekat, mendalami bola mata gadis itu dalam diam. Lalu, tangannya meraih tangan Vika dan menggenggamnya dengan mengusapnya lembut di sana.
"Vika, aku tau pertunangan ini sama sekali tidak kamu inginkan.
Kamu terpaksa melakukannya demi papa kamu. Aku juga nggak bisa memaksa kamu untuk terus menjalani hubungan ini tanpa adanya cinta. Jadi, aku udah memutuskan..." James menghentikan kalimatnya sejenak. Menatap Vika yang menunggunya melanjutkan kalimatnya lagi. "...aku akan membatalkan perjodohan kita."
Vika tertegun, sejenak dia terdiam seolah kehilangan kata.
"James,"
"Ssshh..." James menyela, menempelkan jari telunjuknya di bibir Vika. "Aku udah membicarakan ini dengan mama dan papa. Dan mereka menerimanya, Vika."
"Tapi, James, bagaimana dengan semua kolega yang telah hadir di pertunangan kita? Keluarga kamu pasti akan malu dengan hal ini."
"Kamu jangan mengkhawatirkan kami, nak." Itu adalah suara ibu James, Eliana Anderson yang tiba-tiba datang bersama suaminya, William Anderson dan ikut angkat bicara.
Mereka berjalan mendekati James dan Vika. Kemudian berhenti dan berdiri di samping kepala ranjang.
"James telah menceritakan segalanya pada kami. Dan kami ingin kamu bahagia dengan pilihan kamu, nak." Kali ini Ayah James yang bersuara.
"Tapi, om, tante. Aku nggak bermaksud untuk membuat kalian berpikir jika aku terpaksa dengan perjodohan ini. Aku... aku hanya..."
"Kami mengerti maksud kamu, Vika. Dan kami telah sepakat untuk membatalkan perjodohan ini. Kamu tidak perlu terbebani lagi dengan semuanya, ya?" Eliana berucap menenangkan.
Sungguh, hati Vika terenyuh. Dirinya tersentuh dengan kebaikan hati keluarga James padanya. Matanya langsung berkaca-kaca tidak sanggup menahan kesedihan sekaligus kelegaan yang membebani hati dan juga pikirannya.
"Kalian sangat baik. Aku bersyukur bisa mengenal kalian. Terima kasih karena telah merawat aku selama aku terpuruk. Aku nggak akan pernah melupakannya." Ucap Vika sendu di tengah tangisannya.
"Jangan merasa sungkan untuk meminta bantuan pada kami, Vika. Kamu sudah kami anggap sebagai putri kami. Meskipun, kami tau, jika kehadiran kami tidak akan bisa menggantikan sosok papa kamu.
Kamu mau kan, jadi putri kami? Jadi adiknya James?"
Tangisan Vika semakin menjadi, bersamaan dengan tawa haru yang ditampilkannya. Vika pun menganggukkan kepalanya, menandakan jika ia setuju dan menerima untuk menjadi adik sekaligus putri angkat keluarga Anderson.
"Baiklah, mulai sekarang kamu adalah adikku. Dan aku adalah kakakmu. Usia kita terpaut 2 tahun, bukan?" Ujar James menghibur sambil mengusap air mata Vika yang meleleh di pipi mulusnya.
"Dan kami adalah orangtua kamu, Vika. Mulai sekarang, kamu adalah tanggung jawab kami." Ucap Ayah James menyahuti sambil mengusap kepala Vika dengan usapan lembut layaknya seorang Ayah kepada putrinya.
"T-terima kasih. Aku... aku sungguh beruntung memiliki kalian." Ucap Vika terbata dengan berderai air mata.
Eliana meraih bahu Vika sambil mengusapnya lembut. "Kami yang beruntung memiliki putri sepertimu, Vika. Jadi, jangan bersedih lagi, ya?" Ucap Eliana dengan suara keibuannya sambil menangkup dagu Vika. Yang sekali lagi, berhasil membuat Vika tersentuh dan menitikan air mata bahagia.
"Papa, terima kasih. Terima kasih karena telah mengenalkan aku pada keluarga James yang sangat baik ini. Aku menyayangimu, pa..." Ucap Vika lirih dari dalam hatinya.
*flashback off
"Tunggu aku, adikku. Aku akan segera mengunjungimu di sana."
James mengucap janji diselipi dengan senyuman lebar. Lalu, meletakkan foto di tangannya ke atas mejanya, sementara tangannya meraih gagang telepon dan memberikan serentetan perintah pada seseorang di seberang telepon untuk menyiapkan sebuah tiket eksklusif mengenai keberangkatannya ke Indonesia.
●●●
"Baik, pak. Saya akan segera memberikannya 1 jam lagi."
Kalimat misterius Dimas seketika membuat Meila mengernyitkan alisnya penuh tanya. Tadi, saat keduanya diselimuti dengan keheningan yang membentang, serta kedamain yang melingkupi dikala berpelukan, tiba-tiba suara dering telepon dari ponsel Dimas membuat keduanya terfokus dan terarah ke ponsel tersebut.
Entah siapa yang menghubungi Dimas hingga pria itu tampak menurut dengan beberapa perintah yang diajukan oleh penelepon tersebut. Selagi Dimas menerima telepon, pria itu tetap tidak membiarkan gadisnya menjauh darinya, sebelah tangannya tetap merangkul Meila, dan sebelahnya lagi memegang ponsel menerima panggilan.
"Siapa, kak?"
Meila bertanya ingin tahu, ketika Dimas mematikan sambungan telepon dan meletakkannya kembali ke atas meja. Lalu, pria itu menunduk seraya memberikan kecupan ke rambut Meila yang lembut dan harum.
"Dosen aku. Beliau menanyakan beberapa tugas yang harus aku berikan padanya sekarang juga."
Mendengar Dimas yang akan pergi, seketika Meila menengadahkan wajahnya menatap Dimas.
"Terus, kenapa belum siap-siap? Dosennya pasti lagi menunggu tugas kamu, kan?"
Dimas menghela napas sejenak sebelum kemudian menyahuti pertanyaan Meila.
"Aku nggak bisa meninggalkan kamu sendirian di rumah, Sayang." Jawabnya jujur sambil membawa Meila bersandar padanya.
Meila terkekeh, tangannya menepuk pelan paha Dimas.
"Kak Dimas, aku udah nggak apa-apa. Kamu pergi aja. Lagipula... ada tim keamanan yang akan berjaga-jaga di sini. Aku nggak mau gara-gara aku, kamu dimarahin sama dosen kamu." Ucap Meila memberikan pengertiannya.
Sejenak, Dimas menatap Meila dengan seksama, "benar nggak apa-apa?" Setelahnya, bertanya kembali untuk memastikan. Dan, Meila langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat tanpa ragu.
"Kalo gitu... aku akan bersiap dan menyiapkan beberapa tugas yang harus aku berikan nanti. Tunggu disini, okay?"
Setelahnya, Dimas bangkit berdiri seraya membelai rambut Meila sekilas. Kemudian, berjalan menuju kamarnya untuk menyiapkan beberapa tugas yang harus diberikannya nanti.
Tak memakan waktu lama, Dimas kembali dengan membawa beberapa tugas di tangannya sambil berjalan cepat. Lalu berjalan mendekati Meila yang langsung berdiri melihat Dimas yang telah siap untuk pergi.
"Aku akan memberikan tugas ini. Ingat, jangan kemana-mana. Kunci pintunya. Aku akan menugaskan kepada tim keamanan untuk berjaga-jaga di halaman. Hubungi aku jika terjadi apa-apa. Okay?"
Dimas memberikan serentetan perintah yang harus Meila patuhi selama dia pergi, yang langsung disambut anggukan kepala gadis itu tanda bahwa ia mengerti.
"Iya. Kamu nggak perlu khawatir. Aku akan patuhi semuanya."
"Good girl! Aku percaya sama kamu." Sahut Dimas sambil mengelus pipi mulus Meila dengan lembut.
"Kak Dimas hati-hati, ya. Semangat!" Ucap Meila memberikan semangatnya sambil mengangkat sebelah lengannya dengan tangan terkepal penuh semangat. Disambut dengan kedipan mata Dimas seraya menghadiahkan kecupan ke dahi Meila.
Setelahnya, Dimas pergi dan berjanji akan secepatnya kembali. Sebab, dia sendiri tidak bisa berlama-lama untuk berjauhan dengan Meila, gadis yang dicintainya.