
Semenjak kepulangannya dari rumah sakit, Sisil dihadapkan dengan kegiatan yang membosankan. Dari membantu ibunya memasak di dapur, ditugaskan untuk melatih diri membuatkan kopi untuk ayahnya, merapikan kamar tanpa bantuan asisten rumah tangga, dan semua kegiatan yang sangat bertolak belakang dengan sifatnya selama ini.
Dan sekarang, baginya cukuplah sudah. Semuanya harus diakhiri sebelum dirinya benar-benar merasa jengah dan bertindak diluar kebiasaannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sisil berpikir, kedua orangtuanya pasti sudah tidur dan mematikan semua lampu sehingga memudahkannya untuk melancarkan aksinya. Dirinya kini sudah rapi. Berpakaian dress minim berwarna hitam yang menampilkan lekuk tubuhnya yang mumpuni. Polesan make-up tebal dengan bibir merah menyala. Serta rambut yang tergerai indah bergelombang menambah kesan elegan sekaligus glamor.
Sisil berjalan mengendap-endap. Menuruni anak tangga tanpa alas kaki dengan menenteng high-heels miliknya di tangan. Lalu, membaca situasi sekitar dengan mata menyalang tajam penuh antisipasi.
Sisil baru akan meraih gagang pintu dan rencananya hampir mulus jika saja sebuah suara dari arah bawah tangga tidak menghentikannya disertai lampu ruangan yang menyala terang dengan sempurna.
"Mau kemana kamu, Sisil?"
Suara itu adalah suara papanya. Suara berat, tegas dan juga galak yang berhasil membuat bulu-bulu halus di tubuh Sisil meremang.
Dengan berat hati, Sisil memutar tubuhnya kesal. Manoleh ke arah papanya sambil memutar bola matanya malas.
"Mau refreshing, lah. Mau kemana lagi? Aku bosen dirumah terus." Jawabnya ketus.
Papanya menyusuri penampilan Sisil dengan sorot mata tajam.
Mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kemudian, alis matanya mengernyit saat tujuan yang akan anaknya datangi terlintas begitu saja.
"Clubbing?" Simpulnya spontan tanpa ragu.
Sisil menelan ludahnya sejenak. Lalu menarik napas dalam sebelum kemudian menjawab dengan gumaman tidak jelas.
Papanya menghampiri dengan perlahan, berjalan mendekat hingga tersisa jarak 3 langkah. Lalu memberikan perintah yang tidak mau menerima bantahan dari putri semata wayangnya.
"Siapa yang memberi izin kalau kamu boleh keluar? Masuk ke kamar kamu!" Perintahnya tegas tanpa bantahan.
"Nggak bisa!" Sisil menyela dengan cepat dengan sikap membangkangnya. "Aku udah janji sama temen-temen aku. Dan ini nggak bisa dibatalin. Aku nggak bisa batalin begitu aja dan....."
"Papa bilang masuk! Nggak ada keluar-keluar rumah mulai sekarang. Apalagi di jam malam. Papa akan buat peraturan itu mulai hari ini."
"Tapi, semuanya....,"
"Sisil," suara papanya menggeram. Terdengar jelas sekuat tenaga sedang menahan kesabarannya. "Jangan sampai papa berbuat sesuatu diluar kendali papa yang akan membuat kamu menyesal, Sisil. Papa ingatkan sekali lagi, masuk ke kamar kamu! Sekarang! Jangan membantah dan turuti." Ucap papanya final tanpa mau mendengar bantahan lagi dari putrinya.
Dengan tangan terkepal, Sisil memandang papanya dengan sorot mata tajam berapi-api penuh kemarahan. Lalu berjalan melewati papanya sebelum kemudian menghentakkan kakinya kesal dan baru akan menaiki anak tangga sebelum kemudian suara papanya membuatnya menghentikan kakinya kembali.
"Sisil, sudah saatnya papa bertindak tegas sama kamu. Dan mulai detik ini juga, papa nggak akan membebaskan kamu untuk bepergian semau kamu tanpa jelas arah dan tujuannya. Kamu ingat itu baik-baik!"
Tanpa memutar tubuhnya dan hanya menoleh sedikit, Sisil menggeram menahan amarah di wajahnya. Lalu, menghentakkan kakinya sambil setengah berlari menaiki anak tangga tanpa menoleh lagi dan mengeluarkan suara apapun. Lalu, memasuki kamarnya dan menutup pintu itu dengan kasar hingga terdengar suara bantingan keras, disusul dengan pintu yang tertutup rapat.
●●●
Suasana gelapnya malam tidak bisa menutupi mendungnya awan yang diselimuti dengan rintik halus hujan yang turun. Meila yang belum beranjak tidur, memilih untuk menatap langit malam dibalik kaca besar pada sebuah balkon kamar Dimas yang tirainya terbuka.
Tatapan polos itu menatap langit malam dengan mata nyalang menyala. Sambil bersedekap, gadis itu sudah menunjukkan tanda-tanda kesembuhan jika dilihat dari rona merah wajahnya yang jauh dari kesan pucat seperti kemarin malam.
Meila berpakaian serba hangat. Mengenakan sweater tebal milik Dimas yang dipilihkan untuknya. Sweater berbahan katun hangat kelonggaran yang menenggelamkan hampir seluruh tubuhnya yang mungil.
Jika boleh jujur, perasaannya masih sangat bergejolak dengan mempertanyaan kondisi Sisil dipikirannya. Memikirkan kesehatan perempuan itu, namun juga rasa bersalah yang mengingatkannya akan kejadian buruk yang membuatnya takut jika harus menghadapi kemarahan Sisil.
Meila berpikir, pasti saat ini Sisil sedang menderita karena kehilangan calon bayinya. Dan itu semua adalah karena kecerobohannya yang tidak berhati-hati. Seketika air matanya muncul, menumpuk di pelupuk mata hingga akhirnya menetes membasahi pipinya.
Dengan cepat, Meila menghapus air mata itu saat suara pintu terbuka membuyarkan lamunannya. Dimaslah yang memasuki kamar. Membawa segelas air yang langsung diletakkannya di atas meja nakas samping ranjang.
Dimas tersenyum saat melihat gadisnya masih setia memandangi langit tanpa belum mau beranjak tidur. Dihampirinya gadis itu, lalu dengan perlahan Dimas meraih pinggang Meila posesif dan memeluknya seraya berkata.
"Kenapa belum tidur? Ini udah larut malam. Kamu masih harus istirahat." Bisik Dimas sambil memberikan kecupan ke pelipis Meila.
Meila menggeleng pelan, "masih belum ngantuk, kak," ucapnya pelan dengan suara yang masih serak.
Perlahan Dimas memutar tubuh Meila untuk menghadap padanya. Lalu menatapnya lekat-lekat sambil menyelipkan anak rambut Meila ke belakang telinga.
"Ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu?"
Meila menatap Dimas dengan bola mata jernihnya. Kemudian, memberanikan diri untuk membahas masalah Sisil lagi yang masih mengganggu pikirannya.
"Kak, gimana... gimana keadaan Sisil sekarang? Apa dia baik-baik aja? Atau... malah semakin memburuk karena tahu telah kehilangan calon bayinya?" Tanya Meila hati-hati sambil membaca perubahan pada wajah Dimas.
Melihat kecemasan dalam bola mata gadisnya, membuat tatapan Dimas melembut seraya menangkup kedua sisi wajah gadis itu. Lalu, menjawab semua kekhawatiran Meila dengan sebuah pengertian.
"Dia akan baik-baik aja. Kamu nggak perlu memikirkan itu lagi. Okay?" Ditatapnya Meila lekat-lekat dan memberikan kecupan singkat ke dahinya sebagai bentuk menyalurkan ketenangan dari sana. "Sisil itu bukanlah tipe wanita lemah yang akan meratapi kesedihannya sampai berlarut-larut. Dia akan merubah pola pikirnya dengan cepat dan membuang jauh-jauh rasa sakitnya dengan mencari kesenangan lain,"
Dimas memberikan penjelasan dan pengertian sehati-hati mungkin agar dapat dicerna oleh gadis mungil yang saat ini sedang menatapnya dengan raut wajah kesedihan yang nyata.
"Tapi, Sisil pasti menderita, kak. Kalo aja janin itu masih ada, pasti... pasti semuanya nggak akan kayak gini," kali ini Meila tidak bisa lagi menahan air mata kesedihannya. Dengan mata berkaca-kaca, Meila berusaha tetap kuat meski semua kesedihan itu tampak nyata dalam bola matanya.
Dimas sangat mengerti apa yang Meila rasakan. Bahkan, jika Dimas bisa, dia akan melakukan segala cara agar janin itu tetap ada sehingga gadisnya tidak merasa bersalah terus menerus. Namun, sebelum mereka mengetahui adanya janin di dalam rahim Sisil, wanita itu juga seolah menutupi kehamilannya dan terkesan sengaja untuk mencelakakan calon bayinya sendiri.
Tatapan Dimaspun melembut, dia menghela napas sebelum kemudian menangkup kedua sisi wajah Meila untuk mengarahkan wajahnya kepadanya sembari merapatkan tubuhnya pada gadis itu.
"Sayang, seberapa menderitanya seseorang itu nggak bisa kita ukur hanya dengan sekedar melihat atau bahkan sampai ikut memaksa diri berusaha merasakannya." Dimas berusaha memberi pengertian dengan kalimat paling sederhana agar mudah untuk dipahami.
"Penderitaan adalah skala dari 1 sampai 10. Kamu tau maksudnya apa?" Dimas menjeda kalimatnya, bertanya pada Meila di akhir kalimatnya yang hanya mendapatkan tatapan kosong dari si gadis.
"Itu artinya, apa yang bagi kamu itu 10, mungkin hanya 4 bagi Sisil, begitupun sebaliknya. Kalo menurut kamu Sisil lebih menderita dari kamu, mungkin penderitaan itu nggak lebih dari apa yang kamu rasakan. Tapi, bukan berarti Sisil nggak merasakan sakitnya 10, seperti kamu merasakan 10-nya."
"Jadi, jangan pernah merendahkan diri kamu hanya karena skala penderitaan Sisil lebih besar dari apa yang kamu liat. Karena kita nggak bisa mengukur sampai mana tingkat ketegaran seseorang agar terlepas dari penderitaannya sendiri." Dimas menjelaskan dengan sabar sambil menatap kedua bola mata Meila yang sudah menumpuk dengan air mata.
Dan, karena tidak bisa menahannya lagi, air mata itu menetes dengan sendirinya tanpa bisa ditahan. Membuat Dimas dengan cepat menghapus air mata itu menggunakan jemarinya dengan usapan paling lembut.
"Jadi, jangan bersedih lagi, ya? Pacar aku itu, kadar keimutannya berkurang kalo sedih kayak gini." Ucapnya menghibur yang membuat Meila sedikit tersenyum meski senyuman itu sedikit ditahan oleh bibirnya.
Melihat godaannya direspon baik oleh Meila hingga berhasil membuatnya sedikit tersenyum, Dimas menghadiahkan kecupan ke kening Meila dengan lembut, lalu menariknya ke dalam pelukannya. Menghirup aroma rambut gadisnya yang halus sambil memejamkan matanya sejenak sebelum kemudian berucap.
Perintahnya lembut sambil memberikan kecupan ke puncak kepala gadisnya. Meila pun mengangguk tipis dalam dekapan Dimas.
Lalu, Dimas melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Meila untuk menghelanya menuju tempat tidur. Membiarkan Meila berbaring terlebih dulu diikuti dengan dirinya yang berbaring disampingnya.
Sementara Dimas menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka, Meila justru lebih memilih meringkuk dalam pelukan Dimas yang menurutnya lebih hangat dari selimut manapun. Bukan itu saja, bagi Meila, pelukan itu membuatnya merasa terlindungi dan terjaga hingga dirinya merasa aman, nyaman, sekaligus tenang dalam rengkuhannya. Sikap manjanya itu justru membuat Dimas tersenyum seraya merengkuh gadis itu bersamanya agar semakin merapat.
"Selamat tidur, Sayangku."
Kepalanya menunduk, lalu Dimas memberikan kecupan selamat malam sebagai penutup sesi perbicaraan mereka malam ini.
Meilapun mengangkat wajahnya seraya memberikan senyuman pada Dimas sebagai ucapan selamat malamnya. Kemudian, menenggelamkan wajahnya ke lekukan antara leher Dimas yang hangat menyenangkan.
Saat Meila akan memejamkan matanya, sebuah pertanyaan sekaligus permintaan yang tadinya akan ia utarakan hingga terlupa karena membicarakan Sisil, teringat kembali dan buru-buru menjauhkan wajahnya dari rengkuhan Dimas sebelum pria itu terlelap semakin dalam.
"Kak Dimas," ucapnya hati-hati dengan suara pelan.
Dimas menunduk dengan alis mengernyit, "ya...?" Jawab Dimas parau sambil menatap gadisnya lekat.
"A-aku... kangen kuliah lagi, aku... mau ngampus lagi, kak." Pintanya memelas dengan bola mata besarnya yang membuat siapapun tidak mampu menolaknya.
Tatapan Dimas berubah sayang, lalu menyentuh dahi Meila menggunakan telapak tangannya yang dirasanya masih terasa hangat. Kemudian melengkungkan sebuah senyuman seraya berucap kata.
"Kita tunggu satu sampai dua hari lagi, ya? Kita liat kondisi kamu sampai benar-benar sembuh total. Gimana?" Jawabnya dengan kalimat penawaran paling lembut.
Meila menaikkan sebelah alisnya, lalu memutar bola matanya
tampak menimbang-nimbang. Tapi kemudian, gadis itu mengangguk setuju tanpa membantah lagi. Sikapnya itu membuat Dimas tidak bisa menahan diri untuk tidak memberikan kecupan ke bibir merah muda yang masih terlihat kering namun tidak pucat seperti kemarin. Membasahi bibir itu dengan menyapunya bergantian sebelum kemudian melepaskannya.
Kemudian mengusap bibir Meila yang basah bekas ciumannya sambil mengucap sebuah pujian untuk gadisnya. "Good Girl! Tidurlah." Perintahnya lembut yang langsung disambut senyuman dari Meila.
Lalu, membawanya kembali ke dalam rengkuhan lengannya yang kokoh melindunginya. Sementara Meila, melingkarkan lengannya pada pinggang Dimas dengan wajah tenggelam di lekukan leher Dimas yang hangat menyenangkan, tempat yang paling disukainya.
●●●
Vika merasakan sakit kepala luar biasa begitu dia bangun dari tidurnya. Entah apa yang terjadi, tapi dia merasa sakit kepala ini adalah karena dirinya yang sengaja berdiam diri di bawah guyuran hujan kemarin sore. Sekuat tenaga, Vika berusaha bersiap diri untuk pergi ke kampus meski dia merasakan tubuhnya sangat lemas.
Dengan mata yang sedikit berkunang-kunang, Vika berangkat tanpa membawa mobilnya. Dia juga mengantisipasi diri untuk menjauhi mengemudikan kendaraan sendiri untuk menghindari kejadian buruk yang akan terjadi nantinya.
Dengan langkah pelan dan setengah diseret, Vika melewati lorong kampus untuk menuju ruang senat. Dirinya tidak sempat sarapan tadi. Karena memang tidak adanya napsu makan karena lidahnya yang teraaa pahit sehingga membuatnya tidak menginginkan untuk memakan apapun.
Lorong demi lorong dilewatinya sampai tibalah dia di depan pintu ruang tersebut. Vika menarik kenop pintu perlahan, memasukinya dengan langkah pelan namun tetap berusaha kuat agar tidak ada yang menyadari jika dirinya sedang tidak apa-apa.
Dilihatnya ruangan itu yang hanya ada Airin bersama ketiga anggota lainnya sedang memegang tugas masing-masing ditangannya.
Begitu terdengar pintu terbuka, Airin langsung menoleh dan melihat Vikalah yang datang. Disapanya Vika dengan ramah olehnya.
"Selamat pagi. Selamat datang."
"Selamat pagi. Maaf semuanya. Aku agak telat," sapa Vika sambil mengutarakan kata maafnya pada Airin dan juga yang lainnya.
"It's okay, kak. Baru telat 5 menit, kok. Lagian ketua kita juga belum dateng." Ujar Airin sambil menyeringai, merujuk pada Rendy sebagai sang ketua senat.
Mendengar kalau sang ketua Senat belum datang dan memang Vika juga tidak melihat keberadaannya, Vika menarik sudut bibirnya ironi sambil berjalan memasuki ruangan. Vika menarik salah satu kursi yang hanya berselisih satu kursi saja dari tempat Airin. Lalu duduk disana sambil menghela napas sejenak.
Airin memperhatikan Vika dengan lekat, lalu alisnya mengernyit saat dilihatnya Vika dengan wajah pucat disertai dahi yang berkeringat.
"Kak, kamu sakit? Muka kamu pucat, loh. Mau ke UKM, aku anterin?"
Vika menggeleng disertai senyuman. "Aku nggak apa-apa. Mungkin tadi karena aku sempat lari-lari di koridor karena takut telat, makanya berkeringat."
Airin ber-oh ria mendengar alasan Vika. Tapi sesaat kemudian Airin bertanya lagi untuk memastikan.
"Kamu yakin,?"
Vika tersenyum, "I'm okay, Sissy! Thank you for worrying me." Ucap Vika dengan lembut.
Airin tersenyum, lalu tangannya bergerak meraih punggung lengan Vika dan mengusapnya lembut. "Jangan sungkan-sungkan buat meminta bantuan ya, kak. Kalo butuh apa-apa, bilang aja. Kita akan bantu, kok." Ucapnya. Disambut dengan anggukan kepala yang disertai kedipan mata sebagai jawaban.
Sebagai mahasiswi perbantuan, Vika sungguh beruntung dirinya sangat diterima di universitas ini. Padahal, dia sempat berpikir kalau tidak akan disambut dengan baik. Tapi, Rendy sebagai pengecualian.
Dia tidak pernah menyangka jika akan bertemu dengannya secara tidak sengaja dan tanpa rencana. Hanya pria itu yang bersikap dingin dan jauh dari sikap manis yang dulu pernah pria itu tunjukkan saat bersamanya. Jauh dari kata ramah, membuat Vika berbalik sungkan untuk memulai percakapan setelah sikap yang pria itu tunjukkan padanya kemarin.
●●●
Suara ribut-ribut dari arah toilet membangkitkan rasa ingin tahu Rendy saat baru akan melanjutkan langkahnya. Dia menghentikan kakinya dengan alis mengernyit, kemudian berbelok menuju tempat dimana sudah terdapat kerumunan orang.
Rendy berjalan perlahan membelah kerumunan mahasiswa yang melingkar seperti sedang mengelilingi sesuatu. Dan, kedua bola matanya membelalak sempurna saat dilihatnya sosok yang sangat dikenalinya sudah tergeletak pingsan di dekat pintu toilet wanita tepat di bawah wastafel.
Vika!
Rendy langsung berjongkok dengan kedua lutut sebagai tumpuan. Lalu, mencoba membangunkan kesadaran gadis itu dengan menepuk-nepuk pipinya.
"Vika," ucap Rendy datar. Tapi tidak menghilangkan rasa cemas di wajahnya.
Dirasakannya hawa panas dari kulit pipi gadis itu saat menyentuh tangannya. Dan Rendy baru tersadar, jika saat ini, wajah gadis itu sangatlah pucat tak berwarna, seperti telah kehabisan darah hingga rona merah hilang begitu saja.
"Vika...?!"
Ada setitik rasa cemas dalam diri Rendy yang masih sekuat tenaga ia simpan dengan rapat. Dan itu tampak jelas dari raut wajahnya. Rasa cemas yang berubah menjadi rasa takut, namun tidak lebih besar dengan rasa sakit karena kecewa terhadap gadis itu.
Tapi, melihat kondisi Vika yang tergeletak lemah di ruang toilet tanpa ada seorang pun yang menolongnya, haruskah ia kesampingkan rasa sakit itu lebih dulu sebelum kondisinya semakin parah?
Tanpa berpikir dua kali, Rendy langsung menggendong Vika dan melarikannya ke ruang UKM dengan cepat, tanpa mempedulikan tatapan orang-orang yang menyimpan pertanyaan rasa ingin tahu mereka padanya.