A Fan With A Man

A Fan With A Man
Jangan Menerima Apapun



Meila meraba-raba tempat disampingnya yang terasa kosong. Dengan mata masih terpejam, alisnya mengernyit ketika tangannya merasakan tidak ada tanda-tanda keberadaan Dimas. Bersamaan dengan itu, suara pintu kamar terbuka dan menampilkan sesosok pria yang tengah dicarinya tersenyum dari kejauhan.


"Kakak,... dari mana?" Meila bertanya dengan suara serak.


Dimas tersenyum sambil bergerak naik ke atas tempat tidur. "Aku habis menerima telepon dari Henry."


"Tengah malam begini?" Seolah tidak percaya, Meila bertanya dengan ekspresi heran.


"Ada sesuatu yang sangat penting dan harus segera disampaikan." Dimas menjawab dengan sabar. Dan itu sambil membaringkan lagi tubuhnya dengan posisi saling berhadapan. Menarik Meila kembali ke dalam pelukannya.


"Ayo, tidur lagi." Sambil membawa kepala Meila yang mungil ke dadanya.


Tindakan Dimas yang mendekatkan dadanya ke kepala dekat telinga Meila itu membuat Meila dapat dengan jelas mendengar suara detak jantung Dimas yang sangat kencang. Memukul-mukul rongga dadanya sampai-sampai Meila dapat merasakan getarannya.


Hal itu membuat Meila mendongak dengan ekspresi heran.


"Kak Dimas, are you okay?"


Dimas menunduk dan tersenyum, tidak menjawab dan malah mengecup kening Meila.


"I'm okay, sayang. Don't worry..." Lalu melingkupi lengannya kembali untuk merengkuh tubuh Meila. "Ayo, tidur lagi. Ini masih dini hari. Besok kamu harus kuliah, kan?" 


Meski masih merasa bingung tapi juga tidak ingin membantah, mungkin juga karena kondisinya yang mengantuk, Meila akhirnya menenggelamkan kembali dirinya ke dalam pelukan Dimas. Mencari kehangatan disana sebelum akhirnya kembali terlelap ke alam mimpi.


●●●


Setelah suara isakan keras yang tadi memenuhi isi kamar, datanglah keheningan yang membentang. Tangisan Sisil yang cukup menyesakkan itu membuat James tidak berhenti melepaskan pelukan dan terus menenangkannya. Membiarkan Sisil mengeluarkan rasa sesak yang mengganjal sampai perempuan itu benar-benar lega.


Dan setelah hampir satu jam menangis, tangisan itu terhenti hingga akhirnya Sisil kelelahan dan tertidur dalam keadaan air mata yang masih belum mengering. Menyadari Sisil yang sudah tertidur dengan napas teratur, perlahan James bangkit. Membenarkan bagian rambut Sisil yang berantakan sampai menyeka sisa air mata yang masih menjejak di pipinya dengan usapan lembut penuh perhatian.


Dengan gerakan sangat pelan, James bangun dari tempat tidur dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Sisil. Lalu meninggalkan Sisil seorang diri dan memilih pergi ke bar miliknya untuk sekedar menyegarkan tenggorokannya disana dengan sekaleng minuman dingin.


James duduk termenung di kursi bar sembari meneguk minuman soda. Pikirannya benar-benar kacau hingga akhirnya lemah dengan sendirinya. Perasaannya pada Sisil akhirnya tanpa sengaja telah diungkapkan melalui tindakannya. Dan itu adalah hal tak terduga yang tidak terpikirkan sebelumnya.


Padahal, sudah dari awal dia berusaha untuk menutupi bahkan menyangkal perasaan apapun yang selalu tertuju pada Sisil. Namun, malam ini justru malah dialah yang tidak bisa mengendalikannya.


Melihat air mata Sisil yang merasa terpuruk itu membuat James tidak bisa untuk tinggal diam. Dia ingin melindunginya. Mengusap air matanya, memeluknya dengan hangat sambil membisikkan kata-kata penghiburan nan menenangkan.


Apakah Sisil akan menyadarinya ketika bangun di esok hari? Atau perempuan itu akan memilih melupakannya dan berpikir jika itu hanya sebuah penghiburan sambil lalu yang dianggap wajar?


Namun bagi James, nasi sudah menjadi bubur. Sudah kepalang tanggung kalau dia harus terus menyembunyikan perasaannya lagi kali ini. Dia mungkin akan lebih terang-terangan bahkan jika Sisil benar-benar membencinya dan menghindarinya.


●●●


Tepat pukul 7 pagi, Meila turun dari kamar untuk menyantap sarapan yang sedang disiapkan Dimas untuk mereka. Saat terbangun, Meila mendapati Dimas sedang bersiap-siap mengenakan kemeja putih dan setelan jas nya yang akan dia pakai ke kantor pagi ini.


Dengan sedikit gerakan tersentak karena Meila berpikir jika dia akan kesiangan, akhirnya Meila langsung bangkit terduduk sambil mengucek-ngucek matanya. Dan ternyata setelah dia lihat, waktu baru menunjukkan pukul 6 pagi.


Dimas menyempatkan menghampirinya sambil tersenyum. Tidak lupa juga memberikan kecupan selamat pagi di keningnya sebelum kemudian menyuruh Meila untuk segera mandi dan bersiap-siap. Karena Dimas akan mengantarnya lebih dulu ke kampus baru kemudian ke kantor.


Dan sekarang, sarapan itu hampir siap. Meila menyapa Dimas dengan riang dan menghampirinya ke meja makan.


"Waahh! Sandwich,?" Meila berseru senang.


Meila mengangguk senang. Sambil dibantu Dimas menarikkan kursi, Meila duduk di kursi meja makan.


"Diminum susunya." Seru Dimas begitu dia juga telah duduk di samping Meila dan saling berdekatan.


Meila mengambil gelas susunya dan meneguknya. Lalu mulai menyantap sandwich yang ada di atas piring dengan ekspresi kesenangan.


Melihat itu semua, membuat Dimas juga senang. Dia jadi teringat ucapannya dengan Henry semalam. Yang mengharuskannya untuk mengingatkan Meila untuk tidak menerima pemberian dari seseorang dalam bentuk apapun. Dan sekarang dia harus membicarakannya.


"Kakak akan ke kantor lagi hari ini? Masih ada pekerjaan yang belum terselesaikan?" Meila bertanya tiba-tiba.


"Iya. Ada sesuatu yang sangat penting dan harus segera ditinjau."


Sambil mengunyah makanannya, Meila mengangguk tanda mengerti.


"Kenapa? Ada sesuatu yang mau kamu sampaikan?"


Meila menggeleng dengan ragu. Namun tak urung akhirnya dia mengungkapkannya juga.


"Kalo kak Dimas sibuk, aku nggak apa-apa kok berangkat sendiri naik taksi. Aku kasian sama kakak karena harus bolak-balik antar aku dulu baru setelahnya kamu berangkat ke kantor."


Dimas terkekeh. Tidak terlihat marah ataupun merasa tersinggung.


"Justru kalau aku membiarkan kamu naik taksi sendiri, aku yang nggak akan fokus disana. Kan, kalau aku yang mengantar kamu, aku yang memastikan sendiri kamu sampai ke kampus dengan selamat tanpa hambatan dan rintangan." Candanya Dimas.


Meila ikut terkekeh, "ih! Kak Dimas! Emang kampus aku melewati gunung dan lembah sampai harus ada hambatan dan rintangan?!"


Akhirnya suasana sarapan itu dipenuhi dengan tawa mereka.


"Oh, iya, ada satu hal lagi yang mau aku minta sama kamu." Dimas berucap tiba-tiba.


"Apa itu?"


"Selama aku nggak ada bersama kamu, jangan menerima pemberian dalam bentuk apapun itu. Ya? Makanan, minuman, atau barang yang sekiranya bisa terhirup dan terbawa ke udara."


Meila terlihat heran Namun tak urung bertanya ingin tahu.


"Kenapa? Apa orang itu berbahaya?"


"Kemungkinan itu bisa terjadi selagi ada kesempatan, kan? Kita nggak pernah tau apa yang mereka masukkan ke dalamnya. Karena hal itu bisa tidak terlihat oleh kasat mata. Kamu mengerti, kan?"


"Termasuk dari Airin, kak Vika, dan kak Rendy juga?" Dengan polos Meila bertanya yang membuat Dimas tertawa.


"Itu lain halnya, sayang. Selama ini memang mereka seperti itu ke kamu? Nggak, kan?"


Meila menggelengkan kepala disertai cengirannya yang khas.


"Jadi, kamu mengerti, kan?" Dimas bertanya lagi.


"Iya. Aku mengerti. Aku nggak boleh menerima barang dalam bentuk apapun dari orang lain. Begitu?" Meila cepat tanggap dengan kalimat yang Dimas maksud kali ini. Dan itu membuat Dimas lega.


"Good Girl!" Dimas memuji Meila dengan mencubit pipinya lembut. "Ayo, habiskan sarapannya."