
Begitu sampai rumah, Vika langsung mandi dan membersihkan diri. Berendam di air hangat di dalam bath-tub dengan sabun aroma terapi bercampur lavender yang penuh akan busa-busa. Lalu, keluar dengan mengenakan kaos panjang longgar sampai lutut sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Wajahnya benar-benar terasa ringan. Tidak ada make-up yang menempel di kulitnya, tanpa riasan dan tanpa harus berpose menggunakan high-heels berjam-jam yang akan membuat kakinya pegal. Dia berjalan menapaki karpet halus yang dapat meredam suara langkah kaki. Lalu, mendekati meja rias dan duduk di depan cermin.
Ditatapnya wajah segarnya pada cermin. Disisirnya rambut panjang itu sambil menatap dirinya, dan matanya seketika menyusuri setiap inci wajahnya hingga berhenti pada bibirnya.
Vika mengusap bibir itu dengan lembut, dan otomatis bayangan akan ciumannya tadi terulang kembali begitu saja, seakan tampak nyata dan masih sangat terasa. Bagaimana cara Rendy memperlakukannya, bagaimana cara Rendy membelai lembut bibirnya, bagaimana hembusan napasnya menerpa kulit wajahnya, itu semua teringat jelas di benaknya.
"Entah gimana aku bisa menghadapi kamu besok, Rendy." Ucapnya lirih dengan suara melemah. "Jika aku mampu, aku pasti udah menjelaskan semuanya sama kamu sejak awal."
Vika terdiam sejenak, lalu matanya berubah sendu disertai tatapan nanar yang tak terbaca.
"Tapi, setelah aku melihat kamu dengan semua kearoganan kamu dan perubahan dalam diri kamu, aku jadi takut untuk menceritakan semuanya. Aku takut, kalo kamu nggak akan percaya sama apa yang aku bicarain. Aku takut, kalo kamu akan anggap aku mencari-cari alasan untuk menarik rasa empati kamu." Ucapnya kemudian dengan segala kelemahan yang ada. Matanya pun berkaca-kaca, tidak mampu untuk membayangkan sikap yang akan Rendy tunjukkan padanya jika apa yang ditakutinya benar-benar terjadi.
Dan Vika tidak mampu untuk menghadapinya. Sebab, di dalam lubuk hatinya yang terdalam, masih tersimpan nama Rendy. Pria yang masih dan akan selalu dicintainya meski sekuat tenaga dia mengelaknya.
●●●
Seperti yang Dimas bilang semalam jika Meila ada jam kuliah pagi, gadis itu tampak sudah mandi dan bersiap-siap. Mengenakan celana denim hitam beserta kaos rajut berbentuk turtle-neck berwarna putih disertai outer denim senada dengan celananya. Sangat kontras dengan cuaca yang sedikit mendung cenderung dingin di pagi hari ini.
Meila tampak merias diri, memoleskan sedikit bedak tipis dan sentuhan liptint berwarna peach alami beraroma strawberry kesukaannya. Tanpa mascara atau mempertebal alisnya, bulu matanya sudah lentik alami dan juga alis tipis nan tebalnya yang memang sudah alami sejak lahir. Sehingga tidak perlu repot-repot untuk memakan waktu lama memoles wajahnya.
Tepat jam 06.30 pagi. Terdengar suara Dimas yang memanggilnya dari lantai bawah yang mengajaknya untuk segera turun dan sarapan.
"Mei, sarapannya udah siap." Suara Dimas mengudara. Terdengar sangat jauh nan menggema.
"Iya. Aku segera turun," Meila menyahuti sambil memastikan penampilannya sekali lagi di depan cermin. Lalu, meraih tasnya dan segera berlari keluar kamar untuk sarapan.
Terdengar suara langkah kaki dari anak tangga. Suara langkah yang berlarian dengan menampilkan wajah riang sambil bersenandung ria.
"Selamat pagi," Meila berucap riang saat kakinya sudah menapaki lantai dan berjalan mendekat ke meja makan.
"Morning to you," Dimas menoleh sambil memperhatikan, "cantik! Dan juga...." sambil mendekatkan wajahnya dan mengendus-endus tepat di dekat leher Meila. ".....wangi," sambungnya kemudian yang langsung ditanggapi senyuman dari Meila yang nyaris merona.
"Terima kasih," sahut Meila malu-malu.
Dimas terkekeh, lalu meletakkan kedua tangannya di bahu mungil Meila seraya memberi peringatan dengan kata-kata lembutnya.
"Lain kali, jangan berlarian di tangga. Itu berbahaya, Sayang. Kamu bisa jatuh dan tersungkur. Jangan diulangi lagi, ya?"
"Aku terburu-buru, dan juga.... bersemangat." Meila menyahuti seperti anak kecil yang akan di ajak bermain ke taman hiburan bersama keluarganya.
"Aku tau kamu sangat bersemangat untuk kuliah lagi. Tapi kamu juga harus hati-hati. Gimana kalo kaki kamu terselip dan nggak bisa menyeimbangkan langkah kamu?"
Meila malah tersenyum, "Aku percaya kalo kak Dimas nggak akan ngebiarin aku jatuh." Meila menyahuti dengan cepat, dengan kepala yang mendongak.
Tatapan Dimas berubah sayang, dihelanya napas seraya menggelengkan kepalanya.
"Akhir-akhir ini kamu udah pinter menjawab, ya? Siapa yang ngajarin, hm?"
Meila menggeleng dengan cepat dan dengan wajah polosnya berkata, "nggak ada. Aku cuma ngeliat dari banyaknya kejadian yang lalu. Kalo kak Dimas selalu ada tanpa aku minta,"
Mendengar perkataan Meila yang sangat polos, seketika membuat Dimas mendengus geli sekaligus terkekeh. Lalu, menatap Meila dengan lekat sambil menangkup wajah gadis itu dengan perlahan.
"That's true! Aku nggak akan ngebiarin kamu terjatuh selama kamu dalam pengawasan aku. Itu janji aku." Dimas berucap penuh janji.
"And I trust you..." Meila pun langsung menyahuti.
"Tapi, bukan berarti kamu bisa mengulanginya lagi, Mei. Mengerti?"
Dimas berucap kembali sambil menekankan intonasinya, seolah mengingatkan, dan memaksa Meila untuk mendengarkan setiap perkataannya dengan seksama.
Meila pun menganggukkan kepalanya penuh janji jika dia tidak akan mengulangi lagi. Tak lupa diselipi dengan senyuman paling manisnya.
Dimas tersenyum lembut, mendekatkan dirinya pada Meila dan beralih mengecup pelipis Meila singkat.
"Kita sarapan? Kamu ada kelas 1 jam lagi, kan?" Ajak Dimas kemudian saat melepaskan kecupannya. Setelahnya, Dimas menghela gadisnya ke meja makan dan menarikkan kursi untuknya
dengan perlakuan yang paling lembut.
●●●
Ketika Vika memasuki ruang senat, suasana tampak masih sepi. Hanya ada beberapa anggota junior lainnya yang masing-masing sedang sibuk dengan pekerjaannya. Matanya mengawasi situasi sekitar, mencari keberadaan Rendy yang tampaknya masih belum datang.
Sejenak Vika dapat bernapas lega. Dia memilih duduk di sebuah kursi sambil menebarkan senyumnya pada anggota senat lain.
Kemudian, mengeluarkan laptop miliknya dan memulai tugasnya sebelum dirinya akan memasuki perkuliahan.
"Selamat pagi,"
Itu adalah suara Airin. Gadis tomboy itu baru saja datang dan memasuki ruangan dengan gaya khasnya.
"Pagi juga, Rin."
Vika menyahuti dengan santai sambil mengerutkan keningnya, "kamu sendiri? Biasanya sama Bryant?"
Langkahnya berhenti pada sebuah kursi dekat dengan posisi Vika duduk. Lalu menghembuskan napasnya sejenak sebelum kemudian menjawab.
"Kak Bryant langsung ada kelas. Kita berpisah di koridor kedua setelah perpustakaan."
Vika hanya ber-oh ria mendengar jawaban dari Airin. Namun sedetik kemudian dia bertanya kembali.
"Kamu nggak masuk kelas? Bukannya... kamu ada jadwal pagi, hari ini?"
Airin tampak terkekeh, memperlihatkan gigi-giginya yang rapi dengan cengiran khasnya.
"Masih ada 20 menit, kak. Lagipula... Meila juga kayaknya belom dateng." Airin menyahuti sekenanya sambil memainkan ponsel miliknya.
Setelahnya mereka saling sibuk masing-masing dengan benda yang ada di hadapannya. Membuat kesibukannya sendiri tanpa membuka pertanyaan ataupun diskusi lagi.
Tidak terasa sudah 15 menit keduanya saling menyibukkan diri, tenggelam dengan benda masing-masing. Sampai suara seseorang memasuki ruangan, memaksa mereka untuk memutus kontak dengan apa yang ada dihadapannya.
Tiba-tiba, masuklah Dimas diikuti oleh Rendy dibelakangnya. Dan sikap Vika langsung berubah saat dilihatnya Rendy berjalan mendekati meja. Dia telah berniat untuk mulai menghindari pria itu hari ini. Dan dia tidak akan mengingkarinya.
"Loh, kak Dimas, Meila mana?" Airin tampak celingak-celinguk. "Dia masuk kan, hari ini?" Gadis itu terlihat tidak bisa mengontrol diri untuk segera bertanya pada Dimas yang dilihatnya tidak bersama Meila.
"Dia langsung masuk ke kelasnya. Kamu sendiri, nggak masuk?" Sahut Dimas cepat dengan ditimpali pertanyaan.
"Astaga, kak. Aku pikir Meila bakal ke ruangan senat dulu. Makanya aku ke sini sambil nunggu dia buat bareng masuk kelas. Yaudah kak, kalo gitu aku masuk dulu," dengan gerakan tergesa-gesa, Airin tampak membereskan tasnya, "kak Vika, aku duluan, ya. Daaaahh..."
Lalu, langsung lari terbirit-birit sambil melambaikan tangannya pada Vika yang sedang terperangah dan kebingungan.
Vika tergeragap, tampak mengumpulkan keberaniannya sebelum akhirnya bersuara.
"Mmm... kalo gitu, aku juga akan ke kelas, ada mata kuliah yang harus aku ikuti." Ucap Vika sambil merapikan tas dan laptopnya dengan cepat.
Lalu, sama halnya seperti Airin, Vika langsung lari terbirit-birit tanpa menoleh ataupun menghiraukan keberadaan Rendy.
Rendy lebih memilih santai dan membiarkan Vika dengan kecanggungannya. Sambil menyunggingkan senyum yang nyaris tak terlihat, Rendy tampak mengucap janji di dalam hatinya.
"Kamu boleh menghindari aku, Vika. Tapi nggak untuk selamanya. Karena aku akan segera membuat kamu bicara secepatnya. Semuanya." batinnya berbicara.
Rendy mengucap janji dalam hati yang tak luput dari seringaian di bibirnya yang tak terbaca.
●●●
Kegiatan perkuliahan pun berjalan dengan semestinya. Semua mahasiswa tampak mengikuti dengan seksama setiap penjelasan yang diberikan oleh para dosen. Begitupun dengan Vika, gadis itu terlihat fokus dengan apa yang dijelaskan dan tidak lupa mencatat poin-poin penting sebagai kesimpulan.
Hari ini, dia benar-benar menepati janjinya untuk menghindari Rendy dan berusaha menjaga jarak dan kontak langsung dari pria itu.
Seperti tadi contohnya saat jam makan siang. Begitu Vika masih menikmati makan siang singkatnya bersama temannya, datanglah
Rendy yang baru akan menikmati makan siang. Beruntung Vika dianugerahi penglihatan yang sangat jeli, sehingga dia langsung beringsut kabur dan menyelesaikan makan siangnya dengan cepat sebelum pria itu melihatnya.
Dan sekarang, saat jam bubar kelas pun, Vika masih berusaha menjauhinya. Ketika melihat jam pulang kuliah sudah diakhiri, Vika tampak merapikan buku-buku serta peralatan penunjang seperti laptop dan lainnya dengan tergesa-gesa. Sebab, dia tidak ingin bertemu atau berpapasan sekalipun oleh pria yang sedang dihindarinya sekuat tenaga.
Vika pun akhirnya memilih menunggu taksi di sebuah halte dengan posisi seperti bersembunyi dengan pandangan penuh antisipasi seperti seekor mangsa yang harap-harap cemas akan predator pemangsanya. Namun, rupanya keberuntungan masih belum berpihak sepenuhnya padanya. Tiba-tiba saja, sebuah mobil yang sangat familiar olehnya tampak berhenti dan terparkir di depan halte.
"Sedang apa, kamu?"
Ya! Itu adalah Rendy. Pria itu tampak membuka setengah kaca mobilnya dan bertanya dengan tubuh mencondong ke depan.
Vika tak habis pikir, hampir saja usahanya berjalan mulus. Tapi, dia malah dihadapkan pada seseorang yang sangat dihindarinya. Bukan karena itu saja, mungkin juga kesalahannya karena menolak untuk dijemput oleh Satya, seorang kaki tangan kepercayaan James yang ditugaskan untuk mengantar jemputnya.
"Nunggu taksi." Sahut Vika datar. Berusaha menjauhi kontak mata langsung dengan Rendy.
"Masuk ke mobil. Aku yang akan antar kamu,"
"Nggak perlu, Rendy. Aku bisa pulang naik taksi." Masih dengan nada membangkangnya, Vika tampak mulai gelisah saat dirasakannya Rendy yang mulai keluar dari mobil dan berjalan mendekatinya.
"Aku bilang, masuk, Vika. Disini panas dan taksi jarang lewat sini."
Ucap Rendy saat dirinya telah berdiri di depan gadis itu. Dan tetap, dengan kalimat dingin dan nada memerintah yang kental.
"Jarang bukan berarti nggak sama sekali, kan? Aku akan nunggu sampe taksi itu lewat, kok. Kamu pulang aja, nggak apa-apa." Vika menyahuti, mencoba bertutur kata lembut namun juga datar dengan pandangan yang tertuju pada jalan raya.
Rendy tampak menyipitkan matanya, menyusuri Vika dengan seksama hingga Vika dapat merasakan risih dengan tatapan Rendy meski dia tidak melihatnya langsung dan hanya melalui ekor matanya.
"Kenapa kamu keliatan kayak sedang menghindari aku seharian ini? Apa... karena ciuman kemarin?"
Sungguh! Perkataan Rendy itu benar-benar memukulnya telak. Bagaimana bisa dia berbicara secara spontan dan lantang di tempat umum?
Tenggorokannya seperti tersekat, Vika berusaha menelan ludahnya kasar karena sempat tertegun.
"N-ng-nggak. S-siapa bilang? Perasaan kamu aja kali," jawab Vika sekenanya dan dengan ketergeragapan yang nyata.
Rendy pun tersenyum ironi, "aku nggak bodoh, Vika. Aku udah kenal kamu sejak lama. Jangan kamu pikir aku nggak menyadari perubahan sikap kamu yang aneh itu." Sambungnya lagi dengan nada mengejek yang kental.
"Apa? Aneh dia bilang? Sebenarnya siapa yang aneh, dia atau aku? Justru sikap kamu yang aneh dan berubah jauh, Rendy!" pekiknya dalam hati.
Melihat Vika yang terlihat cuek dan menanggapinya dengan diam, tanpa pringatan Rendy langsung menyambar tangan Vika dan berusaha menariknya. Namun, sekuat tenaga pula Vika menahannya agar dia tidak bersikap lemah dan kalah seperti sebelumnya.
"Nggak perlu, Rendy. Aku bisa sendiri." Sergah Vika dengan suara yang sedikit meninggi, sontak membuat Rendy tertegun sejenak sebelum kemudian mengusai dirinya kembali.
Seolah tak menghiraukan Vika yang meronta-ronta agar dilepaskan dari pegangan tangan Rendy yang kuat namun juga lembut, gadis itu sampai menahan langkahnya dan terjadilah adegan tarik menarik di halte itu. Saat Vika masih berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Rendy, sebuah mobil ambulance dengan bunyi sirine yang sangat kencang terdengar dan melintas begitu saja melewati mereka.
Tubuh Vika menegang seketika. Tangannya gemetar dan wajahnya memucat gelisah seolah sedang ketakutan. Napasnya terengah, suhu tubuhnya pun berubah cepat menjadi dingin dan berkeringat.
Dengan sekali hentakan kuat, tangan Vika akhirnya terlepas dari cengkraman Rendy dan langsung berjalan mundur sambil menutup kedua telinganya kuat-kuat. Sementara Rendy, yang tampak bingung dengan sikap Vika, berusaha mendekati gadis itu dan mencari tahu dengan wajah yang tak kalah cemas.
"Matikan sirinenya! Matikan! Aku mohon. Jangan bunyikan sirinenya." ucap Vika terus mengulangi kata-katanya dengan suara yang bergetar hebat disertai tangisan.
"Vika, kamu kenapa?" Berusaha memegang bahu Vika, namun gadis itu tampaknya tidak menghiraukannya. "Vika!" Panggilan Rendy tidak mampu membuat Vika tersadar dari rasa takutnya.
Rendy semakin cemas sekaligus bingung melihat tingkah Vika yang sangat memprihatinkan. Belum lagi dengan buliran bening yang keluar dari matanya dan membasahi pipinya, semakin membuat Rendy tidak berdaya.
Tanpa berpikir panjang, begitu dlilihatnya taksi melintas, Vika langsung berlari dan menghentikan taksi itu dengan cepat.
Kemudian, segera memasukinya tanpa menghiraukan Rendy yang masih memanggil-manggilnya dengan keras.
"Pak, tolong antarkan ke alamat ini. Cepat, ya." saat dirinya telah memasuki kursi penumpang, Vika langsung memberikan secarik kertas yang bertuliskan alamat lengkap kepada sang pengemudi taksi.
Vika pun menangis di dalam taksi itu. Bayangan akan kenangan buruknya telah mengingatkannya pada kondisi terakhir papanya. Bunyi suara ambulance yang membuatnya merinding dan sesak telah membawanya pada rasa trauma mendalam yang sangat takut untuk dihadapinya.
"Papa...." lirihnya pelan sambil membawa kepalanya bersandar pada pintu kaca. Mengalihkan pandangannya ke arah jalan untuk mengurangi sesak di dadanya sambil mengatur napasnya yang tersengal.
Ditempat lain, rupanya Rendy tidak tinggal diam. Pria itu diam-diam mengikuti taksi yang ditumpangi Vika dengan laju yang sangat pelan.
Jelas Rendy sangat mengkhawatirkan Vika. Dia belum pernah melihat gadis itu sebegitu ketakutannya. Dan ketakutannya itu seperti sebuah trauma berat sampai Rendy tidak bisa untuk menyentuhnya. Sedangkan Rendy sangat tahu, jika Vika tidak mempunyai trauma atau phobia apapun yang sangat ditakutinya hingga membuat tubuhnya bergetar hebat.
"Apa yang aku nggak ketahui, Vika. Apa yang kamu sembuyiin dari aku?" Gumamnya sambil menancapkan gas mobilnya dengan frustasi.
●●●
Taksi itu berhenti di depan sebuah gedung besar 8 lantai yang menjulang tinggi dan cukup mewah. Lobby utama gedung itu langsung menampilkan meja reseptionis panjang yang bertuliskan Andertainment Production Houses and Agency. Tulisan itu tertera sangat besar dan menyala, seolah bagaikan sambutan selamat datang saat memasukinya.
Vika pun turun dari taksi itu. Kemudian, langsung berlari menghampiri, dan memeluk seorang pria berpenampilan rapi dan sangat formal dengan pelukan erat. Pada saat itulah Rendy pun membelalakkan matanya dengan sempurna. Bahkan tangannya pun mencengkram setir kemudi dengan kencang saat menyaksikan adegan yang membuatnya sesak dan kesal luar biasa.
Bukan itu saja, perlakuan pria itupun sangatlah lembut pada Vika. Sedangkan Vika, tampak nyaman menumpahkan air matanya di pelukan pria itu. Berusaha menguasai dirinya, Rendy keluar dari mobilnya dan berjalan perlahan hingga dilihatnya Vika dibawa masuk oleh pria itu dengan tangan merangkul sambil mengusapnya dengan sayang.
Rendy cemburu. Jelas Rendy cemburu. Pria itu tampak mengepalkan tangannya erat-erat dengan rahang yang mengetat.
Siapa pria itu? Apa mungkin.... kekasihnya?
Sebuah praduga pun melintas begitu saja. Sampai dilihatnya ada seorang petugas kemanaan, dan Rendy pun menghampiri petugas itu.
"Permisi, pak. Mau tanya sebentar. Perempuan yang baru datang itu siapa, ya?"
"Oh, itu. Dia adalah nona Vika. Salah satu model berbakat sekaligus aktris di agency kami."
Aktris? Sejak kapan Vika menjadi aktris?
Rendy tertegun. Semakin dibuat bingung dengan penjelasan yang diterimanya.
"Lalu... siapa pria yang bersamanya tadi?" Seolah masih penasaran dan berusaha menggali informasi, Rendy bertanya kembali.
"Beliau adalah tuan James. James Anderson. CEO sekaligus pemilik agency ini."
Dan penjelasan yang satu ini tak kalah mengejutkannya. Dirinya semakin dibuat seolah tidak mengetahui apa-apa tentang kehidupan Vika selama mereka tidak menjalin hubungan lagi.
"Baik, pak. Terima kasih informasinya."
Setelahnya, Rendy tampak memutar tubuhnya kembali ke tempat dimana dia memarkirkan mobilnya. Dengan perasaan berkecamuk dan pikiran kacau tentunya. Otaknya tak henti-hentinya mengeluarkan sebuah pertanyaan yang memenuhi pikirannya sambil melangkahkan kakinya dengan penuh tanda tanya.