A Fan With A Man

A Fan With A Man
Pengakuan Sisil



Lagi, lidah Sisil terasa kelu mendengar pertanyaan sekaligus juga tuduhan James yang diperuntukkannya. Tentu saja hal itu memunculkan kembali emosinya yang tadi sudah mulai mereda.


"Kamu apa-apaan si, James!"


Dengan sekali hentakan, yang tadinya tangannya digenggam kuat oleh James, bisa terlepas hanya dengan satu gerakan Sisil karena emosi.


"Lagi-lagi tuduhan kamu nggak beralasan!" Pungkasnya marah. "Aku memang salah udah buang-buang waktu disini. Karena kamu cuma bisa menuduh dan menuduh tanpa alasan yang jelas!"


"Aku tidak menuduhmu. Kamu cuma perlu menjawab, ya atau tidak. Itu aja, kan? Kenapa sulit sekali?" James membela diri.


"Udahlah, aku nggak mau lebih lama lagi disini. Berikan kuncinya. Aku harus pergi!"


Bukannya memberikan, James justru menyembunyikan kunci itu ke dalam saku celananya sambil berucap santai yang tanpa disadarinya malah semakin menyulut emosi Sisil hingga memuncak.


"Aku tidak akan memberikannya sebelum kamu menjawab pertanyaanku."


Sisil mendecakkan lidahnya tanda amarah yang mulai memuncak.


"Berikan kuncinya padaku, James! Cepat!" Sisil berujar membentak hingga suaranya berhasil memekakkan telinga. "Atau aku akan teriak sekarang!" Imbuh Sisil dengan ancaman.


Tetapi, bukannya takut dengan ancaman Sisil, James tetap bersikap santai dengan wajah tanpa dosa.


"Silahkan. Lakukan semaumu. Dengan senang hati aku akan menjadi orang pertama yang menunggu teriakanmu itu."


"Dasar laki-laki nggak waras! Cepat berikan kuncinya padaku! Aku harus pergi." Sisil terus memaksa sekuat tenaga. Dia tidak mau kalah dengan James yang adalah seorang laki-laki yang kekuatannya berkali lipat darinya.


Jangan mentang-mentang James seorang laki-laki maka Sisil akan takut padanya. Tidak! Justru Sisil semakin membenci James yang selalu saja ingin ikut campur masalahnya.


Jika dengan kemarahannya James tetap tidak bergeming, mungkin dengan cara bar-bar Sisil bisa membuat James kalah darinya.


"Berikan kunci itu padaku!" Sisil mulai memukul-mukul James dengan tangannya. Mencengkeram kerah baju James dengan kencang sambil berteriak marah. "Cepat berikan, James!"


"Tunggu. Apa yang kamu lakukan?! Kenapa sikapmu begini? Aku cuma memintamu untuk menjawab pertanyaanku. Hey... hentikan!" James mulai kewalahan menghadapi sikap Sisil.


"Aku nggak akan berenti sebelum kamu memberikan kunci itu. Cepat berikan kunci itu. Cepat! Aku bisa saja mencekikmu sekarang. Berikan padaku kuncinya!" Sisil terus bersikap bar-bar seperti wanita luar yang tidak pernah belajar tata krama.


"Hentikan, Sisil! Apa masalahmu sebenarnya? Kenapa kamu tidak membolehkan aku membantumu? Aku bisa membantumu seperti masalah sebelumnya, kan?"


"Nggak bisa. Ini bukan masalah biasa yang bisa dengan mudah diselesaikan. Cepat berikan kunci itu!" Sisil terus memukuli James dengan serampangan.


Mereka terus beradu mulut hingga tidak ada satupun yang mau mengalah. Tangan Sisil terus mencengkeram kerah baju James, dan James pun terus berusaha meyakinkan Sisil untuk mempercayainya.


"Kalau gitu beri tau aku apa masalahmu itu. Biar aku bisa membantumu." James terus berusaha membujuk Sisil. Tapi sikap Sisil yang keras, malah membawa perempuan itu kepada puncak kemarahannya yang tidak bisa ditolerir lagi. Hingga akhirnya wajah Sisil memerah menahan amarah dan emosinya pun meledak.


"Kenapa kamu susah sekali menjawab pertanyaanku?"


"BECAUSE I'M NOT A VIRGIN ANYMORE!!!"


Suara Sisil yang begitu lantang melayang begitu saja ke udara melalui bibirnya yang gemetar. Kalimat pengakuan yang tidak sengaja terlontar telah berhasil membuat James terpaku seketika. Napas Sisil yang terengah-engah, serta kepalan tangan yang kuat menandakan jika Sisil telah sekuat tenaga mengeluarkan keberaniannya demi bisa melepaskan kalimat kutukan yang selama ini ditutupinya rapat-rapat.


●●●


"Gimana? Kamu suka dekorasinya?"


Meila mengangguk sambil memandangi sekelilingnya yang dipenuhi dengan lampu-lampu hias warna-warni yang menyala. Mereka mulai menikmati kudapan manis yang telah Dimas siapkan untuk menemani malam mereka dengan duduk bersisian sambil berselimut tebal.


"Suka banget. Terima kasih..." Meila berujar tulus sambil memperlihatkan giginya.


"Sama-sama. Kalau kamu mau aku bisa menyiapkan ini setiap hari."


Mendengar perkataan Dimas, Meila tertawa. "Ih, kak Dimas. Kalau setiap hari, itu tandanya aku akan terus makan-makanan manis setiap malam. Gigi aku bisa ompong, tau!" Kekehnya. "Itu artinya aku melanggar aturanku sendiri untuk mengurangi makanan manis."


Tawa Meila pastinya menular pada Dimas. Meski Dimas tidak begitu suka makanan manis, dia tetap menyantap beberapa suap untuk menemani kekasihnya.


"Gadis pintar." Puji Dimas kemudian.


Dimas lalu menaruh sendok dessert ke atas piring. Tangannya pun tergerak membenarkan selimut yang melorot dari punggung Meila ke lengan. Lalu merangkulnya merapat.


"Kamu kedinginan?"


Meila menggelengkan kepalanya seketika. "Nggak, kok. Aku malah senang ada disini. Kamu liat, ada banyak bintang disana." Dengan jari telunjuknya, Meila menunjuk ke arah bibtang-bintang di langit. "Semuanya kerlap-kerlip menghiasi langit."


Dimas ikut memandangi langit dengan seksama. "Maka dari itu, karena aku tau kamu suka sekali memandangi langit di waktu malam, jadi anggap aja kita lagi camping."


Dimas tersenyum renyah sampai menggelengkan kepalanya. Beberapa detik, dia terlihat menatap Meila dengan seksama. Memulas senyumnya yang khas sambil berujar kata.


"Sebenarnya aku sekalian mau bilang ke kamu,"


Meila menengadah sambil membuat ekspresi bingung. "...apa?"


Didahului dengan helaan napas, Dimas melanjutkan kalimatnya lagi, dan meraih satu tangan Meila untuk digenggamnya.


"Untuk beberapa hari ke depan, jadwal meeting aku akan padat. Itu artinya aku nggak bisa jagain kamu seharian seperti hari ini lagi. Tapi kamu nggak perlu khawatir. Aku udah mengatur jadwal untuk Henry agar menjemput kamu nanti. Kamu nggak apa-apa, kan?"


Dimas memandangi wajah Meila sambil membaca ekspresinya. Tangannya pun meremas lembut tangan Meila yang saat itu membalas pandangannya dengan sebuah senyuman.


"Kenapa harus apa-apa? Kan kamu juga punya kewajiban untuk mengurus kantor papa kamu. Kita bisa bertemu di rumah sebelum berangkat ke kampus dan setelah kamu pulang dari kantor, kan?" Meila menjawab kalimat Dimas dengan bijak.


Perasaan Dimas membuncah mendengar kata 'rumah' yang keluar dari mulut Meila. Hatinya terasa hangat sekaligus gembira mendengarnya. Perlahan, Dimas membawa tangan Meila ke bibirnya, lalu mengecupnya disana.


"Terima kasih. Kamu tau, kata-kata pengertian kamu yang lembut  itu selalu bikin aku semakin sayang. Haaahh... apa aku batalkan aja jadwal meetingnya, ya?"


Meila terkejut heran, lalu tertawa renyah sembari menepuk paha Dimas dengan pelan.


"Kak Dimas, kamu apa-apaan, sih. Nggak perlu sampe kayak gitu. Aku itu cuma nggak mau kerjaan kamu jadi berantakan. Kak Dimas fokus meeting aja. Aku janji nggak akan aneh-aneh lagi." Meila juga tidak lupa untuk berjanji pada Dimas yang merujuk pada kejadian kemarin yang sempat membuat Dimas marah. Dan Meila tidak mau hal itu terulang lagi.


"Aku nggak mau bikin kamu marah lagi kayak kemarin." Meila berucap dengan jujur.


"Memangnya kenapa kalau aku marah?" Dimas sedikit menggoda Meila.


"Soalnya kamu nyeremin kalau marah." Meila menjawab jujur.


"Oh ya?"


"Iya. Makanya, misalnya nanti Henry lagi sibuk dan nggak bisa jemput aku, aku akan lebih memilih naik taksi. Itu jauh lebih aman daripada harus sama...." Meila tampak ragu ketika akan mengucapkan nama Dion di akhir kalimatnya. ".....laki-laki itu."


"Jangan," Dimas menyela. "Jangan gunakan kendaraan umum sekalipun itu taksi. Kamu bisa hubungi aku. Ponselku akan selalu aktif buat kamu."


"Boleh begitu?" Meila bertanya dengan polos. "Apa nanti aku nggak ganggu kamu?"


Dimas terkekeh renyah. Lalu mencubit dagu Meila dengan sayang sambil menariknya mendekat ke wajahnya. "Tentu aja, boleh. Siapa yang bilang nggak boleh? Selama itu berhubungan dengan kamu, aku akan selalu siap."


Sesaat, Meila menatap Dimas lekat-lekat sebelum kemudian berucap tulus dengan suara lembutnya.


"Terima kasih."


"Sama-sama." Dimas tertawa renyah sambil menyambung kembali. "Mau berapa kali lagi kamu bilang terima kasih? Hm?"


"Sebanyak-banyaknya. Terima kasih karena kakak selalu mau aku repotin. Selalu jadi orang yang pertama disaat aku dalam kondisi apapun. Bahkan dalam situasi sulit sekalipun. Thank you... Thank you so much,.."


Tatapan Dimas berubah sayang. Dan perasaannya pun membuncah setiap kali melihat senyuman Meila yang begitu manis ditambah dengan suara lembutnya yang khas terngiang-ngiang di telinga.


"Anytime, sweetie." Ujar Dimas pelan dan nyaris berbisik.


Mereka pun saling beradu tatap. Saling memandang dan saling mengagumi satu sama lain. Wajah merekapun semakin dekat, napas mereka yang bertabrakan terasa begitu hangat menerpa kulit wajah masing-masing. Aroma bayi yang khas dari parfum aftershave yang Meila gunakan membuat Dimas ingin sekali menciuminya. Dan sudah tentu Dimas tidak akan membuang-buang waktu lagi.


Perlahan namun pasti, Dimas langsung memangkas jarak diantara mereka. Menangkup pipi Meila dengan lembut, lalu menempelkan bibirnya pada bibir Meila untuk diciumnya. Membuai Meila dalam keahlian ciumannya yang menghanyutkan.


Dan seolah terbuai, kedua mata Meila langsung terpejam mengikuti irama yang Dimas berikan. Kedua tangannya langsung merangkul leher Dimas dengan manja. Dan, melihat Meila yang sudah mulai terbiasa dengan sentuhannya, membuat Dimas senang. Hal itu Dimas manfaatkan untuk terus menggoda Meila. Mengecap serta memagutnya lembut sampai ketika Dimas merasakan napas Meila yang mulai terengah, dan ciuman pun dihentikannya. Membiarkan Meila meraih oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya.


Wajah Meila yang memerah begitu terlihat jelas meski di bawah langit yang gelap ketika Dimas mencuri pandang pada Meila yang memejam sedang berusaha mengatur napasnya. Sambil memulas senyum tipis, Dimas lalu membawa Meila ke dalam pelukannya. Membiarkan gadisnya tenang dalam dekapannya yang hangat. Lalu menutupi tubuh mereka dengan selimut tebal untuk menghalangi udara yang mulai dingin.


Dimas lalu mengusap kepala Meila dengan sayang. Lalu berucap lembut untuk mewakili perasaannya saat ini.


"I love you,!"


Meila yang masih terpejam, sesaat membuka matanya begitu mendengar pernyataan Dimas. Dia lalu tersenyum di balik pelukan Dimas sembari mengencangkan rangkulannya ke punggung Dimas yang kokoh dengan manja.


"....love you too,..." sahutnya pelan dan masih malu-malu.


Tetapi meski begitu, sudah cukup, bahkan lebih dari kata cukup membuat hati Dimas senang. Dimas lalu menghadiahi Meila kecupan-kecupan kecil ke pipi dan juga pelipisnya. Lalu merengkuhnya kembali dengan pelukan hangat dan menenangkan.


Tetapi ada sesuatu yang Dimas dan Meila tidak sadari. Jika tindakannya barusan telah memantik rasa cemburu serta kemarahan seseorang yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. Seorang pria yang sedang berdiam diri di dalam mobil. Tertutup oleh kaca yang gelap sambil menaruh kepalan tangannya ke atas setir kemudi yang siap untuk meninju siapapun yang berani membuatnya marah.


Benar sekali! Dion lah yang ada di dalam mobil itu. Entah sejak kapan, dari mana dan bagaimana dia bisa tiba-tiba ada di depan rumah Dimas. Terduduk kaku di balik kemudi setelah menyaksikan tontonan adegan ciuman dari pasangan yang saling memiliki rasa satu sama lainnya.